DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
146. Rasa Nostalgia Aneh Apa Ini?


__ADS_3

“Ibuuuuu!”  Bu Nana yang kemudian keluar begitu mendapati ada tamu, langsung berlari ke arah pintu begitu mendapati bahwa tamu tersebut adalah ibunya seraya memeluk erat ibunya tersebut.


“Ibu, aku rindu banget sama Ibu.  Syukurlah Ibu berkunjung kemari.  Tetapi kok tumben Ibu ke Ibukota?  Ibu kan bilang benci Ibukota.”  Telisik Bu Nana yang heran dengan kedatangan ibunya tersebut.


“Apalagi.  Ibu khawatir sama cucu Ibu.  Tapi syukurlah tampaknya cucu Ibu baik-baik saja.”  Jawab Nenek Nafisah sembari mengusap kepala Kaiser.


Kaiser tampak tersenyum lembut dan begitu menikmati kepalanya diusap oleh neneknya itu.  Beberapa saat kemudian, Bu Nana pun mengajak mereka semua masuk.  Akan tetapi, Kaiser tiba-tiba berucap,


“Maaf Bu, Nek, kalian masuk saja dulu.  Aku sudah terlanjur janji dengan Kak Jey untuk bermain di lapangan.  Kebetulan Kak Jey baru kemari, jadi aku ingin segera menunjukkan taman bunga favoritku kepada Kak Jey.  Bukan begitu, Kak Jey?”  Ujar Kaiser sembari menatap Jey dengan intens sebagai isyarat untuk mengiyakan alasan yang baru saja dibuatnya secara sepihak tersebut.


Jey hanya tersenyum.


Bu Nana pun turut menengok ke arah Jey.


“Siapa pemuda ini?”  Tanya Bu Nana ramah.


“Oh, pemuda baik hati inilah yang telah mengantarkan Ibu sewaktu tersesat di pasar Midday barusan.”  Nenek Nafisah pun menjawab.


“Sungguh pemuda yang baik lagi santun.  Sangat jarang menemukan pemuda yang baik hati di zaman sekarang ini.  Anak Muda berteman baik dengan anakku ya?  Ibu jadi lega karena anak Ibu punya banyak teman yang baik-baik.”  Bu Nana turut berujar sembari menatap Jey yang bersama Kaiser dengan tatapan yang lembut dan penuh kebahagiaan.


Tidak berapa lama kemudian, Bu Nana dan Nenek Nafisah pun masuk ke dalam dan meninggalkan Kaiser bersama Jey di luar.


“Jadi, mau bermain-main sebentar denganku di luar?”  Ujar Kaiser seraya tersenyum ramah, tetapi dapat ditangkap kewaspadaan dari setiap gerakannya.


Kaiser pun mengajak Jey ke sudut lapangan berumput di halaman rumahnya yang berada di dekat gubuk bambu.  Kaiser kemudian masuk ke gubuk bambu tersebut, lalu keluar lagi sembari membawa dua bilah pedang kayu.  Sebilah pedang kayu pun dia lemparkan ke Jey dan Jey menangkap bilah pedang bambu itu dengan lihai.

__ADS_1


“Ayo main pedang-pedangan denganku, Kak Jey.”  Ujar Kaiser dengan senyum licik di wajahnya sembari serta-merta berlari kencang ke arah Jey seraya mempersiapkan kuda-kuda menyerang dengan bilah pedang bambu yang dipegangnya itu.


Namun Jey dengan lihai menangkis semua gerakan Kaiser.  Lalu lambat laun, dia yang justru memukul mundur Kaiser hingga terdesak.


Jey pun turut tersenyum licik lantas meningkatkan intensitas serangannya kepada Kaiser yang membuat Kaiser semakin terdesak.


“Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan, Bocah.  Tetapi jika kamu berniat ingin menguji kemampuanku, tidakkah tindakanmu terlalu terang-terangan dan gegabah?  Gerakanmu juga terlalu kikuk bagiku.”


Ujar Jey sembari terus menyerang Kaiser yang membuat Kaiser semakin terpojok.


“Jika kamu berniat menguji kemampuan seseorang, setidaknya kamu berani melakukan ini.”  Ujar Jey sembari menunjukkan senyum jahatnya.


Dia kemudian dengan lihai membuat kaki Kaiser tersandung sehingga terjatuh lantas dengan sigap membuat gerakan menusuk tepat di samping wajah Kaiser yang terbaring di tanah.  Pedang pun tertancap di tanah di samping wajah Kaiser di mana bilah tajam pedang tampak sedikit menggores pipinya yang halus tersebut.


Kaiser pun menatap lurus ke arah wajah Jey.  Dia pun berbisik,


“Mana mungkin?  Setiap kehidupan adalah berharga.  Aku bisa melakukan gerakan tersebut tentu dengan latihan sehingga aku bisa percaya diri dengan kemampuanku begitu melakukannya.  Tampaknya, kamu masih harus belajar banyak, Bocah.”  Jawab Jey dengan senyum simpul di wajahnya.


“Hahahahaha.  Ternyata Kak Jey adalah orang yang menarik.  Pantas Senior Dirga langsung bisa suka dengan Kakak.  Aku berharap juga bisa punya kakak Kandung seperti Kak Jey, tetapi itu tidak mungkin ya, soalnya aku terlahir sebagai anak pertama.”  Ujar Kaiser sembari tertawa ramah.


“Walaupun bukan Kakak Kandung, kalau kamu mau, aku bisa menjadi kakak angkatmu.  Bagaimana dengan itu, Bocah?”  Ujar Jey sembari mengulurkan tangannya kepada Kaiser yang terduduk di tanah.


“Benar juga, menjadi kakak-beradik, tidak mesti lewat jalinan darah.  Kalau begitu, mohon bantuannya, Kak Jey.”  Ujar Kaiser sembari tersenyum ramah meraih tangan Jey tersebut lalu menggunakannya sebagai topangan untuk berdiri.


Jey jelas-jelas sadar bahwa baik dirinya maupun pemuda sok polos di hadapannya itu, berucap demikian hanyalah untuk akting demi menipu satu sama lain.  Tetapi entah mengapa, terbersit perasaan bahagia yang tidak biasa di hati Jey tersebut begitu Kaiser memanggilnya sebagai Kakak.

__ADS_1


Hari itu pun berlalu dengan damai.


Jey pun kembali ke kediamannya di Padepokan Isnandar.  Di kamarnya yang penuh dengan sketsa wajah dan cermin itu, dia lantas mengambil sebuah topeng di antara barang-barangnya.  Sebuah topeng pierot putih yang pecah bagian bawahnya.


“Bagaimana pun, aku takkan melupakan dendamku padamu, Bocah Sok Polos.”  Ujar Jey dengan penuh kemurkaan.


Ya, dialah Jeynal alias Kanzaki Kazuki yang menyamar menjadi Marjono alias Jey, sosok asli dari sang pembunuh berantai joker hitam.


Namun, keesokan harinya, dia kembali bermain ke kediaman Kaiser.


“Ting tong.”


Bel pintu berbunyi dan minggu itu, lagi-lagi Kaiser yang membukakan pintunya.  Yang berkunjung tidak lain adalah Jey di mana Kaiser langsung membawa tamunya itu ke tempat sebelumnya dan kembali bermain pedang-pedangan di tempat tersembunyi di sudut halaman kediaman Dewantara di samping gubuk bambu yang dipenuhi oleh rerumputan yang segar untuk diinjak.


Kaiser menduga bahwa kedatangan Jey adalah tidak lain untuk menyelidikinya dalam rangka merencanakan pembunuhannya, tetapi dia tetap menghadapi sosok yang akan mencabut nyawanya itu dengan senyum lembut untuk menyelidikinya balik dalam rangka mengungkap identitasnya dan mencari kelemahannya.


Setidaknya itulah yang dicoba untuk ditanamkan Kaiser ke pikirannya.  Namun sebenarnya, Kaiser menikmatinya.  Jauh di dalam sanubarinya, Kaiser merasakan sosok kakak pada diri Jey yang selama ini tidak pernah dirasakannya.


Di lain pihak, Jey sendiri juga tidak pernah punya niatan seperti yang dipikirkan oleh Kaiser.  Dia murni menemui Kaiser karena dorongan hatinya.  Tanpa dia sadari, hatinya mendorongnya untuk sekali lagi berkunjung menemui bocah sok polos itu karena rasa nostalgia aneh yang dirasakannya itu.  Walaupun dia tidak ingin mengakuinya, tetapi dia dapat kembali merasakan rasa nostalgia bersama adiknya melalui sosok Kaiser tersebut.


Di pertandingan latihan pedang-pedangan mereka itu, mereka berdua pun berusaha tampak waspada.  Namun sebenarnya, baik Kaiser, maupun Jey, merasakan kesenangan.


Akhirnya, keraguan itupun muncul di sanubari Jey.


“Padahal aku tahu bahwa bocah itu hanya akting karena dia sebenarnya sudah tahu tentang identitasku yang sebenarnya.  Tetapi mengapa keraguan ini muncul?  Dios, apa perasaan aneh ini juga yang membuatmu berteman dengan pemuda sok polos itu hingga akhirnya melukai dirimu sendiri?”  Lirih Jey dalam kebimbangannya.

__ADS_1


“Tetapi bagaimana pun juga, tidak ada yang dapat menghentikan balas dendamku ini.  Entah itu sampai bocah sok polos itu mati, atau aku yang tewas di tangannya.”  Ujar Jey dengan dipenuhi kemurkaan.


__ADS_2