
Tujuh bulan lalu, di suatu hari ketika Tirta mengunjungi rumah Silva. Kala itu, Dingxiang alias Jingmi yang mendapati Tirta gelisah perihal rasa haus cintanya pada Silva, mendatanginya.
Diapun membisikkan provokasi jahatnya pada Tirta.
“Wah, kasihan ya Tuan Tirta. Berapa kali pun Tuan mencoba memberikan hati Tuan pada Nona Silva. Nona sama sekali tidak pernah tergerak.”
“Kamu? Bukankah kamu salah satu asisten Pak Sudarmin?” Tanya Tirta yang sama sekali tidak mengetahui bahwa wanita di hadapannya adalah Jingmi yang telah mengubah wajahnya dengan operasi plastik.
Dingxiang pun tersenyum pada Tirta. Dia kemudian melanjutkan provokasinya,
“Hanya karena satu orang itu, Tuan Tirta tidak kunjung juga mendapatkan hati Nona Silva.”
“Kaiser! Darimana kamu mengetahuinya?” Ucap Tirta dengan kaget sembari menoleh tajam ke arah Dingxiang.
“Ya tentulah aku tahu di kala Nona Silva dengan sangat jelas menunjukkan perasaannya itu. Tetapi orang itu malah berbuat kejam mengabaikan Nona Silva. Dia bahkan tak bergidik ketika menuntut Nona hanya karena satu orang rendahan.”
Dingxiang lengah dalam berucap. Dia sejenak lupa akan asal-usul Tirta yang dia ajak bicara di depannya itu.
“Rendahan, rendahan, rendahan! Mengapa orang-orang seperti kalian selalu menilai seseorang dari asal-usul keturunannya!”
Tetapi Dingxiang sangat pandai dalam mengelak.
“Oh, tentu orang yang hanya menjilat ke orang kaya untuk mencapai kesuksesan disebut rendahan. Berbeda dengan keluarga Tuan Tirta yang meniti karir dari nol untuk memperolehnya dengan usaha sendiri. Hohohohohoho.” Dingxiang pun berusaha berdalih dengan tawa khas anehnya.
“Ya, kamu benar. Aku berbeda dengan Dios.” Jawab Tirta.
Provokasi yang lebih dalam kemudian dilontarkan oleh Dingxiang.
“Tidakkah Tuan Tirta letih dengan keberadaan Kaiser yang selalu menghalangi jalan Tuan? Tidak pernahkah Tuan berpikir untuk menyingkirkannya? Bukankah dengan demikian, Nona Silva hanya akan melirik Tuan saja? Di samping, tidakkah Tuan Tirta marah pada keluarganya yang senantiasa memandang rendah keluarga Tuan?”
“Bukannya aku tidak ingin. Tetapi bagaimana caranya? Keluarganya bukan keluarga sembarangan. Bukannya berhasil membunuhnya, bisa-bisa, malah aku yang ditangkap polisi dan diberikan hukuman yang lebih berat.” Jawab Tirta dengan ekspresi kalut di wajahnya.
“Mengenai itu, aku punya koneksi dengan suatu klan pembunuh yang selalu mengeksekusi targetnya dengan bersih. Mau aku kenalkan mereka dengan Tuan?”
Mendengar ucapan Dingxiang itu, Tirta lantas menatapnya dalam-dalam.
__ADS_1
“Kamu? Siapa kamu sebenarnya?”
“Aku? Aku hanyalah seorang cupid yang tidak tahan dengan hubungan kalian yang tak kunjung berhasil juga padahal kalian adalah pasangan yang serasi.”
“Orang tuaku selalu bilang padaku bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa tujuanmu?”
“Tujuan? Sudah kubilang kan Tuan, aku hanya ingin melihat kalian berdua hidup berbahagia.”
“Mengapa kamu sampai berbuat begitu? Apa untungnya bagi kamu dengan kami berdua hidup berbahagia?”
Mendengar itu, Dingxiang lantas terdiam sejenak. Dia menyentuh dagunya dengan sela-sela antara ibu jari dan jari telunjuk kanannya. Dia kemudian melanjutkan ucapannya setelah memikirkannya matang-matang.
“Tuan Tirta sangat waspada ya rupanya.”
“Tentu saja. Kamu kan belum genap setahun dipekerjakan oleh Pak Sudarmin. Wajar aku curiga. Siapa kamu sebenarnya dan apa tujuanmu melakukan ini semua?”
“Yah, padahal aku daritadi jujur kok. Rupanya Tuan Tirta tidak percaya juga. Kalau begitu, Mengapa Tuan Tirta tidak menemui saja pembunuh profesional yang aku katakan barusan? Tuan Tirta ingin menggunakan jasanya atau tidak, biar Tuan Tirta sendiri yang tentukan belakangan. Dengan demikian, Tuan Tirta tidak akan rugi apapun kan?”
“Kamu. Jangan-jangan targetmu yang sebenarnya adalah Kaiser. Mengapa kamu juga menaruh dendam padanya? Tentu saja apapun alasan dendam-mu padanya, itu tidak masalah buatku. Tetapi yang aku pertanyakan, mengapa kamu tidak menyewa pembunuh bayaran itu secara langsung, tetapi malah melaluiku?”
“Tepatnya, aku tidak menaruh dendam pada Kaiser. Hanya saja Nona Silva tidak akan hidup bahagia jika pemuda itu masih hidup. Terus mengapa aku tidak menyewa pembunuh profesionalnya sendiri? Uang! Jawabannya uang! Aku tidak sekaya Tuan Tirta sehingga dapat menyewa pembunuh profesional yang biayanya berkisar ratusan juta itu, bahkan bisa lebih mahal tergantung targetnya.”
“Lantas, mengapa kamu sampai berbuat seperti itu demi Silva yang baru saja kamu kenal?” Sekali lagi, Tirta mengungkapkan keraguannya.
“Kenapa ya? Aku juga tidak tahu. Tuan Tirta sendiri mengapa sangat mencintai Nona Silva?”
Tirta tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Melihat Tirta yang diam lama, Dingxiang pun kembali berujar,
“Yah, apapun alasannya mengapa aku sampai berbuat demikian demi Nona Silva, itu tidaklah penting. Yang jelas, pemuda itu adalah ancaman yang nyata bagi kita. Oleh karena itu, maukah Tuan Tirta bekerjasama denganku dengan memanfaatkan kekuatan finansialmu itu untuk menyingkirkan musuh kita bersama?”
Kemudian Tirta pun meraih tangan Dingxiang itu. Suatu aliansi dalam rangka melenyapkan Kaiser pun terbentuk di antara mereka.
Dengan bantuan Dingxiang, Tirta berhasil menemui klan Kanzaki dan memperoleh pembunuh bayaran untuk melenyapkan Kaiser tersebut. Sementara Tirta dari Jepang, langsung balik ke Jakarta, Dingxiang yang takut pemalsuan identitasnya ketahuan, akhirnya bersama pembunuh profesional sewaan mereka, memilih memutar ke Manila untuk masuk ke Indonesia lewat Tarakan.
Tetapi, semenjak mendaratkan kaki di pulau itu, Tirta kehilangan komunikasi dengan mereka. Diapun selama itu dihantui oleh rasa khawatir jika rencananya ketahuan oleh keluarga Dewantara dan mereka akhirnya menyusun suatu rencana balasan untuk mengeliminasi Tirta dari dunia.
__ADS_1
Dan di sinilah Tirta berdiri saat ini. Diapun menatap tajam ke seorang pemuda dari banyaknya kerumunan siswa yang memasuki gerbang sekolah yang walaupun dengan tinggi yang tak menonjol, dapat dengan mudah dikenalinya dari atas atap gedung tempatnya berdiri, dari karismanya yang terpancar pada saat berjalan. Dari arah yang jauh itu, Tirta langsung dapat mengenali Kaiser.
Tirta akhirnya memutuskan untuk menumpahkan segala kebenciannya itu dengan membunuh Kaiser dengan kedua tangannya sendiri.
***
Pukul 7.10, beberapa saat sebelum pelaksanaan ujian. Di ruang kelas 1A itu, tampak Kaiser bercengkerama dengan Andika, Airi, Beni, Loki, dan Fero.
“Wah, lihat! Ada berapa banyak polisi yang berjaga di sekolah ini? Memang ini rumah tahanan apa?” Komentar pertama pun datang dari Andika.
“Yah, apa boleh buat kan? Alicia hari ini memperoleh pembebasan sementara untuk mengikuti ujian. Wajar jika polisi saat ini ramai di sekolah kita.” Fero pun menjawab komentar Andika.
“Orang berkuasa memang beda ya. Bisa-bisanya dapat izin keluar penjara begitu.” Suatu komentar lain pun, datang dari Beni.
Mendengar komentar kawan-kawannya itu, Andika tampak tak puas. Diapun menghela nafasnya.
“Walaupun berita mengatakan bahwa penjagaan polisi kali ini karena kedatangan Alicia, tidak salah lagi, pasti lagi-lagi ini berkaitan dengan pembunuh berantai joker hitam. Lagian jika hanya untuk menjaga Alicia, ya cukup tempatkan saja polisi di daerah seni, tidak perlu sampai ditempatkan di depan gerbang sekolah juga kan?” Andika sekali lagi berkomentar.
“Aaaah, kasus kematian Riandra kemarin ya? Itu memang sempat ramai juga di TV kemarin. Apa pembunuh berantai itu akan datang ke sekolah kita?” Beni pun dengan asal berkomentar.
“Pliz, Beni, jangan ucapin jinx menyeramkan seperti itu dong. Bagaimana kalau pembunuh berantai itu benar-benar datang ke sekolah kita? Bukan itu maksudku. Palingan, polisi-polisi bodoh itu lagi-lagi mencurigai Kaiser, makanya mereka menjaganya dengan ketat di sini.” Andika pun segera membantah ucapan Beni.
“Eh, karena aku?” Kaiser yang sedari tadi diam, sibuk belajar di menit-menit akhir menjelang ujian itu pun, ikut masuk dalam obrolan.
“Aku prihatin padamu sobat.” Ujar Andika mengangguk-angguk seraya meraih bahu Kaiser.
“Rasanya bukan karena itu deh…” Fero sekali lagi berkomentar. Tetapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, dia menghentikannya perihal Airi yang tiba-tiba berdiri dengan ekspresi waspada.
“Ada apa Airi-san?” Tanya Kaiser kepada Airi.
“Aku merasakan hawa membunuh yang sangat kuat seperti yang waktu itu aku rasakan di rumah sakit tempat kita pertama bertemu. Orang yang menghalangi kultivator suruhan Lu Tianfeng masuk ke rumah sakit. Dan dia mengincar orang yang ada di dalam ruangan ini. Mungkin saja, dia pembunuh berantai joker hitam yang datang mengincar nyawamu, Kaiser-kun.”
Jinx Beni pun benar-benar terjadi.
“Aku akan keluar memeriksanya sebentar, Kaiser-kun. Pastikan untuk tetap berada di kelas selama aku tidak ada. Dia tidak akan berbuat ceroboh di tempat yang ramai, apalagi banyak polisi di bawah.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Airi pun segera menghilang dari ruang kelas itu, tanpa dia tahu bahwa keputusannya itu adalah suatu keputusan yang akan sangat disesalinya kemudian hari.