
Di kamar itu, terbaring pemuda cantik, namun badannya kurus kering. Sebuah alat penopang kehidupan dari rumah sakit membuatnya mampu bertahan selama ini. Di hadapan pemuda itu, sedang berdiri dua orang pemuda dan dua orang pemudi yang sedang menatapnya. Pemuda itu tidak lain adalah Dios, sementara orang-orang yang mengunjugi adalah Kaiser, Andika, Airi, dan Agni.
Kaiser tampak memperhatikan wajah Dios dengan seksama. Ingatannya menjadi tumpang tindih dengan kejadian beberapa waktu lalu ketika warna mata Wilda terekspos. Dia sedang membandingkan dengan baik-baik kemiripan wajah antara Dios dan pemuda yang membongkar rahasia warna mata Wilda tersebut.
Dia tidak lain adalah Jey alias Marjono, pemuda yatim piatu, murid padepokan Isnandar, yang sekaligus dipekerjakan sebagai pelayan pengunjung VIP di bar milik keluarga Isnandar tersebut, tempat di mana anak-anak royal kelompok Araka dulunya sering mengadakan pertemuan rutin mereka.
“Hei, Andika, kamu masih ingat dengan pelayan yang mengantarkan tas kecil Ratih yang sempat tertinggal di Bar Araka?”
“Oh, yang memungut lensa mata Wilda sewaktu terjatuh itu?”
“Ya, orang itu. Tidakkah menurutmu dia agak mirip dengan Dios?”
Mendengar komentar Kaiser itu, Andika lantas memperhatikan wajah Dios baik-baik. Dia menyipitkan matanya dan menscanning Dios dari ujung dahi ke ujung dagu secara bolak-balik.
“Hmmm. Bagaimana ya? Jika dibilang mirip, mereka memang mirip. Tetapi kamu bukankah juga sama, Kaiser?”
“Aku?”
“Ya. Kamu juga sangat mirip dengan mereka berdua. Apa itu mungkin karena kalian bertiga sama-sama keturunan Jepang ya?”
“Entahlah. Mereka berdua anak yatim piatu yang identitas kedua orang tua mereka tidak diketahui.”
Mendengar pembicaraan mereka, Airi sedikit tertarik. Diapun bertanya,
“Oh iya, Kaiser-kun. Kamu belum menjawab pertanyaanku sebelumnya tentang asal-usul kamu bertemu dengan Dios.”
“Oh, soal itu. Ingatanku sebenarnya agak samar. Tetapi menurut orang-orang di rumahku, Dios dibawa oleh kepala pelayan rumahku yang sebelumnya untuk dididik menjadi seorang butler. Setelah Beliau meninggal, hak asuh Dios jatuh kepada adik Beliau, Pak Sajiji, kepala pelayan rumahku yang sekarang.”
“Oooh. Terus, darimana Beliau mengambil Dios?” Tanya kembali Airi dengan penasaran.
__ADS_1
“Beliau hanya bilang mengambilnya dari salah satu panti asuhan di Eropa. Di Eropa bagian mana, sayangnya tidak ada satupun dari keluargaku, maupun para pelayan saat itu yang tahu, termasuk adik Beliau sendiri, Pak Sajiji. Tampaknya, Beliau ingin merahasiakannya.”
Kaiser terdiam sejenak sebelum melanjutkan,
“Beliau tertarik mengadopsinya karena perawakannya yang mirip orang Indonesia. Kamu tahu, bagaimana buruknya perlakuan anak yatim piatu dari ras non-eropa di benua itu kan? Itu sebabnya katanya Pak Saikoji berinisiatif untuk mengadopsinya.”
Kaiser lantas mengerutkan keningnya. Dia pun lanjut berujar,
“Tapi yah, setelah kupikir-pikir, daripada ras Indonesia, dia lebih mirip dengan ras Jepang kan? Oh iya, waktu itu kalau tidak salah berdasarkan cerita para pelayan, Pak Saikoji pergi ke Jepang karena disuruh oleh ayahmu.”
“Otou-sama? Shinomiya Aizen?”
“Um.” Kaiser mengangguk atas tanggapan Airi tersebut.
“Kenapa Otou-sama malah menyuruh pelayan keluarga bawahannya, padahal Otou-sama memiliki banyak pelayan yang andal?”
“Aku juga berpikir itu agak sedikit aneh. Tetapi karena ini perintah langsung dari ayahmu, keluargaku tidak berani untuk menyelidikinya lebih jauh.”
“Perintahnya bersifat rahasia, bahkan pamanku sendiri tidak mengetahuinya. Bagaimana kalau menanyakan ayahmu langsung, Airi-san?”
Airi merasa ada yang mencurigakan. Orang yang sama dengan orang yang diminta oleh Aizen untuk dia lindungi ternyata berasal dari panti asuhan yang dibawa oleh Pak Saikoji sewaktu melaksanakan perintah dari Aizen di Eropa. Bagaimana jika sedari awal, perintah itu justru untuk mengamankan anak itu dari panti asuhan? Lantas apa hubungan Aizen dengan Dios?
Airi pun mengingat bahwa 16 tahun lalu, dua bulan setelah dia lahir, selir pertama ayahnya juga melahirkan adiknya. Namun sayangnya, Sang Adik meninggal sewaktu persalinan. Lantas bagaimana jika adiknya itu tidak meninggal dan malah disembunyikan di panti asuhan oleh ayahnya? Jika demikian, atas alasan apa?
Hal apa yang akan membuat ayahnya sulit untuk menerima adiknya di keluarga? Dia ingat bahwa masa itu adalah saat di mana ayahnya harus bersaing dengan ketiga pamannya dan seorang bibinya untuk posisi kepala keluarga yang baru untuk menggantikan kakeknya di mana akhirnya ayahnya-lah yang akhirnya memperoleh posisi tersebut.
Jika demikian, hal yang akan membuat ayahnya tega untuk menyembunyikan anaknya di panti asuhan adalah hal yang akan berpotensi untuk menghalanginya terpilih menjadi kepala keluarga, semisal anaknya cacat atau tidak memiliki bakat kultivasi. Namun, Dios sama sekali tidak cacat dan dia memiliki bakat kultivasi karena berdasarkan keterangan Kaiser, Dios juga anak sindrom pelangi dengan warna mata biru cerah.
Airi sama sekali tidak menemukan jawaban atas kebingungannya itu.
__ADS_1
“Tampaknya, aku harus menyelidikinya langsung dari Otou-sama ketika aku pulang. Mari kita tunda dulu mengenai identitas Dios.” Airi pun berujar sambil mengembuskan nafas panjang.
“Siapa ya memangnya yang tadi menanyakan identitas Dios? Ujar Andika dengan nada meledek.
Sayangnya, Airi tampak tidak menggubris ejekan Andika yang membuat Andika menjadi kecewa. Namun, tiba-tiba, Andika merasakan sesuatu dari belakang menjitak belakang kepalanya dengan cukup keras yang membuat Andika sampai merintih. Andika menoleh ke belakang, tetapi tidak ada siapa-siapa lagi di belakang mereka berempat.
Andika pun kebingungan dan akhirnya hanya menyapu bagian kepalanya yang sakit dengan kecewa. Airi lantas menjulurkan lidahnya ke Andika tanpa diketahuinya.
Pelaku yang menjitak kepala Andika tidak lain adalah Airi dengan memanfaatkan kekuatan poltergeistnya yang menggerakkan salah satu pita yang menjuntai di gaunnya untuk menjitak kepala Andika.
Satu hal yang tidak terduga, prank Airi pada Andika justru memicu sesuatu di dalam tubuh Andika untuk bereaksi. Itu tidak lain adalah cakra yang tampak mulai hidup setelah berinteraksi dengan aliran cakra milik Airi.
Ya, Andika juga adalah anak sindrom pelangi dengan warna mata hitam. Sampai saat ini, belum ada seorang pun yang mengetahui bahwa ada anak sindrom pelangi dengan ciri-ciri warna mata hitam.
Mereka berempat pun akhirnya meninggalkan kamar Dios setelah beberapa saat mengunjunginya. Tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadarinya, telunjuk tangan kiri Dios menunjukkan pergerakan kecil.
Kaiser, Andika, Airi, dan Agni berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di aula yang terletak di depan pintu lift. Di sana mereka bertemu dengan Danial, sepupu Kaiser.
Danial dengan riangnya sambil membawa boneka kelinci favoritnya yang bertolak belakang dengan badan besarnya, berlari menuju ke arah Kaiser. Begitu sampai di dekatnya, Danial langsung menghempaskan badannya yang besar itu ke tubuh sepupunya yang rapuh tersebut.
“Dek Kaiser datang! Hehehehe.” Ujar Danial tertawa kegirangan seraya memeluk erat Kaiser.
“Kaiser, bukankah dia adalah Danial, sepupumu?” Tanya Andika kepada Kaiser yang ada di sebelahnya.
“Iya, benar. Andika, kamu kenal dengannya?”
“Bagaimana tidak kenal? Waktu kelas 1 SMP dulu, dia cukup populer di kalangan gadis di kelasku. Bahkan banyak dari mereka yang sampai-sampai membanding-bandingkanku dengannya tentang tubuh berotot mana yang paling seksi di antara kami. Aku juga tidak terlalu peduli sebenarnya dengan hal-hal semacam itu, tetapi itu sempat cukup mengganggu keseharianku menjadi perbincangan para gadis.”
“Oh, kamu populer di antara para gadis?” Ujar Airi menggoda Andika dengan senyum mengejeknya.
__ADS_1
“Apa? Ada masalah dengan itu?” Balas Andika seraya memelototi Airi.
Danial yang menyadari ada dua orang baru di dekat Kaiser, lantas segera menyembunyikan tubuh besarnya di balik badan sepupunya yang kecil itu.