
Di lantai 1 RS Dewantara Group, terlihat Kaiser yang sedang memegang kursi roda di mana Bu Melisa duduk di atasnya beserta Lu Shou memasuki pintu lift untuk menuju ke lantai delapan, ruang VIP rumah sakit tersebut.
Awalnya semuanya baik-baik saja hingga pintu lift mulai tertutup. Kaiser berusaha untuk menyembunyikan klaustrofobianya, tetapi Lu Shou yang memiliki insting yang tajam segera menyadarinya.
Tangan dan pupil Kaiser yang biru gemetaran, walaupun dia tampak berdiri tegak dengan biasa-biasa saja. Melihat itu, Lu Shou pun mendekap Kaiser dari arah belakang. Dia memeluk bocah yang rapuh itu dengan hangat.
[Dialog dalam bahasa China]
“Saudara Lu Shou, apa yang Anda lakukan?” Tanya Kaiser yang keheranan dengan sikap Lu Shou kepadanya itu.
“Kamu seorang klaustrofobia, bukan? Tak usah menyembunyikan ketakutanmu seorang diri. Ketika aku dulu di panti asuhan, saat ayahku membuangku ke tempat itu, aku juga punya adik kecil, namanya Xiaoyu, yang juga punya penyakit yang sama denganmu. Dengan aku memeluknya seperti ini, dia dapat lebih tenang menghadapi klaustrofobianya.”
“Bukan itu masalahnya. Aku bukan anak kecil. Terlebih lagi, aku seorang laki-laki.”
“Tidak ada yang salah dengan itu. Seorang pria dewasa pun juga bisa ketakutan. Biarkan aku menenangkanmu sampai keluar dari pintu lift.” Ujar Shou dengan senyum lembut di wajahnya.
Melihat Kaiser yang berkeringat dingin karena tidak dapat menahan trauma masa lalunya itu, Bu Melisa turut mengusap jemari anak itu untuk menenangkannya.
Mereka pun keluar dari pintu lift, memasuki lantai delapan rumah sakit.
“Aku tak menyangka kamu dapat menenangkanku seperti itu, padahal baru beberapa jam yang lalu kamu begitu waspada terhadapku.” Ujar Kaiser yang keheranan dengan tingkah Lu Shou.
“Entahlah. Mungkin karena kamu mengingatkanku pada adik kecilku di panti asuhan itu. Aku hanya tak tega melihatmu menderita karena ketakutan seperti itu. Pasti juga ada hal berat yang telah kamu lalui di masa lalu yang membuatmu mengalami trauma itu.”
“Kamu sungguh tajam bisa segera menyadarinya. Padahal aku rasa telah menyembunyikannya dengan sempurna. Bahkan keluargaku satupun tidak ada yang mengetahuinya.”
Satu hal yang tidak diketahui oleh Kaiser adalah bahwa Pak Lucias, Bu Nana, dan Kakek Ducias telah mengetahui traumanya itu.
***
[Dialog dalam bahasa Jepang]
__ADS_1
“Apa maksudmu berlari? Bagaimana seseorang bisa sampai ke Jakarta dari China dengan berlari?” Tanya Pak Arkias yang keheranan dengan pernyataan Airi.
“Jangan gunakan standar orang biasa untuk para kultivator. Hal paling dasar yang pertama kali dipelajari oleh kultivator ketika berlatih martial art adalah seni berlari. Berlari di atas air, berlari melewati tebing-tebing yang runcing, adalah hal yang lumrah untuk para kultivator. Namun, hanya kultivator level E ke atas sajalah yang dapat mempertahankan staminanya untuk berlari dari jarak ribuan kilometer seperti itu.” Ujar Airi lantas mengembuskan nafas panjang.
Dia melanjutkan, “Yang lebih penting sekarang, segera cari tahu di mana keberadaan Kaiser sekarang. Aku akan segera ke sana untuk melindunginya. Tidak ada waktu lagi. Cepatlah!”
“Baik.” Jawab Pak Arkias. Diapun segera menghubungi asistennya, Pak Astra.
“Apa? Di rumah sakit? … Siapa kamu bilang yang dibawanya? … Apa yang dipikirkan anak itu untuk membawa ibu musuhnya ke rumah sakit kita? ... Apa? Rawat inap dalam jangka waktu panjang?”
Airi yang tak sabar pun segera menepuk bahu Pak Arkias. Pak Arkias pun segera memberi tahu keberadaan Kaiser.
“Kalau begitu, tolong sembunyikan ketidakhadiranku di tempat ini.”
“Tunggu! Bagaimana kamu akan ke sana?” Sekali lagi Pak Arkias bertanya karena keheranan dengan pernyataan Airi.
“Bapak tidak perlu tahu tentang hal itu. Urus saja masalah yang ada di sini.”
***
Airi pun sampai di rumah sakit dengan langsung memanjat ke jendela lantai delapan yang tidak dikunci ketika siang hari itu. Diapun bertemu rombongan Kaiser, Lu Shou, dan Bu Melisa yang terlihat tengah bercakap-cakap di depan pintu lift.
“Oh ya, oh ya? Ada dua orang yang matanya biru. Kedua-duanya juga tampan. Satunya tinggi dan lebih tua, sedangkan yang lain lebih pendek dan masih muda. Oh, pasti orang yang lebih pendek dengan wajah yang lebih tampan itu Kaiser.” Ujar Airi dengan bahasa Jepangnya yang unik ala Kyoto seraya berekspresi nakal.
Airi segera mengeluarkan pisau kecilnya yang mirip pisau dapur namun kurus dan memiliki ukuran satu setengah kali lebih panjang dari pisau dapur standar. Diapun berlari dan hendak menyerang Kaiser dengan pisau itu.
Dengan instingnya yang tajam, Kaiser segera menyadari serangan itu. Kaiser dengan sigap melepas ikat pinggangnya dan menggunakannya untuk menangkis serangan Airi. Lu Shou yang berada di dekat pertarungan mereka, segera berlari menjauh dan memanggil perawat untuk mengamankan Bu Melisa.
Kaiser menggunakan kaki kirinya untuk menendang kaki kanan Airi untuk merobohkan keseimbangannya, tetapi Airi berakrobatik dengan sangat indah dan melayangkan tendangan ke bahu kanan Kaiser.
Kaiser menangkis serangan itu dengan telapak tangan kanannya, tetapi terpental sejauh 30 cm. Diapun mengayun-ayunkan ikat pinggang di tangan kirinya itu untuk menjatuhkan pisau di tangan Airi. Dengan triknya, pisau di tangan Airi berhasil terlepas dan Kaiser hampir mengunci kedua tangan Airi.
__ADS_1
Tetapi tanpa diduganya, pita-pita yang menjuntai di gaun Airi tiba-tiba bergerak sendiri dan menjerat kaki Kaiser. Kaiser pun terjatuh. Airi segera menindih badan Kaiser itu dengan badannya yang lebih mungil.
Airi tersenyum nakal lalu membelai pipi Kaiser.
“Kamu lebih hebat dari yang kuduga.” Ujarnya dalam bahasa Jepang ala Kyotonya.
“Kaiser! Hati-hati! Dia seorang praktisioner!” Teriak Lu Shou dengan bahasa China sembari berlari ke Kaiser setelah sebelumnya mengamankan Bu Melisa terlebih dahulu bersama seorang suster ke salah satu ruangan VIP.
Lu Shou lantas mengeluarkan pedang airnya dan hendak menyerang wanita misterius itu.
“Tidak! Jangan!” Teriak Kaiser dalam bahasa China berusaha menghentikan Lu Shou.
Namun terlambat karena Lu Shou telah lebih dahulu melayangkan pedangnya. Kaiser pun segera menghempaskan Airi yang berbaring di atas tubuhnya lalu menggunakan ikat pinggang di tangannya untuk menghalau pedang air itu.
Momentum dari tabrakan itu lantas membuat Kaiser terpental di dinding.
“Praaak!”
“Kaiser!” Teriak Lu Shou panik sembari segera berlari menghampiri Kaiser dengan tetap menjaga kewaspadaannya pada sosok wanita misterius di hadapannya itu.
Kaiser pun menepuk pundak Lu Shou yang telah berdiri di hadapannya.
“Tenang saja. Wanita itu tidak berniat untuk membunuhku. Dia hanya ingin menguji kemampuan bertarungku saja.” Ujar Kaiser dalam bahasa China untuk menenangkan Lu Shou.
Kaiser pun berdiri dan memposisikan dirinya sejajar di samping Lu Shou. Dia lalu berujar dengan bahasa Jepang,
“Gadis muda dengan warna mata ungu yang indah. Bahasa Jepang ala Kyoto yang khas serta penggunaan pisau khas sebagai senjata ketimbang pedang. Terlebih lagi lambang keluarga Shinomiya di dada kirimu itu. Hanya satu orang yang terpikirkan dengan ciri-ciri seperti itu.”
Kaiser menjeda sedikit ucapannya sebelum melanjutkan, “Jadi, apa yang dilakukan seorang calon pewaris ketiga klan Shinomiya di tempat ini? Shinomiya Airi-san?”
“Oh, rupanya Anda telah banyak tahu tentang saya. Maaf atas ketidaksopanan saya sebelumnya. Perkenalkan, nama saya Shinomiya Airi, calon pewaris ketiga klan Shinomiya. Saya ditugaskan ke sini untuk menjadi pengawal sementara Anda, Kaiser-kun.” Jawab Airi dalam bahasa Jepangnya yang khas ala Kyoto.
__ADS_1