DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
33. Pertemuan Kembali dengan Senior Pembuli


__ADS_3

Andika mulai terlihat bersenang-senang dalam kesehariannya setelah mengenal Kaiser.  Andika yang dulu sering menatapku dengan ekspresi matanya yang mirip ikan mati, kini menjadi penuh kilauan.  Memang mempersiapkan masa depan dengan berbagai skill adalah keharusan, tetapi apalah artinya jika anakku tak dapat menikmati masa mudanya.  Aku merasa bersalah pada anakku itu karena telah menyita banyak waktu pada masa-masa emasnya yang berharga dengan berbagai les yang kupersiapkan untuknya.  Untunglah Kaiser dapat menggantikan peranku dalam mengajarkan Andika arti menikmati masa muda.


[Maafkan aku Nak.  Ayah sendiri tak tahu bagaimana menikmati masa muda itu karena Ayah tak pernah mengalaminya.]


Namun sejak bergaul dengan Kaiser, Andika menjadi lebih rajin dalam mengikuti les-lesnya.  Baik dari segi attitude, keterampilan, maupun pengetahuannya meningkat dengan drastis.  Dia menjadi anak yang lebih layak untuk menjadi pewaris keluarga Setiabudi.  Tentu saja walau tanpa itu semua, Andika tetaplah anakku yang berharga.


Dia terkadang meminta untuk jalan-jalan dan bermain di luar.  Jika itu aku yang dulu, aku pasti telah melarangnya.  Aku sangat takut jika anakku terjerumus ke pergaulan yang salah.  Namun, karena kini ada Kaiser di sisinya, kekhawatiranku pun berkurang dan aku dengan hati yang tenang dapat mengizinkannya.


Semenjak kejatuhan keluargaku dahulu, aku jadi memiliki kemampuan untuk menilai niat baik maupun buruk dari seseorang.  Ketika aku akhirnya dapat bertemu dengan sahabat baik anakku ini, dengan cepat instingku mampu menangkap, dia anak yang baik dan dapat dipercaya.  Tentunya, aku tidak serta-merta mempercayai insting itu.  Kepercayaanku pada Kaiser dibangun seiring dengan berapa lama waktu aku berinteraksi dengannya.


Begitulah akhirnya aku mempercayakan Andika padanya di belakangku.  Berdasarkan berapa lama waktu aku bersamanya dan juga berdasarkan beberapa penyelidikanku, aku percaya bahwa Kaiser adalah anak yang baik.


***


Sore itu, Fero yang tadinya sudah terlihat pulang dari sekolah, sekali lagi muncul.  Dia berada di suatu taman yang berada di dekat gedung siswa seni.  Tidak berapa lama kemudian, Alicia menghampirinya.


Melihat Alicia yang menghampirinya, Fero seraya berkata, “Jadi apa lagi maumu?”


“Mengapa cara bicara Kakak jadi seperti itu?  Bukankah Kakak telah berjanji untuk mengungkap kebusukan Kaiser?  Mengapa sampai sekarang belum ada perkembangan dan kini Kakak justru berusaha menghindari saya?”  Alicia melampiaskan emosinya seketika kepada Fero.


“Aku sama sekali tidak pernah berjanji demikian.  Aku hanya mengatakan bahwa kami akan mengungkapkan pelaku pembunuhan keluargamu.”


“Bukankah itu sama saja?  Lagipula pelakunya adalah si sialan Kaiser itu.”  Alicia dengan cepat memotong perkataan Fero dengan ucapannya sambil berteriak.


“Dek Alicia.  Gini ya.  Belum ada sama sekali penyelidikan yang mengarahkan bahwa tersangkanya adalah Kaiser.  Dan berdasarkan penyelidikanku selama ini di kelasnya, aku bisa tahu bahwa dia adalah anak yang baik.  Justru jika dipikir-pikir lagi, siapa yang jahat di sini?”  Ucap Fero seraya melirik Alicia dengan sentimen.


“Apa maksudmu?  Tentu saja dia yang jahat.  Dia sangat lihai dalam menyembunyikan sifat iblisnya di balik topeng malaikatnya itu.”  Alicia semakin tak dapat menahan emosinya.


“Mencoret meja teman dengan kata-kata seperti ‘mati saja kamu’ benar-benar tingkah yang sangat cocok untuk pembuli.”  Fero mengucapkannya sambil tertawa kecil di hadapan Alicia seakan itu lucu.


“Kakak menyindir saya?”  Alicia tampak sangat marah dengan provokasi Fero itu. 


Namun, Fero sendiri hanya diam melihat Alicia termakan provokasinya.  Dia seakan letih karena berbicara dengan seseorang yang tak dapat menerima pendapat.

__ADS_1


“Triiiing.”


Dering telepon memecah kesunyian singkat itu.  Fero pun segera mengangkat telepon itu.


“Ya…Ya…Baik Senior.”


Fero segera menutup teleponnya dan menaruh kembali di saku jaketnya.  Dia kemudian mengacak pinggang seraya tertawa kecil seakan ada sesuatu yang lucu.


“Hah.  Rupanya ada lagi orang yang sepertimu.”  Ucap Fero sambil menatap Alicia.


“Apa maksudmu?  Dari siapa itu Kak?”


“Senior Dono.  Dia mengatakan akan segera ke sekolah untuk menyelidiki apakah ada kunci perpustakaan tempat Kaiser terkunci dulu yang hilang.  Dia memintaku untuk memberitahumu agar kamu dapat segera menginformasikannya kepada guru BP kenalanmu di sekolah ini agar mempersiapkan semuanya." 


Fero pun melanjutkan,


"Sungguh, imajinasi Senior Dono terlalu tinggi.  Hanya karena Kaiser berkeringat sambil terengah-engah karena habis memanjat, dia jadi curiga kalau hal itu karena dia berlarian ke TKP untuk membunuh korban lalu kembali ke sekolah dan kejadian terkuncinya di perpustakaan dengan Andika adalah untuk dijadikannya alibi kejahatannya.  Sungguh imajinasi yang luar biasa.”  Fero mengatakan itu dengan tawa kecut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alicia yang mendengarkan perkataan Fero itu, entah mengapa menatap Fero dalam-dalam seperti akan merencanakan sesuatu.


***


Pak Sudarmin menggetarkan gigi-giginya seperti hendak mengumpat, namun segera dihentikan oleh Araka sebelum sempat dikeluarkannya.


“Hentikan Pak.  Aku yakin dia bukan pelakunya.  Dia adalah pengecut yang tak berani melakukan hal demikian.  Jangan menambah-nambah persoalan dan mari fokus untuk menemukan pelaku yang sebenarnya.” 


Ucap Araka seraya menatap Kaiser.  Kaiser balik menatap Araka dan ketika pandangan mata mereka bertemu, Araka segera memalingkan mukanya tampak kesal.


Pak Lucias dan Bu Nana yang juga mencoba untuk mengatakan sesuatu, ditahan oleh Kaiser dengan isyarat dekapan tangannya kepada mereka berdua seolah mengisyaratkan untuk segera pergi saja.


Kaiser beserta ayah-ibunya melewati Pak Sudarmin dan rombongan.  Namun, seketika Araka berteriak dan mengatakan,


“Kaiser, apa kamu senang dengan apa yang menimpa Aleka dan Rihana?  Apa kamu senang bahwa pembuli-pembuli yang dulu menyiksa sahabat baikmu kini meregang nyawa?

__ADS_1


“Apa maksudmu?”  Kaiser segera menanggapinya dengan nada sedikit marah.


“Jangan salah sangka.  Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa kamu pelakunya maupun kamu menyuruh orang untuk melakukannya.  Aku hanya bertanya apakah akhirnya kamu senang dengan itu?”  Araka sekali lagi mengeraskan suaranya.


“Mana mungkin aku senang jika ada orang yang meninggal.  Aku memang seringkali membayangkan dalam hati untuk membunuh kalian.  Tetapi, tentu hal itu bukan untuk dilakukan karena apa yang ingin kusingkirkan sebenarnya bukanlah kalian, tetapi lingkungan yang tidak ramah, suasana yang diciptakan oleh kalian."


Kaiser terdiam sejenak sebelum melanjutkan, 


"Aku hanya ingin kalian menerima balasan yang setimpal atas perbuatan kalian, kemudian meminta maaf pada Dios, kemudian Dios akan sadar lagi. Hiks… Hiks…”  Tanpa sadar Kaiser mengeluarkan air matanya di balik mata birunya yang indah itu.


“Sudah kuduga kalau kamu akan menjawab seperti itu.  Memang seperti itulah kamu.  Tapi tidak diduga kamu orang yang cengeng ya?” 


Tidak diduga, Araka akan mengatakannya dengan nada yang lembut.  Ekspresinya cerah seperti menunjukkan ketulusan padahal Kaiser adalah rivalnya.


“Apa maksud perkataan Senior?”


“Hahahaha!  Aku sekedar ingin mengatakannya saja.  Yang lebih penting daripada itu…” 


Araka menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan.


“Ma…”


Araka sekali lagi menghentikan ucapannya.


“Aku tetap berpikir bahwa apa yang telah kulakukan pada Dios itu bukanlah kesalahan.  Seseorang harus bisa tahu tempatnya.  Tidak layak bagi kita untuk berteman dengan orang dari kalangan kelas bawah.  Lagipula dari awal itu salahmu sehingga aku harus memberinya pelajaran agar semuanya kembali pada tempatnya.”


“Senior, kamu masih saja sampah seperti dulu.” 


Kaiser mengucapkannya dengan nada rendah, tetapi tetap terdengar mengancam.  Mata Kaiser berkilau biru bagai iblis.


“Aku tidak peduli kamu menilaiku apa karena itulah yang selama ini diajarkan kepadaku.  Aku tidak punya niat untuk menyingkirkan nilai yang sudah ditanamkan kepadaku oleh keluargaku selama ini.”  Ucap Araka dengan tegas.


Ekspresi Araka kemudian berubah sendu.  Matanya mendayu.  Dia kemudian berucap,

__ADS_1


“Namun, untuk kejadian di RS Dewantara, aku meminta maaf untuk itu.  Itu kecerobohanku karena tidak dapat mengontrol anak buahku dengan baik.”


Araka pun pergi menyusul Pak Sudarmin sementara Kaiser terdiam sejenak menatap Araka yang semakin menjauh.  Matanya berkilau biru bagai iblis.  Tak lama kemudian ayah-ibunya menepuk pundak Kaiser.  Kaiser pun berbalik dan juga ikut meninggalkan tempat itu.


__ADS_2