
“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas bantuanmu Pak Muhaimin.”
Ujar Pak Sudarmin pada seorang kakek tua di hadapannya dengan senyum yang bisa membuat orang naik darah.
Kakek Muhaimin hanya menatap sayu wajah Pak Sudarmin yang dari penampilannya memang sudah tampak seperti tokoh antagonis. Dia lantas memalingkan wajahnya, menatap jauh ke cakrawala dari balik jendela kamar tempatnya beristirahat.
Badan kakek itu telah sangat lemah sampai-sampai untuk jalan pun harus dibantu oleh pengasuhnya sehingga hanya mampu bersandar di pembaringan tempat tidur untuk menyambut Pak Sudarmin.
“Aku telah tua. Namun, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ketika aku kecil, bahkan sebelum aku sempat mengingat, ibuku meninggal akibat leukemia, menyisakan ayahku, aku, dan keempat saudaraku. Ketiga adikku bahkan tak dapat merasakan masa dewasa mereka karena harus meninggal akibat epidemi.
Walaupun demikian, ayahku tetap tak menyerah, bahkan di tengah pergolakan pembentukan negera ini, dia dapat meraih sukses dan sanggup mengirim kami berdua untuk bersekolah ke Belanda.
Menjelang usia 21 tahunnya, giliran kakakku yang meninggal karena penyakit leukemia, penyakit yang sama yang merenggut nyawa ibuku. Tetapi ayahku tetap tersenyum karena dia bersyukur masih memiliki diriku.
Aku akhirnya bertemu Sudarti dan menikahinya. Kupikir, setelah saat itu, hanya akan ada kebahagiaan yang menanti kami. Tetapi pada akhirnya ayahku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, mengembuskan nafas terakhirnya di usianya yang baru menginjak 49 tahun. Dan istriku Sudarti mengalami masalah kesuburan kandungan. Namun, puji syukur kepada Tuhan, kami masih bisa dianugerahi seorang anak.
Anakku pun tumbuh besar. Setelah menerima pendidikan dasar di Indonesia, akupun mengirimnya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Namun, aku seharusnya tidak melakukan hal itu. Di sana, dia bertemu dengan wanita penggoda itu dan jatuh cinta padanya.
Dia telah merenggut anakku satu-satunya. Ruhan yang biasanya penurut, memilih meninggalkan rumah dan kabur ke Thailand untuk bisa menikahi wanita penggoda itu tanpa mempedulikan ayah dan ibunya. Namun, walaupun kasih sayang seorang anak hanya sepanjang galah, kasih sayang orang tua itu lebih luas dari lautan bahkan tak dapat terukur oleh alat ukur apapun.
Aku pun mengikhlaskannya menikahi perempuan penggoda itu dan memintanya balik ke rumah. Kupikir, semua itu telah berakhir dan akhirnya aku dapat hidup tenang di usia senjaku. Namun, lagi-lagi penyakit laknat itu merenggut keluargaku. Kini giliran anakku satu-satunya yang harus terenggut.
Bahkan sebelum Ruhan dibawa di sisi Yang Maha Kuasa, istriku duluan yang harus mengembuskan nafas terakhirnya perihal stres dengan kondisi anak kami.
Tidak cukup sampai di situ, kini satu-satunya peninggalan anakku, cucuku yang berharga, juga harus meninggal. Mungkin aku dapat mengikhlaskannya jika cucuku pun meninggal secara wajar seperti keluarga-keluargaku yang lain.
Tetapi dia dibunuh dengan kejam. Mana mungkin aku dapat mengikhlaskannya?”
Kakek Muhaimin pun menjatuhkan air matanya, meratapi kemalangan dirinya itu. Pak Sudarmin yang ada di sisinya, terlihat menepuk bahu kakek renta itu seakan ingin memberinya semangat. Namun, apa yang sebenarnya ada di hati Pak Sudarmin adalah kemurkaan.
__ADS_1
Pak Sudarmin murka dengan sikap Kakek Muhaimin yang merendah-rendahkan Vet Tcin, wanita yang sebenarnya dicintai Pak Sudarmin. Dia marah karena Kakek Muhaimin sama sekali tak menghargai menantunya itu. Tetapi ditahannya amarahnya itu, demi tujuan yang lebih besar.
“Apapun itu, tentu akan kulakukan, selama pelaku pembunuhan cucuku itu bisa diseret ke tempat eksekusi.”
“Jangan khawatir Pak. Bantuan Pak Muhaimin sudah sangat besar dengan memanfaatkan relasi Bapak dengan kawan-kawan lama Bapak di bidang jurnalis di Belanda tersebut.” Ujar Pak Sudarmin dengan senyum yang sangat membuat kesal di wajahnya.
“Sayangnya aku sudah renta sehingga tidak dapat berbuat banyak. Bahkan sekarang demi melanjutkan hidupku yang renta dan sendirian ini di tengah kebangkrutanku, aku harus bergantung dari sumbangan para dermawan. Sungguh hidup yang memalukan.” Ujar Pak Muhaimin dengan berlinangan air mata.
“Tenang saja Pak, selebihnya serahkan padaku. Bapak beristirahatlah baik-baik agar segera sehat kembali.” Ujar Pak Sudarmin dengan senyum penuh konspirasi di wajahnya.
[Kalau begitu, cepat saja mati sana, Pak Tua!] Tetapi kalimat itulah yang sebenarnya ingin diucapkan olehnya.
***
Malam hari itu, tampak seluruh keluarga Kaiser berkumpul di ruang keluarga besar di rumah mereka.
“Bagaimana bisa semuanya seperti ini, Sayang?” Rajuk Bu Nana kepada suaminya. Pak Lucias seraya membelai rambut istrinya yang tertutupi jilbab hitam itu.
“Kak Dwinda! Tega-teganya Kakak berkata seperti itu.” Bentak Bu Nana marah.
“Sayang, kamu sadar kan bahwa ucapanmu barusan bisa melukai keponakan kita?” Lanjut Pak Arkias memarahi dengan lembut istrinya.
“Soalnya artikel majalah dari Belanda itu tampak sangat meyakinkan. Aku jadi ragu, Sayang.” Ujar Bu Dwinda menanggapi komentar-komentar itu.
Bu Dwinda lantas memperhatikan mata biru Kaiser yang lebih cerah daripada warna biru mata putranya. Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Kaiser di area dekat matanya.
Kaiser tersenyum sambil membelai halus tangan bibinya yang bersentuhan lembut dengan pipinya.
“Tenang saja Tante. Gosip itu tidak benar. Mana ada yang seperti itu? Berita tentang orang yang terbangkitkan hanyalah omong kosong belaka. Kaiser tidak punya kekuatan supernatural seperti itu.” Ujar Kaiser.
__ADS_1
Di keluarga Dewantara sendiri, hanya Kaiser, Pak Ducias, dan Pak Arkias yang bersentuhan langsung dengan dunia orang yang terbangkitkan dan juga mengetahui tentang kekuatan terbangkitkan Shinomiya Airi.
Bahkan orang tua Kaiser sendiri, Pak Lucias dan Bu Nana hanya mengetahui desas-desusnya saja, tetapi tidak mengetahui dengan detil tentang bagaimana dunia orang yang terbangkitkan itu.
Melihat putranya mengatakan hal itu, Pak Lucias dan Bu Nana seraya menatap putranya dengan pandangan yang sangat khawatir.
Mereka berdua lantas memeluk Kaiser dengan hangat.
Bu Nana pun berkata, “Bagaimana pun keadaanmu, kamu tetap putraku, Nak. Sebagai orang tuamu, kami akan melindungimu bagaimana pun caranya. Karena kami selalu yakin bahwa putra yang telah kami besarkan dan didik dengan susah payah ini adalah anak yang baik dan berhati lembut yang takkan mungkin melakukan tindakan yang menyimpang.”
Kedua orang tua Kaiser lantas tersenyum lembut kepada putranya itu.
Ekspresi Kaiser sempat menunjukkan keheranan tentang maksud perkataan ibunya itu, tetapi pada akhirnya dia menenggelamkan kepalanya itu di pelukan ibunya.
“Terima kasih Ibu, Ayah.” Ujar Kaiser seraya membasahi gaun ibunya dengan air matanya. Sang Ayah dan Ibu lantas membelai lembut rambut putranya itu.
Telepon Pak Arkias tiba-tiba berdering.
“Apa?” Rupanya yang menelepon adalah Pak Astra, asistennya.
Pak Astra menelepon Pak Arkias dengan membawakan suatu berita yang di luar dugaan.
Di malam itu pula, masih belum genap sehari terbitnya artikel panas itu di Belanda, Majalah Nepnieuwsbron mengungkapkan permintaan maafnya kepada publik atas keteledoran mereka dalam menyampaikan berita palsu.
Majalah itu telah mengklarifikasi bahwa berita yang menyudutkan Kaiser sebagai anggota Trans dan pelaku pembunuhan berantai Joker Hitam adalah tidak benar adanya dan ditulis secara tidak berdasar atas permintaan lawan politik Dewantara Group.
Pihak manajemen majalah tersebut mengakui kelalaian mereka dalam mengendalikan para stafnya dan sebagai bentuk pertanggungjawabannya, pihak manajemen akan menyerahkan orang yang bertanggung jawab menulis dan mencetak berita itu ke kantor polisi setempat.
Masih di malam yang sama, Ye Lifei, salah seorang lainnya yang selamat dari pembantaian berdarah di Shanghai itu, mengungkapkan dalam konferensi persnya bahwa kedua anggota Trans melakukan penyerangan kepada Lu Tianfeng persoalan ketidaksesuaian jumlah honor yang diberikan Lu Tianfeng terhadap yang dijanjikan.
__ADS_1
Tanpa keluarga Dewantara sempat berbuat apa-apa, permasalahan telah terselesaikan dengan sendirinya.