DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
80. Sensasi Mimpi Jeritan Kesedihan Hati Kaiser


__ADS_3

Malam itu adalah malam kesepuluh liburan Kaiser selama senior kelas tiga di SMA-nya mengikuti ujian kelulusan.  Aktivitasnya di hari itu, sama sekali tidak ada yang spesial.  Dia berkumpul bersama Andika, Beni, dan Loki di rumah seniornya Zion untuk menghabiskan waktu liburan dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan seperti membaca komik, main game, dan sebagainya.


Kalau ada yang spesial, hari ini Loki dapat bergabung bersama mereka.


Namun, di malam itu, tidur Kaiser tidak nyenyak.  Dia memimpikan hal yang mirip seperti kejadian penculikannya 11 tahun yang lalu.  Tetapi entah mengapa, di dalam mimpi itu, Kaiser memanggil Dios dengan sebutan Tuan Muda.


“Tuan Muda Dios!  Tidak baik berkeliaran seperti ini.  Ayah Anda kan sudah mengingatkan untuk segera pulang setelah selesai sekolah?  Lihat, Agni sampai ketakutan seperti itu.”


Kaiser lantas melihat Dios tersenyum.


“Tidak apa-apa Kaiser, tidak akan ketahuan kok.  Bukankah menyenangkan berpetualang seperti ini?”


“Sebaiknya kita pulang sekarang!  Aku merasa ada yang janggal dengan tempat ini.  Tempatnya terlalu sepi.  Sangat cocok bagi penjahat untuk menyergap mangsanya.  Ayolah Tuan Muda Dios, kita segera pergi dari sini.”


Kaiser tampak menarik lengan Dios agar tidak melangkah lebih jauh dan segera meninggalkan  tempat itu, sementara Agni memeluk Kaiser dari belakang.


Entah Kaiser yang berjinx atau firasatnya yang memang tajam, penjahat yang ditakutkannya itupun benar-benar muncul.  Tiba-tiba seseorang yang membawa pisau ingin menyergap mereka dari belakang.  Namun, dengan sigap, Kaiser mendorong Agni kepada Dios sehingga dirinya-lah yang tertangkap oleh penjahat itu.


“Tuan Muda Dios, cepat lari bersama Agni.  Aku akan menahan penjahat ini sebisaku.”  Teriak Kaiser kepada Dios.


Namun, Dios tidak mematuhi perintah Kaiser itu dan akhirnya memilih membiarkan dirinya dibawa juga oleh penjahat tersebut.  Agni yang ketakutan, juga tak dapat terlepas dari jeratannya.


Mereka kemudian dibawa ke suatu gudang tua yang sangat sempit berbentuk persegi dengan luas hanya sekita 6,25 meter persegi.


Dengan tawa sadis, penjahat itu menatap mereka bertiga yang membuat Agni kecil sampai jatuh pingsan.  Dia lantas mengunci ruangan sempit itu dan membuang kuncinya keluar melalui celah di atas pintu dengan tawa sadis itu tetap terpampang di wajahnya.


Penjahat itupun memulai permainannya kepada anak-anak.  Pertama-tama, penjahat itu mengikat tangan serta kaki Dios dan Agni. Kemudian, diapun mulai menyeret Kaiser, lalu bermain tinju dengannya.  Sayangnya, Kaiser bukan sebagai pemainnya, tetapi sebagai karung tinjunya.


“Ah, dasar anak lemah!  Dipukul sebegitu saja sudah KO!  Kalau begitu, saatnya aku bermain dengan anak laki-laki bermata biru satunya.”  Ujar Sang Penjahat dengan senyum jahat di wajahnya seraya melirik Dios.

__ADS_1


Kaiser segera berdiri walaupun dengan luka-luka yang cukup parah di badannya.  Dia menghalangi penjahat itu untuk menyentuh teman-temannya dengan tubuhnya yang kecil dan rapuh itu yang baru berusia 5 tahun.


“Aku masih sanggup, Paman!  Paman main denganku saja.  Jangan menyentuh teman-temanku!”  Ujar Kaiser sambil menatap tajam wajah penjahat itu.


Penjahat itu tersenyum beringas.


“Baiklah, bocah.”


Penjahat itu lantas kembali menghajar Kaiser habis-habisan.  Sekali lagi Kaiser tersungkur.  Penjahat itu tersenyum.  Dengan Kaiser yang tampak sudah tidak berdaya, penjahat itu kembali melirik Dios.  Namun, ujung celananya ditarik oleh sesuatu.  Rupanya lagi-lagi itu Kaiser.


“Sudah kubilang, main denganku saja, Paman.  Jangan sakiti teman-temanku!”  Ujar Kaiser tampak hanya setengah tersadar sambil bersimbah darah di hidung dan mulutnya.


Kejadian itu terus berulang.  Kaiser tersungkur, penjahat melirik Dios dengan senyum beringas, Kaiser bangkit lagi untuk menarik perhatian penjahat, begitu berulang-ulang hingga pada kali ke delapan, penjahat itu mulai bosan dan akhirnya berubah marah.


Penjahat itu lantas menendang Kaiser hingga terpental.  Dia lantas berjalan menuju Kaiser yang terpental 2 meter di depannya.  Penjahat itu sangat murka.


“Baiklah, jika kamu begitu ingin mati, Bocah.  Sebenarnya paling nikmat membunuh sekaligus tumbal-tumbal yang telah sekarat di tengah malam yang disinari bulan.  Tapi melihatmu, aku jadi benci.  Aku paling tidak suka orang dengan sikap sok memiliki keadilan yang tinggi.  Lagipula ini sudah petang.  Tumbal sudah bisa untuk dikorbankan.  Aku akan membunuhmu duluan, Bocah.  Ratapilah nasib malangmu di akhirat!”


Kaiser kehabisan tenaga.  Dia menjadi sangat sedih.  Bukan karena dia akan mati, tetapi karena dia tidak dapat menyelamatkan teman-temannya.


“Maaf, Dios, Agni, aku tidak dapat menyelamatkan kalian.”  Ucap Kaiser seraya menutup mata.


Tak ada lagi yang dapat dilakukannya untuk menyelematkan nyawanya dari timah panas yang akan segera dilayangkan ke dalam kepalanya oleh penjahat itu.


Namun, setelah suara letusan terdengar, Kaiser segera menyadari kalau dirinya masih baik-baik saja.  Penjahat itu, rupanya malah menembak kepalanya sendiri.


Di hadapan Kaiser, tergeletak mayat yang bersimbah darah dengan ekspresi kematian yang mengenaskan.


Dia bingung dengan perasaan apa yang dia rasakan saat itu.  Dia merasa lega, padahal ada orang yang baru saja terbunuh di hadapannya.  Kaiser pun merasakan trauma yang mendalam, bukan karena ketakutan, melainkan tentang mengapa dia merasakan perasaan senang dan superior di saat melihat orang yang hampir membunuhnya yang justru mati menggantikan dirinya.

__ADS_1


Ujung mulut Kaiser berkedut dan ingin tertawa bahagia, tetapi pikirannya tidak mengizinkan karena itu adalah tindakan yang salah.  Dia menggigit ujung lidahnya untuk menahan sensasi bahagia tidak layak itu keluar dari dalam dirinya.


Diapun menunduk dengan semakin kuatnya sensasi bahagia aneh yang dia rasakan itu.  Dia lantas menatap Dios.  Dios terlihat menatapnya dengan mata birunya yang mengeluarkan sinar biru terang pula.  Dios lantas tersenyum padanya.


“Syukurlah, kamu baik-baik saja, Sobat.”  Ujar Dios seraya terjatuh pingsan.


Kaiser lantas menuju ke arah dua sahabatnya itu dan melepaskan ikatan tali mereka yang telah jatuh pingsan lalu memeluk erat-erat mereka.


Malam itu, Kaiser tidak dapat memejamkan kedua matanya walaupun telah sangat mengantuk perihal tubuhnya yang masih kanak-kanak.  Dia gemetaran.  Bukan karena ketakutan, melainkan karena berusaha meredam kenikmatan sensasi yang dia rasakan sekarang.  Kenikmatan melihat pemandangan ekspresi kesakitan orang di akhir hayat mereka.


Kaiser harus menghabiskan malam mencekam itu di ruangan sempit sambil menjaga kedua sahabatnya yang tertidur lelap didampingi oleh mayat penjahat itu di ruangan yang sama yang kesegaran darahnya perlahan memudar dan kering dengan ekspresi wajah kematian yang sangat mengenaskan.  Apakah Kaiser ketakutan?  Tidak!  Dia justru menahan diri untuk tidak menikmatinya.


Kaiser pun terbangun dari tidurnya.  Dia telah kembali ke dunia nyata di mana dia berusia hampir 16 tahun.  Tampak air mata jatuh di pipinya.  Dia lupa akan mimpinya, tetapi dia masih bisa merasakan sensasi jeritan kesedihan di hatinya itu.


“Sungguh mimpi yang mengganggu.”  Ujar Kaiser lirih.


***


Hari itu, Senin, tanggal 25 April 2022, dua minggu sebelum ujian akhir semester di sekolah Kaiser, media kembali mendadak heboh dengan berita miring tentang Kaiser.  Namun, bedanya kali ini, media yang berani mengusik Kaiser berasal dari luar negeri, tepatnya majalah Nepnieuwsbron asal Belanda.


Majalah itu mengulas tentang kemungkinan bahwa Kaiser adalah salah satu anggota Trans dengan bukti bahwa anggota Trans yang seharusnya dibayar oleh Lu Tianfeng berdasarkan keterangan Lu Xinyi yang selamat dari tempat kejadian, malah membunuh Lu Tianfeng yang menyewanya.


Berita itu juga mengait-ngaitkan soal kemungkinan pembunuh berantai Joker Hitam yang saat ini terkenal di Indonesia tersebut berasal dari anggota Trans yang merupakan rekan dari Kaiser atau bisa jadi Kaiser itu sendiri adalah pembunuh berantai Joker Hitam tersebut.


Mengenai status Kaiser yang masih SMA dan tampak tak mungkin memiliki keahlian untuk melakukan pembunuhan profesional, majalah tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa kekuatan orang yang terbangkitkan di luar bayangan orang normal yang tidak mengenal umur, bahkan anak kecil yang baru berusia 10 tahun saja, bisa membunuh seorang atlit olimpiade hanya dengan sentilan jarinya.


Sebegitu menakutkannya Trans dan orang-orang yang terbangkitkan sebagai anggotanya.  Jika Kaiser adalah orang yang terbangkitkan, maka dia sebagai pelaku pembunuhan berantai itu adalah hal yang sangat mungkin.


Karena munculnya artikel pada majalah di Belanda itu, kasus pembunuhan berantai Joker Hitam kembali mencuat ke permukaan di negara Indonesia itu.

__ADS_1


Dan sebagai dalang dari semua itu, Pak Sudarmin Filantropi pun tertawa dengan puas.


__ADS_2