DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
163. Keputusan Akhir sang Pembunuh Berantai Joker Hitam


__ADS_3

Menurut kalian, apa hukuman yang pantas diberikan kepada seorang pembunuh?  Jika itu aku dua belas jam lalu yang ditanyakan persoalan itu, maka dengan pasti aku akan menjawabnya dengan hukuman mati.


Tiada hukuman yang lebih layak bagi orang yang telah tega menghilangkan nyawa orang lain dengan entengnya selain membalasnya dengan kematian yang sama sakitnya seperti yang dirasakan oleh korban-korbannya.


Tentu saja harus seperti itu barulah itu adil bagi para korban yang pergi ke alam sana dengan perasaan dendam di kala sisa waktu mereka di dunia harus terenggut secara paksa dengan ketidakadilan.


Kakakku Jeynal, tentu tidak luput dari hal itu.  Demi keadilan terhadap Senior Aleka, Senior Rihana, Senior Araka, Senior Silva, Senior Riandra, Senior Tirta, Senior Dirga, dan semua orang yang telah menjadi korban kakakku, kakakku harus menerima hukumannya.


Walaupun demikian, mengapa hatiku ini begitu perih rasanya?  Padahal itu adalah hal yang wajar jika mata dibalas mata dan nyawa dibalas nyawa.  Tetap saja, aku tak dapat menahan kesedihanku.


Bahkan setelah akhirnya kami reuni-an kembali setelah hampir 11 tahun berpisah, aku sekali lagi harus kehilangan dirinya.


Namun di situlah, Kapten Maya pun berteriak.


“Kamu yakin ingin berakhir begitu saja, wahai pembunuh berantai joker hitam?”


Rupanya, Kak Bianca telah menceritakan segala hal yang terjadi di atas sana kepada Kak Maya.  Kak Bianca pulalah penyebab mengapa polisi bisa segera mengetahui keberadaan kakakku Jeynal di tempat ini dan mengepung tempat ini.


Dalam diam, kakakku pun menyerahkan Kak Danial dan Fero yang ada pada Mr. Gellin-nya kepada Kak Bianca dan Andika.  Kak Bianca pun segera memapah Kak Danial, sementara Fero dipapah oleh Andika.


“Maaf, adikkku Kaiser.  Tampaknya Kakak harus pergi dari sini.”


“Mengapa kamu ingin pergi?  Kamu ingin lari dari tanggung jawab atas segala perbuatan kejimu itu?!”  Tanpa sadar, aku pun berteriak seperti itu kepada kakakku Jeynal.


Dapat kutangkap ekspresi sedih di wajah kakakku itu ketika ku-membentaknya.  Tetapi bukan begitu, Kakak.  Aku sangat menyayangi Kakak.  Yang kubenci hanyalah tindakan Kakak.  Itu pun semua karena kebodohan diriku ini sehingga Kakak pun harus terjebak di dalamnya.  Akulah yang telah merusak hidup Kakak.


“Bukan begitu, Kaiser.  Kakak sedang diincar oleh Klan Kanzaki.  Namun, bukan mereka sebenarnya masalahnya.  Ada organisasi yang sangat berbahaya di belakang mereka.  Jika seandainya Kakak ditahan oleh polisi di sini.  Mereka bisa saja dalam bahaya atau bahkan kehilangan nyawanya.”

__ADS_1


“Maksudmu organisasi ****** dalam bentuk negara mengambang bentukan para iblis yang berada di antah-berantah itu?”  Kudengar\, Dios menanggapi pernyataan kakakku itu.


Ah, rupanya itu semua karena organisasi terkutuk itu.  Organisasi yang melahirkan game Devil Beside You yang pernah aku dan Agni selidiki itu yang menjadi pemicu utama meningkatnya kasus pembulian baru-baru ini.


Kulihat kakakku pun memijat keningnya seraya berucap, “Ini peringatanku.  Kamu sebaiknya tidak menyebut nama itu sembarangan karena telinga mereka sangat tajam.  Kamu dan orang di sekitarmu bisa saja dalam bahaya.  Tentu saja aku tidak peduli denganmu, tetapi lain halnya jika melibatkan Kaiser.”


“Hah.”  Sembari menghela nafas, tampak senyum kecut berkedut di mulut Dios itu.


“Padahal aku juga adikmu, tetapi mengapa sikapmu sedingin itu.  Ah, sudahlah.”  Kudengar lirih Dios dalam gerutu ucapannya.


Kakakku pun membulatkan tekadnya untuk pergi demi tidak memancing korban lebih jauh lagi jika sampai organisasi terkutuk itu sampai menaruh perhatiannya di kota ini.  Akan tetapi, di situlah Kapten Maya kembali berujar.


“Kamu pikir kami begitu bodohnya sampai tidak menyadari hal itu?”


Mendengar ucapan Kapten Maya itu, kami semua pun spontan menoleh ke arahnya.


“Bagaimana bisa aku bisa mempercayai ucapanmu sedangkan beberapa dari mereka telah menyusup ke keluargamu?  Bahkan ada dari mereka yang telah menjadi tetua-tetua Wijayakusuma.”


“Aku juga sadar hal itu.  Namun, dengan kekuatan Kakek Saleh seorang diri, kita tak dapat membuktikan kesalahan mereka dan membuat mereka menunjukkan sosok asli mereka.  Oleh karena itu, aku butuh bantuanmu untuk menghadapi mereka.”  Menanggapi pertanyaan Kak Jeynal itu, Kapten Maya pun tampak merendahkan dirinya dengan memohon kerjasamanya.


“Kapten Maya benar.  Dengan bantuanmu, peluang untuk mereka dibasmi setidaknya dimulai dari keluarga kami akan bertambah besar.  Demi Kakekku, aku mohon kerjasamamu.”


Tiba-tiba Loki pun berbicara turut mewakili keluarga Wijayakusuma…atau apakah itu Dios?


“Mengapa kamu masih bisa mengendalikan tubuhmu?”  Ah, rupanya yang berbicara barusan adalah benar-benar Loki, sementara kali ini barulah Dios yang berucap dengan menggunakan tubuh Loki tersebut.  Mereka rupanya saling berbagi kesadaran dalam satu tubuh saat ini.


“Hah, sama seperti Lu Shou, aku memiliki segel angin yang mampu melindungi inti spiritualku dari gangguan eksternal.”  Sambil menghela nafas, Loki pun menjawab pertanyaan Dios tersebut.  Ataukah aku harus menyebut ini sebagai percakapan internal antarbagian tubuh?

__ADS_1


Pikiran itu pun muncul dalam benakku.  Walaupun hukuman mati adalah sesuatu yang tak terhindarkan oleh kakakku Jeynal, namun sesaat saja, aku berharap Kak Jeynal mampu diberikan lebih banyak waktu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu dengan mengabdi kepada negara.


Sesuatu seperti ini hanya akan terus terulang jika akar penyebab permasalahannya tidak dibasmi.  Jika kita kembali memikirkan, semua ini berasal dari rencana jahat organisasi rahasia tersebut untuk merusak mental para remaja dengan merangsang pikiran mereka agar menjadi brutal hingga akhirnya mereka akan kerap melakukan perundungan demi memperoleh energi negatif untuk kebangkitan raja iblis mereka.


Semuanya berawal dari Jingmi, sang iblis yang menyamar menjadi manusia, yang memanipulasi geng Araka.  Karena itu, aku pun mencoba untuk meyakinkan Kak Jeynal persoalan pemikiranku itu.


“Kak Jeynal, aku pun berpikir demikian.  Daripada lari, sudah saatnya kita harus menghadapi mereka.”


Dan dengan ucapanku itu, Kak Jeynal pun menyetujuinya.  Jadilah Kak Jeynal sebagai salah satu anggota istimewa dari Divisi Penanganan Bencana Tidak Wajar di bawah kepemimpinan Kapten Maya tersebut sampai waktu eksekusinya diputuskan.


Malam itu, aku pun berpisah kembali dengan kakakku.  Namun, itu bukanlah perpisahan terakhir kami.  Kak Jeynal telah melangkah maju untuk memikul beban berat dosa-dosanya.


Dengan bantuan para polisi, Dios dan Kak Danial diantar kembali ke RS Dewantara Group untuk memperoleh perawatan.  Fero dan Loki pun ikut serta bersama mereka untuk mengobati luka-luka di tubuh mereka.  Andika juga tampak mengalami luka-luka ringan, akan tetapi anehnya dia menolak ajakanku malam itu dan lebih memilih untuk segera pulang ke rumahnya.


Aku pun pulang ke rumah.  Begitu ku-membuka pintu, tampak Agni, Ayah, Ibu, dan Nenek segera menghampiri dan memelukku erat.  Malam itu, semuanya berakhir dengan baik.


Namun, satu hal yang mengganjal, Kapten Maya rupanya sama sekali tidak punya niat melepaskan orang berbakat seperti kakakku Jeynal dan akan berupaya sekuat tenaga agar hukuman itu diputihkan.


Lantas, sekali lagi, apakah itu adil bagi para korban dan keluarga mereka?  Aku masih dapat mengingat dengan jelas tentang bagaimana Alicia Callista Putrawardhani mengutukku ketika dia berpikir bahwa akulah yang telah membunuh kakaknya, Aleka.


Lantas, bagaimana perasaan sedih yang dirasakan oleh sesosok kakek tua yang kehilangan cucu laki-laki satu-satunya yang menjadi tumpuan harapannya itu?  Sesosok kakek tua yang kini telah mengidap demensia dan selalu histeris meneriakkan nama cucunya, Aleka, itu.


Lantas pula, bagaimana rasa sedihnya perasaan seorang ibu yang harus melepaskan kepergian anak pertama yang dicintainya di dalam tanah gelap nan dingin itu?  Dan tidak hanya itu, sang ibu harus menyaksikan sendiri mayat sang anak yang dimutilasi dengan kejam.


Walaupun dalam kasus terakhir tersebut, Tirta-lah pelakunya, namun kakakku-lah dengan Whisper of Devil-nya yang memicu semua itu terjadi.


Namun, tidak ada pilihan lain, selain kami hanya harus melangkah ke depan.

__ADS_1


__ADS_2