
Kaiser yang keheranan setelah Loki melemparkan pedang yang sekali lihat, dia bisa tahu itu pedang asli, lantas mengambil pedang tersebut.
“Ayo kita latih tanding.”
Seraya Loki mengucapkan hal tersebut, Kaiser segera dapat mendeteksi hawa membunuh yang kuat dari Loki, walaupun wajahnya tampak tersenyum. Kaiser terperangah dan keheranan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi begitu melihat Loki langsung maju dengan pedang terhunus di tangannya dengan kecepatan tinggi, Kaiser refleks menghunuskan pedang dan menangkis serangan tersebut.
“Sreeek!”
Kaiser menangkis serangan itu dengan pedangnya. Namun, dia terdorong mundur sejauh sekitar 20 cm.
“Loki, apa maksud semua ini?” Tanya Kaiser keheranan.
“Sudah kubilang kan? Latih tanding. Ayo main pedang-pedangan denganku sebentar.” Ujar Loki kembali. Kali ini dengan senyum bengis di wajahnya.
“Pedang-pedangan apanya? Ini pedang sungguhan! Salah sedikit, kita berdua bisa cedera dan kemungkinan terburuknya kita bisa saja tewas di tempat!” Ujar Kaiser marah, tetapi Loki hanya menanggapinya dengan senyuman sinis.
Loki lantas berlari ke titik buta Kaiser kemudian kembali mengayunkan pedangnya. Kaiser segera berputar ke kiri sebesar 120 derajat dan menangkis serangan itu. Karena perbedaan tinggi tubuh mereka, posisi pedang Loki berada di atas pedang Kaiser dan Kaiser pun terjerembab ke bawah akibat momentum serangan Loki tersebut.
Loki keheranan karena ada kesempatan besar bagi Kaiser untuk mengarahkan pedangnya di tubuh bagian bawah Loki yang memang sengaja dibiarkan tanpa perlindungan untuk memancing Kaiser menyerangnya, tetapi momen yang ditunggu-tunggu Loki itu tidak kunjung datang. Kaiser sama sekali tidak menyerangnya. Dia hanya fokus bertahan.
Loki pun menendang Kaiser dengan keras sehingga terpental jauh, namun Kaiser mampu tetap mendarat dengan baik. Tubuhnya masih mampu dia posisikan dalam keadaan defensif.
Loki kembali maju menyerang Kaiser. Kali ini dia tampak menggunakan jurus yang sangat cantik bagaikan tarian di film kolosal-kolosal. Pedangnya dia ayunkan ke segala titik, namun Kaiser tetap mampu menangkis semua serangan itu.
Kemudian, dia pun meluncurkan serangan lurus menusuk. Melihat Kaiser yang selama ini hanya menangkis saja, dia pun membiarkan seluruh bagian tubuhnya tidak terlindungi.
[Nah, sekarang Kaiser! Aku dalam posisi offensif 100 persen. Seluruh tubuhku tidak terlindungi. Kamu bisa bebas menyerang bagian mana saja. Kita lihat, apakah kamu punya tekad untuk membunuhku, Tuan Muda?] Gumam Loki dalam hati.
Loki tersenyum sambil meluncurkan serangannya itu. Kedua bola mata hijaunya bersinar. Namun, Kaiser tidak menghindari serangan tersebut. Dia malah menggunakan kesempatan untuk menyerang balik lawan itu, untuk menangkis serangan menusuk Loki dengan bagian datar pedangnya.
“Hei, Loki! Aku mohon, hentikan sampai di sini! Jika ini bercanda, kamu sudah keterlaluan! Atau apa kamu memang serius mau membunuhku?” Kaiser pun berteriak.
“Kalau menurutmu sendiri, bagaimana Tuan Muda?”
“Sebagai orang yang paham martial art, aku memang bisa merasakan keseriusan dari hawa membunuhmu. Tapi tidak mungkin itu semua benar! Aku yakin pada kekuatan pertemanan kita selama ini! Benar kan. Loki?” Ujar Kaiser dengan lebih keras dan yakin.
“Heh!” Loki mencibir.
“Kamu terlalu yakin dengan pertemananmu itu, Tuan Muda. Apakah kamu tidak takut dikhianati?”
“Sayangnya, aku sensitif dengan aura seperti itu. Aku langsung dapat mengenali orang seperti itu ketika berinteraksi dengan mereka. Dan kamu bukan orang yang seperti itu, Loki.” Tiba-tiba, ekspresi Kaiser berubah menjadi sendu. Dia tersenyum hangat pada Loki.
__ADS_1
“Hah, aku memang tak dapat menang darimu, Tuan Muda. Kita sudahi saja sampai di sini.” Ujar Loki seraya kembali menyarungkan pedangnya.
Kaiser pun turut menyarungkan kembali pedang di tangannya.
“Jadi, bisa kamu jelaskan sekarang tentang keributan macam apa yang sedang kamu buat ini, Loki?” Ujar Kaiser dengan tatapan seriusnya mengarah ke Loki.
“Menurut Tuan Muda sendiri, bagaimana?”
“Berhenti mengelak dan tolong jelaskan padaku!” Melihat Loki berusaha mengelak pertanyaan tersebut, Kaiser pun mendesaknya.
Namun, Loki hanya mengatakan,
“Maaf, Kaiser. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Ujar Loki seraya tersenyum sendu.
“Dan apa itu?” Kaiser pun berusaha memastikan sekali lagi.
Namun, Loki hanya terdiam. Melihat itu, Kaiser hanya mengembuskan nafas panjang.
“Hmmm. Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi jika itu adalah sesuatu yang harus dirahasiakan. Tapi, satu hal yang ingin kupastikan.”
Kaiser terdiam sejenak. Melihat jeda sementara itu, tampak Loki menyipitkan matanya dan lebih memfokuskan indranya terhadap apa yang akan dikatakan Kaiser selanjutnya.
“Apakah aku teman yang baik untukmu?” Ujar Kaiser dengan ekspresi sendu di wajahnya.
“Apa? Apakah ada yang aneh dengan pertanyaanku?” Ujar Kaiser seraya merajuk.
“Hahahaha. Maafkan aku, Tuan Muda.” Ujar Loki tertawa seraya menyeka air matanya.
Loki pun menatap lembut wajah temannya itu.
“Kaiser, jujur, kamu adalah teman terbaikku.” Ujar Loki seraya tersenyum.
“Kalau begitu, baiklah.” Ujar Kaiser seraya balas tersenyum.
“Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi, terus terang, aku masih marah padamu. Apapun alasannya, tindakanmu hari ini sangat berbahaya.”
[Jika salah sedikit saja aku kehilangan kontrol, mana mungkin aku akan memaafkan diriku sendiri karena membuat temanku sendiri meregang nyawa dengan konyol. Dasar bodoh!] Lanjut Kaiser dalam hati yang dia tak mampu sampaikan.
“Loki, aku pulang dulu. Aku perlu menenangkan diri.”
“Oh, Kaiser? Ujar Loki seraya berlari kecil meraih pundak Kaiser.
“Tampaknya kali ini aku memang sangat keterlaluan ya. Hehehehe. Maafkan aku ya, Sobat. Ujar Loki yang seraya tertawa canggung.”
__ADS_1
Kaiser lantas berbalik kemudian menatap Loki dengan ekspresi rumit di wajahnya.
“Kamu baru sadar sekarang?! Jangan ulangi itu lagi! Dasar bodoh!”
Setelah mengatakan itu, Kaiser pun segera meninggalkan tempat itu. Loki ingin menahannya, tetapi akhirnya dia biarkan. Tidak tepat untuk membahas masalah itu sekarang.
Loki sebenarnya juga enggan untuk melakukan perbuatan ekstrim seperti itu karena pastinya akan membuat pertemanan dia dan Kaiser menjadi canggung. Jika bukan karena seseorang yang bahkan bertemu langsung dengan kakeknya untuk meminta tolong atas nama negara. Mau tidak mau, dia harus melakukannya.
Sekarang, Loki terpaksa harus kelimpungan mencari cara agar bisa berbaikan kembali dengan teman berharganya itu. Dia berharap agar saja semuanya betul-betul bisa kembali normal seperti sedia kala. Tetapi apakah itu mungkin? Memikirkan itu saja, membuat kepala Loki sakit. Ini semua karena permintaan konyol dari sepupunya itu, Feriandro Wijayakusuma.
“Jadi, bagaimana setelah kamu menyelidikinya dengan kekuatanmu? Apakah dia berpotensi menjadi tersangka pembunuh berantai Joker Hitam tersebut?”
Fero yang sedari tadi menghilang ke belakang, seraya memasuki ruang sanggar begitu kehebohan di ruang tersebut telah mereda.
“Hah!” Loki mengembuskan nafas panjang.
“Ini semua karena permintaan konyolmu, Kak Fero. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Padahal sudah berkali-kali kukatakan bahwa Kaiser tidak mungkin pelakunya.”
Fero hanya terdiam menatap Loki tampak menunggu Loki untuk menjawab pertanyaannya tanpa sama sekali menghiraukan apa yang Loki ucapkan barusan.
“Hah!” Sekali lagi Loki mengembuskan nafas panjang.
“Dia bersih. Dari ribuan kemungkinan masa depan yang kulihat ketika aku menyerangnya, tidak ada satupun kemungkinan, jangankan membunuhku, melukaiku saja untuk melindungi dirinya sendiri, bahkan tidak ada.”
Loki lantas berjalan melewati Fero. Dia kemudian berhenti tepat di belakang Fero.
“Padahal, seharusnya kemampuanku bisa mendeteksi sampai hasrat paling dalam dan paling tersembunyi milik seseorang. Apalagi dalam situasi genting seperti barusan, tidak ada orang yang akan mampu menyembunyikan seratus persen sifat aslinya. Jika dia memang seorang pembunuh, pasti ada beberapa kemungkinan masa depan yang menunjukkan di mana Kaiser akan menebasku bahkan sampai terbunuh.”
Loki terdiam sejenak. Dia lantas menatap dalam-dalam mata Fero.
“Tetapi satu pun tidak ada.” Ujar Loki dengan nada yang tegas.
Dia pun memalingkan wajahnya.
“Tuan Muda pasti benar-benar orang yang naif! Rasa keadilannya pasti sangat tinggi sehingga insting kebengisan yang dimiliki seseorang secara alami jika dalam kondisi terdesak pun, mampu ditahannya dengan tekad nuraninya” Jawab Loki seraya tersenyum kagum.
“Kalau itu, entahlah. Bukankah dia bisa melukai Aleka di mall itu?”
“Itu pertahanan diri.”
“Lantas apa bedanya dengan balas dendam? Bukankah dengan dia membunuh Aleka, Rihana, dan Araka, juga bisa dianggap sebagai pertahanan dirinya?”
“Setidaknya, setelah bersamanya hampir setahun, aku mampu memahami sifatnya. Dia sangat menghargai kehidupan. Orang-orang yang seperti itu, takkan pernah sama sekali tega untuk membunuh seseorang.” Jawab Loki lirih.
__ADS_1