DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
157. Side Effect Mind Control: Pandangan Prekognitif Dios


__ADS_3

Sang bayangan hitam berambut panjang berlari menerjang ke arah ketiga kultivator berambut pirang itu.  Dia menerjang setiap serangan Ramboo 1, 2, 3, dan 4 dari Arthur dan paku-paku pink dari Kurtiz dengan melahapnya ke dalam bayangan hitamnya tersebut.


Sesampainya dia di sana, sang bayangan hitam langsung melayangkan cakarnya ke wajah Arthur.  Akan tetapi, dengan tombak Gungnir-nya, Sandra segera menahan serangan tersebut.  Terjadilah adu cakar dan tombak untuk sementara.


Terlihat sang bayangan hitam lantas menyeringai kepada ketiga kultivator barat tersebut.


***


Adapun di tempat lain, Jey sedang barhadapan dengan Dios yang merasuki tubuh Loki.


“Minggir, Kak Jey!  Jangan halangi jalanku!  Bukankah kamu dari tadi juga hendak membunuh orang itu?  Kenapa kamu sekarang melindunginya?  Ujar Dios kepada Jey seraya menatap Andika dengan tatapan penuh kebencian.


“Anak ini melindungi Kaiser dengan sungguh-sungguh sewaktu aku hendak membunuh adikku sendiri.  Dia adalah sosok teman yang berharga bagi adikku.  Mana mungkin aku membiarkanmu membunuhnya?!”  Teriak Jey dengan marah kepada Dios.


“Teman yang berharga bagi Tuan Muda?  Hahahahahaha.  Lucu sekali.”  Ucap Dios seraya tertawa terbahak-bahak.  Namun dalam sekejap, ekspresinya berubah menjadi tatapan yang penuh kebencian.


“Asal kau tahu, orang itu bahkan tega membunuh Tuan Muda Kaiser di saat Tuan Muda Kaiser tak memiliki status apa-apa.  Pada akhirnya, yang membuatnya dekat dengan Tuan Muda Kaiser adalah karena status Tuan Muda.  Tentu saja kamu tidak akan paham ucapanku karena hanya aku yang menyaksikan pandangan prekognitif itu.”  Ucap Dios.


“Apa yang kamu katakan…”


“Dios, bukankah kita teman?”


Belum sempat Jey menyelesaikan kalimatnya, Andika pun berucap sembari menatap Dios dengan pandangan putus asa.

__ADS_1


“Teman?  Tak sedetik pun aku menganggapmu sebagai temanku.  Bahkan justru sebaliknya, aku sangat membencimu.  Selama ini, aku hanya berbuat baik padamu karena berada di hadapan Tuan Muda saja.”  Jawab Dios dengan tatapan penuh penghinaan kepada Andika.


Dalam sekejap Dios pun mengaktifkan kemampuan Mind Control-nya, lantas membawa Jey dan Andika ke dalam dunia kesadaran miliknya.


Suatu pemandangan yang menunjukkan cerita berbeda seperti yang kita tahu sekarang.


Setelah 16 tahun lebih di saat posisi Aizen sebagai kepala keluarga Shinomiya telah benar-benar kokoh, Aizen akhirnya menjemput sosok bocah yang telah dewasa yang dia kira putra kandungnya sendiri yang sempat dia titipkan di suatu panti asuhan.


Berbeda dari cerita yang kita tahu, Levovo hanya menculik Zainal dan membiarkan bocah yang selalu bersama Zainal tersebut.  Walaupun berpindah panti pascakebakaran, keberadaan bocah tersebut tetap terlacak selama ini oleh Aizen.


Namun, setelah anak itu kembali ke pangkuan Kana, Kana yang awalnya memang mulai tampak mengidap suatu penyakit parah, menjadi bertambah sakit dan malah kondisi mentalnya menjadi tidak stabil.  Rasa bersalahnya yang telah terkubur dalam-dalam karena membiarkan anaknya dirawat oleh orang lain kembali mencuat ke permukaan.


Lalu di akhir hayat Kana, dia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang bagaimana dia dulu menukar anaknya dengan anak dari Keluarga Dewantara.  Alhasil, dibawalah sang anak yang dibuli di Klan Shinomiya itu lantaran dianggap sebagai pemicu meninggalnya Kana ke tempat di mana orang tua sebenarnya berada.


Aizen pun menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Pak Lucias dan Bu Nana.  Akan tetapi, Dios menolak untuk ikut ke Klan Shinomiya dan lebih memilih untuk tetap tinggal di kediaman Dewantara.


Sejak kejatuhan Danial Dewantara sebagai posisi pewaris akibat gangguan mental, posisi pewaris Dewantara tidak henti-hentinya diincar oleh keluarga cabang.  Untungnya, ada Dios Dewantara dari keluarga utama yang mengisi posisi pewaris itu sehingga keluarga cabang tak mampu untuk berbuat apa-apa.


Bagaimanapun, posisi Dios tidak boleh tergantikan.  Tidak ada yang akan menerima posisi pewaris dari anak yang datang entah darimana yang tak jelas lingkungan masa lalunya, walaupun anak itu sendiri adalah anak kandung dari keluarga utama.


Jadilah identitas anak itu sebagai anak kandung keluarga utama Dewantara dan Dios yang tertukar dengannya sewaktu dilahirkan, dirahasiakan dari publik sehingga anak itupun disekolahkan bersama Dios dengan membawa identitas sebagai anak angkat Pak Lucias dan Bu Nana setelah meninggalnya keluarga terakhirnya yakni Kakek Saikoji.


Ya, walau bagaimanapun, anak itu tak terhindar dari julukan sebagai anak pembantu di sekolahnya, walaupun secara tertulis, dia adalah anak adopsi resmi dari Pak Lucias dan Bu Nana dan walaupun pada kenyataannya dia benar-benar adalah anak kandung yang sah dari mereka berdua.

__ADS_1


Berbeda dengan yang terjadi sekarang, anak itu bersekolah bersama Dios di SMA Puncak Bakti.  Di sana, dia pun harus menjadi sasaran intimidasi dari teman-temannya di sekolahnya.


Namun, anak itu selalu merahasiakan hal tersebut pada keluarga barunya di kediaman Dewantara tersebut, terutama karena dipicu oleh traumanya sejak meninggalnya Kana, juga karena perlakuan buruk orang-orang yang selalu memandang rendah dirinya selama berada di panti.  Dia tidak ingin merepotkan Keluarga Dewantara dengan masalahnya yang tidak perlu bagi mereka.


Dia pun juga tidak pernah sekalipun membahas masalah perundungannya itu di sekolah kepada Dios.  Namun, yang lebih buruk lagi, tampak Dios memang sama sekali tidak peduli akan hal tersebut.


Sayangnya, anak itu memiliki jiwa keadilan yang sangat tinggi.  Padahal dia bukan pada posisi bisa menyelamatkan orang lain karena statusnya yang rendah tersebut, namun dia selalu saja ikut campur urusan orang lain, menyelamatkan orang tersebut dari perundungan.  Tetapi sebagai gantinya, dia yang justru balik dirundung.


Wajahnya yang sangat rupawan membuatnya menjadi pusat perhatian para gadis di sekolahnya.  Hal itu pun memicu para pria berstatus tinggi di sekolahnya tersebut tidak senang padanya dan akhirnya turut memperlakukannya dengan buruk.


Berapa kali pun dia ingin berteman, dia tak mampu memperolehnya.  Dan Dios yang menyaksikan semua kejadian itu dari dekat, sama sekali tidak menggubrisnya dan justru memalingkan wajahnya.


Suatu hari, dia pun menjadi incaran Silva.


Dengan trik Silva berpura-pura sebagai wanita lemah yang ingin diselamatkan dari gangguan preman, anak itu terjebak dengan mudahnya karena kenaifannya.  Jadilah dia dipermainkan oleh Silva.


Kemudian, Tirta pun menjadi cemburu kepada anak itu hingga pada suatu hari dia menghajarnya habis-habisan.  Anak itu sama sekali tidak bisa beladiri karena sama sekali tidak ada yang bisa mengajarinya di panti.  Jadilah dia sebagai bantal tinju Tirta seharian penuh itu.


Silva yang datang lalu melihat anak itu dalam keadaan babak belur hanya mendesahkan nafasnya seraya berkata, “Ah, apa boleh buat kalau sudah rusak.  Waktunya untuk mencari mainan baru.”


Selanjutnya, dia menarik perhatian duo Rihana-Riandra.


Seorang anak miskin yang bersekolah di sekolah elit.  Tidak ada hiburan yang mereka rasa paling nikmat selain menuduhnya mencuri.  Duo itu pun kemudian dengan sengaja menyelipkan dompet mereka ke tas milik anak itu lalu pura-pura kehilangannya.

__ADS_1


Satu sekolah pun digeledah, tidak hanya di kelas Rihana dan Riandra saja.  Alhasil, dompet mereka berdua ditemukan di tas anak itu dan bertambah parah-lah anak itu mengalami perundungan di sekolah.


Akan tetapi, fakta bahwa anak itu sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di kelas duo tersebut, menjadikannya terbebas dari tuduhan.  Sayangnya, seakan tidak peduli fakta itu, satu sekolah tetap memakai alasan tersebut untuk semakin merundung anak itu.


__ADS_2