DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
151. Menuju Ke Tempat Pertarungan Terakhir


__ADS_3

“Ah, ada Nak Andika.  Tolong Nak Andika, segera beri tahu Tuan Arkias kalau Den Danial dan Den Kaiser sedang dalam bahaya.  Den Danial diculik oleh pembunuh berantai joker hitam itu dan Den Kaiser sementara mengejar mereka menggunakan alat pelacak yang tertanam di badan Den Danial.”  Ujar sang bu suster dengan nada lemah perihal kondisinya yang masih belum stabil setelah memperoleh pengaruh Whisper of Devil dan sang joker hitam.


Keempat orang lain yang ada di ruangan itu pun serentak tertegun mendengar ucapan sang bu suster.  Hanya Bu Melisa yang tak tahu apa-apa yang tampak menunjukkan ekspresi kebingungan.


“Tidak, Tuan Muda.”  Ujar Ratih dengan sedikit berteriak dengan linangan air mata sembari menghempaskan badannya ke lantai dengan tidak berdaya.


“Aku, aku harus segera mencari keberadaan Tuan Muda.”  Ujar Ratih panik.


Loki segera menahan Ratih untuk pergi.  Melihat Ratih sampai saking shoknya, Loki pun terdiam sejenak.  Dia kemudian ikut merendahkan posisinya sejajar dengan Ratih yang terduduk di lantai lantas menatap mata yang penuh linangan air mata disertai dengan rasa cemas itu.


“Kamu sendiri tahu karakter Kaiser bagaimana, kan?  Dia cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada teman-temannya.  Maka sebaiknya lakukanlah apa yang dipinta Kaiser padamu saat ini dengan menjaga Bu Suster.  Hal itu pastinya akan membuat hati Kaiser lebih tenang.  Dan untuk urusan yang berbahaya ini, serahkan semuanya pada kami.”


Mendengar jawaban Loki itu, Ratih pun tertunduk.  Dia ingin menolak perkataan itu, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia menyadari bahwa ucapan Loki itu tidaklah salah.


Sebagai pencari informasi yang andal, Ratih telah lama mengetahui bahwa Loki bukanlah siswa SMA biasa.  Dia telah terbiasa dengan dunia spiritual, termasuk dalam kasus joker hitam tersebut.  Kecakapannya dalam menangani kasus yang berhubungan dengan dunia spiritual, tidak perlu diragukan lagi.  Sementara dirinya hanyalah orang biasa.


“Loki, bisakah kamu menggunakan kekuatanmu sekali lagi untuk mencari tahu Kaiser ke mana?”  Andika pun bertanya kepada Loki sementara Fero yang ikut mendengarkan pertanyaan itu hanya bisa mendesahkan nafasnya.


“Kekuatanku tidaklah omnipoten.  Jika digunakan pada orang yang sama di hari yang sama, tidak akan efektif karena penerawangan yang dihasilkan akan menjadi kabur.  Sia-sia menggunakannya pada Fero.  Aku juga tidak bisa menerapkan kekuatanku padamu sebagai sudut penerawangannya karena kespesialan kekuatanmu itu.”


Loki terdiam sejenak sebelum dia melanjutkan.


“Di samping itu, selain Kaiser dan kita berdua, hanya ada kakak sepupu Kaiser yang kusaksikan di sana, jadi bukan berarti kita dapat memperoleh sudut pandang penerawangan yang lain.  Terlebih, jika aku menggunakan kekuatanku sekali lagi, maka kemungkinan tenaga spiritualku akan habis dan aku akan pingsan.”


“Lantas, apa yang harus kita lakukan?”  Tanya Andika, tampak kecewa atas pernyataan Loki tersebut.


“Tenang saja.  Aku sudah menganalisis pola kebiasaan pembunuh berantai itu dan mencocokkannya dengan pemandangan di luar jendela yang aku amati.  Aku kurang lebih bisa memprediksikan ke mana dia dan Kaiser bergerak.”


“Ke mana?”  Andika sekali lagi bertanya terhadap pernyataan Loki tersebut.


“Menara Kebebasan, Monumen Nasional Kota Jakarta, Monas.”  Jawab Loki tegas.

__ADS_1


“Kalau begitu, ayo kita segera ke sana.”  Andika pun berujar.


“Tunggu, Andika?  Kamu juga ikut dengan mereka?”  Ratih yang belum mengetahui  bahwa Andika juga telah terbangkitkan pun bertanya.


“Tenang saja, Ratih.  Andika sekarang juga telah menginjak dunia itu.”


Ratih tertegun dengan ucapan Loki tersebut.  Tak lama kemudian, Loki, Andika, dan Fero pun melangkah untuk memulai pencarian Kaiser.  Ratih pun hanya mampu melepas kepergian mereka sambil berdo’a dengan penuh harap-harap cemas.


***


“Mengapa kami tidak bisa ikut masuk?!  Hai, anak sialan dari Tim 1!  Coba jelaskan alasannya pada kami!  Kita ini satu divisi!”  Dengan marah, Dono mengumpat di depan pintu gerbang padepokan Isnandar perihal anggota Tim 1 dari divisinya sendiri menghalang-halangi mereka untuk terlibat dalam pengawasan.


Malam itu, bertepatan dengan tanggal 28 Mei 2022, minus tiga hari pelaksanaan perayaan paku bumi di kediaman Isnandar.


Walaupun Dono sampai marah-marah sebegitunya, anggota tim 1 divisi penanganan kriminal berat itu hanya menertawai sambil meledeknya dengan pandangan hina.


“Sudah, tidak ada gunanya berbicara dengan mereka.  Kita cukup awasi saja dari luar.”  Ujar Toksan sembari menepuk pundak Dono untuk menenangkannya.


“Itu benar, Senior.  Tidak ada gunanya berbicara dengan mereka.”  Namun Danar ikut mengutarakan pendapatnya yang akhirnya membuat Dono menyerah.


Beberapa murid padepokan Isnandar yang tampak masih berusia 20-an pun terlihat keluar dari padepokan tersebut.  Bianca pun segera menghampiri mereka.


“Permisi.  Bisa kalian sampaikan pesanku kepada Jey?  Dia juga murid padepokan ini kan?”  Tanya Bianca kepada kerumunan orang-orang itu.


Salah satu dari mereka pun berujar.


“Ah, Marjono ya.  Dia sedang keluar sekarang.  Bagaimanapun, dia masih terhitung orang luar di sini, jadi tidak bisa ikut berpartisipasi baik dalam tahap persiapan maupun dalam ritual paku bumi itu sendiri.”


Namun, entah mengapa mendengar Marjono sedang keluar di malam itu, membuat perasaan Bianca tidak enak.  Malam yang kelam di mana angin berembus secara tidak enak.  Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu di malam hari itu.


Jika Marjono adalah benar pembunuh berantai joker hitam, dia kemungkinan akan bergerak malam hari ini, pikir Bianca.  Walaupun dia tahu bahwa target selanjutnya adalah Dirga, dia tetap tidak dapat menahan kecemasannya pada Kaiser yang akan menjadi korban terakhir pembunuh berantai sadis tersebut.

__ADS_1


Dalam kecemasannya itu, dia pun menghubungi Fero yang sedang mengawasi Kaiser.  Empat kali panggilan, namun Fero sama sekali tidak mengangkat satu pun panggilan tersebut.  Bianca pun bertambah cemas.  Dia pun membuka aplikasi pelacak lokasi untuk melacak lokasi Fero melalui aplikasi saling share lokasi otomatis di smartphone mereka.


“Mengapa dia berada di tempat seperti ini saat ini?”


Bianca pun semakin cemas dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan padepokan Isnandar untuk menyusul ke tempat di mana Fero berada demi memastikan keamanan Kaiser.


“Hei, Bianca!  Kamu mau ke mana lagi?”  Bahkan teriakan Dono padanya itu ketika melihatnya berlari meninggalkan lokasi, tak menghentikan kepastian langkahnya.


***


Kemacetan kota Jakarta yang menyebalkan, terutama di jam-jam sibuk seperti sekarang membuat Loki, Andika, dan Fero tak dapat menahan kekesalannya karena membutuhkan waktu sampai 1 jam 50 menit untuk sampai ke lokasi yang mereka tuju yang seharusnya dapat mereka capai dalam waktu kurang dari 30 menit di waktu normal.


Dengan tergesa-gesa, Andika dan Loki berlari menuju Monas bahkan sebelum Fero sempat memarkirkan mobil yang dia kendarai.


“Hai, Loki.  Kamu yakin bahwa Kaiser ada di sana?”  Sembari berlari, Andika bertanya kepada Loki.


“Melihat pola perilaku pembunuh berantai joker hitam, sepertinya dia terobsesi dengan hukuman yang pantas.  Pemenggalan, tempat yang tinggi, kesendirian, mati dalam keadaan birahi, mutilasi, eksekusi dengan sengatan listrik.  Kamu pikir, hukuman apa yang akan diberikan oleh joker hitam kepada Senior Danial yang senantiasa terkungkung ketakutan dalam cangkangnya?”


Loki terdiam sejenak, membiarkan Andika mencerna setiap ucapannya.  Tak lama kemudian, Loki pun melanjutkan.


“Kebebasan.  Dan tidak ada tempat yang lebih sesuai untuk itu dibanding tempat ini.  Tempat yang melambangkan kebebasan rakyat Jakarta, Monumen Nasional Kota Jakarta.”


“Loki, Senior Danial bukanlah salah satu dari delapan target dari pembunuh berantai joker hitam.”  Andika pun menyanggah pendapat Loki.


“Kalau itu, entahlah.  Kita baru bisa tahu setelah menemukan mereka.”


Loki pun melirik ke arah Andika.  Dia dapat menangkap ekspresi yang sangat panik di raut wajahnya tersebut. Melihat itu, Loki pun melanjutkan ucapannya,


“Tenang saja, di penerawanganku, kita juga berada di tempat itu.  Itu pasti berarti bahwa tebakanku ini tepat.”  Ucap Loki dengan yakin.


“Hai, tunggu.  Kalian jangan meninggalkanku.”  Ujar Fero dari belakang sembari mengejar Andika dan Loki yang lari lebih dulu ke tempat di mana mereka menduga Danial dan Kaiser berada tersebut.

__ADS_1


“Oh, Kak Fero, kamu sudah sampai ya.  Kalau begitu, masalah sekuriti di sana, aku serahkan padamu ya.  Kamu bawa tanda pengenal kepolisianmu kan?”  Sembari Loki mengatakan itu, mereka bertiga pun meningkatkan kecepatan lari mereka, menuju ke tempat pertarungan terakhir dengan joker hitam tersebut.


__ADS_2