
“Lama tidak jumpa Senior.” Ucap Kaiser seraya tersenyum.
“Wah, lihat, lihat ini, semakin hari kamu semakin ganteng saja.” Ucap Zion berusaha menggoda Kaiser.
“Terima kasih Senior atas pujiannya.” Jawab Kaiser tanpa ragu dan tanpa ada perubahan ekspresi pun di wajahnya.
“Seperti biasa, kamu tidak seru diganggu ya.” Ucap Zion kecewa.
“Hahahaha. Senior ada-ada saja.” Kaiser tertawa kecil dan tampak senang melihat ekspresi seniornya yang kecewa karena tidak memperleh apa yang diinginkannya.
Mereka berempat berhasil keluar dari pintu samping sekolah menghindari wartawan yang berkerumun di gerbang depan. Dengan naik Gojek, mereka akhirnya sampai di distrik perbelanjaan umum di dekat rumah Zion.
Mereka dengan riang berkeliling menikmati tamasya itu. Perjalanan mereka dimulai dengan menyantap jajanan kepala ayam bakar di salah satu pedagang kaki lima di sana. Mereka kemudian melanjutkan tur mereka di warnet dan bermain PUBG sepuasnya. Setelah itu mereka mengunjungi tempat baca khusus komik dan light novel tidak jauh dari situ.
Andika dengan sigap meminjam lanjutan komik basket favoritnya sampai volume terakhir yang ada. Beni sempat menggodanya menanyakan apakah dia bisa selesai membaca semuanya sebelum meninggalkan kios, tetapi dengan bangga Andika memberi pernyataan bahwa itu hal yang mudah dan bahkan dia dapat selesaikan kurang dari 30 menit.
Kaiser yang melihat kelucuan tingkah Andika lantas tertawa kecil dengan girangnya. Di tangannya tampak 2 buah komik volume terbaru dan sebuah light novel. Komiknya yang satu bertema olahraga tenis, dan yang lainnya tentang kekuatan supranatural. Adapun light novel yang diambilnya bejudul Pembunuh Berantai Volume 14.
Di luar dugaan, Andika mampu menyelesaikan membaca ketiga belas volume komik yang dipinjamnya itu hanya dalam waktu 28 menit saja. Andika menunjukkan ekspresi kesombongan kepada Beni setelah menyelesaikan ketiga belas serial komik itu. Beni yang melihat ekspresi Andika itu menjadi bingung dan menanyakan dalam hati, apa hebatnya itu?
Dengan ajakan Zion, mereka berempat akhirnya meninggalkan toko buku itu, walaupun ekspresi wajah Andika sangat menunjukkan sikap merasa terpaksa. Kaiser yang tidak sempat menyelesaikan Light Novel yang dipinjamnya, kemudian meminjamnya seminggu lagi dan membawa novel itu keluar bersamanya.
Mereka lantas menyusuri taman yang terdapat kolam ikan di sampingnya. Tampak bahwa Beni sangat senang melihatnya. Dan tidak henti-hentinya bertanya pada Zion tentang jenis ikannya. Sementara perhatian Andika justru tertuju pada pohon cemara yang terletak di tengah taman. Kaiser yang berjalan di belakang lantas tertawa kecil menikmati pemandangan keseruan teman-temannya itu.
Sampailah mereka di rumah Zion. Zion melayani mereka dengan minuman kaleng soda dan cemilan kacang goreng. Setelah sholat ashar berjama’ah, mereka duduk bercengkerama dengan riangnya di rumah seniornya itu selama kurang lebih 1 jam sebelum mereka bertiga harus pergi karena aturan di keluarga Andika dan Beni yang mengharuskan mereka pulang ke rumah sebelum jam 6.
Keluarga Kaiser sendiri memilih tidak mengikat Kaiser seperti itu. Mereka percaya bahwa Kaiser adalah anak yang bertanggung jawab dan lebih memilih untuk mensupportnya dari belakang tanpa terlalu mengganggu segala hal yang diputuskan untuk dilakukannya. Terlebih, setelah kejadian yang menimpa Danial itu.
Setelah meninggalkan rumah Zion, Beni yang telah dijemput duluan oleh supir pribadinya pergi meninggalkan Kaiser dan Andika duluan. Sementara Kaiser lebih memilih untuk naik Trans Jakarta dengan mengenakan topi untuk menutupi wajahnya. Andika yang khawatir dengan keadaan temannya itu memilih untuk mengikuti Kaiser sampai stasiun.
Di luar dugaan, seorang tamu yang tak diharapkan mencegat mereka berdua sebelum tiba di stasiun.
“Wah, wah, wah, lihat ini. Di tengah media sibuk membicarakannya. Dia masih dapat dengan santai jalan-jalan di luar. Seperti yang diharapkan dari anak royal. Bagi kalian, hukum pasti sekedar main-main saja.” Ujar pria kurus yang mengenakan celana jeans dan baju kaos krem dengan jaket dan sepatu boot hitam serta topi krem yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
“Siapa Anda?” Ujar Andika seraya ke depan Kaiser menghalangi pandangan orang tak dikenal itu yang menatap Kaiser dengan tidak sopan.
“Wah, wah, wah, maaf aku lupa memperkenalkan diri.” Ujar pria misterius itu seraya menunjukkan identitas kepolisiannya.
Pria itu adalah Dono, salah satu anggota tim yang dibentuk untuk memecahkan kasus pembunuhan sadis di Sungsin Security.
Kaiser lantas menepuk pundak Andika dan menatapnya lembut. Dia kemudian melangkah maju melampaui Andika.
“Apa yang seorang petugas polisi lakukan di sini?” Ujar Kaiser pada polisi itu.
“Apa lagi? Untuk menangkap penjahat.” Jawab polisi itu singkat seraya menyeringai tidak sopan menatap Kaiser.
“Wah, pasti Pak Polisi sudah bekerja keras. Selamat bekerja Pak, semoga sukses menangkap penjahatnya.” Kaiser membalas komentar polisi itu dengan senyum polos di wajahnya.
“Itu pasti.” Dono bertukar kata dengan Kaiser seraya menatapnya tajam. Kaiser hanya membalas tatapan itu tetap dengan senyum polos di wajahnya seraya berjalan melewati Petugas Dono.
“Ngomong-ngomong, apa kamu familiar dengan kasus pembunuhan di Sungsin Security?” Sekali lagi Dono bertanya kepada Kaiser.
Kaiser bersama Andika yang telah melewati polisi itu berhenti melangkah dikarenakan perkataan polisi itu.
Polisi yang menoleh itu lantas membalikkan seluruh tubuhnya menghadap Kaiser dan menatap tajam pundak Kaiser. Kaiser yang merasakan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk merinding itu, tetap tak berbalik dan berdiri dengan tenang. Sementara Andika melihat bolak-balik antara Kaiser dan polisi itu dengan ekspresi khawatir.
“Di rekaman itu, kamu mengancam akan membunuh Saudara Aleka.”
“Apa yang Anda katakan Pak? Aku sama sekali tidak pernah mengatakan itu. Bukankah Aleka yang tiba-tiba bergumam sendiri bahwa aku akan membunuhnya? Aku juga sampai heran darimana dia bisa berkesimpulan begitu. Padahal aku hanya melindungi diriku karena dia berniat merundungku sama halnya ketika dia merundung Dios. Haaah” Kaiser memegang dahinya seraya mendesah panjang.
“Membela diri sampai memecah dinding begitu?”
“Yah anak seperti Aleka kalau tidak diperlakukan seperti itu, maka akan semakin menjadi-jadi Pak. Aku tidak punya pilihan.” Ujar Kaiser dengan lesu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia seraya berbalik menghadap polisi itu sambil menyilangkan tangannya.
“Lagipula Pak, lihat saya ini.” Ucap Kaiser seraya menengadahkan tangannya dan menatap badannya sendiri.
__ADS_1
“Mungkin saya bisa beladiri sedikit, tapi Bapak percaya saya bisa melukai puluhan orang yang badannya berkali-kali lebih besar dari saya apalagi sampai membunuhnya? Jangankan membunuh, berniat saja saya tidak memiliki keberanian untuk itu Pak. Jadi apa yang mau saya katakan adalah, polisi tidak seharusnya ikut terhasut oleh media yang memiliki kepentingan politik dan harus menyelidiki kasus dengan asas-asas keadilan.” Ujar Kaiser dengan kembali menyilangkan tangannya seraya menganggguk-angguk.
“Jadi, hanya itu yang ingin saya sampaikan Pak. Selamat tinggal.” Ujar Kaiser seraya berbalik.
“Hei, tunggu!”
Kaiser yang telah berbalik, menghentikan langkahnya sekali lagi dengan seruan polisi itu. Dia kemudian berbalik menghadap ke arah polisi itu lagi. Kali ini, ekspresi Kaiser sedikit goyah. Tampak sedikit raut kesal di pelipisnya.
“Kemana kamu pada hari kejadian?”
“Hari itu ya… Hmm. Kalau tidak salah di pemberitaan media, kejadiannya selasa dua hari lalu ya tengah malam. Saat itu, setelah mengunjungi sahabat saya di rumah sakit, saya jadi teringat masa lalu kami lalu jalan-jalan ke taman dekat TK lama saya Pak tempat kami selalu bermain waktu kecil. Hehehe.” Ucap Kaiser dengan antusiasme seraya menampakkan raut ceria di wajahnya.
“Alasan konyol.” Petugas Dono dengan tegas membantah.
“Haaaah.” Kaiser yang mendengar jawaban dingin dari polisi itu hanya bisa mengembuskan nafas dengan pasrah.
“Satu lagi. Ke mana kamu menghilang selama 2 tahun setelah pindah dari SMP Puncak Bakti? Kamu tidak sedang menyusun rencana balas dendam dengan mengumpulkan pembunuh-pembunuh profesional kan dengan kekayaan dan kekuasaan keluargamu?”
“Imajinasi Pak Polisi terlalu tinggi ya. Yah, waktu itu saya benar-benar trauma dengan kejadian pembulian yang menimpa Dios di sekolah. Jadi saya memutuskan untuk pindah sekolah di pedesaan di mana nenek saya tinggal di Jawa Barat.”
“SMP Mekar Sari?”
“Wah Bapak tahu detilnya. Saya merasa kagum atas kerja keras Bapak sekaligus merasa illfeel dengan sikap stalker Bapak.” Kaiser menanggapi setiap pertanyaan polisi itu dengan tetap berupaya mempertahankan senyum polos di wajahnya.
“Berdasarkan penyelidikan, alumni-alumni yang berhasil kami hubungi yang lulus pada tahun yang bersamaan denganmu dan sekelas denganmu, tidak ada satupun yang mengenal nama Kaiser Dewantara termasuk dengan ciri-ciri fisik yang kami sebutkan sepertimu. Kami masih menunggu tim yang terjun langsung menginvestigasi di sana…”
Polisi mendadak terdiam oleh tatapan tajam mata Kaiser yang tiba-tiba. Tatapan itu kemudian dengan cepat berubah menjadi senyum polos lagi ketika Sang Polisi memperhatikan.
“Wah, tampaknya Bapak sudah bekerja keras ya. Aku kagum dengan semangat kepolisian.”
Tatapan Kaiser mendadak tajam lagi.
“Tapi aku harap Anda menggunakan semangat itu untuk mengarahkan penyelidikan ke arah yang tepat. Tampaknya Anda terlalu terbawa perasaan subjektif Anda sehingga melupakan esensi yang paling penting dari penyelidikan.” Ujar Kaiser yang kehilangan kepolosan di wajahnya dengan menekankan amarahnya.
__ADS_1
Polisi itu membeku sejenak merasakan tatapan tajam Kaiser. Kaiser pun kemudian berbalik.
“Aku pasti akan menangkap penjahat itu apapun caranya!” Teriak polisi itu pada Kaiser, sementara Kaiser dan Andika melangkah menjauh.