DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
165. EPILOG


__ADS_3

Di ruangan itu, Agni pun menemui Dios yang tertidur.  Tidak, hanya fisiknya saja yang tertidur, tetapi kesadarannya senantiasa berada dalam keadaan waspadanya.


“Bagaimana keadaanmu, Agni?  Bagaimana menurutmu terhadap kemampuan mereka?”  Tanya Dios dalam suara yang bergema di sekelilingnya, namun rupanya mulutnya masih dalam keadaan tertutup rapat.


“Orang yang bernama Kurtiz Brain itu bukan masalah.  Akan tetapi beda halnya terhadap Arthur Peirriera dan Sandra Nolkin.  Mereka bukan lawan yang mudah.”


“Ah, dan mereka berdualah yang justru saat ini tak luput berada di sekeliling Tuan Muda di sekolahnya.  Apa yang harus kita perbuat?”


Tiba-tiba, sebuah pesan telepati pun tersampaikan untuk Agni.


[Ada apa Number 19?]


[Gawat, Number 1!  Kaisha Luwetzsky tampak memasuki kota ini.]


[Apa?  Satu di antara delapan kultivator level C dunia itu?  Mengapa sampai kedua kultivator level C milik Medusa berkumpul di kota ini?  Baiklah, aku akan segera ke sana.]


“Kalau begitu, Dios, aku pergi dulu.”


“Baiklah, hati-hati di jalan, Agni.”


Dialah Agni, yang tidak lain adalah sang number 1 dalam kelompok rahasia pendukung Kaiser, identitas sebenarnya di balik sosok sang bayangan hitam berambut panjang tersebut.


“Oh iya, Agni, hati-hati agar jangan sampai rahasia bahwa kamu yang membunuh ayah Silva dan Araka ketahuan oleh Lu Shou.  Semuanya malah akan bertambah rumit.”  Sebelum pergi, Dios menyempatkan diri memberi nasihat itu kepada Agni.

__ADS_1


Namun Agni pun menjawab, “Memang benar bahwa akulah yang membunuh Pak Sudarmin.  Tetapi untuk kejadian di Shanghai itu, aku hanya sempat membunuh kedua iblis kultivator Trans.  Adapun selebihnya, dieksekusi oleh kekuatan misterius milik Tuan Muda tersebut.”


“Kalau begitu, ini hal yang gawat.  Bahkan kekuatan Tuan Muda telah mampu menggapai China.  Tampaknya, kita harus menyusun ulang rencana kita.”


Tampak dalam mengucapkan itu, suara Dios dipenuhi kekalutan.  Tidak jauh bedanya dari Agni yang tatapan matanya tiba-tiba seakan memikirkan sesuatu yang rumit.  Namun, apa yang sebenarnya mereka khawatirkan adalah mental tuan muda mereka yang bisa saja terluka dalam penyesalan akibat pembunuhan yang tak disengaja oleh kekuatan mengerikannya itu.  mereka harus segera berbuat sesuatu untuk melindungi tuan mudanya itu.


***


Kemudian di suatu tempat lain, terlihat rombongan yang terdiri dari sepuluh kakek-kakek tua dan lima belas pria paruh baya tampak sedang menyusun rencana.


“Tuan, apa yang harus kita lakukan sekarang?  Keluarga Isnandar telah sepenuhnya dibasmi.  Kita tidak punya tempat perlindungan lagi.”  Tanya salah seorang pria paruh baya di antara mereka.


Rupanya mereka adalah rombongan yang secara ajaib selamat dari ledakan besar yang terjadi di padepokan Isnandar bru-baru ini.  Tidak, hal itu bukanlah keajaiban.  Karena sedari awal, mereka semua adalah iblis yang merasuki tubuh manusia yang mana api sebegitu saja mana bisa memusnahkan mereka.


“Tidak usah panik.  Kita akan segera menuju ke keluarga Wijayakusuma untuk meminta tolong pada sekutu-sekutu kita di sana.”  Salah seorang kakek tua yang dipanggil Tuan oleh pria paruh baya itu pun menjawab.


“Slash!  Slash!  Slash!”  Mereka semua dieksekusi oleh katana pendek sosok itu kemudian mereka semua pun menghilang ke udara nak asap.  Dialah Jeynal, sang pengeksekusi, mantan pembunuh berantai terkenal di kota tersebut, pembunuh berantai Joker Hitam.


***


Di suatu tempat yang lain lagi, ketiga orang berambut pirang berkumpul di dalam suatu kamar sempit berukuran 4x4 meter persegi.


“Bagaimana, Kurtiz?  Apakah kamu sudah memperoleh kabar darinya?”  Sesosok wanita berambut pirang bermata amber itu pun bertanya kepada sesosok pria hampir botak bermata ungu kemerahmudaan tersebut yang dipanggilnya Kurtiz.

__ADS_1


“Maaf, Sandra, dia belum juga menjawab panggilan teleponku.”


“Duh, wanita liar itu!”  Sandra pun mengumpat kepada sosok yang dipanggilnya sebagai wanita liar.


“Tenang, tenang, Sandra.  Sebagai senior yang satu tahun lebih tua darinya, kita harus bersikap lebih bijak dan menunjukkan wibawa kita padanya.”  Ucap sosok pria yang juga berambut pirang dengan warna mata jade-nya mencoba menenangkan Sandra.


“Bagaimana aku bisa tenang, Arthur?!  Menurutmu apa yang akan organisasi lain pikirkan jika 2 orang top kultivator di organisasi kita berkumpul di tempat yang sama?!  Mereka bisa saja berpikir kita merencanakan sesuatu dan mulai bekerjasama untuk memerangi kita.  Apalagi tempat ini adalah tempat yang juga diperhatikan oleh organisasi Trans.”


Ujar Sandra yang tak puas akan perkataan pria tadi yang dipanggilnya sebagai Arthur.  Mungkin ada dari kalian yang lupa, Sandra dan Arthur tidak lain adalah identitas sebenarnya dari Nayla dan Beni yang sedang menyamar di sekolah untuk mengawasi Kaiser.


***


Seorang gadis berambut pirang dengan tampang yang lugu dan terlihat sebagai gadis yang baik tampak berjalan dengan santainya di hari menjelang pagi itu.  Tidak disangkanya, sudah ada rupanya penjaja cemilan di pinggir jalan yang telah menjajakan jajanannya di pagi buta itu.


Dilihatnya suatu jajanan berbentuk bulat berwarna coklat yang empuk, namun penuh dengan minyak.  Dia yang penasaran pun membelinya lantas bertanya,


“Ini jajanan apa Kek?”


“Oh, ini kue cucur, Nak.  Sangat enak.  Cobalah!”  Rupanya sang kakek adalah mantan bartender di bar milik keluarga Isnandar dulu yang terpaksa bangkrut sejak genosida yang terjadi akibat kebakaran besar yang menimpa keluarga tersebut.


“Wah, enaknya!”  Ujar sang gadis dengan wajah polos nan imutnya.


Dia pun melangkah pergi melanjutkan jalan-jalannya.  Dia lantas mengambil smartphone-nya.  Di layar smartphone tersebut, terlihat 24 panggilan tak terjawab dari kontak yang bernama ‘Bald’ (botak).  Gadis itu tampak hanya mengabaikannya lantas membuka aplikasi instagram-nya.

__ADS_1


Dia pun lantas menatap sebuah foto yang berisi wajah seorang pemuda dari akun yang bernama ‘Kaiser Dewantara’.  Gadis itu tampak senyum-senyum sendiri dengan pipi yang memerah.  Akan tetapi, bukan senyum manis seperti apa yang akan kalian bayangkan, melainkan senyum yang biasa ditunjukkan oleh om-om mesum.


“Akhirnya, aku berhasil menemukanmu, Kak Kaiser.”  Ujar sang gadis yang tidak lain adalah Kaisha, seorang kultivator level C asal Medusa.


__ADS_2