DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
105. Demi Kebahagiaan Amanda


__ADS_3

Begitu polisi itu pergi, Agni segera masuk ke rumah sakit tanpa terlihat menyadari keanehan warna mata Petugas Dono tersebut.  Sementara Airi yang ikut masuk bersama Agni, walaupun tak melihat langsung sinar mata aneh polisi itu, tampak menyadari adanya sedikit perubahan aliran cakra yang aneh di sekitar Petugas Dono.


Namun, dia hanya beranggapan bahwa lagi-lagi itu adalah kerjaan kultivator-kultivator level E dan F iseng yang belakangan ini sering berkeliaran di sekeliling rumah sakit.  Jadi, dia hanya meningkatkan kewaspadaannya saja tanpa menyadari itu semua berasal dari aliran cakra yang menghipnotis polisi tersebut.


Kaiser pun segera masuk menyusul Agni dan Airi.  Tak lama berselang mereka berjalan, tampak di lobi rumah sakit, salah seorang petugas administrasi rumah sakit menghampiri mereka dengan ekspresi sedikit panik di wajahnya.


“Selamat sore Tuan Muda.”  Sapa petugas administrasi itu seraya sedikit membungkukkan badannya.


“Hai, Mbak Melon.”  Balas sapa Kaiser dengan senyum ramah di wajahnya.  Namun, seketika Kaiser menyadari ada sedikit keanehan dari ekspresi petugas administrasi itu.  Diapun bertanya,


“Ada apa Mbak Melon?”


Dengan sedikit terbata-bata, petugas administrasi itupun menjawab, “Begini Tuan Muda…Dek Amanda…”


Kaiser seketika was-was begitu nama Amanda disebut oleh petugas administrasi itu dengan tampang panik di wajahnya.  Tetapi sesaat kemudian, suara seorang wanita yang telah familiar baginya, memanggilnya dari arah jam dua.


Kaiser pun berpaling ke arah suara itu.  Rupanya yang memanggilnya adalah Aliska yang tampak bersama seniornya, Panji, serta Amanda.


“Kak Aliska? Kak Seniornya Kak Aliska?”  Ujar Kaiser dengan keheranan tentang keberadaan mereka yang mendadak mengunjungi Amanda.


Kaiser kemudian berpaling ke arah gadis kecil di sebelah mereka.  Diapun berjongkok lalu juga ikut menyapa gadis kecil itu dengan senyum ramah di wajahnya, ”Hai Dek Amanda!”


“Halo Kakak Tampan,”  Jawab gadis cilik itu seraya ikut tersenyum cerah.


Kaiser pun kembali berdiri setelah puas mengusap rambut tipis Amanda seraya menatap ke arah pasangan itu.  Dia lalu berkata,


“Jadi ada keperluan apa Kak Aliska dan Kak Seniornya Kak Aliska kemari?”


Mendengar ucapan Kaiser itu sekali lagi, Aliska pun memamerkan cincin emas di jari manisnya seraya berkata, “Kami sudah menikah, lho, Dek Kaiser.  Sekarang hubungan kami lebih dari sekadar senior dan junior.”  Tutur Aliska kepada Kaiser disertai dengan senyum bangga di wajahnya.


“Oh, begitukah?  Selamat Kak.”  Kaiser pun merespon seraya tersenyum yang menampakkan kebahagiaan tulusnya.

__ADS_1


“Hehehehe.”  Mendengar ucapan selamat Kaiser yang tulus, Aliska kemudian sedikit tertawa dengan bahagia seraya memeluk suaminya itu.


Aliska menikmati suasana romantis bersama suaminya itu beberapa saat, sebelum tampak dia menyadari sesuatu.  Matanya pun menyipit, menatap Kaiser.


“Oh iya, jangan-jangan Dek Kaiser belum tahu nama suami Kakak ini ya?  Saya belum pernah mendengar Adek memanggil namanya.”


Mendengar pernyataan Aliska itu, Kaiser hanya memalingkan wajahnya seraya tertawa canggung.


“Kak Panji Wijayakusuma kan?  Siapa yang tidak kenal dengan pewaris utama Queen Corporate.  Hehehehe.”  Ujar Kaiser disertai tawa yang tampak anggun


Kaiser pun menatap wajah Panji kemudian tersenyum ramah dan tampak sedikit menundukkan badannya seraya berujar,


“Perusahaan Kakak telah banyak membantuku waktu aku disudutkan oleh beberapa media.  Mungkin agak sedikit terlambat, tetapi aku betul-betul sudah lama ingin mengucapkan terima kasih kepada Kakak secara langsung.  Terima kasih Kak!”


Panji terlihat sedikit malu atas pujian Kaiser.  Dia hanya lantas berkomentar singkat.


“Kami hanya melakukan tugas sebagai wartawan yang seharusnya.”  Ujarnya seraya tersenyum simpul sambil memeluk istrinya itu.


“Apa yang dikhawatirkan oleh adik Kakak yang manis ini?”  Ujar Kaiser kepada Amanda seraya menampakkan senyum menawannya.


Amanda hanya menunduk dalam merespon pertanyaan Kaiser.  Di kala itulah, Aliska masuk di antara pembicaraan mereka.


“Kami berdua berniat untuk mengadopsi Amanda sebagai anak kami.”  Ujar Aliska.


“Kak Aliska?”  Kaiser terlihat keheranan lalu serta-merta memandang bolak-balik ke arah Amanda dan pasangan Aliska-Panji tersebut.


Kaiser lantas berdiri sembari memeluk dan menggendong Amanda seraya menunjukkan senyum ramah kepada Aliska dan Panji.


“Rupanya begitu.  Kalau kepada Kak Aliska dan Kak Panji, aku pasti dapat mempercayakan perawatan Amanda.”  Ujar Kaiser.


Kaiser kemudian memalingkan wajahnya, menatap Amanda sambil berusaha tersenyum.  Amanda merespon tatapan Kaiser itu dengan mata yang berkaca-kaca.  Dia lantas memeluk erat kakak tampannya itu erat-erat.

__ADS_1


“Amanda sayang pada Kakak Tampan dan tidak ingin berpisah dari Kakak Tampan.”  Ujar Amanda dengan setengah terisak.


Tanpa sengaja, air mata Amanda menetes ke pundak Kaiser.  Kaiser pun mengusap punggung gadis cilik itu dengan lembut.


“Kita berpisah bukan berarti kita takkan bertemu lagi.  Bukan begitu, Dek Amanda?”  Lirih Kaiser lembut ke telinga Amanda.


Dengan demikian, jadilah Amanda diadopsi oleh pasangan pengantin baru itu.


***


Di ruangan nan gelap itu, tampak seorang pemuda bertelanjang dada yang diikat kedua tangannya dengan cara dibentangkan di antara kedua tiang dengan posisi terduduk.  Pemuda itu tampak meringis kesakitan.  Dialah Tirta Wahyunusa.


Mari kita kembali ke kejadian sekitar waktu 3 tahun yang lalu, sewaktu Tirta dan Silva berusia 14 tahun.


Di kamar Silva itu, Tirta terbaring tidak berdaya setelah dimainkan sepuasnya oleh Silva semalaman.  Badannya dipenuhi memar bekas cambuk bercampur tanda kecupan di mana-mana.


Awalnya, Tirta mendekati Silva dan bersedia untuk memerankan peran sebagai budak cinta Silva karena paksaan orang tuanya yang ingin menaikkan kelas mereka melalui kekuasaan Pak Sudarmin.  Namun, lambat laun, setelah melalui prosesi S&M itu bersama Silva berkali-kali, hati Tirta seakan luluh dan tak lagi berniat untuk mencari wanita lain selain Silva.


Dia menggantungkan apa yang dianggapnya cinta itu kepada wanita satu-satunya baginya itu, Silva.  Oleh karena itu, walaupun Silva kerap kali mencambuknya pada saat bercinta, mencumbunya dengan cara yang tidak wajar, bahkan sering memain-mainkan anunya dengan cara yang ekstrim pula, Tirta tidak pernah mengeluh karena dia menganggap itu sebagai tanda cinta Silva untuknya.


Tidak ada pria lain selain dirinya yang diperlakukan seistimewa dirinya itu oleh Silva.  Silva kadang-kadang memang sering bermain dengan pria lain, tetapi sehabis dipakai, Silva akan langsung meninggalkannya.  Jangankan fotonya, bahkan ketika Silva berpapasan dengan barang bekas pakainya itu di jalan, Silva takkan lagi pernah menggubrisnya betapapun mereka memohon-mohon kembali cinta Silva.


Berbeda dengan dirinya.  Silva telah berkali-kali bercumbu dengannya.  Walaupun Silva melakukan itu di kala senggangnya dari sibuknya dia bergonta-ganti pacar, Tirta tetap menganggap dirinya spesial di mata Silva karena hal tersebut.  Setidaknya seperti itu pikirnya, sampai hari itu tiba.


Tirta yang badannya penuh memar dan kesakitan, ditinggal sendirian di kamar Silva.  Diapun merogoh berbagai sudut kamar Silva dengan tujuan untuk memperoleh plaster obat atau kotak P3K untuk mengobati memar-memarnya.  Tetapi apa yang ditemukannya justru sangat tak terduga baginya.


Dia menemukan album pink yang jauh tersembunyi di dalam buvet di bawah meja di dalam kamar Silva tersebut.  Diapun membuka isinya dan ternyata adalah sekumpulan foto-foto close-up Kaiser.  Diapun marah sejadi-jadinya dalam hati, tetapi tidak dia lampiaskan karena dia telah merasa saking cintanya kepada Silva.


Namun ketimbang cinta, mungkin perasaan Tirta kepada Silva lebih tepat jika disebut ketergantungan setelah Silva berhasil menguasai fisik dan mental Tirta seutuhnya melalui bebagai prosesi S&M itu.


Sebelum Silva kembali ke kamarnya, Tirta segera menaruh album pink itu kembali ke tempatnya semula sehingga Silva pun sama sekali tidak menyadari bahwa Tirta telah melihat koleksi uniknya tersebut.

__ADS_1


Ironisnya, Tirta yang tak mampu membenci Silva, akhirnya mengarahkan objek kebenciannya itu kepada Kaiser, sebagai orang yang dipuja-puja oleh Silva setelah usaha sekuat tenaganya selama ini merebut hatinya.


__ADS_2