DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
144. Rencana Pembunuhan Kaiser oleh Para Lintah Keluarga Dewantara


__ADS_3

Petang itu, Kaiser bersama Zion mengunjungi kamar rumah sakit, tempat di mana Dios dirawat.  Di tangan Kaiser, terdapat suatu dokumen yang digenggamnya dengan erat.


“Kaiser, aku akan menunggumu di luar.  Kamu di sinilah sebentar.  Sepertinya, kamu masih butuh waktu untuk melepaskan kerinduanmu dengan Dios.”  Ujar Zion kepada Kaiser sembari menepuk pundak yang rapuh itu.


Namun, Kaiser tidak berkata apa-apa.  Dia hanya mengangguk.


Dengan keluarnya Zion di ruangan itu, kini tinggallah berdua Kaiser bersama Dios yang terbaring koma.


“Dios, mengapa belakangan ini, aku selalu merasa menjadi kamu dan kamu adalah aku.  Apa yang salah dengan ingatanku ini?”  Lirih Kaiser sembari menggenggam erat tangan Dios dengan tangannya yang satunya yang tidak memegang dokumen.


“Aku harus memastikan kebenaran ini.”  Ujar Kaiser sembari membuka map dokumen yang sebelumnya diserahkan Zion kepadanya itu.


Hasil pemeriksaan kecocokan DNA Zion dan Iswandi Perdana.  Setidaknya, itulah yang tertulis di dokumen tersebut.  Namun sebenarnya, itu adalah uji kecocokan DNA Kaiser terhadap ibunya, Nana.


Kaiser pun dengan perlahan dan dengan penuh harap cemas membuka isi dokumen tersebut.  Dan ternyata, hasilnya positif.  Kaiser tidak diragukan lagi adalah anak kandung dari Bu Nana.  Tampak raut wajah lega di balik ekspresi wajah Kaiser tersebut.


***


Malam harinya, masih di hari yang sama.  Tampak berkumpul beberapa pemuda dan pemudi yang merupakan keturunan dari keluarga Dewantara.  Keluarga Dewantara pada mulanya adalah keluarga asisten dokter dari zaman penjajahan Belanda.  Nenek moyang keluarga Dewantara bertugas mencari herbal-herbal di pegunungan yang dibutuhkan oleh para dokter Belanda yang bermukim di rumah sakit Belanda di Indonesia.


Singkat cerita, setelah zaman kemerdekaan, nenek moyang keluarga Dewantara itu mewarisi ilmu kedokteran dari para dokter Belanda tersebut.  Ducias Dewantara sendiri adalah anak keempat dari empat bersaudara.  Ayahnya juga seorang dokter, tetapi dia tidak mewarisi bakat ayahnya dan justru memasuki jurusan hubungan internasional di Universitas Indonesia.


Ducias Dewantara memiliki 3 orang kakak.  Kakak pertamanya, Syifani Dewantara, adalah seorang wanita yang menikahi seorang pengusaha Turki dan ikut bersama suaminya tersebut ke negara asal suaminya.  Setelah kematian kakaknya sekitar 20 tahun lalu yang meninggalkan dua orang anak, Ducias jarang lagi berhubungan dengan keluarga kakaknya itu di Turki.


Kakak keduanya, Lukman Dewantara, adalah seorang dokter yang memiliki jiwa petualangan yang tinggi.  Namun sayangnya, dia justru meninggal lebih awal dibanding Syifani di usianya yang baru 28 tahun dengan status masih lajang pada kerusuhan di Kongo pada tahun 1968.


Adapun kakak ketiganya, Malik Dewantara, adalah seorang yang berjiwa euforia yang tinggi dan terkenal bebal dan suka mabuk-mabukan.  Namun, dia terbilang sukses di bidang usaha dibandingkan dengan Ducias Dewantara.  Tetapi itu hanya bertahan sampai krisis moneter 1998 yang disebabkan oleh bencana pelangi.  Semua perusahaannya kolaps dan akhirnya dia bangkrut.


Namun setelah bangkrut, dia berubah menjadi pribadi yang baik dan membantu perusahaan adiknya, Ducias Dewantara, hingga sukses seperti sekarang ini.  Tetapi Malik pun 17 tahun yang lalu telah mengembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak yakni Karna (52 tahun), Arta (50 tahun), Dufan (48 tahun), dan Aksara (45 tahun).

__ADS_1


Akan tetapi, justru para cucu dari Malik tersebut-lah yang kini berkumpul untuk merencanakan pembunuhan kepada Kaiser Dewantara, pewaris tunggal dari Dewantara Group tersebut.


“Selamat datang, wahai adik-adikku tercinta dan para sepupuku yang dipenuhi dengan anugerah bakat yang cemerlang.”  Ujar salah seorang di antara mereka yang tampak paling tua.  Dialah Thoriq (31 tahun), anak tertua dari Karna.


“Jadi, untuk apa Kakak memanggil kami semua kemari?  Kakak mana mungkin memanggil kemari untuk sekadar berbasa-basi seperti itu kan?”  Kali ini yang berujar adalah Lad (26 tahun), anak bungsu Karna.


“Hahahahaha.  Memang seperti itulah sifat Kak Thoriq.  Tapi ngomong-ngomong Lad, ke mana Lidia?  Dari tadi aku tidak melihatnya.”  Dialah Geri (30 tahun), anak kedua Karna.


“Entahlah.  Tidakkah Kak Thoriq juga memanggilnya?”  Lad pun mengoper pertanyaan Geri itu kepada kakak tertuanya, Thoriq.


“Oh, Lidia tidak bisa hadir hari ini persoalan sakit.  Tapi tenang saja, itu tidak akan menggangu schedule kita semua hari ini.”  Jawab Thoriq.


Suasana pun seketika hening.  Mata mereka berdelapan yang ada di ruangan itu pun tertuju pada Thoriq, sebagai orang yang mengundang mereka semua.


“Aku mengundang kalian semua hari ini, tidak lain untuk membicarakan masa depan keluarga Dewantara kita yang tercinta.  Seperti yang kita ketahui, paman kita, Arkias Dewantara sudah menua dan tak dapat lagi menjadi puncak tulang punggung Dewantara Group.  Mau tidak mau, dia harus segera digantikan oleh orang lain.”


Thoriq pun tersenyum lebar.


“Ya, itu benar.  Dia telah mempermalukan keluarga kita dengan terlibat tindakan kriminal.”  Idli-lah (25 tahun), anak pertama Dufan, yang pertama kali menyambut provokasi Thoriq tersebut.


“Dia menyebabkan harga saham perusahaan kita menurun drastis karena ancaman pembunuhan joker hitam padanya itu.  Sementara, tidak ada tanda-tanda kalau dia akan berbuat sesuatu tentang semua itu.  Dia hanya mengandalkan pamannya, Paman Arkias saja untuk mengatasinya.  Itu bukan mentalitas pengusaha yang baik.”  Satu tanggapan lain pun datang dari Murad (24 tahun), anak pertama Aksara.


“Oleh karena itulah, aku jadi berpikir.  Bukankah dia bagaimanapun juga akan dibunuh oleh pembunuh berantai joker hitam?  Maka daripada kita menunggu hal itu terjadi yang bisa berdampak pada penurunan nilai saham perusahaan, maka mari kita percepat saja prosesnya.  Kita bunuh Kaiser Dewantara dan kita limpahkan segala kesalahannya kepada pembunuh berantai itu.  Setelah itu, kita stabilkan kembali perusahaan dengan kemampuan kita.”


“Tapi Kak Thoriq, bagaimana caranya?  Bisa-bisa salah bertindak, kita bisa terlibat tindakan kriminal.”  Lad pun mempertanyakan rencana Thoriq tersebut.


“Aku sih setuju-setuju saja, tetapi aku tak mau terlibat karena takut dengan resikonya.”  Syilfi (23 tahun), anak kedua Dufan pun turut angkat bicara.


“Sama.  Aku juga sependapat dengan Kak Syilfi.”  Hal yang serupa, juga ternyata dipikirkan oleh Duan (20 tahun), anak ketiga Dufan.

__ADS_1


“Tenang saja.  Semuanya akan aman.  Aku sudah merequest pemohonan kerja sama pada keluarga Peng dari China, serta keluarga Takeuchi dan Minamizawa dari Jepang yang merupakan penguasa dunia bawah di Jawa Barat.  Yang perlu kita lakukan, adalah mengumpulkan uang untuk membayar jasa mereka.  untuk itulah aku mengumpulkan kalian di sini…”


“Paaak!”  Belum selesai Thoriq berbicara, Garnia (27 tahun), anak pertama Arta, tiba-tiba mendobrak meja.


“Kalian semua sudah gila ya?  Demi harta, kalian tega menghabisi nyawa sepupu kalian sendiri!  Adlan, ayo kita pulang!  Kita tak boleh lama-lama bergaul dengan para sampah ini.”


Seraya mengatakan hal tersebut, Garnia pergi dengan turut serta menarik adik kandungnya, Adlan, pergi bersamanya.  Namun, sebelum meninggalkan pintu ruangan, dia sekali lagi berucap.


“Waktu kakek kita bangkrut, Kakek Ducias-lah yang memberikan uluran tangannya kepada kakek kita sehingga Kakek dapat bangkit kembali.  Berkat itu, baik anak-anaknya, maupun kita, para cucunya, masih dapat hidup bergelimpangan harta.  Jika bukan karena Kakek Ducias, kita semua yang berada di sini, pasti sudah menjadi gelandangan.  Harap camkan itu sebelum kalian semua mengambil keputusan.”


Dengan demikian, Garnia dan Adlan pun meninggalkan ruangan, menyisakan 7 orang di ruangan tersebut.


“Aku juga mundur.”


“Aku juga.”


“Nampaknya, resikonya terlalu besar daripada untungnya.  Aku juga mundur.”


Langkah Garnia dan Adlan itu, lantas diikuti oleh Syilfi, Duan, dan Murad, menyisakan 4 orang di dalam ruangan.


“Nampaknya, hanya kita berempat yang tersisa di ruangan.  Lantas, apakah aku bisa menarik kesimpulan kalau semua yang ada di ruangan ini setuju dengan rencanaku?”  Ujar Thoriq yang tampak mulai kehilangan ketenangannya.


“Lantas, bagaimana dengan mereka berlima yang keluar barusan?  Bisa saja mereka membocorkan rencana kita ini kepada pihak manajemen perusahaan.”  Lad pun mengemukakan kekhawatirannya.


“Atau bisa juga salah satu dari mereka memanfaatkan kesempatan ini menggunakan kita untuk mengeliminasi Kaiser, lantas menjerat kita dengan tindakan kriminal sebagai pembunuhnya, kemudian maju sebagai pahlawan dengan mengungkapkan rencana kita.  Murad paling mahir melakukan hal tersebut.”  Idli kemudian ikut berkomentar.


“Kalian tenang saja.  Pasti mereka berlima telah meregang nyawa di luar.  Aku telah memerintahkan para pengawal di luar untuk membunuh siapapun yang keluar dari ruangan ini tanpa seizinku.”  Jawab Thoriq sambari memberikan suatu tatapan jahat yang sangat mengerikan.


Namun, justru yang terjadi di luar, berkebalikan dengan bayangan Thoriq.  Sang Joker Hitam mendadak muncul dan membantai serta membunuh semua pengawal Thoriq di luar yang memberikan kesempatan kepada Garnia, Adlan, Syilfi, Duan, dan Murad untuk melarikan diri dari tempat tersebut.

__ADS_1


Dan dengan langkah perlahan dengan suara sepatu yang bergeletak, Sang Joker Hitam turut memasuki ruangan tersebut di mana mereka berempat yang tersisa berada.


__ADS_2