
Masih pada malam yang sama, seorang suster wanita yang terlihat telah lama merawat Kakek Muhaimin selama ini, memasuki kamar Kakek Muhaimin dengan membawa beberapa peralatan medis.
Diapun mengambil jarum dari dalam wadah beroda yang dia turut bawa masuk tersebut kemudian tampak menyuntikkan cairan tertentu ke lengan Kakek Muhaimin. Setelah itu, suster wanita itu langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
Berselang sekitar 10 menit kemudian, Kakek Muhaimin langsung mengalami kejang-kejang dan akhirnya meninggal. Rupanya, cairan yang disuntikkan itu tidak lain adalah cairan kalium yang dalam penggunaan normal, sangat bermanfaat bagi pasien tekanan darah tinggi, tetapi justru menjadi racun yang dapat membuat tubuh kekurangan oksigen jika disuntikkan secara berlebihan ke orang normal.
Wanita yang masuk tadi ternyata adalah seseorang yang menyamar menyerupai suster yang selama ini merawat Kakek Muhaimin tersebut.
***
Wanita yang berpakaian suster itu pun melepaskan topengnya. Ya, dia mengenakan topeng kulit yang membuat wajahnya tampak seperti orang lain. Tampak wajah aslinya adalah seorang wanita barat dengan rambut pirangnya dan dengan warna mata amber cerah, ciri-ciri seorang anak sindrom pelangi.
Dia lantas meraih telepon genggamnya.
“Misi selesai. Target telah dieliminasi.” Ujarnya melalui panggilan telepon.
“Sungguh, kakek bodoh itu! Jika saja dia tidak main-main sampai ke luar negeri dengan tumbal kita, dia tidak mesti mati.” Ujar seorang pria dari balik panggilan telepon.
“Huh, untung masalahnya segera diselesaikan sebelum organisasi supernatural lain menaruh mata mereka pada Kaiser. Bagaimana dengan Trans? Apakah mereka ada pergerakan?” Tanya wanita berambut pirang itu kepada seorang pria dari balik panggilan telepon.
“Untuk saat ini, belum ada. Mata-mata kita di sana sedang mengawasi pergerakan mereka. Namun tampaknya, mereka tidak menaruh perhatian mereka pada tumbal kita.”
“Thanks, God! Dengan demikian, pekerjaanku bisa lebih mudah mengawasi Kaiser. Huh, orang-orang Trans bodoh itu! Pergerakan mereka selalu ceroboh. Jika seperti ini terus, keberadaan orang yang terbangkitkan bisa terekspos ke dunia.” Keluh sang wanita berambut pirang itu.
“Oh ya, bagaimana dengan kedua orang dari Trans yang melakukan pembantaian kepada Lu Tianfeng sekeluarga itu? Apa mereka sudah ditemukan?” Wanita itu lanjut bertanya.
“Saat ini belum. Bahkan, organisasi mereka juga sedang kelimpungan mencari mereka.”
“Ini aneh. Mereka menghilang setelah membantai Lu Tianfeng sekeluarga. Bahkan Trans yang memiliki anggota orang yang terbangkitkan dengan spesifikasi pelacakan, tak mampu menemukan mereka. Seolah mereka lenyap ditelan bumi.
__ADS_1
Dari awal, pernyataan Ye Lifei tentang penyebab mereka menyerang Lu Tianfeng juga terkesan dibuat-buat. Pernyataannya pun berbeda dengan orang yang selamat lainnya yakni anak korban, Lu Xinyi. Tapi buat apa mafia itu berbohong? Ataukah dia diancam untuk mengatakannya?
Hei, Kurtiz, tidakkah menurutmu ini aneh? Apa jangan-jangan ada organisasi lain selain kita yang menaruh perhatian mereka kepada Kaiser dan turut memanipulasi kejadian ini?” Tanya wanita itu pada seorang pria di panggilan telepon yang dia panggil sebagai Kurtiz.
“Aku akan menyelidikinya. Kamu dan Arthur fokus saja mengawasi tumbal kita.” Jawab Kurtiz dari balik panggilan telepon.
Wanita itupun menutup panggilan telepon itu dan segera mengenakan topeng wajah yang lain. Rupanya, dia adalah Nayla.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Pak Sudarmin kembali membuat sensasi di Indonesia. Kali ini melalui penampilan live-nya bersama Alicia dan Antonio Gegistov di Beo TV dalam suatu acara jajak pendapat membahas pembunuh berantai Joker Hitam.
Tampak di wajah Pak Sudarmin ekspresi kesal yang gagal disembunyikan perihal kegagalannya menjatuhkan Kaiser lewat artikel dari Belanda itu. Dia sama sekali tidak menduga, kalau pemilik majalah besar itu sampai turun tangan langsung meminta maaf di depan publik kepada Kaiser dan mengakui semua manipulasi berita itu.
Jika seandainya tidak terjadi hal demikian, pastinya malam ini, mudahlah baginya untuk menyeret opini publik untuk turut menjudge Kaiser. Tetapi dia tetap tidak menyerah dan berjuang sampai detik terakhir melalui siaran live itu untuk menyeret perhatian massa kepada Kaiser agar dia dapat diselidiki dengan serius oleh pihak yang berwenang.
Dengan begitulah, dia baru bisa merasa tenang dari teror kemungkinan datangnya pembunuh berantai secara tiba-tiba untuk mengambil nyawanya.
Oleh karena itu, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyeretnya ke ranah hukum dan membongkar topengnya kepada publik. Karena dia sendiri, merasa tidak percaya diri bisa melenyapkan anak itu dengan tangannya sendiri setelah melihat sampai Lu Tianfeng yang memiliki banyak anak buah yang berbakat soal martial art pun dapat dibantainya.
“Aleka Putrawardhani beserta kedua orang tuanya, Widarno Putrawardhani dan Astika Putrawardhani, Rihana beserta ibunya, Vet Tcin, dan terakhir Araka telah menjadi korban pembunuhan berantai Joker Hitam. Ada juga desas-desus yang mengatakan jika kematian ayah Araka di China, Lu Tianfeng beserta istri ketiga dan putri pertamanya, serta kematian kakek Rihana, Muhaimin Zidan juga terkait dengan Pembunuh Berantai Joker Hitam ini. Bagaimana tanggapan Anda, Pak Sudarmin?” Sang presenter pun mulai membuka diskusi.
“Satu-persatu kolega saya beserta anak-anak mereka mati mengenaskan. Hal ini tentunya membuat kami ingin segera meminta pihak yang berwajib untuk dapat segera menyelesaikan kasus ini sebelum bertambahnya jumlah korban. Tetapi, saya paham dengan kesulitan pihak kepolisian saat ini karena kerapian pelaku dalam mengeksekusi TKP.
Ada juga desas-desus mengenai orang yang terbangkitkan. Jika hal itu benar adanya, tentu polisi akan semakin sulit untuk mengidentifikasi pelaku karena pembunuh bisa saja masih seorang pelajar dengan kekuatan yang terbangkitkan.” Ujar Pak Sudarmin yang mencoba mempengaruhi opini publik untuk semakin mencurigai Kaiser sebagai pelaku pembunuhan berantai tersebut.
“Desas-desus itu memang sempat viral melalui artikel di majalah Nepnieuwsbron. Tetapi bukankah hal itu telah diklarifikasi oleh pihak manajemen majalahnya sendiri bahwa berita itu palsu dan merupakan hasil rekayasa saingan politik Dewantara Group, Pak Sudarmin?”
“Entahlah jika seperti itu ataukah mereka diancam untuk mengatakannya? Hal ini bukankah agak mirip dengan kasus seorang professor di Skotlandia yang sempat mengumumkan kepada dunia tentang ancaman munculnya orang-orang dengan kekuatan supernatural yang berada di luar imajinasi kita semua, tetapi beberapa waktu kemudian, professor tersebut malah menghilang sebelum akhirnya ditemukan tenggelam tak bernyawa di danau yang membeku? Bukankah ini semacam konspirasi pembungkaman agar keberadaan mereka tidak diketahui publik?”
__ADS_1
“Konspirasi memang adalah suatu tema yang sangat menarik. Tetapi sebelum itu, saya ingin menanyakan dulu kepada Pak Sudarmin, apakah Anda punya perkiraan tentang siapa ‘saingan politik’ yang dimaksud oleh pihak manajemen majalah Nepnieuwsbron yang ingin menjatuhkan keluarga Dewantara dengan menulis artikel palsu tersebut?”
[Ah, reporter ini ingin menjebakku rupanya. Jika sedikit saja ekspresiku terpelintir, mereka akan heboh mengisukan diriku yang terlibat dalam pembuatan artikel itu.]
Menyadari hal itu, Pak Sudarmin berusaha tetap tenang terhadap pernyataan wartawan tersebut. Diapun menjawab,
“Kalau itu, bukankah lebih tepat jika menanyakannya langsung kepada pihak majalah yang bersangkutan?”
[Walaupun mereka menyelidiki sampai ke sana, paling-paling nama kakek tua itu saja yang terseret, atau paling jauh sampai ke Bu Rosita saja. Mereka takkan pernah menemukan keterlibatanku karena yang mengatur semua hal terkait artikel berita itu hanyalah kakek tua itu seorang. Dan kini dia sudah mampus.]
“Tetapi bukankah itu tidak penting sekarang? Seperti yang saya katakan sebelumnya, hal itu bisa saja mereka ungkapkan karena ancaman untuk menjaga keberadaan orang yang terbangkitkan tetap menjadi rahasia.”
“Jika seperti itu, apakah Anda tidak takut akan turut menjadi korban pula seperti professor yang Anda sebutkan tadi karena telah mencoba untuk mengungkapkan keberadaan mereka kepada publik?” Lanjut presenter itu menanyakan.
Mendengar ucapan reporter itu, Pak Sudarmin tiba-tiba berkeringat dingin.
“Benar juga ya. Jika setelah mengatakan ini, kemudian aku mati, bukankah itu semakin menguatkan pernyataanku?” Ucap Pak Sudarmin berusaha tegar, tetapi tak dapat menahan keluarnya keringat dinginnya.
[Mereka benar-benar tidak akan segera datang dan membunuhku kan?] Gumamnya dalam hati dengan ketakutan.
“Lantas, bagaimana dengan Anda, Saudari Alicia Putrawardhani? Sebagai salah satu dari keluarga para korban, apakah ada yang ingin Anda ungkapkan?”
“Seperti yang diungkapkan oleh Pak Sudarmin tadi, sudah pasti pelakunya adalah orang yang terbangkitkan yang tidak lain adalah anak sindrom pelangi. Lihat saja mata mereka. Begitu menakutkan bagai iblis. Saya saja sampai ragu kalau mereka itu manusia. Saya yakin mereka itu iblis yang menyamar jadi manusia. Salah satunya, ya itu tuh, si Kaiser Dewantara. Sudah pasti dia pelaku pembunuhan berantai itu. Seratus persen feelingku mengatakan ya.”
Mendengar pernyataan itu, dua orang di sebelah Alicia, yakni Pak Sudarmin dan Gegi lantas ternganga tanpa dapat mengucapkan satu kalimat pun. Alicia bukannya menarik simpati publik untuk menyudutkan Kaiser, tetapi malah mengeluarkan pernyataan rasis kepada semua anak sindrom pelangi di dunia ini.
Alicia telah membuat masalah baru bagi dirinya sendiri. Alih-alih mendapatkan simpati publik, pasca acara itu selesai, Alicia malah dibawa ke kantor polisi dengan tuduhan melakukan rasisme kepada anak sindrom pelangi.
Keesokan harinya, alih-alih membahas mengenai orang yang terbangkitkan, seluruh media malah asyik meliput mengenai rasisme yang dilakukan oleh seorang putri konglomerat bernama Alicia Putrawardhani terhadap anak sindrom pelangi. Dengan ini, berakhirlah nasib Alicia dengan mendekam di penjara dengan ancaman penjara selama 2 tahun.
__ADS_1
Dan walaupun kakeknya adalah pensiunan dengan mantan jabatan tinggi di kepolisian, kakeknya tidak dapat berbuat apa-apa dengan bukti pernyataan Alicia yang terpampang jelas pada saat siaran live dan begitu banyak perhatian publik tertuju pada cucu perempuannya itu.