DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
71. Aku Melupakan Nama Pemberianku pada Anakku Sendiri


__ADS_3

“Loki, kamu mau bilang bahwa Airi adalah salah seorang di antara mereka?”  Andika yang penasaran pun menanyakan hal tersebut.


“Kamu setidaknya bisa sedikit lebih mencerna perkembangan yang saat ini terjadi di dunia bawah.  Bukannya jumat lalu kita baru saja menghadiri pertemuan yang dihadiri para pemeran dunia bawah itu…”


Belum selesai Loki menyelesaikan kalimatnya, Andika segera membekap mulut Loki dengan tangannya yang besar seraya mengacungkan jari telunjuk tangannya yang lain di depan mulutnya.


“Sssst!  Gawat kan kalau membicarakan itu di sini.  Ada Beni di dekat kita.”


Loki melepaskan bekapan tangan Andika dengan paksa dengan cara menampiknya.


“Tidak ada hal yang patut disembunyikan dari pertemuan itu.  Intinya, bukankah Kaiser saat ini sedang diincar oleh Lu Tianfeng?  Ada juga kabar yang kuperoleh dari kolegaku kalau dia baru saja mengadakan kontak dengan organisasi terlarang itu.”


“Trans?”


“Apa kamu pikir Keluarga Dewantara akan membiarkan hal ini begitu saja dan malah menjadikan seorang siswi SMP seumuran kita menjadi pengawal Kaiser?”


Andika tersentak terhadap perkataan Loki tersebut.


“Airi tidak salah lagi bukan orang sembarangan.  Ketimbang memilih puluhan bodyguard seperti biasanya untuk mengawal Kaiser, mereka lebih memilih untuk menempatkan Airi di posisi tersebut.  Airi pastinya lebih hebat dari berpuluh-puluh bodyguard itu bahkan mungkin jauh lebih hebat dari yang kita duga.  Airi pasti adalah manusia super.  Tidak salah lagi bahwa dia adalah salah satu bagian dari komunitas kultivator tersebut.”


“Jadi, dia serius ketika mengatakan hal itu?  Kalau perkataannya memang serius, Wilda juga orang yang terbangkitkan?  Jangan-jangan semua anak sindrom pelangi adalah calon terbangkitkan?  Apakah kamu dan Kaiser juga suatu hari…, tidak, jangan-jangan Loki, kamu juga sudah terbangkitkan?”


Andika lantas menatap Loki dengan intens.  Beni yang sedari tadi menguping obrolan mereka turut pula mengarahkan perhatiannya kepada Loki.


“Hah!”  Loki pun mendesah.


“Kamu ternyata tajam juga ya Andika.  Dengan sedikit informasi ini, kamu bisa menyusunnya sampai ke kesimpulan itu.  Tetapi sayangnya, tidak semua anak sindrom pelangi mampu terbangkitkan.  Setidaknya, itulah informasi yang kami terima.”


“Begitukah?”  Andika pun menanggapi dengan setengah percaya.


“Lantas bagaimana menurutmu, Beni?”  Loki melempar bola untuk mengarahkan perhatian Andika ke Beni.


“Jujur, obrolan ini tiba-tiba menjadi agak terlalu berat bagiku.  Aku sebenarnya tidak terlalu peduli tentang obrolan yang terbangkitkan atau tidak.  Aku justru lebih khawatir pada Kaiser yang katanya diincar oleh seseorang.  Bisa kamu jelaskan itu lebih spesifik, Loki?”


Loki dan Andika pun menceritakan informasi perkembangan dunia bawah yang terjadi pasca kematian Araka berdasarkan hasil pertemuan yang diadakan jumat lalu itu.  Jumat, 1 April sebelumnya, para pengusaha dan anak-anak mereka mengikuti pertemuan untuk memperingati kematian Araka.

__ADS_1


Tetapi, itu hanyalah kedok.  Isi pertemuan yang sebenarnya adalah bagaimana menyikapi ketidakstabilan yang belakangan ini terjadi di dunia usaha akibat kematian beberapa figur penting di dunia usaha akibat ulah pembunuh berantai.


Ayah Andika dan Loki berusaha untuk menarik sebanyak mungkin pendukung agar bersikap netral terhadap konflik yang saat ini terjadi pada kubu Keluarga Dewantara dan Keluarga Lu.


Namun, di situ mereka mendengar isu menyeramkan perihal Lu Tianfeng yang ingin membunuh Kaiser.  Setelah mata-mata dari keluarga Loki, keluarga Wijayakusuma yang merupakan keluarga yang selama ini membesarkan mata-mata andal di intelijen Indonesia seperti Fero, mencari tahu lebih detil, diketahui bahwa asisten Lu Tianfeng, Fei Sangchen baru-baru ini mengadakan kontak dengan organisasi terlarang yang bernama Trans, organisasi yang diisukan berisi para kultivator sesat asal China.


“Begitu ya?  Itu yang sedang terjadi di dunia bawah tanpa sepengetahuanku yang malah asyik bermain-main selama ini.” Ujar Beni seraya turut mendesah setelah mengetahui fakta kelam itu.  Tentu saja dia hanya berpura-pura karena dirinya sendiri adalah seorang mata-mata asing.


“Oleh karena itu, menurutku keberadaan Airi di sisi Kaiser adalah hal yang baik.  Bukan begitu Andika?”


“Aku tidak suka Airi.  Tetapi jika dia mampu melindungi sahabatku dari krisis yang saat ini dialaminya, aku justru bersyukur.”


“Yang harus kita lakukan sekarang adalah turut mensupport mereka dengan bantuan yang bisa kita berikan.  Contohnya, dengan menjaga mental Kaiser agar tetap stabil dengan bersikap seperti biasanya.  Bukankah begitu Andika?”


“Ya, kamu benar Loki.”  Andika pun akhirnya paham dan menyetujui perkataan Loki.


“Tetapi aku masih heran, entah itu media, kepolisian, bahkan sampai Lu Tianfeng berkesimpulan seperti itu.  Bukankah wajarnya jika ada kasus pembunuhan berantai seperti ini, polisi harusnya terlebih dahulu menyelidiki bukti di TKP, setelah itu menyelidiki orang-orang yang mencurigakan yang ada di sekitar TKP, kemudian menyelidiki orang-orang yang memiliki motif dendam pada korban atau orang yang terakhir kali berinteraksi dengan korban, lantas menyelidiki perubahan pola perilaku orang-orang tersebut termasuk pada siapa saja mereka baru-baru ini mengadakan komunikasi?”


Andika melanjutkan.


Bukankah polisi seharusnya menyelidiki lingkaran pembunuh profesional atau orang-orang di sekitar korban yang melakukan kontak dengan mereka ketimbang fokus menyelidiki seorang anak SMA?  Jelas-jelas ini aneh.”


“Seperti hipnotis massal saja ya seperti di film-film.  Hahahaha.”  Ujar Beni seraya tertawa memecah keheningan sejenak  setelah Andika mengeluarkan pendapatnya.


Andika mengira Beni hanya bercanda, tetapi Andika tak memperhatikan raut mata Beni yang serius.  Namun, Loki yang punya jaringan informasi yang lebih baik, tidak dapat mengabaikan komentar yang layaknya candaan itu.  Dia menatap mata Beni baik-baik.  Namun, Beni berupaya menghindari untuk bertindak mencurigakan lebih jauh.


***


“Tuan Aizen, saya datang untuk melaporkan hasil investigasi terhadap Dios.”


Dari balik bayang-bayang, tiba-tiba muncul seorang berpakaian ninja yang menutup seluruh badannya kecuali di bagian matanya.  Dia berlutut memberi hormat kepada Tuan Besar yang berbadan gemuk dan besar di hadapannya itu.


Setelah dipersilakan berdiri, dengan sopan, ninja itu memberikan gulungan yang berisi laporannya kepada Sang Tuan Besar.  Tuan Besar itupun membuka laporan tersebut.


Kira-kira isi laporannya seperti ini:

__ADS_1


Pada tahun 2011, almarhum kepala pelayan sebelumnya Keluarga Dewantara, Pak Saikoji, mendatangi sebuah pasar lelang gelap di Swedia untuk menebus seorang anak bernama Dios dengan menggunakan dana pribadi milik Shinomiya Aizen yang baru saja terpilih sebagai kepala keluarga Shinomiya yang baru, menggantikan ayahnya.


Dia pun merawat anak itu, tetapi kurang dari setahun setelahnya, dia meninggal dan menyerahkan hak asuh Dios kepada adiknya, Pak Sajiji, untuk dirawat yang merupakan kepala pelayan Keluarga Dewantara yang sekarang.


Setelah ditelusuri, anak itu diambil secara ilegal di panti asuhan Kabupaten Cirona Provinsi Jawa Barat pada saat panti asuhan mengalami musibah kebakaran sehingga hampir tidak terdeteksi transaksinya.  Namun, setelah mantan asisten manager di panti asuhan saat itu diselidiki, diperoleh catatan transaksi gelapnya dengan Levovo, organisasi yang beroperasi di Eropa yang berpusat di Inggris yang bertanggung jawab pada perdagangan manusia tersebut.


Diduga, mereka sengaja mengincar Dios dan melakukan pembakaran di panti asuhan tersebut karena kespesialannya yang dapat membangkitkan mata birunya di usianya yang 5 tahun padahal anak sindrom pelangi yang lain umumnya memperoleh warisan mata dan cakra kultivasi sejak lahir.  Tidak hanya Dios, mereka juga menculik seorang anak sindrom pelangi yang juga sama-sama memiliki warna mata biru di panti asuhan tersebut yang bernama Zainal.


Adapun orang yang membawa Dios ke panti asuhan, tidak lain adalah ibunya sendiri, selir pertama Shinomiya Aizen, Shinomiya Kana.  Dengan kata lain, Dios adalah anak kandung Shinomiya Aizen yang pada awalnya tidak diakuinya karena tidak berpotensi menjadi orang yang terbangkitkan karena tidak memiliki ciri-ciri anak sindrom pelangi sewaktu dilahirkan.


“Apa ini?  Sejak kapan aku mengirim kepala pelayan dari keluarga Dewantara untuk menebus seorang anak di pasar lelang gelap?  Bukankah pada saat kebakaran itu terjadi, anakku itu telah meninggal?  Jika anak itu masih hidup, mengapa aku tidak mengetahuinya lebih awal sehingga aku dapat melindunginya dengan lebih baik?  Airi.  Aku harus segera menghubungi anak itu untuk turut melindungi Dios.”


Shinomiya Aizen yang biasanya tegas, menunjukkan sisi lembutnya sebagai seorang ayah.  Matanya berkaca-kaca bahagia setelah mengetahui bahwa anak keempatnya itu masih hidup, namun berbalut sedih setelah mengetahui masa-masa sulit yang harus dialami anaknya itu karena sudah menjadi pengetahuan umum bagi yang berpengalaman di dunia bawah tentang bagaimana Levovo memperlakukan ‘barang dagangan’ mereka.


“Tuan tidak mengetahuinya?  Padahal anak itu kembali menggunakan nama aslinya seperti apa adanya di panti asuhan setelah diadopsi oleh Pak Saikoji.  Bukankah Tuan sendiri yang kembali menamai anak itu Dios, nama yang sama yang Tuan berikan padanya sebelum menitipkannya ke panti asuhan?”  Melihat keanehan itu, pelayan ninja itu mau tidak mau bertanya.


“Aku tidak ingat pernah memberi nama anak itu Dios.  Uuugh!”


Aizen pun mendadak pusing.  Keluar darah dari hidungnya.


“Tuan, Anda baik-baik saja?”  Aizen hampir jatuh dari singgasananya, tetapi segera ditahan oleh ninja wanita itu.


Tiba-tiba, kenangannya dengan Shinomiya Kana pascamelahirkan, terlintas di ingatannya.


“Sayang sekali anak ini tidak memiliki warna mata yang sama seperti kakak-kakaknya.  Dia bisa menjadi aib bagiku yang akan menghalangiku untuk terpilih menjadi kepala keluarga Shinomiya selanjutnya.  Ayo bawa dia ke panti asuhan untuk sementara.  Jika waktunya tiba setelah aku terpilih menjadi kepala keluarga, kita akan menjemputnya kembali dan menjadikannya bagian dari keluarga kita.”


“Apa yang kamu katakan, Sayang.  Anak ini baru lahir dan bahkan belum diberikan nama.  Namun, kamu langsung mau membuangnya begitu saja?”


“Tenang, Sayang.  Itu hanya untuk sementara sampai posisiku kuat di keluarga ini.  Untuk nama, benar juga ya.  Kita harus memberinya nama yang elegan.  Kana, Aizen, hmmm…karena kita akan menempatkan anak ini sementara di panti asuhan di Indonesia, mari kita namai anak kita ini dengan Kaiser yang dalam bahasa Jepang berarti ‘dai ou’.  Aku berharap anak ini mampu menjadi penguasa yang besar walaupun tidak dapat mewarisi posisi ayahnya seperti kakak-kakaknya yang lain.”


“Bukankah ini hal yang menggembirakan?  Anak kakakmu itu masih hidup, Kaori.”  Ujar Aizen dengan senyum bahagia di wajahnya seraya membelai pipi ninja wanita itu yang terbalut oleh penutup kainnya.


“Uuugh!”  Sekali lagi Aizen tidak dapat menahan rasa pusing di kepalanya.


“Tuan…Tuan…Kakak!”  Teriak ninja itu panik.

__ADS_1


Sang Tuan Besar pun terjatuh pingsan.


__ADS_2