DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
15. Di Manakah Jiwa Jurnalismemu Wahai Para Pers?


__ADS_3

Malam yang gelap.  Tampak dari kejauhan, seorang pemuda berdiri di sudut jalan. Bayangan tiang lampu jalan menutup wajah pemuda itu. 


Seorang pria berperawakan tinggi dan tegap namun kurus berjalan melewati sudut jalan di mana pemuda itu berdiri. 


“Yo, Kakak Sepupu, tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sekolah.  Apa tidak mengapa Kakak yang dikirim sebagai mata-mata padahal aku ada di sekolah itu?” 


“Loki, apa yang kamu lakukan di sini?” 


“Hahahaha.  Sudah kuduga Kakak hanya pura-pura tidak mengenalku saja di sekolah.  Lucu juga melihat Kakak menyamar menjadi anak SMA, terlebih kelas 1, di SMA elit pula.  Hahahaha.  Betul-betul aku tidak habis pikir, sebenarnya apa yang ada di pikiran atasan Kakak.”  Ujar Loki seraya tertawa terbahak-bahak melihat Fero yang di usia 20-an mengenakan seragam SMA. 


Fero hanya terdiam dan menatap Loki. 


“Jadi, apakah kamu sudah memperoleh apa yang kamu cari di sekolah?”  Tanya Loki yang penasaran dengan urusan pekerjaan Fero di sekolahnya.


“Bukan urusan kamu."


Fero terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Oh iya, ada satu hal yang ingin kusampaikan. Kamu jangan terlalu dekat dengan Kaiser.  Dilihat bagaimanapun dia mencurigakan.” 


“Apa ini?  Setelah menghilang selama bertahun-tahun, setelah bertemu kembali, Kakak justru melarang aku berteman?”  Loki lantas menatap sinis wajah Fero. 


“Kamu tahu bukan itu yang aku maksud kan?  Lagipula sejak usia 15 tahun, aku terpaksa meninggalkan rumah demi mewakili melaksanakan kewajiban keluarga kita untuk mengikuti pelatihan mata-mata di pemerintahan.  Dan kamu juga tahu kan, setelah memasuki lembaga itu sampai pensiun, kita dilarang menghubungi keluarga jika tidak mendapat izin?”


Loki lantas melangkah maju menghampiri Fero. 


“Itu untuk urusan yang lain."


Loki pun turut menjeda ucapannya.


Dia pun melanjutkan, "Tetapi mengapa kamu melarang aku berteman dengan Kaiser?  Dia anak yang baik, sebaiknya Kakak jangan menganggu dia!” 


“Kamu tidak tahu saja apa yang dilakukannya selama satu setengah tahun sebelum masuk ke sekolahmu.  Dia secara resmi terdaftar di salah satu SMP di Jawa Barat, tetapi nyatanya dia pergi ke Jepang dan menjalani pelatihan samurai di sana.  Dia juga tidak memiliki alibi apapun pada saat kasus pembunuhan di Sungsin Security terjadi.” 

__ADS_1


Wajah Loki sempat menjadi kaget dengan pernyataan Fero, tetapi dengan cepat kembali tenang.


“Tetapi itu sama sekali tidak membuktikan bahwa Kaiser pelakunya.  Aku kenal betul dia selama 7 bulan lebih kita bersama.  Dia bukan tipe orang yang tega berbuat seperti itu.”  Jawab Loki seraya menatap wajah Fero. 


“Apa kamu yakin?  Kamu betul-betul mengetahui segala seluk-beluk tentang dia?”  Fero yang marah akan jawaban Loki lantas membentak Loki seraya memegang kedua bahunya dan menghempaskannya ke belakang. 


“Kalau kamu masih ragu.  Satu hal.  Lakukan penyelidikan tanpa prasangka bahwa Kaiser lah pelakunya.  Hanya dengan cara itu, kalian dapat menemukan pelaku yang sebenarnya.  Jadi bagiku, keberadaanmu di sekolah ini adalah sia-sia belaka. 


Dan juga, aku tidak suka dengan wanita yang bernama Alicia itu.  Sampai jumpa di sekolah.” 


“Tunggu…”  Fero hendak menahan Loki yang segera menghilang dari hadapannya, tetapi niatnya tersebut diurungkannya dan Loki pun menghilang di ujung jalan.


***


Hari ini Kaiser tampak terlihat murung lagi.  Dia tampak tersenyum di luar, tapi aku sebagai sahabatnya tahu betul ciri-ciri Kaiser ketika sedang murung.  Lihat saja matanya begitu kosong. 


Dia seharian meremas pulpennya.  Itulah ciri-ciri ketika perasaannya lagi tidak enak.  Bagaimana tidak, perlakuan wartawan kian hari kian menjadi-jadi.  Padahal hari itu ketika kami berkujung ke pusat perbelanjaan umum, dia tampak sangat ceria.  Yah, tapi itu dengan cepat berubah di hari itu juga ketika Pak Polisi berpakaian preman itu datang menghampiri kami.


Apa katanya?  Mengatakan menangkap penjahat sambil menatap Kaiser begitu?  Lagipula apa maksudnya rekaman Kaiser mengatakan bahwa akan membunuh Aleka.  Sudah dibilangin juga sama Kaiser bahwa itu salah, tetap dia ngotot juga. 


Sehabis bertemu polisi itu, untung saja aku tetap menemani Kaiser ke stasiun.  Siapa yang akan menyangka dia akan pingsan di sana.  Untungnya Ayah sigap dan segera menjemput kami kemudian mengantar Kaiser ke rumahnya.  Kakek, ayah dan ibu Kaiser benar-benar jadi panik karenanya.  Lihat saja, sekarang di luar ruang kelas ini dipenuhi oleh Bodyguard Kaiser.


Kala itu hari senin.  Jam pelajaran pertama adalah olahraga.  Kami telah meninggalkan kelas bersiap-siap untuk mengikuti kelas olahraga. 


Belum sempat menuruni gedung, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di kelas kami.  Beni, Loki, dan Kaiser segera pergi menengok kembali kelas.  Mau tidak mau, akupun juga ikut dengan mereka. 


“Ah, lepaskan!” 


“Hei, kamu mau masih sok setelah kedapatan melakukan perbuatan rendah ini.  Tidak adik tidak kakak, sukanya merundung orang.  Gen memang luar biasa ya.” 


Rupanya yang membuat keributan itu adalah Alicia yang tampaknya kedapatan oleh Ratih melakukan perbuatan yang jahat.


Akupun ikut bergabung melihat tempat kejadian.  Betapa kagetnya aku mendapati adanya tulisan merah di meja milik Kaiser bertuliskan,

__ADS_1


'DASAR PEMBUNUH, MATI KAMU'


yang rupanya adalah perbuatan Alicia. 


Wajar Ratih marah karena selama ini kami angkatan kelas 1 jurusan umum sangat membenci perbuatan merundung seperti itu.  Dan semuanya tampak lebih rumit karena hal ini pun dilihat oleh Kaiser.


“Kaiser?”  Ratih ragu-ragu memanggil Kaiser. 


Tampaknya Ratih begitu menjaga perasaan Kaiser.  Kulihatnya, Kaiser hanya tersenyum ramah, sambil mengatakan, “Tidak apa, aku baik-baik saja." 


Walaupun dia mengatakan baik-baik saja, tetapi tangannya gemetar.  Kaiser seraya menyuruh Loki untuk membantunya melaporkan insiden ini kepada pihak sekolah agar Alicia mempertanggungjawabkan perbuatannya sementara Kaiser minta izin keluar sebentar.


Aku yang khawatir pun mengikuti di belakang Kaiser.  Dan betapa kagetnya aku, di lorong, lagi-lagi Kaiser jatuh pingsan.  Seberapa berat lagi beban yang harus ditanggung oleh punggung lemah itu karena rumor palsu tentang dirinya. 


Kaiser seraya dipapah oleh bodyguard-bodyguardnya ke UKS.  Aku memutuskan untuk mengikuti dan menemani Kaiser ke UKS karena khawatir. Akhirnya, aku pun melewatkan jam olahraga.


Aku terdiam sendirian di ruang UKS melihat wajah tak berdaya Kaiser yang sedang tertidur pulas.  Di situlah aku memutuskan untuk berbuat sesuatu yang lebih besar demi sahabatku ini. 


Aku mengkonsultasikan pendapatku ini kepada teman-teman sekelasku.  Di luar dugaan, tak ada satupun yang menentang pendapatku ini. Terutama Ratih, dia sangat mendukung dan bahkan bersedia menjadi panitia penyelenggaranya. 


Begitulah grup untuk mendemo kebrutalan pers dalam menganiaya secara verbal salah seorang siswa di kelas kami terbentuk.


Kami pun segera mengurus segala perizinan dari pihak sekolah untuk memulai aksi kami.  Tanpa diduga, dengan mudah kami memperoleh izin dari guru-guru dan kepala sekolah. 


Rupanya para guru termasuk kepala sekolah juga merasa iba atas berita miring yang menimpa Kaiser selama ini. 


Dengan demikian, sehabis istirahat setelah jam keenam, kami meminta izin pulang lebih awal untuk menjalankan aksi demo kami.  Di luar dugaan, berkat Ratih and the gang yang aktif menghubungi teman-teman kelas lain termasuk kakak-kakak kelas, hampir semua angkatan kelas 1 jurusan umum, termasuk kelas 2 dan 3 jurusan IPA dan IPS berkumpul untuk melaksanakan aksi demo itu. 


Di kerumunan itu juga hadir Kak Agni dan Kak Zion.  Siang itu sampai pukul 5 sore, kami berdemonstrasi secara damai di depan gedung NTV News menuntut ketidakprofesionalan para wartawan dalam menyimpulkan suatu berita tanpa didahului oleh pernyataan resmi oleh polisi.


Kami juga aktif menyebarkan aksi kami melalui media sosial dan internet.  Berharap bahwa pada akhirnya, orang-orang akan simpatik pada kami. 


Tetapi suatu hal yang tidak terduga tayang di TV keesokan harinya.  Berkat ulah salah seorang selebriti yang memposting di insyafgramnya mengenai kecilnya mahar yang diberikan oleh suaminya yang hanya emas 3 kilogram, tanah 3 hektar, dan uang tunai 1 milyar sambil berselfie di hadapan emas-emas, sertifikat tanah, dan uang tunai itu sambil mewek, perhatian media jadi tertuju pada insyafstory yang mendadak viral itu. 

__ADS_1


Media pun jadi fokus membahas gaya hidup mewah selebriti sehingga pada akhirnya berita kami yang menuntut keadilan yang hanya tayang sekian menit di 4 stasiun TV kecuali NTV, tenggelam dan terlupakan.


Aku kecewa sejadi-jadinya karena hal itu.  Namun, ternyata masih ada beberapa segmen di DTV dan Queen TV yang membahas kami.  Aku rasa itu sudah cukup.  Lagian berkat berita itu pula, perhatian media kepada Kaiser juga ikut teralihkan.


__ADS_2