DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
108. Akhir yang Tragis dari Suatu Keangkuhan


__ADS_3

“Aaaaakh!”


Riandra berteriak sejadi-jadinya begitu melihat pembunuh berantai joker hitam itu berjalan perlahan-lahan menghampirinya.  Mukanya memucat begitu melihat senyum bengis pembunuh berantai dari balik topeng yang menutupi bagian atas wajahnya tersebut.


Riandra yang kalap tampak memilih untuk berlari ke arah yang berlawanan daripada memilih untuk mengendarai mobilnya yang ada di belakang pembunuh berantai tersebut.  Dia jatuh terpeleset, namun bangkit kembali dengan cepat mengetahui pencabut nyawanya itu sudah dekat menghampirinya.


Sekitar jarak dua puluh meter-an, pembunuh berantai itu tiba-tiba menghentikan langkahnya mengejar Riandra.


“Yah, sebenarnya aku sangat ingin mengeksekusinya dengan tanganku sendiri.  Dengan begitu, aku bisa puas melihat wajah yang telah menganiaya orang yang paling aku sayangi, meregang nyawa di hadapan mataku sendiri.  Tapi seperti ini menarik juga.”  Ujar sang pembunuh berantai joker hitam sambil tersenyum bengis.


***


Riandra terus berlari ke depan di jalanan lurus yang hanya mengarah ke satu arah itu.  Begitu dia menoleh dan mendapati sang pembunuh berantai joker hitam telah tidak ada lagi mengejarnya, dia pun merasa lega.  Sayangnya, rasa leganya itu hanyalah sementara.


Tiba-tiba, dari balik semak-semak di depannya, sesosok pemuda telah menunggunya dengan mata kuningnya yang menyala dan sebilah kapak di tangannya.  Dialah Tirta Wahyunusa.


“Aaaakh!  Tirta?”  Riandra sempat kaget, tetapi begitu dia memperhatikan sosok misterius itu dengan seksama, dia akhirnya menyadari bahwa sosok misterius itu ternyata adalah orang yang dikenalnya.


Namun, Riandra tidak menurunkan penjagaannya perihal warna mata kuning cerah Tirta yang tidak biasa itu ditambah Tirta baru saja menghilang setelah membunuh kedua orang tuanya sendiri di luar negeri.  Apalagi, dengan kapak di tangannya itu yang tampak siap mencabut nyawa orang kapan saja.


Tirta berjalan dengan perlahan mendekati Riandra sambil memposisikan kapaknya nampak siap untuk menyerang ditambah dengan raut wajah bengis nampak siap untuk membunuh itu.


“Tirta?  Apa yang mau kamu lakukan?  Jangan mendekat!!!”  Riandra yang panik mendapati penampilan dan tingkah Tirta yang tidak biasa setelah lama menghilang itu, lantas menunjukkan kewaspadaannya ke tingkat maksimal.  Dia menyamakan langkah Tirta yang maju menghampirinya dengan langkah mundurnya menjauhinya.


“Pergi!  Jangan dekati aku!  Anak rakyat jelata sialan!”  Riandra berkata lantang kepada Tirta, namun tampak Tirta tidak menggubrisnya dan terus memantapkan langkahnya semakin mendekati Riandra dengan kecepatan yang lebih cepat.


Melihat hal itu, Riandra pun bertambah panik dan akhirnya memutuskan untuk lari.  Tetapi karena di belakangnya ada pembunuh berantai joker hitam, dia tak dapat berbalik arah.  Diapun memutuskan untuk memasuki jalan yang penuh semak-semak yang terdapat tepat di sebelah kanannya saat ini.


Riandra berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada satupun orang yang tampak menggubris permintaan tolongnya.


Tempat itu sepi, tetapi ada beberapa rumah yang berdiri di sekitar, termasuk di pertigaan di mana dia bertemu dengan Tirta, ada sebuah warung di sana walaupun tampak tutup sekarang.  Dia berharap akan ada orang yang mendengar teriakan minta tolongnya, apalagi beberapa rumah tampak menyala lampu terasnya yang mengindikasikan kemungkinan ada orang di rumah tersebut.

__ADS_1


Namun anehnya, suasananya terlalu senyap dan sama sekali tidak ada tanda orang-orang di sekitar.


Riandra pun berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan diri, tetapi Tirta mampu berlari lebih kencang darinya.  Dan akhirnya,


“Aaaakh!”  Tirta berhasil meraih rambut gondrong Riandra dan menjambaknya.


Tidak lama berselang setelah itu,


“Praaaak!”  Terdengar suara tebasan kapak dan Riandra pun tersungkur ke tanah.


“Eh, apa?”  Riandra yang tak dapat menanggapi apa yang sebenarnya sedang terjadi meraba-raba tubuhnya dengan tangan kanannya.


“Darah?  Aaaaaaakh!”


Dia akhirnya menemukan banyak percikan darah di tubuhnya.  Dan begitu dia mengamati dengan seksama bagian tubuhnya, dia akhirnya mendapati bahwa tangan kirinya telah terlepas dari badannya.  Diapun menjerit sejadi-jadinya.


“Hahahahaha.  Lucu juga.  Orang yang selalu menghinaku sebagai rakyat jelata, yang selalu membangga-banggakan superioritasnya hanya karena sedikit beruntung terlahir di keluarga kaya dan dari garis keturunan ningrat, kini sekarat di hadapanku.  Hei, bagaimana rasanya dipandang rendah oleh seorang rakyat jelata?”  Ucap Tirta seraya menatap Riandra dengan penuh kebencian.


Namun, karena kondisinya yang kehilangan banyak darah, kecepatan Riandra melambat.  Tirta pun hanya mengejar Riandra dengan santainya melangkah.


“Tidak.  Tidak.  Tidak!  Mengapa semuanya menjadi seperti ini?  Aku suka membuli.  Aku suka menyiksa orang yang lemah.  Aku suka membuat orang lain menderita.  Aku suka merendahkan para rakyat jelata itu.  Memangnya kenapa dengan semua itu?  Aku berhak dengan semua itu karena aku orang yang spesial.  Aku seorang keturunan ningrat.”  Ujar Riandra sambil terengah-engah yang tampak mulai kehilangan stamina perihal anemia.


“Tetapi aku tidak ingin berada pada posisi yang sebaliknya.  Salah.  Semua ini salah!!!”  Ujarnya sekali lagi dengan kesadaran yang tampak sedikit lagi akan hilang.


Tirta terus mengejar Riandra dengan langkah santainya dengan ekspresi girang di wajahnya, bagaikan seekor kucing yang kegirangan memainkan tikus mangsanya sebelum dilahapnya.


“Traaaak!”  Sesaat kemudian, begitu Tirta sudah cukup puas melihat Riandra yang berlari kesakitan, suara tebasan sekali lagi terdengar dan Riandra kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh.


“Eh?  Apa yang terjadi?”  Ujar Riandra keheranan sembari melihat ke bawah tubuhnya.


“Aaaaaaakh!”  Betapa kagetnya dia begitu mendapati bahwa kali ini, kedua kakinya yang terpisah dari badannya.

__ADS_1


Namun, dia tidak menyerah.  Dia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk bergerak maju.  Dengan tangan kanannya, satu-satunya alat gerak yang masih menempel di badannya itu, dia merangkak ke depan.


Melihat perjuangan Riandra yang mati-matian itu untuk bertahan hidup, Tirta pun tersenyum puas.  Dia begitu menikmati pemandangan orang yang angkuh itu merangkak di tanah demi berjuang untuk hidup di saat kematian sudah dekat menghampirinya.


Dia sangat senang dengan pemandangan itu seolah-olah Riandra adalah seekor cacing yang menggeliat kesakitan ketika badannya dibelah dua.


“Tidak.  Aku ingin hidup.  Aku ingin hidup. Akulah yang seharusnya berdiri di puncak sebagai keturunan ningrat dan membuat semua keturunan rakyat jelata itu menderita.”  Ujar Riandra di saat kesadarannya perlahan memudar.


Diapun kembali mengingat pembicaraannya bersama dengan Araka dan Aleka.


“Araka, aku sudah bilang berkali-kali kan bahwa Tirta itu tuh tak pantas bergaul dengan kita.  Dia sama sekali tak ada darah ningratnya.  Hidupnya pun sekarang ini bergelimpangan harta hanya karena menjilat pada Pak Sudarmin.  Bisa tidak kamu melakukan sesuatu agar dia terusir dari geng kita?”  Ujar Riandra kepada Araka.


Namun, sebelum Araka menjawab perkataan Riandra, Aleka terlebih dahulu memotong. “Riandra, kamu sudah keterlaluan.  Emangnya ini di zaman apa sih sehingga kamu masih memperhatikan garis keturunan seperti itu?!  Zaman kerajaan kan sudah lama berakhir.  Yang penting sekarang itu, power and money!  Kamu juga setengah rakyat jelata kan? Sudah waktunya kamu menerima Tirta sebagai bagian dari kita.”


“Benar seperti apa yang dikatakan Aleka.  Orang tua Tirta juga adalah orang yang penting yang banyak membantu kita dalam menjalankan transaksi di dunia bawah.  Terlebih, Silva sangat menyayanginya.  Tidak mungkin kalau aku membuang orang yang keberadaannya penting bagi geng kita seperti itu.  Sepertinya kamu yang harus berubah, lebih harus terbuka dengan perkembangan zaman.”  Araka pun memberikan jawabannya atas komentar Riandra tersebut.


Kembali ke masa sekarang.


Riandra yang telah hampir kehilangan kesadarannya perihal kehabisan darah, tampak menggumamkan sesuatu.


“Benar kan kataku, Araka?  Yang namanya rakyat jelata itu, tak dapat dipercaya.  Mereka hanya akan menggerogoti kita sampai habis dan ketika rasa manis itu telah hilang dari diri kita, mereka tidak akan segan-segan melempar kita untuk beralih ke tuan yang selanjutnya.”


Dan “Praaaak!”


"Aku ingin hidup..."


Sesaat kemudian, Riandra terdiam.  Dia diam dengan posisi kedua mata yang terbuka lebar.  Sebuah kapak rupanya telah menancap ke kepalanya.  Dia telah mengembuskan nafas terakhirnya dengan serangan terakhir di mana Tirta menancapkan sebuah kapak ke belakang kepalanya tersebut.


Melihat pemandangan itu, tampak Tirta sangat puas.  Dia tertawa girang seakan-akan semua beban pikiran yang ditumpuknya selama ini, terbebas begitu saja.


“Hahahahahaha!”  Tirta tertawa sejadi-jadinya.

__ADS_1


Tampak samar, tapi bisa terlihat suatu ukiran aneh di kapak itu.  Sebuah ukiran kartu empat spade yang tersilang salah satu lambang spadenya tepat terukir di salah satu sisi bagian besi kapak tersebut.


__ADS_2