
“Aku hanya tak ingin menambah korban yang tak perlu. Menang dalam hal jumlah takkan efektif menghadapi sang joker hitam. Jika disebutkan dengan gamblang, kalian justru hanya akan jadi beban.” Ujar Kaiser dengan tampak tatapan serius dari bola matanya yang berwarna biru itu.
“Hoh, ternyata kau angkuh juga ya, Kaiser. Bukankah sebelumnya kau pernah seimbang melawan Loki? Asal kau tahu saja, aku jauh lebih hebat darinya.” Gusar karena kemampuan timnya diragukan, Fero pun mengucapkan kalimat yang angkuh tersebut.
“Ting tong.”
Tiba-tiba sekali lagi bel pintu berbunyi.
Kaiser pun segera membukakan pintu. Rupanya kali ini yang datang adalah Andika Setiabudi.
“Andika. Yo Sobat, lama tak jumpa. Silakan masuk.” Sapa Kaiser dengan sopan seraya mempersilakan sahabatnya itu masuk.
Begitu memasuki kediaman Kaiser, Andika menjadi sedikit keheranan mendapati dua tamu yang tak biasa itu.
Benah-benah pascamakan siang pun usai. Rombongan tamu bersama Kaiser dan Airi lantas memasuki ruang latihan bawah tanah rumah mereka.
“Aku tidak menyangka ada ruang seperti ini di bawah tanah rumah keluarga Dewantara. Sungguh sesuatu bagi para konglomerat!” Ujar Fero keheranan.
“Ini adalah tempat di mana aku dan Andika terkadang melakukan berbagai macam hal. Basket, dart, billiard, bulu tangkis, tenis meja…” Ujar Kaiser seraya menunjuk satu-persatu tiap ruangan sesuai dengan fungsinya itu.
“…dan seni beladiri bebas.” Kaiser lantas menegaskan kata terakhir yang diucapkannya dengan menekankan sedikit lebih tinggi intonasi pengucapannya seraya menunjuk ruang terakhir sekaligus yang paling besar di antara semuanya.
“Bagaimana kalau kita latih tanding seni beladiri bebas, Fero.” Kaiser pun mengajukan tantangannya kepada Fero.
“Oho, kamu mau mencoba menguji kemampuanku ya. Dengan senang hati.” Ujar Fero menerima tantangan itu dengan senyum penuh percaya diri.
Mereka pun memulai pertarungan, tetapi dalam sekejap Kaiser mengalahkan Fero.
“Eh, apa ini? Aku kalah hanya dalam beberapa jurus? Ini mustahil. Mari kita ulangi sekali lagi! Tadi aku hanya lengah.” Ujar Fero yang tak terima kekalahannya.
“Hah” Kaiser pun menghela nafasnya.
__ADS_1
“Bahkan kemampuanmu masih jauh di bawah Andika.” Ujar Kaiser dengan nada datar, tetapi sangat menusuk harga diri Fero tersebut.
“Apa kamu bilang? Kamu terlalu meremehkan aku. Baiklah, Andika, ayo kita latih tanding!” Fero yang tak terima hinaan Kaiser yang bahkan dibilang lebih lemah dari Andika, siswa biasa-biasa saja yang tak pernah melewati pelatihan khusus seperti dirinya, itu pun menjadi gusar.
“Eh, apa ini? Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi jika kamu menantangku untuk latih tanding. Maka ayo kita mulai.” Andika pun menerima tantangan tersebut.
Dan untuk yang kedua kalinya, Fero dikalahkan dalam sekejap, walau membutuhkan waktu 3 kali lebih lama dari Kaiser.
“Apa ini? Kalian kan anak royal? Tetapi mengapa kalian sekuat itu?” Ujar Fero mempertanyakan kelemahannya dirinya.
Bianca yang turut menyaksikan latih tanding mereka juga turut tak dapat menyembunyikan ekspresi kagetnya.
“Aku tak menyangka Dek Kaiser mampu berkembang menjadi jauh sehebat ini. Kamu bahkan mampu mengalahkan Fero yang telah dilatih khusus pertarungan jalanan.” Ujar Bianca dengan kagum.
“Sekarang, kalian berdua mengerti kan? Tidak ada gunanya kalian berdua mengkhawatirkan persoalan keamananku. Lagipula waktu itu Airi sempat memojokkan sang joker hitam. Jika kali ini ditambah dengan dukunganku dan Agni, pembunuh berantai itu pasti bisa dikalahkan.”
Kaiser pun terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
“Hah, Wijayakusuma? Bukannya Putrawardhani kan?” Mendengar Kaiser menyebut Fero sebagai keluarga Wijayakusuma padahal setahunya Fero berasal dari keluarga Putrawardhani, Andika pun berucap keheranan.
“Ah, identitas Fero yang sebenarnya…”
Belum selesai Kaiser berucap, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atap ruang bawah tanah itu.
“Aaaaaakh!”
“Traaaak!”
Bu Nana yang baru saja masuk bersama dengan seorang pembantu dengan tujuan untuk menyajikan minuman dan cemilan kepada para tamu tersebut, berteriak histeris seraya memecahkan gelas minuman yang dibawanya karena kaget dengan guncangan tiba-tiba bersamaan dia memasuki ruangan tersebut.
“Ibu!” Kaiser pun segera menuju ke arah ibunya begitu dia melihat kedatangan ibunya itu yang terlihat sementara ketakutan perihal guncangan yang cukup keras tersebut.
__ADS_1
“Seperti yang diharapkan dari seorang pangeran sok polos. Menolak bantuan karena tidak ingin jatuh korban lebih banyak?! Sungguh pemikiran yang konyol. Setidaknya jika kau memanfaatkan mereka, mereka akan menjadi shieldmeat bagimu untuk memperpanjang sedikit waktu kematianmu.”
Dari hiruk-pikuk itu, tiba-tiba terdengar suara lantang yang tidak jelas warna suaranya perihal kemungkinan pemakaian voice changer. Dari atas atap, tampak telah bergelantungan suatu sosok yang tidak lain merupakan sumber suara tersebut. Seluruh tubuhnya tertutupi oleh pakaian hitam ketat di mana wajah bagian atasnya tertutupi oleh topeng putih pierot. Dia tidak lain adalah sang pembunuh berantai joker hitam.
“Kamu, bagaimana kamu bisa masuk ke mari?!” Bianca pun berujar dengan menampakkan kebenciannya yang teramat sangat kepada sosok tersebut.
“Tentu saja aku kemari untuk bertemu pangeran sok polos kita. Soalnya ada hal yang ingin aku tanyakan padanya.”
Kaiser pun berdiri dengan menghadapkan tubuhnya menutupi tubuh ibunya dari sosok joker hitam tersebut. Dia pun berujar, “Jadi, hal apa itu yang ingin kau tanyakan?” Ujar Kaiser tegas dengan tatapan mata yang membara.
“Hmmm. Gimana ya aku ngomongnya. Sebenarnya, ada hal yang membuatku bingung. Bagaimana sebaiknya aku mengeksekusi orang yang sok polos sepertimu.” Mendengar ucapan sang joker hitam, mereka semua lantas tersentak kaget.
Satu hal akhirnya terkonfirmasi. Kaiser juga masuk list korban dari pembunuh berantai joker hitam.
“Soalnya ya, untuk Aleka yang pemalas yang tidak peduli tentang apa yang gengnya perbuat, dia akan turut melakukannya selama itu menyenangkan. Dia akan lakukan tanpa pernah sedikit pun bertanya-tanya tentang baik-buruknya itu. Maka dari itu, aku pisahkan saja kepalanya dari badannya soalnya kepala tersebut sama sekali dia tidak pernah gunakan untuk berpikir.
Trus Rihana, seorang wanita rakus yang selalu ingin mencapai posisi yang tertinggi. Maka aku eksekusi dia sesuai dengan tempat favoritnya. Di tempat yang tertinggi yang bisa dijangkau, aku jatuhkan dia. Dia tentu sangat puas bisa tewas dengan hal yang selalu didamba-dambakannya, posisi puncak, bukan begitu?
Kemudian ada Araka yang selalu serakah ingin punya banyak teman untuk mendukungnya. Yah, penolakanmu padanya betul-betul membuatnya shok. Sayangnya, dia hanya selalu menunjukkan sosoknya yang kuat di hadapan teman-temannya. Yah, aku bisa maklum sih akan hal itu. Pada prinsipnya manusia adalah makhuk yang seperti itu yang langsung akan meremehkan seseorang jika melihat kelemahan kita.
Makanya aku mengeksekusinya di tempat yang sesepi mungkin yang tanpa ada seorang pun dari teman-temannya yang dapat melihatnya.
Kemudian Silva yang nafsu birahinya selalu tidak terkontrol. Makanya aku beri dia kesempatan untuk bertemu dengan orang yang selalu menjadi subjek pelampiasan birahi dalam khayalannya sebelum waktu eksekusinya. Bahkan pagi hari sebelum kematiannya, dia juga masih sempat begituan dengan menggunakan foto orang yang paling disukainya tersebut. Siapa kira-kira orang tersebut, kamu pasti yang lebih tahu kan, wahai bocah sok polos?
Trus Riandra, bocah angkuh yang selalu menggaung-gaungkan soal asal-usul keturunannya yang senantiasa memandang orang yang terlahir tidak beruntung bagaikan anjing liar. Maka kubiarkan dia sedikit tersadar di kematiannya, tentang bagaimana rasanya diperlakukan seperti anjing liar yang dimutilasi untuk dijadikan makanan oleh para babi liar.
Terakhir Tirta…”
“Apa? Kamu juga telah membunuh Senior Tirta?” Begitu mendengar nama Tirta disebut, Kaiser pun angkat bicara persoalan terkaget akan informasi yang baru saja didengarnya tersebut.
Kaiser saat itu baru tahu bahwa korban sang pembunuh berantai joker hitam telah bertambah satu lagi.
__ADS_1