
Di suatu pagi buta, Pak Sudarmin dengan termenung berdiri di depan makam Vet Tcin. Telah berlalu 4 hari sejak kejadian tragis menimpa Vet Tcin dan anaknya itu.
Vet Tcin, Sudarmin Filantropi, dan Ruhan Zidan adalah teman seangkatan dan sejurusan semasa kuliah dulu di Amerika Serikat jauh sebelum Rihana lahir. Mereka bisa dikatakan teman yang cukup dekat sebagai sesama orang Asia di negeri pirang.
Singkat cerita, mungkin karena pengaruh sering bertemu atapun karena kecocokan, Sudarmin dan Ruhan sama-sama naksir dengan Vet Tcin.
Tetapi Sudarmin memilih untuk mundur karena keluarga. Dia lebih memilih karir daripada urusan percintaannya. Diapun segera melupakan cintanya begitu lulus dan langsung kembali ke Indonesia lalu menikah dengan keluarga yang mampu mendukung kekuasaan keluarganya segera menggantikan ayahnya memimpin perusahaan keluarganya.
Berbeda dengan Ruhan, Ruhan memperjuangkan cintanya. Bahkan nekad memberontak dengan ayahnya dan pergi ke Thailand hanya demi menikahi Vet Tcin.
Sang Ayah yang tak memiliki pewaris pengganti akhirnya menyetujui keputusan Ruhan. Ruhan pun kembali ke Indonesia dengan status sebagai suami Vet Tcin.
Vet Tcin sendiri adalah anak yang lahir di luar nikah di mana ayahnya biologisnya sendiri tidak mengakui keberadaannya dan ibunya hanyalah pemilik restoran kecil sehingga tidak ada hambatan dari keluarga Vet Tcin sendiri atas pernikahan mereka.
Vet Tcin pun ke Indonesia dan bertemu kembali dengan Sudarmin. Sudarmin yang masih memiliki rasa kepada Vet Tcin pun sering mendukung Vet Tcin dari belakang, walaupun hanya sebatas kawan lama saja.
Sudarmin tidak pernah sedikitpun menampakkan perasaannya pada Vet Tcin. Oleh karena itu, istri Sudarmin pun tidak merasakan keberatan akan kedekatan mereka.
Setelah perusahaan milik keluarga Zidan terancam bangkrut, Sudarminlah yang memperkenalkan Vet Tcin kepada kolega-koleganya agar Vet Tcin mampu bangkit. Sebagai lulusan jurusan hubungan internasional Universitas Harvard, tidaklah sulit baginya untuk direkrut oleh NTV News. Dan berkat support Sudarmin dari belakang, Vet Tcin mampu menggapai puncak karirnya.
Hanya saja karena pengawasan pesaing-pesaing dari keluarganya sendiri yang mengancam kedudukannya, Sudarmin tidak dapat terlibat terlalu langsung untuk mencegah rumor yang tidak diperlukan, tetapi berkat dibarengi kerja keras Vet Tcin, Vet Tcin tetap dapat dengan mudah menggapai posisi yang dulu ditempatinya itu sebelum terjatuh akibat kasus Kaiser.
“Tenang saja Vei Vei, aku pasti akan membalaskan dendammu ini.” Ucap Pak Sudarmin seraya menghapus air mata yang membasahi pipinya.
***
__ADS_1
“Bagaimana menurut Anda, Kapten?” Mono membuka diskusi dengan bertanya kaptennya.
“Di jasad Aleka ditemukan kartu 8 skop bersilang di salah satu lambangnya dan kini giliran kartu 7 skop. Bukankah ini sudah jelas akan menjadi kasus pembunuhan berantai?” Sanggah Dono.
“Jika ini memang pembunuhan berantai, apa berarti akan ada 6 korban lagi? 6, 5, 4, 3, 2, dan as skop?” Fero ikut menambahkan deretan pertanyaan dalam diskusi mereka.
“Jika kita menghitung pelaku pembulian Dios, tersisa 6 orang yakni Silva, Araka, Dirga, Tirta, Riandra, dan Jingmi yang saat ini ada di penjara Hongkong.” Ujar Mono menjawab pertanyaan dari Fero.
“Apakah kalian masih mencurigai Kaiser sebagai pelakunya?” Fero sekali lagi mengungkapkan pertanyaannya.
“Jika ini memang berhubungan dengan kasus pembulian Dios, maka dialah orang yang paling dekat dengan korban itu yang akan membuatnya menjadi tersangka” Kali ini Dono yang menjawab pertanyaan Fero.
“Kita masih belum mengetahui motif tersangka secara pasti. Jangan menggunakan asumsi dari media sebagai landasan dari penyelidikan.” Bianca dengan tegas menolak jawaban Dono.
“Itu benar. Kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu tanpa bukti yang pasti. Kita belum mengetahui motif yang sebenarnya dari pelaku karena kurangnya bukti. Tetapi mengingat bahwa kasus pembulian Dios bisa menjadi hal yang menghubungkan kedua korban, kita tidak boleh melewatkan penyelidikan ini. Ada kemungkinan juga bahwa ada orang lain yang dendam kepada pelaku pembulian Dios selain Kaiser. Ini kita tidak boleh lewatkan dalam penyelidikan.” Sang Kapten yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
“A-da-buk-ti-nya?!” Bianca menekankan satu demi satu frasa dalam pertanyaannya dengan nada yang terkesan sangat tidak ramah.
“Sekarang aku juga ragu kalau Kaiser pelakunya. Soalnya pada hari kejadian, dia terkunci bersama dengan Andika di ruang tertutup.” Fero mengatakan hal itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya.
Forum diam sejenak sampai Mono membuka kembali diskusi itu. “Jika calon korban seperti yang tadi saya sebutkan, bukankah kita harus segera meminta tim bantuan untuk melindungi calon korban?”
Kapten Danielo meremas tangan kirinya dengan tangan kanannya dan menyandarkan kedua sikunya di meja. “Aku akan membuat laporan kepada atasan terkait dengan hal ini untuk ditindaklanjuti. Personil kita terbatas sehingga kita tidak bisa bebas bergerak. Namun khusus untuk Jingmi, Mono, aku ingin kamu segera berkoordinasi dengan konsulat kita di Hongkong untuk membantu kasus ini.”
“Siap Kapten.” Jawab Mono dengan tegas.
__ADS_1
“Untuk yang lain tetap lakukan tugas penyelidikan seperti biasa dan bekerjasamalah dengan tim lain yang ditugaskan untuk kasus Rihana. Untuk Fero, kamu selidiki lebih mendalam tentang Kaiser, kesehariannya di sekolah, dia sering kemana, termasuk jejak digitalnya di sosial media.”
“Siap Kapten” Bianca, Dono, dan Fero menjawab dengan tegas bersamaan.
“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan surat pemanggilan Kaiser sebagai saksi?” Tanya Kapten kepada Dono.
“Tentunya itu sulit kan Saudara Dono? Mengingat tidak ada bukti keterlibatan dia di dalamnya.” Mono menambahkan.
“Bukankah kita terlalu menekan anak yang masih berumur 15 tahun? Bagaimana jika nanti dia mengalami trauma mental?” Bianca turut mengeluarkan pendapatnya dengan emosi seraya memukul pelan meja dengan kedua telapak tangannya.
Dono menanggapi aksi Bianca itu dengan senyuman sinis. Dia lantas menoleh ke arah kaptennya. “Tidak masalah Kap, sebagai siswa teladan dia tentu tidak bisa menolak dalam membantu penyelidikan polisi. Dia menerimanya dengan mudah. Seraya mengatakan hal itu, tampak senyum lebar penuh kemenangan dikeluarkan oleh Dono.
“Oh iya, di samping itu, kita ketambahan satu orang saksi lagi.” Dono mengatakan hal itu seraya tersenyum lebih lebar dengan jahat.
***
Kembali ke dua jam sebelum Dono mengatakan hal itu.
Dono tampak berdiri seorang diri di gerbang sekolah milik Kaiser. Tidak lama kemudian, bel pulang berbunyi dan para siswa berhamburan keluar.
Tampaklah di antara mereka, sosok yang begitu menonjol dengan rambut halus jatuh, mata biru bagai kilau berlian, kulit yang putih bersih, bentuk badan yang tegak dan berotot secukupnya, sayangnya dengan tinggi yang tidak terlalu menonjol. Dialah Kaiser.
Melihat Kaiser, Sang Polisi langsung menyapanya.
“Yo Tuan Muda.”
__ADS_1
“Halo Pak Polisi. Kita bertemu lagi.” Ujar Kaiser atas sapaan polisi dengan senyum ramahnya.
“Ah, kamu polisi yang waktu itu! Apalagi maumu?” Andika yang berdiri di belakang Kaiser langsung meloncat ke depan Kaiser seraya menunjukkan gelagat defensif seolah untuk menghalangi polisi itu mengganggu sahabatnya.