
Kaiser yang baru memasuki kelas dengan senyum khas ala pangerannya langsung disambut oleh tatapan kekaguman bercampur kehangatan oleh teman-teman sekelasnya yang seketika berubah menjadi tatapan keheranan ketika mereka menyadari bahwa tidak ada lagi bodyguard-bodyguard yang menjaga di belakangnya. Melihat tatapan itu, Kaiser hanya tertawa lembut seraya membelai rambutnya yang halus itu.
“Kaiser, bodyguard kamu ke mana?” Andika langsung menyambut kedatangan Kaiser dengan pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh semua orang di kelas.
“Hehehe, aku menyuruh mereka untuk tidak datang lagi karena kita akan segera UTS.” Jawab Kaiser seraya tertawa lembut.
Kaiser kemudian menaruh tas jinjingnya ke atas meja dan bersiap untuk duduk. Namun, sebelum posisi duduk Kaiser sempurna, Beni tiba-tiba datang dari luar kelas dengan berlari sampai-sampai menabrak Andika sehingga hampir jatuh, tetapi berhasil ditahan Beni sebelum terjatuh.
“Kaiser, Andika!” Ucap Beni seraya menatap Kaiser dan Andika secara bergantian.
Dia kemudian menyatukan kedua tangannya di depan wajahnya sambil menundukkan kepalanya.
“Tolong, kali ini saja, bergabunglah dengan tim basket kami untuk latih tanding.” Pinta Beni dengan penuh harap.
Andika lantas menatap Kaiser dan Beni secara bergantian. Mulutnya menekuk. Tampak ada sedikit harapan di sinar matanya bahwa Kaiser akan menyetujuinya.
“Tapi kami kan bukan tim basket sekolah ini.” Kaiser mencoba menjawab.
“Tidak masalah! Siapa yang tidak kenal kamu di dunia basket? Kumohon, sekali saja!” Beni sekali lagi menungkupkan tangan dan menundukkan kepalanya di hadapan Kaiser.
“Kaiser, ayo kita terima saja. Aku juga penasaran bagaimana perkembangan kita sekarang.” Ujar Andika mencoba membujuk Kaiser.
“Tapi kita sudah sangat lama tidak pernah bertanding pertandingan resmi. Aku takut permainan kita sudah berkarat.” Kaiser menyatukan kedua tangannya dan menjepit hidungnya dengan kedua tangan yang ditelungkupkan itu.
“Ayolah, kita kan juga kadang-kadang masih main basket, walaupun bukan full ronde.” Bujuk Andika lagi.
Kaiser tampak masih mempertimbangkan. Andika seraya menekuk lututnya dan merendahkan posisinya agar sejajar dengan wajah Kaiser yang sedang duduk di kursi. Dia kemudian menyandarkan bagian depan badannya pada meja.
“Ayolah pasti menyenangkan.”
Mendengar ucapan Andika itu, Kaiser lantas tersenyum.
__ADS_1
“Ayo, tampaknya boleh juga.” Kaiser pun menyetujui permintaan Beni.
Mendengar hal itu, Beni lantas melompat-lompat kegirangan dengan suara berisiknya sampai-sampai akhirnya wakil ketua kelas turun tangan menenangkannya.
***
“Halo, Kaiser!”
Kaiser tampak kaget melihat kelima pemain basket yang akan segera berlatih tanding dengannya yang ada di hadapannya saat ini. Kelima pemain itu tampak tersenyum dengan senyum yang penuh nostalgia.
Rupanya, 2 dari mereka adalah lawan Kaiser di babak final sewaktu pertandingan basket nasional tingkat SMP. Duanya lagi adalah lawannya di perempat final. Satunya lagi tidak pernah bertanding langsung dengan Kaiser, tetapi tampaknya sangat mengaguminya setelah melihat performanya di pertandingan lalu.
Andika sebenarnya sudah merupakan pemain yang sangat berbakat di mana banyak orang-orang yang terkesan dengan jump shot-nya yang memukau. Tetapi, bakatnya itu tertutupi oleh bakat Kaiser yang lebih bersinar.
Kaiser adalah pemain yang sangat handal melakukan passing dan memiliki teknik pengawasan lapangan yang sangat baik. Dia sangat mahir untuk menarik perhatian musuhnya ke arah lain sebelum melakukan passing ke arah yang tak terduga-duga yang mengarah kepada pemain lain yang melakukan shooting.
Jika pemain lawan terlalu fokus pada passing Kaiser, maka mereka akan dibantai oleh three-point shoot Kaiser.
“Oh, senang bertemu lagi.” Ucap Kaiser seraya tersenyum dengan senyum ala pangerannya kepada mereka.
Para pemain lawan tampak begitu hangat pada sambutan Kaiser itu. Mereka tampaknya begitu menganggap Kaiser sebagai panutan mereka.
Tanpa disadari, podium mendadak ramai. Rupanya itu adalah ulah dari fans-fans fanatik Kaiser yang datang untuk menyaksikan penampilan idola mereka setelah sekian lama.
“Tampaknya, aku tidak boleh mengecewakan mereka.” Ucap Kaiser seraya tersenyum ramah ke arah podium yang membuat sorak-sorai di podium kian ramai.
Pertandingan pun dimulai. Pertandingan diawali dengan dribble dari Kaiser yang berhasil melewati lawan. Lawan-lawan yang mencegat Kaiser lantas tersentak kaget ketika melihat bola sudah tidak ada lagi di tangan Kaiser dan seketika lay up dilancarkan oleh Andika.
Skor 2 poin untuk tim tuan rumah. Setelah peluit dibunyikan lagi, musuh mulai menyerang pertahanan tim, tetapi segera bola berhasil direbut oleh Andika dan dipassing kepada Kaiser.
Tim lawan yang berusaha menghalangi passing Kaiser dengan tubuh mereka yang jauh lebih tinggi, harus menerima kenyataan pahit ketika Kaiser mundur 2 langkah dan langsung melakukan three-point shoot.
__ADS_1
Pertandingan pun berjalan selama 4 babak yang ditutup oleh kemenangan tim tuan rumah dengan skor 52-78.
“Tampaknya keahlianmu belum berkarat ya Kaiser.” Ujar salah satu anggota tim pemain lawan seraya menjabat tangan Kaiser.
“Tentu saja. Kadang-kadang di hari minggu, aku bermain basket dengan Andika dan anak-anak. Yah, walaupun hanya basket jalanan sih.” Ujar Kaiser seraya tersenyum nakal.
Pemain itu lantas lebih menatap intens kepada Kaiser. Dia mengerutkan bibirnya dan mengeratkan genggaman tangannya sebelum akhirnya berbicara.
“Kamu tahu, Kaiser. Aku terpilih menjadi pemain inti di tim sejak aku kelas satu. Selama dua musim, tim kami selalu menjuarai juara 1 lomba basket tingkat nasional. Hal itulah yang mungkin membuatku sombong sehingga aku merasa menjadi orang yang paling hebat di dunia ini tentang basket.
Setidaknya, hal itulah yang kurasakan sampai kamu datang dan meruntuhkan segala fantasiku. Kamu mempecundangi kami yang merupakan juara di musim sebelumnya dengan skor 20-101.
Terus terang, aku sangat frustasi saat itu. Aku berlatih dengan sungguh-sungguh bersama dengan tim untuk membalaskan dendamku, tetapi pada akhirnya, kamu mengalahkan kami lagi di musim berikutnya dengan skor 55-91. Skor yang masih agak memalukan, tetapi jauh lebih baik dibandingkan musim sebelumnya.
Aku pun jadi merasa bahwa upaya kami untuk berlatih tidak sia-sia. Jadi kupikir, jika kami bisa merekrut anak-anak kelas 1 berbakat dan memperbaiki kekurangan di tim kami, maka di sesi selanjutnya, kami dapat menang.
Tapi kamu menghilang tanpa jejak. Dan justru orang yang menggantikanmu langsung kalah di babak kuaifikasi tingkat daerah.
Jujur, aku pernah sangat marah karena itu. Aku kecewa padamu yang melarikan diri pada rivalitas yang sebenarnya aku buat-buat sendiri ini. Tetapi, setelah beberapa lama, akhirnya aku mendengarkan berita itu.
Aku akhirnya, mengetahui alasan kamu menghilang dari dunia basket. Yah, kupikir itu juga bukan salahmu sehingga tentunya tidak tepat menyalahkanmu atas keinginan egoisku ini. Kamu pasti pun juga berada pada posisi yang sulit karena itu.
Untuk itulah, aku mencoba memohon pelatih untuk bisa bertanding lagi denganmu. Akulah yang juga meminta Beni untuk membantu demi memenuhi keinginan egoisku ini. Makanya, jadilah pertandingan ini dilaksanakan. Yah, ujung-ujungnya kami sih kalah.”
Pemain itu lantas mengalihkan pandangannya sejenak kepada Kaiser dan berteriak pelan untuk melepaskan frustasinya. Namun, ada sedikit tersirat perasaan lega dalam teriakan frustasinya itu.
Sang Pemain lantas menatap Kaiser lagi.
“Tapi aku lega karena akhirnya aku bisa lagi bermain dengan pemain yang paling aku kagumi. Terima kasih Kaiser.” Pemain itu lantas tersenyum dengan senyum yang penuh arti. Kaiser tanpa berkata apa-apa lantas hanya tersenyum ramah sambil menepuk bahu pemain itu.
Setelah percakapannya dengan pemain itu, kenangan yang ingin dilupakan Kaiser pun kembali ke dalam memorinya. Tentang Dirga dan tentang Dios yang karena ketidakcakapannya melindungi orang-orangnya, harus dibuli yang menyebabkan Dios masih koma sampai sekarang.
__ADS_1