
“Siapa orang itu, Dik Dirga?” Sekali kali Bianca bertanya kepada Dirga. Rasa penasarannya kini betul-betul memuncak akan siapa identitas kemungkinan calon korban terakhir tersebut.
“Hmm. Tapi aku sendiri tidak tahu karena sampai akhir, Araka tidak pernah memberitahuku. Dia hanya memberitahuku alasan mengapa dia membawa Dios untuk dibuli waktu itu. Itu karena syarat dari orang tersebut yang mau bergabung dengan grup jika geng Araka mau membuli orang yang paling dibencinya itu secara habis-habisan. Rupanya, yang membawa Dios ke tempat eksekusi tersebut tidak lain adalah orang tersebut.”
Mendengar jawaban dari Dirga yang menyatakan ketidaktahuannya, serta-merta badan Bianca melemas perihal kecewa. Ekspresinya benar-benar mirip seseorang yang akan pergi berwisata akhir tahun, tetapi tiba-tiba turun hujan sehingga batal.
Dirga yang melihatnya pun lantas menyadari kekecewaan Bianca tersebut. Dia kemudian melanjutkan,
“Yah, jangan kecewa begitu dong, Mbak Polisi. Walaupun aku tidak tahu, tetapi ada orang lain yang tahu.”
“Siapa?” Bianca dengan cepat bertanya.
“Kan sudah kubilang dari awal bahwa orang tersebut sangat membenci Dios. Dan sebagai orang yang paling dekat dengan Dios, Kaiser-lah yang paling tahu siapa identitas orang tersebut.”
“Kamu yakin bahwa Kaiser tahu? Waktu aku menemuinya, dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa waktu aku menanyakan pertanyaan ini.” Setelah mendengar pernyataan Dirga, Bianca segera mengungkapkan keraguannya.
“Bukan tidak tahu, tetapi tidak ingin. Dia dan Araka sama-sama keras kepala ingin menyembunyikan orang tersebut sampai akhir entah apa tujuannya. Bahkan di sidang pembulian Dios di pengadilan pun, baik Araka maupun Kaiser tidak pernah menyebutkan nama orang tersebut. Karena kami takut pada Araka, kami tidak pernah menanyakannya. Lagian percuma, toh hukuman kami juga tidak akan berkurang.” Jawab Dirga.
Terdapat jeda sesaat di mana ketujuh orang tersebut tiba-tiba terdiam. Namun, ketika Dirga hendak pergi meninggalkan mereka, sekali lagi Bianca berucap,
“Hei, Dik Dirga. Bisakah keluarga Isnandar berhenti keras kepala dan membiarkan pihak kepolisian mengawalmu dari ancaman pembunuh berantai joker hitam itu?”
Mendengar ucapan Bianca itu, Dirga lantas menatap Bianca seolah merendahkannya.
“Memangnya ada perbedaan jika aku dikawal dengan tidak dikawal polisi, Mbak?”
“Apa maksudnya?” Bianca pun bertanya dengan sedikit kerutan di pelipisnya.
__ADS_1
“Habis karyawan Sungsin Security saja berhasil dibantainya. Memangnya butuh berapa banyak polisi untuk dapat menahan serangannya? Sanggupkah kalian bertahan dari serangannya minimal 10 menit saja?” Ucap Dirga dengan penuh penghinaan kepada kemampuan kepolisian.
Bianca tampak shok atas jawaban merendahkan dari Dirga itu sehingga dia hanya terdiam. Di saat itulah Dono masuk di antara obrolan mereka.
“Hei, anak sialan! Polisi tidak selemah itu!” Ujar Dono.
Dirga pun menatap Dono dengan wajah keheranan. Tetapi Dirga rupanya mengabaikan saja apa yang barusan diucapkan polisi itu. Dirga kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
“Yah, biar bagaimana pun, kalian tidak bisa memasuki kediaman keluarga Isnandar saat ini karena sebentar lagi, 1 Juni ini, kami akan melakukan perayaan Paku Bumi. Yah, lagipula itu bukan ritual yang dapat ditonton oleh publik karena mengandung banyak kekerasan. Jadi kami mana mungkin membiarkan polisi memasuki kediaman kami di saat persiapan pelaksanaannya.”
“Dasar penganut ilmu-ilmu kebal sesat.” Ujar Bianca setengah bergumam setelah mendengar penjelasan dari Dirga tersebut.
“Eh, Mbak mengatakan sesuatu?” Dirga yang tak dapat dengan jelas mendengar ucapan Bianca pun bertanya. Sementara itu, Dono yang ada di sampingnya juga ikut menatapnya dengan intens.
“Eh, aku tidak mengatakan apa-apa kok.” Bianca pun mengelak dengan senyum canggung di wajahnya.
***
“Tidak, tidak, tidak! Hentikan! Bukan ini yang aku harapkan!”
Danial yang sedang bermain di taman lantai satu rumah sakit bersama Kaiser dan Airi, tiba-tiba berteriak histeris begitu rombongan tukang taman yang masing-masing membawa tongkat sapu taman ditangannya, melewati mereka.
“Kak Danial, tenanglah! Ada Kaiser di sini yang menemani Kakak.” Ujar Kaiser seraya memeluk erat kakak sepupunya tersebut.
“Adek tidak apa-apa?” Ujar salah seorang tukang taman itu seraya mencoba menghampiri mereka.
“Tidak! Jangan kemari Pak! Kakakku sedang trauma oleh sapu yang kalian bawa itu. Kalian sebaiknya pergi saja!” Namun, Kaiser segera menghentikan tukang taman yang mencoba menghampiri mereka tersebut.
__ADS_1
“Oh, Tuan Muda Kaiser? Maafkan kami Tuan. Kalau begitu, kami permisi dulu.” Salah seorang tukang taman lainnya, tampak yang paling senior di antara mereka, lantas ikut menghampiri Kaiser dan Danial seraya membungkukkan badannya sambil menyeret rekan satunya itu untuk ikut membungkukkan badan pula, kemudian meminta maaf kepada Kaiser.
Kaiser lantas membalas mereka dengan menunjukkan senyum ramahnya, lalu kedua tukang taman itupun segera kembali bergabung dengan para tukang taman lainnya kemudian meninggalkan tempat itu.
Airi yang menyaksikan trauma Danial tersebut, tidak dapat menahan rasa penasarannya lalu bertanya kepada Kaiser.
“Apa yang telah dialami oleh kakak sepupumu sehingga menjadi seperti itu?”
Namun, Kaiser tampak belum siap menjawab pertanyaan tersebut.
“Maafkan aku Airi-san. Aku tidak dapat mengatakannya.”
Trauma Danial. Trauma yang dimulai sekitar dua setengah tahun lalu di saat Danial menyaksikan adegan pembulian Dios dari jauh. Hal ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja, termasuk Kaiser dan semua anggota keluarganya, termasuk Agni.
Namun, hanya Araka, Kaiser, dan Agni saja yang mengetahui rahasia yang lebih dalam dari itu. Bahwa penyebab nasib malang Dios sehingga harus dibuli seperti itu tidak lain adalah karena perbuatan Danial.
Semuanya berawal sekitar tiga setengah tahun lalu, di mana Danial akhirnya mampu bersorak gembira begitu mengetahui bahwa adik sepupunya itu akhirnya juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
Selama ini, Kaiser hanya bersekolah di sekolah umum perihal ada aturan keluarga yang mengharuskan pewaris utama keluarga saja yang diperlakukan istimewa sementara bagi pewaris kedua dan seterusnya, untuk menghindari mereka melakukan perebutan hak waris terhadap pewaris utama, mereka sengaja dipisahkan dan diperlakukan lebih rendah agar mampu tertanam di benak mereka akan posisi mereka yang lebih rendah.
Sedari awal, Kakek Ducias sebenarnya tidak lagi ingin menerapkan aturan ini pada kedua cucunya tersebut. Terlebih, Pak Arkias dan Pak Lucias juga menyetujui hal tersebut mengingat masa lalu mereka yang menyebabkan mereka menjauh satu sama lain padahal mereka adalah kakak-beradik perihal aturan konyol tersebut.
Walaupun setelah dewasa, mereka mampu berhubungan baik lagi, tetapi itu tidak dapat menghilangkan masa lalu mereka. Pak Arkias selalu menyesali perbuatannya yang selalu menindas adiknya karena rasa superioritas konyol tersebut. Di lain pihak, Pak Lucias semakin merasa rendah diri dan menjadi anak yang introvert sebelum pada akhirnya itu semua terobati perlahan ketika Pak Lucias dipertemukan dengan Bu Nana di perusahaan keluarganya tersebut.
Jadilah mereka berniat untuk sama-sama memasukkan Danial dan Kaiser di SD Puncak Bakti, sekolah terbaik di Jakarta tersebut. Tetapi niatan mereka itu, akhirnya terhalang oleh pasangan suami-istri, kedua orang tua Bu Dwinda, kakek-nenek Danial tersebut yang dengan tegas menuntut agar Kakek Ducias melindungi hak Danial sebagai pewaris utama. Pada akhirnya, Kaiser pun memasuki SD umum Nusa Jaya.
Namun, menjelang naik ke jenjang SMP, kedua orang tua Bu Dwinda tersebut telah tiada. Dengan demikian, Kakek Ducias pun melanjutkan rencananya yang tertunda itu dan akhirnya memasukkan Kaiser ke SMP Puncak Bakti.
__ADS_1
Sayangnya, tidak hanya Kaiser yang dimasukkan oleh Beliau. Sebagai teman yang telah menemani Kaiser sedari TK, akhirnya Dios pun turut dimasukkan ke SMP Puncak Bakti untuk menemani Kaiser.
Karena sudah dekat sejak lama, jadilah Kaiser lebih banyak menghabiskan waktunya, tidak hanya di rumah melainkan juga di sekolah bersama Dios. Jadilah Danial yang berharap dengan masuknya Kaiser ke SMP yang sama dengannya mampu lebih akrab dengan adik sepupunya itu, menelan kekecewaan dan termakan api iri oleh sosok yang bernama Dios tersebut.