
Namaku Andika Setiabudi. Dan dia adalah sahabat baikku Kaiser Dewantara. Aku sudah mengenalnya sejak SMP. Kalian bertanya-tanya bagaimana kami berkenalan? Kalau bisa dibilang, itu adalah semacam takdir yang terjadi begitu saja.
Pada saat SMP, aku masuk kelas 1H sementara dia masuk kelas 1A. Kelas kami berjauhan. Di awal-awal sekolah, kami bahkan sama sekali tak pernah bertegur sapa. Sekali-kali kami lewat berpapasan, tetapi kami hampir tak berbicara sedikitpun. Kami mulai saling mengenal sejak kita masuk yang sama yakni klub basket. Waktu itu, aku masuk klub basket untuk melepas stressku. Yah, bagiku, cara paling ampuh untuk melepas stress adalah dengan bermain basket dan menang.
Kalian bertanya-tanya darimana sumber stressku? Itu tidak lain dari ayahku, Suwirno Setiabudi Pimpinan Direksi PT Setiabudi, perusahaan keluarga kami. Dia selalu mengendalikan segala perbuatanku, menyuruhku melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak kusuka, dan seringkali pula melarangku melakukan hal-hal yang bagiku menyenangkan. Dia selalu menyuruhku untuk bersikap sebagai pewaris yang layak bagi perusahaan keluarga. Benar-benar tipikal ayah yang menyebalkan.
Kembali ke cerita, kesan awalku pada Kaiser adalah dia anak yang sopan, ramah, yah, tipikal siswa teladan begitulah. Sangat berbanding terbalik denganku yang tergolong siswa preman. Banyak siswa yang seharusnya tak menyukai tipe-tipe siswa seperti itu, tetapi entah mengapa Kaiser berhasil berbaur dengan baik dengan teman-teman seangkatan maupun seniornya. Ternyata, dia tipikal orang yang mudah disenangi. Dia orangnya periang dengan senyum cerah yang menawan. Dia disenangi oleh kaum pria dan diidolakan oleh kaum wanita. Benar-benar tipe pangeran yang sempurna.
Seringkali ketika kami bertemu di klub, dia menghampiriku dan mengajakku bergaul, tetapi yah karena jiwa serigala penyendiri ini, aku seringkali menolak ajakannya, bahkan aku sampai melakukan hal yang mungkin tidak sepantasnya dilakukan. Kini ketika mengingat itu lagi, serasa aku ingin menggali lubang dan menyembunyikan kepalaku.
Kami berdua, oh ya, tepatnya bertiga dengan satu bocah lagi bernama Dios diakui sangat berbakat oleh pelatih dalam basket dan langsung bergabung dengan kakak-kakak kelas 3 sebagai tim inti di tahun pertama kami. Kalau kalian tidak tahu, tim inti di basket itu maksimal hanya 12 orang, 5 pemain inti dan 7 cadangan. Tidak bermaksud sombong, aku dan Kaiser terpilih sebagai pemain inti di antara tim inti itu. Meskipun ada 18 orang senior kelas 3 dan 20 orang senior kelas 2 di dalam tim, kami berhasil mengalahkan mereka melalui proses seleksi yang sportif dan berdiri di puncak tim.
Tim kami akhirnya berhasil menjuarai juara 1 tingkat nasional di pertandingan basket antarpelajar SMP se-Indonesia di semester ganjil itu. Yah, walaupun dikatakan se-Indonesia, tetapi yang ikut sebenarnya hanya sekolah-sekolah dari Pulau Jawa, Sumatra, Bali, dan sebagian Sulawesi, namun tentu saja itu tak dapat mencabut label nasionalnya. Jika teman-teman dari provinsi lain yang tidak ikut ingin protes, ya salahkan pemerintah daerah setempat kalian yang tidak menanggapi undangan.
__ADS_1
Kenyataan mencengangkan yang terjadi setahun lalu dari masa itu akhirnya kami ketahui. Rupanya kala itu, tim basket anak kelas tiga yang waktu itu masih kelas 2 dan anak kelas 3 yang kini sudah lulus terlibat masalah dengan tim basket anak baru kala itu yang kini sudah kelas 2. Konflik itu bermula dari terpilihnya Dirga yang saat itu masih kelas 1 sebagai pemain cadangan di tim inti. Dia tampaknya tak terima di tempatkan sebagai cadangan dan menuntut untuk menempati posisi pemain inti. Berkat dukungan sahabatnya yang punya kuasa di sekolah yang bernama Araka, dia berhasil memperoleh posisi itu dengan persetujuan pelatih.
Anak-anak senior yang tidak terima kongkalikong itu memprotes di mana 16 orang anggota tim kelas 3 dan 18 orang anggota tim kelas 2 kala itu mengancam jika pelatih tidak mencabut keputusan tersebut, maka mereka akan mengundurkan diri. Kasus kongkalikong ini berkembang cukup besar karena ada beberapa anak-anak senior di tim basket yang keluarganya memiliki pengaruh, memanfaatkan kekuasan itu untuk membantu mereka mengungkapkannya.
Rumor ini akhirnya tercium oleh beberapa awak media sehingga Araka pun memilih untuk mundur dalam memberikan bantuannya sebelum kasus ini meledak di media. Alhasil, Dirga yang menyadari posisinya terjepit juga memilih mundur. Namun, tak ada yang akan mengira dia akan bergerak di saat semester genap di tahun itu ketika anak-anak kelas 3 saat ini tidak dapat lagi mengikuti pertandingan dan fokus di ujian nasional.
Tiba-tiba petisi diajukan oleh anak-anak kelas 2. Aku, Kaiser, dan Dios yang sudah lolos seleksi menjadi pemain inti di tim inti, tiba-tiba diminta untuk keluar dari tim inti untuk digantikan oleh anak-anak kelas 2. Dengan ancaman, jika petisi itu tidak dilaksanakan, semua anggota tim basket dari anak kelas 2 yang terdiri dari 20 orang akan mengundurkan diri meninggalkan tim basket anak kelas 1 yang kala itu hanya berjumlah 8 orang. Bahkan tak cukup dengan jumlah maksimum tim inti.
Mereka melakukan persis apa yang dilakukan oleh senior-senior mereka dulu kepada mereka. Namun, jelas-jelas mereka melanggar peraturan dengan kongkalikong, sementara aku, Kaiser, dan Dios lulus murni dengan proses seleksi, apalagi kami adalah tim inti yang sudah dipilih dari pertandingan sebelumnya di mana kami mampu menunjukkan prestasi kami dengan membawa pulang juara 1 tingkat nasional.
Dengan tegas dia mengatakan, "Pelatih apa Anda yakin bahwa kumpulan sampah di tempat pembuangan sampah lebih berharga dari sekotak berlian?”
“Hei, sialan apa maksudmu?”
__ADS_1
“Kamu mengatai kami sampah?”
Dua orang anak kelas 2 yang selalu dekat dengan Dirga mengumpat kepada Kaiser.
“Jika kalian yakin bukan sampah, maka mari kita tentukan siapa yang berhak mewakili sekolah dalam pertandingan basket ini, kalian kelas 2, atau kami anak baru dengan pertandingan full round secara jujur dan adil.”
Aku bisa melihat mata biru Kaiser waktu itu bersinar cerah. Ternyata orang yang kunilai biasanya kalem ini, bisa juga berekspresi marah dengan menakutkan seperti itu.
“Kamu.” Salah seorang dari anak kelas 2 yang dekat dengan Dirga itu sekali lagi mencoba mengumpat Kaiser, tetapi ketakutan duluan oleh sorot tajam mata Kaiser.
Kalau dipikir-pikir, kala itu pertama kalinya aku melihat Kaiser marah. Selama ini, aku hanya melihat sosoknya yang seperti malaikat. Ternyata di balik kelembutan wajahnya, dia juga adalah sosok yang tegas dan berani melawan kemungkaran. Di saat aku ketakutan tidak berdaya, melampiaskan semua kekecewaan yang kurasakan atas keputusan pelatih dengan air mata, dia masih tetap berpikiran jernih dan berusaha melawan. Mungkin di situlah aku mulai kagum dan menaruh simpati padanya.
Aku seketika merasakan tatapan sinis ditujukan kepada kami, tepatnya pada Kaiser. Dialah Dirga. Kalau aku pikir-pikir, mungkin inilah awal mula bentrok antara dia dan kelompok-kelompoknya dengan Kaiser. Namun, tampaknya Kaiser sama sekali tak menyadari tatapan benci yang ditujukan Dirga padanya.
__ADS_1
Singkat cerita, kelas 2 menerima tantangan itu dan kami bertanding full 4 kuarter. Alhasil, kami berhasil mempermalukan anak kelas 2 dengan kemenangan telak kami walau dengan anggota yang minim dengan skor 33 vs 102.
Melajulah kami di pertandingan basket itu, hingga kami berhasil sampai ke tahap nasional lagi. Dan sekali lagi kami mempertahankan gelar juara 1 nasional kami di pertandingan basket itu. Namun, aku merasakan kehampaan. Hanya ada 8 anak-anak kelas 1 di bangku tim kami. Pelatih juga memandang kami dengan enggan. Suporter kami juga sedikit karena terbagi menjadi pendukung Kaiser dan pendukung Dirga. Kaiser menerima piala penghargaan mewakili tim kami. Dan begitulah pertandingan ditutup dengan meriah. Namun kemeriahannya tak mampu menjangkau hatiku.