
“Bianca!”
Pagi itu, Dono yang melihat Bianca pergi dengan tergesa-gesa, meneriakkan namanya untuk mencegatnya. Mendengar teriakan Dono itu, Bianca pun menoleh ke belakang.
Begitu melihat Dono berlari ke arahnya, Bianca turut menghentikan langkahnya sejenak.
“Hah, hah, hah. Bianca, kamu mau ke mana?” Tanya Dono yang tampak masih kehilangan nafas sehabis berlari mengejar Bianca.
“Ke kediaman keluarga Isnandar.” Jawab Bianca tegas.
“Apa lagi-lagi kamu ingin menyelidiki Dirga?” Dengan curiga, Dono menelisik ke wajah Bianca.
“Itu juga sih. Tetapi kali ini, aku ingin lebih menyelidiki orang yang lebih mencurigakan di kediaman itu.”
Mendengar Bianca mengatakan hal itu, Dono kemudian mengintip berkas yang tidak sengaja keluar sedikit dari tas kecil Bianca. Berkas penyelidikan identitas Marjono.
“Oh, Jey ya?” Dono pun berujar.
“Iya, bagaimana pun dilihat, dia agak mencurigakan, terutama dengan seringnya dia belakangan ini berkunjung ke kediaman Kaiser setelah Kaiser menerima pernyataan ancaman pembunuhan dari pembunuh berantai joker hitam.” Ujar Bianca dengan menunjukkan ekspresi yang sedikit sedih.
“Oke, aku ikut.”
Seraya mengatakan hal tersebut, Dono pun bergabung dengan Bianca menuju ke kediaman keluarga Isnandar.
***
Dono bersama Bianca pun tiba di gerbang depan padepokan keluarga Isnandar. Secara kebetulan, Jey yang baru kembali dari belanja untuk masak, berpapasan dengan mereka di pintu gerbang.
“Oh, ada tamu rupanya. Apakah kalian berdua hendak menemui Tuan Dirga?” Sapa Jey ramah sembari bertanya kepada mereka berdua.
Melihat kedatangan Jey, Bianca sempat memelototkan matanya sebagai tindakan defensifnya, tetapi Dono segera menepuk bahu wanita itu agar tersadar dan tidak bertingkah mencurigakan di depan tersangka.
“Tidak. Kebetulan hari ini, kami ingin mengobrol-obrol dengan Adik Jey.” Ujar Dono dengan senyum ramah.
“Oh, denganku? Ada apa gerangan, Pak Polisi? Kalau gitu, yuk masuk dulu.” Jey pun mempersilakan kedua petugas polisi itu memasuki padepokan Isnandar.
“Kamu kenal dengan kami rupanya karena kamu menyebutku dengan Pak Polisi.” Telisik Dono.
“Tentu. Kan Pak Polisi sudah sering kemari.” Namun Jey segera menjawabnya tegas.
Mereka lalu melangkah dengan kecepatan sedang mengitari halaman padepokan Isnandar sampai mereka tiba di suatu kamar yang berupa bangunan terpisah yang terbuat dari bambu dan anyaman jerami mirip padepokan ala-ala jadul.
__ADS_1
“Oh iya, ini kamarku. Pak Polisi dan Mbak Polisi bisa beristirahat dulu di sini sembari aku membuatkan minuman.” Ujar Jey ramah.
Namun, Bianca segera menghentikan langkah pemuda itu.
“Tidak perlu repot-repot, Dik Jey. Kami hanya akan sebentar di sini. Daripada itu, bersediakah Dik Jey menjawab beberapa pertanyaan kami?” Tanpa membuang-buang waktu, Bianca segera bertanya kepada Jey.
Jey agak menatap lama Bianca sembari berpura-pura polos sebelum akhirnya menjawab,
“Tentu boleh Mbak Polisi. Pertanyaan apa itu?”
Mulailah mereka mengobrolkan perihal Jey sejak kapan dan di mana mengenal Dirga, bagaimana kedekatan Jey dengan anak-anak royal lain teman Dirga, bagaimana dengan pekerjaannya di bar milik keluarga Isnandar, bagaimana dengan pekerjaannya dulu, mengapa dia berhenti sekolah di SMA, mengapa dia pindah rumah setelah pulang kampung sejak kematian neneknya, dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkutat seputar diri Jey.
Tidak ada satupun yang aneh dari jawaban-jawaban Jey karena semuanya sesuai seperti apa yang telah diketahui dari penyelidikan. Hanya saja, di bagian ketika Bianca menanyakan tentang desas-desus dari teman-temannya bahwa kepribadian Jey berubah, ekspresi Jey tampak rumit dalam menjawabnya.
“Yah, walaupun Mbak Polisi menanyakannya, aku sendiri sama sekali tidak merasa ada yang berubah dariku. Tetapi, memang itu adalah hal yang wajar bagi teman-teman kita yang lama tidak bertemu. Ketika bertemu, terkadang mereka akan menganggap diri kita telah berubah dari yang dulu, padahal kita sendirinya tidak sadar. Tetapi bukankah wajar kalau seseorang berubah seiring waktu, Mbak Polisi?”
Namun sekali lagi, tak ada yang aneh dari jawaban Jey itu.
Dono pun mengitari kamar Jey yang tampak aneh baginya karena begitu dipenuhi oleh sketsa wajah dan cermin.
“Wah, gambar-gambar ini dilukis dengan pensil, tetapi detail sekali kayak wajah sungguhan!” Ujar Dono tampak kagum.
Mendengar itu, Dono kemudian tersenyum ke arah Jey kemudian kembali berucap,
“Wah, aku sangat menunggu waktu itu. Aku tidak sabar ingin membaca komik pertama yang akan diterbitkan oleh calon komikus kita yang berbakat ini. Ngomong-ngomong, mengapa kamu sampai bercita-cita menjadi seorang komikus? Cerita seperti apa yang Dik Jey ingin tulis?” Dengan tampak penasaran, Dono pun bertanya.
“Kalau ditanya mengapa komikus, itu mungkin karena seseorang yang kukenal dulu yang sangat menyukai membaca komik dan sering memuji gambaranku. Trus kalau tentang ingin buat cerita seperti apa, hmmm, mungkin tentang tema petualangan kakak-beradik. Hehehehehe, terus terang saya belum terlalu memikirkan alurnya.” Jawab Jey dengan senyum canggung di wajahnya.
“Lantas, mengapa banyak cermin di kamarmu?”
“Sebenarnya, aku masih awam dan masih harus banyak berlatih menggambar. Makanya cermin-cermin ini membantuku untuk latihan menggambar desain wajah menggunakan dasar wajahku sendiri dari berbagai sudut pandang…”
Jey tampak menghentikan ucapannya begitu melihat Dono sampai pada meja di dekat ranjang tidurnya.
“Boneka kumal apa ini? Ini tampak tidak serasi berada di kamarmu, Dik Jey.” Ujar Dono seraya mencoba menyentuh suatu boneka biru bulat kumal yang terletak di atas meja itu.
“Jangan sentuh!” Tanpa diduga-duga, Jey berteriak marah, melarang Dono untuk menyentuh boneka tersebut.
“Ah, ini boneka yang berarti bagiku. Aku hanya tidak suka jika ada orang lain yang menyentuhnya.”
Melihat tingkah Jey yang tiba-tiba sentimentil itu, tumbuhlah tanda tanya besar di naluri detektif kedua polisi tersebut dan mereka berdua pun kemudian saling beradu tatap.
__ADS_1
***
Sabtu, 28 Mei 2022, senja itu di sekolah Kaiser.
“Ah, akhirnya kegiatan porseni sekolah pun usai. Sekarang, tinggal menunggu pengumuman isi raport saja.” Teriak Andika lega di senja kala itu yang tampak sedang berjalan-jalan bersama Kaiser, Fero, dan Loki.
“Manusia memang makhluk yang paling cepat menyesuaikan diri. Bahkan setelah peristiwa mencekam yang menewaskan banyak korban 2 minggu lalu, kita semua tetap bisa bersenang-senang seperti ini di porseni sekolah.” Ujar Loki sembari memandangi seisi sekolah dari halaman tempatnya berdiri yang dipenuhi oleh canda tawa siswa-siswinya.
“Yah, itu karena tidak ada korban jiwa sendiri dari pihak siswa. Bersyukurlah pembunuh itu tidak sampai masuk lebih dalam dan mencelakai para siswa. Semuanya berkat keputusan yang bijak dari Kaiser dan Wilda.” Kali ini, giliran Fero yang mengemukakan pendapatnya.
“Oh iya, sejak kejadian itu, belum ada kabar lagi soal Wilda. Apa kamu tahu keberadaan Wilda, Kaiser?” Fero kemudian bertanya kepada Kaiser.
Namun, mendengar pertanyaan itu, Kaiser tampak tertunduk sedih.
“Tidak.” Kaiser pun hanya menjawab singkat sembari menggelengkan kepalanya.
Andika yang mampu menangkap kesedihan Kaiser tersebut, segera mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya, bagaimana dengan remedialmu, Loki? Pastinya amankan?”
Mendengar pertanyaan Andika itu, Loki tanpa berkata apa-apa, hanya tersenyum semringah sambil mengeluarkan tanda V di tangannya.
Tapi Loki tampak balik mengalihkan pembicaraan dengan pembicaraan seputar porseni.
“Daripada itu, selamat ya Kaiser karena berhasil meraih juara satu lomba PUBG di sekolah kita. Aku tidak menyangka kamu hebat dalam game online.”
“Kamu tidak tahu saja kalau aku, Kaiser, dan Beni, langganan 2 kali seminggu bermain PUBG di warnet dekat sekolah. Oh iya, kita juga kan dengan Beni berhasil meraih juara 1 lomba basket.” Andika pun ikut kembali berkomentar.
“Itu benar. Aku tidak menyangka kita bisa mengalahkan kelas 1B di semifinal dan kelas 2IPS3 di final. Namun, aku sama sekali tidak menduga, anak kelas 1 seni itu bakal menang melawan kelas 1B dan meraih juara 3.”
“Tim si Gegi itu ya. Aku tidak menyangka kalau aktor itu hebat juga main basket. Tapi ngomong-ngomong soal juara 3, sayang banget tim basket putri kelas kita hanya memperoleh juara 3 padahal ada Nayla, Mirna, dan Lisa di sana. Mereka tidak beruntung harus bertemu dengan tim basket dari kelas Senior Agni di babak semifinal. Jika tidak, mereka pasti setidaknya bisa juara 2. Ngomong-ngomong, sudah waktunya acara penutupan porseni. Yuk kita semua ke aula.”
Andika lantas mengajak yang lain untuk turut menghadiri penutupan porseni.
“Tidak, hari ini aku sedikit lelah dan ingin pulang lebih awal.” Tetapi dengan tampak berusaha tersenyum ramah, Kaiser menolak ajakan itu untuk pulang lebih awal dari yang lain.
“Kalau begitu, aku juga turut pulang bersama Kaiser.” Fero pun berujar.
Namun, secara tiba-tiba, Loki terdiam. Mata hijaunya tampak bersinar setelah menatap mata Fero.
“Kenapa semuanya bisa berkembang seperti ini? Lupakan soal porseni, Kaiser, aku ikut kamu ke rumahmu.” Ujar Loki dengan tatapan yang sangat serius.
__ADS_1