DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
126. Ada Apa dengan Agni?


__ADS_3

“Marjono?  Siapa itu?”  Kapten Maya semakin tak dapat menahan rasa penasarannya begitu mendengar Kaiser mengungkapkan kecurigaannya terhadap sosok sebenarnya pembunuh berantai joker hitam.


“Berdasarkan penyelidikan Agni, dia adalah salah satu anak buah Dirga yang sangat dekat dengannya.”  Lanjut Kaiser.


“Jadi menurutmu, semua pembunuhan ini didalangi oleh Dirga itu?”


“Bukan begitu, Kak Maya.  Sebenarnya baru-baru ini, aku bertemu Dirga secara tidak sengaja.  Tapi tampaknya, dia memang sengaja menemuiku dengan pergi ke tempat yang biasa kukunjungi di Pusat Perbelanjaan Tradisional Tanah Adik.  Lantas, satu yang kusadari.”


“Apa itu?”


“Dirga sangat berbeda dari diri dia yang biasa.  Dia yang biasanya pemarah dan sangat suka memukuli orang, mendadak bersikap ramah.”


“Bukankah itu hal yang baik jika dia berubah menjadi orang yang lebih baik…”


“Bukan itu masalahnya!”  Sebelum Kapten Maya mampu menyelesaikan komentarnya, Kaiser segera mengeraskan suaranya untuk memotongnya, bermaksud menyelesaikan ucapannya yang tertunda.


“Dia menjadi seperti orang lain.  Lagipula dari awal dia dekat dengan anak yatim piatu kurang mampu yang selama ini gengnya selalu pandang hina adalah suatu ke-absurd-an.  Jika sejak awal dia seperti itu, maka pembulian Dios sama sekali tidak akan pernah terjadi.”  Di akhir kalimatnya, Kaiser merendahkan nada suaranya dengan ekspresi sendu di wajahnya.


“Maksud Adik bahwa ini semua didalangi oleh Marjono itu?”


“Aku yakin ini semua ada kaitannya dengan orang itu.  Dan entah dengan cara apa dia menghipnotis Dirga agar bisa dekat dengannya yang otomatis membuat para royal lain teman Dirga itu berada dalam jangkauannya.  Jika dipikir bukankah terlalu aneh bahwa pelaku tampak sangat mengenal baik korban-korbannya.  Jika dia adalah orang yang dekat dengan mereka seperti Marjono, hal itu menjadi mungkin.”


“Jadi Adik menyimpulkan bahwa perubahan sikap orang yang disebut Dirga itu karena dia di bawah kendali hipnotis Marjono dan Marjono inilah sang pembunuh berantai joker hitam yang memanfaatkan Dirga untuk menarik informasi mengenai calon korbannya?”


Kaiser hanya mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya pada perkataan Kapten Maya tersebut pertanda setuju.


“Lantas apa motifnya melakukan semua itu?  Apa benar karena pembulian Dios seperti yang banyak diasumsikan?”


Kaiser pun menggeleng atas pertanyaan Kapten Maya tersebut.


“Maaf Kak Maya.  Aku sendiri tidak tahu.  Lagipula, ini baru sebatas spekulasiku belaka dari potongan-potongan informasi yang telah kukumpulkan.”


“Marjono, Marjono, Hmm?  Siapa lagi itu?  Padahal aku yakin tidak ada yang terlewat dariku dari penyelidikan pembunuh berantai joker hitam.  Tapi kok aku rasa baru mendengar nama ini?”  Dono pun mengutarakan kebingungannya.


“Dia Jey, pelayan bar di Love Club itu.”  Bianca kemudian masuk ke obrolan mereka setelah mencuri dengar apa yang mereka obrolkan.


[Jey, Jeynal…Kak Jeynal?]  Seketika mendengar nama itu, Kaiser bergumam dalam hati seakan teringat suatu ingatan yang sangat penting.

__ADS_1


Sementara itu, seraya Bianca mengucapkan kalimat tersebut, dia lantas menatap Dono dengan tatapan yang membunuh.


“Hei, kamu!  Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?!  Mengapa kamu membocorkan hasil penyelidikan kita kepada orang yang tak relevan?!”  Bisik Bianca kepada Dono dengan nada marah.


“Yah, mana mungkin aku bisa bilang tidak kepada Kapten Maya?  Dia kan mantan senior kita yang pernah sangat berjasa di divisi penanganan kriminal berat.”  Dono pun ikut berbisik, membalas komentar Bianca itu.


“Padahal di dekatnya juga ada anak SMA biasa?”


“Yah, apa boleh buat.  Alurnya jadi seperti itu.”


Mendengar jawaban Dono, Bianca hanya bisa menghela nafas.  Dia lantas menatap seniornya tersebut, Kapten Maya.


“Maaf Senior.  Bukannya aku tidak sopan.  Tetapi aku tetap tidak dapat menerima keputusan kantor pusat tentang pengambilalihan kasus ini tanpa mengabari kami terlebih dahulu.”  Ujar Bianca kepada Kapten Maya.


Kapten Maya pun menatap Bianca dengan pandangan yang sangat merendahkan.  Dia lantas menjawab,


“Memangnya apa yang divisi kalian dapat lakukan di situasi semacam ini?  Jika pembunuh berantai itu mau, kalian dapat dia bantai secara terang-terangan di hadapan publik.  Tidakkah kejadian barusan menyadarkan kalian betapa lemahnya kalian di hadapan kekuatan yang di luar batas imajinasi manusia itu?”


“Apa maksudnya?”  Bianca agak keheranan dengan ucapan Kapten Maya tersebut.


Namun, Dono segera menengahi pembicaraan mereka.


“Apa maksud kamu, Petugas Dono?!”  Mendengar Dono, rekan sedivisinya, yang bukannya membelanya, malah mencari muka pada kapten di divisi lain, dia tak dapat menyembunyikan amarahnya.


“Sudah.  Biarkan ini menjadi urusan pemimpin tim, Kapten Danielo dan Kapten Wiwik.  Kita sebagai anak buah, tidak punya hak untuk ikut campur.”


“Kamu ya…”  Namun sebelum Bianca mampu melanjutkan protesnya kepada Dono tersebut, dia akhirnya mendapati Kaiser yang sedari tadi mimisan dan lunglai, tampak telah kehilangan tenaga.


“Dek Kaiser!”  Teriak Bianca.


Seketika Bianca, Agni, dan juga Wilda menuju ke arah Kaiser.  Tetapi Agni-lah yang pertama kali menangkap tubuh rapuh itu ketika hendak terjatuh.


“Apa yang terjadi?”  Tanya Bianca was-was.


“Tidak.  Bukan masalah besar.  Tampaknya Tuan Muda hanya terlalu kecapaian saja.”  Agni pun menjawab.


“Senior, apa yang terjadi dengan Kaiser?”  Sela bersama Sabrina dan Kirana, yang merupakan anggota palang merah di sekolahnya pun menghampiri mereka begitu keadaan para korban di dekat gerbang sekolah tidak lagi terlalu mengkhawatirkan.

__ADS_1


“Oh, Sela.  Bagaimana dengan keadaan para korban?”  Tanya Agni kepada Sela.


“Kami telah berupaya maksimal memberikan pertolongan darurat.  Tetapi, banyak yang tak dapat terselamatkan.”  Jawab wanita ikal berpostur sedang itu kepada Agni dengan lirih.  Dapat dirasakan kesedihan mendalam bagai hati yang tersayat-sayat dari tiap perkataannya tersebut.


“Sudahlah.  Kalian jangan sampai terlalu terbebani.  Kita sudah berupaya optimal, selebihnya sisa mengharapkan pertolongan yang di atas.”  Agni pun mengucapkannya seraya tersenyum untuk menghibur mereka bertiga.


Agni lantas menyerahkan Kaiser untuk dirawat oleh Sela yang untungnya hanya lecet-lecet kecil saja, sementara Sabrina merawat luka-luka Wilda dan Kirana merawat luka-luka sang bodyguard yang sebelumnya dirasuki oleh Number 2 tersebut.


Agni lalu berdiri kemudian menghampiri Kapten Maya.  Dia lantas bersuara lirih yang membuat Sela dan kawan-kawan tak dapat mendengar ucapannya, namun tak terlalu kecil sehingga masih dapat didengarkan oleh Bianca dan Dono pada jarak yang lebih dekat darinya.


“Aku setuju dengan perkataan Kak Maya bahwa sebagian besar para kultivator itu bukan manusia.  Tetapi yang aku herankan, mengapa ini sampai keluar dari mulut seorang keluarga Wijayakusuma?  Jika kalian sebegitu membenci mereka, mengapa keluarga Wijayakusuma ikut membesarkan mereka, bahkan kalian mendukung ritual Paku Bumi keluarga Isnandar untuk melahirkan para kultivator secara besar-besaran?”


Seraya mengatakan itu, Agni pun menatap Kapten Maya dalam-dalam.


“Ya, aku juga benci keputusan para tetua terhadap hal itu.  Tetapi itu bukan berarti aku dapat mencegahnya begitu saja.  Kekuasaanku di keluarga tidaklah besar.  Aku hanyalah dari keluarga cabang.  Jika bisa, aku ingin melenyapkan ritual laknat yang selalu memakan korban 2 orang berbakat tiap tahun itu.”  Kapten Maya pun menjawab pertanyaan Agni tersebut.


“Begitukah?”  Ujar Agni seraya meraih tangan kanan Kapten Maya.


Dia lantas membelai-belai tangan itu.


“Syukurlah ternyata Kakak masih manusia.”  Ujar Agni seraya tersenyum cerah.


“Mari kita mengobrol santai di lain kesempatan ya Kak.  Aku terutama sangat penasaran sama alat yang Kakak gunakan untuk meringkus Tirta itu.”  Agni pun menambahkan seraya tetap dengan senyum cerahnya.


“Ten...”


Sebelum Kapten Maya menjawab ajakan Agni tersebut, Agni telah terlebih dahulu berbalik dan hendak beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Akan tetapi, sebelum melangkah lebih jauh, sekali lagi Agni menoleh ke belakang.


“Oh iya Kak Maya.  Aku ingin mengoreksi sedikit perkataan Kakak.  Tidak semua dari mereka yang bukan manusia.  Setidaknya Airi yang kami kenal adalah manusia seutuhnya yang masih memiliki nilai-nilai kemanusiaan.  Tentu saja, aku mengatakan ini secara HAR-FI-AH.”  Pada kata terakhir yang dia ucapkan, Agni betul-betul mengejanya seakan ingin menekankan kata itu.


“Kalau begitu, saya permisi dulu Kak Maya, Kak Bianca, juga Pak Polisi.”  Agni pun berbalik dan memberi salam seraya membungkukkan sedikit badannya kepada mereka bertiga sebelum meninggalkan tempat tersebut.


[Makanya kubilang kenapa hanya aku yang dipanggil Pak sementara dua wanita itu kau panggil Kakak padahal umurku dengan Bianca hanya terpaut 3 tahun, bahkan Kapten Maya lebih tua dariku!!!]  Gumam Dono dalam hati seraya menunjukkan kerutan di pelipisnya.


Dari depan pintu masuk gedung itu, Lokriatul Wijayakusuma yang kerap dipanggil Loki tersebut, menatap dengan seksama ke arah Agni dengan ekspresi rumit di wajahnya.

__ADS_1


Sementara dari atas atap bangunan dari dua buah sisi yang berlainan, dua orang kultivator yang disebut Kapten Maya sebagai bukan manusia itu, menyaksikan tiap detail pemandangan tersebut.


Seorang dari mereka adalah Arthur Peirriera a.k.a Beni, mata-mata dari organisasi Medusa.  Seorang yang lainnya tidak lain adalah sang pembunuh berantai joker hitam yang menatap tempat itu dengan raut murka penuh amarah di wajahnya.


__ADS_2