
Aku mengawasi Kaiser selama lebih dari 3 jam. Tapi apa ini? Bukannya malah depresi karena berita yang dibuat ibuku, dia malah dengan riangnya bermain game, jalan-jalan, baca buku. Apa ini? Sungguh menjengkelkan. Bukannya dia seharusnya depresi dan pakai narkoba? Bukankah itu yang biasanya dilakukan oleh anak konglomerat yang punya banyak uang saku seperti Araka, Dirga, dan Aleka? Ah, sungguh menyebalkan!
Walaupun kecewa, aku masih tetap melanjutkan pengawasanku berharap sedikitnya ada insiden kecil yang bisa membuat nama baiknya tercemar seperti menabrak nenek tua di jalan lalu membentak-bentaknya. Bukankah itu yang selalu dilakukan oleh Riandra yang tampak sebagai anak baik di luar, tetapi sebenarnya memiliki hati yang sangat busuk di dalam?
Di luar dugaanku, Kaiser malah bertemu dengan polisi yang ditugaskan untuk menyelidikinya. Dengan bodohnya, polisi itu malah membeberkan tindakan pengawasannya kepada Kaiser. Kalau seperti ini, bukankah justru Kaiser akan semakin menjadi waspada sehingga akan semakin sulit untuk menemukan kelemahannya.
Ah, dasar polisi bodoh! Kalau seperti ini, tidak ada gunanya lagi memata-matainya. Akhirnya, akupun memutuskan untuk menyudahi pengintaianku pada Kaiser. Tetapi sebagai jaga-jaga, aku menyewa detektif swasta untuk tetap mengawasinya.
Aku kira kesialanku akan berakhir sampai di situ. Tapi apa ini? Sebegitu hebatnyakah Kaiser di mata orang-orang itu sehingga mereka semua rela turun di jalan berunjuk rasa untuk menuntut pemulihan nama baiknya?
Apa pula ini? Masyarakat-masyarakat bodoh yang tidak tahu tempatnya itu malah menambah runyam suasana dengan ikut-ikutan menuntut ibuku di depan publik.
Aku stres rasanya dan yang bikin tambah emosi lagi, artis-artis yang dibayar untuk mengalihkan perhatian publik, tidak ada yang kerjanya benar. Entah itu si tukang pamer perhiasan, pembawa acara TV lebay, maupun peramal terkenal tapi gadungan itu.
Aku sedih melihat kondisi ibuku yang dibuli di publik seperti itu. Setelah dipikir-dipikir, ini adalah salahku karena mengusik Kaiser duluan. Tidak, tanpa aku usik pun, pasti Tirta akan turun tangan juga pada akhirnya karena sebenci-bencinya aku pada Dios, kebencian Tirta pada Kaiser jauh lebih besar.
Atasan-atasan Ibu yang aku harapkan dapat membantunya malah memilih untuk memutuskan tali dan menjadikan ibuku sebagai kambing hitam. Dunia ini, sungguh memuakkan!
***
Rihana yang baru membuka pintu lantas melihat ibunya marah-marah sambil menelepon.
“Mengapa aku harus menyerahkan saham-saham itu?! Bukannya itu sudah menjadi hak milik pribadiku sebagai hasil jerih payahku sebagai babu yang membersihkan berita-berita buruk yang menjerat kalian? Lantas bagaimana dengan biaya hidup kami setelah ini?! Uang kompensasi yang kalian berikan, apa kalian pikir itu cukup? Halo? Halo?!”
“Tiiit tiiit tiiit”
Terdengar suara telepon yang terputus. Tampaknya, orang yang ditelepon Vet Tcin mematikan secara sepihak panggilannya. Vet Tcin lantas mengacak-acak rambutnya dan jatuh tersungkur di lantai.
__ADS_1
Rihana yang melihat hal itu, dengan sigap meraih ibunya.
“Ibu? Ibu baik-baik saja?” Tanya Rihana yang khawatir terhadap ibunya.
“Nak, saham-saham milik Ibu, semuanya diambil oleh orang-orang licik itu. Hiks hiks hiks.” Vet Tcin yang selalu menjaga ketegarannya di hadapan anaknya itu, kali ini benar-benar dilanda keputusasaan yang sangat dalam sehingga kali ini tak dapat membendung air matanya di hadapan anaknya itu.
Di luar dugaan, Rihana tidak merengek atau ikut menyalahkan ibunya. Dia justru memeluk ibunya erat-erat dan membelainya dengan lembut.
“Tenang saja Bu. Kita masih punya uang simpanan kan? Kita bisa menggunakannya untuk sementara waktu selama menunggu keadaan menjadi tenang. Setelah itu, kita bisa membuka butik bersama di luar ibukota. Sebenarnya, setahun lalu sebelum nenek meninggal, aku sempat berbincang-bincang dengannya. Katanya Ibu sebenarnya dulu bercita-cita ingin menjadi seorang desainer. Ayo kita wujudkan cita-cita Ibu yang tertunda itu. Rihana juga sebenarnya daripada dunia jurnalistik, Rihana lebih tertarik pada dunia fashion.” Ucap Rihana seraya tersenyum lembut pada ibunya.
“Benar juga. Akan selalu ada jalan jika kita tidak menyerah.” Ucap Vet Tcin secara optimis seraya ikut tersenyum lembut dan mengusap-usap belakang kepala Rihana yang tidak tertutup topi.
Pasangan anak-ibu itu kemudian kembali berpelukan dengan senyum optimis di wajah mereka.
***
Di tengah-tengah sarapan itu, Sang Ibu membuka percakapan. “Nak, bagaimana kondisimu? Apakah kamu sudah baikan?”
“Oh iya, itu benar. Saya mendengar kabar kalau kamu sering pingsan ya belakangan ini di sekolah?” Tanya Sang Bibi menambahkan.
Raut muka Sang Ibu, Sang Ayah, Sang Kakek, dan juga Sang Paman di sekelilingnya tampak sangat begitu khawatir padanya. Rupanya, mereka semua berkumpul hari ini setelah menyaksikan konferensi pers Kaiser kemarin yang menampilkan wajah penuh penderitaannya. Jadinya, dengan tanpa saling janjian satu sama lain, mereka berkumpul karena kekhawatiran mereka terhadap keluarganya itu.
Selama ini, ketika mereka bertemu dengan Kaiser di rumah, Kaiser selalu tampak ceria dengan senyum khas ala pangerannya sehingga mereka berpikir bahwa bodyguard-bodyguard yang mereka sewa buat Kaiser telah cukup untuk melindunginya dan juga bahwa Kaiser adalah anak yang kuat untuk bisa mengatasi hal itu sendiri sementara mereka bisa fokus untuk menangani apa yang perlu mereka tangani untuk meng-back up keluarganya itu. Tetapi setelah melihat konferensi persnya itu di mana Kaiser tampak begitu lemah dan tak berdaya, mungkin mereka salah selama ini.
Satu hal yang mereka tidak tahu, yakni Kaiser lebih dewasa dari yang mereka pikirkan. Kaiser memang sengaja tampak lemah begitu, tidak lain untuk menarik simpati publik. Mereka memang tidak salah menilai. Mental Kaiser memang kuat.
“Aku tidak apa-apa kok Bu, Bi.” Jawab Kaiser seraya tersenyum ala pangerannya.
__ADS_1
“Lebih penting dari itu. Aku ingin menyampaikan sesuatu.” Lanjut Kaiser seraya merotasikan kepalanya secara horizontal sejauh 160 derajat secara bolak-balik untuk menatap satu-persatu wajah ayah, kakek, paman, bibi, dan ibunya.
“Apa itu Nak?” Sang Ibu tampak begitu penasaran bercampur khawatir.
“Mulai hari ini, aku tidak ingin lagi diawasi oleh bodyguard.” Ucap Kaiser dengan yakin.
“Apa?”
“Kaiser apa yang kamu katakan?”
“Cucuku kenapa?”
Ibu, paman, dan kakek Kaiser berkomentar spontan hampir bersamaan sementara ayahnya menganga kaget tanpa sanggup mengeluarkan perkataannya. Hanya bibinya yang tetap mendengarkannya dengan tenang.
Pernyataan Kaiser membuat mereka begitu terkejut. Mereka berlima seraya menatap Kaiser. Kaiser dengan santai mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya sebelum berbicara.
“Kek, Bu, Ayah, Paman, dan juga Bibi, Kaiser sangat bersyukur atas perhatian kalian. Tetapi, satu minggu lagi sekolah kami akan menghadapi UTS. Anak-anak akan mulai sibuk belajar mulai sekarang. Keberadaan bodyguard-bodyguard itu akan mengganggu kenyamanan mereka.” Ujar Kaiser seraya menggaruk-garuk rambutnya sendiri sambil tersenyum canggung.
Sang Ibu yang kebingungan mengambil keputusan menatap Sang Ayah untuk membantu sementara Sang Ayah menatap Sang Anak.
“Kamu yakin?” Tanya ayah Kaiser.
“Iya Ayah. Apalagi wartawan sudah tidak terlalu liar lagi dibandingkan dulu. Yah, walaupun masih ada beberapa yang masih mengintai di sekolah. Tetapi dengan jumlah yang tidak intens lagi, saya pikir sekuriti sekolah sudah bisa menangani mereka.” Jawab Kaiser dengan yakin.
“Yah, kalau itu keputusanmu, maka Ayah akan mengikuti. Ingat untuk segera menghubungi Ayah jika kamu dalam masalah. Paham?” Sang Ayah menanggapi sambil menatap baik-baik kedua mata putranya untuk memastikan putranya mengingat ucapannya.
“Siap Yah.” Jawab Kaiser sambil tersenyum ceria.
__ADS_1