
Setelah menerima provokasi dariku, kulihat Dirga memohon-mohon kepada Araka untuk membantunya. Entah mengapa, Araka selalu saja menuruti permintaan Dirga. Entah utang apa yang dimilikinya di masa lalu. Yah, itu tidak penting untukku. Yang jelas sekarang, tampaknya aku akan segera menyaksikan tontonan yang menarik.
Namun di luar dugaanku, justru Dirgalah yang dipermalukan oleh Kaiser. Menjengkelkan sekali. Dasar pecundang! Setelah dengan bangganya menerima tantangan Kaiser, dia malah dipecundangi dengan skor 33-102. Sungguh memalukan. Kulihat setelah itu, Dirga semakin tidak terkontrol. Dia semakin sering keluyuran dan memukul sembarang orang di jalan. Benar-benar hidup seorang pecundang.
Setelah kekalahannya itu, ternyata dia belum menyerah. Kulihat dia sering kali tampak senang setelah membuli Andika, satu-satunya anak kelas 1 berbakat yang masih bertahan setelah naik kelas ke tahun keduanya. Dasar bodoh! Mengapa dia justru membuli orang yang tidak relevan? Padahal aku berharapnya dia berseteru lebih hebat lagi dengan Kaiser sehingga aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi Dios pelajaran.
Tidak cukup satu bulan di tahun keduanya, Andika pun juga mengundurkan diri dari tim basket. Pertandingan kualifikasi basket tingkat daerah pun dimulai. Dan luar biasa! Dirga dan timnya justru gugur di pertandingan pertamanya di tingkat daerah setelah sesi sebelumnya sekolah berhasil memenangkan juara 1 tingkat nasional. Benar-benar memalukan!
Aku juga kurang tahu tentang apa yang terjadi setelah itu. Tahu-tahu aku dibawa bersama geng untuk turut membuli Dios. Yah, peduli amat detailnya. Bukankah ini peluang yang sudah aku tunggu-tunggu? Inilah saatnya aku membalaskan dendamku kepada anak tidak tahu diri itu.
Dios pun dihajar sampai babak belur oleh Dirga, Aleka, Riandra, Tirta, dan ajudan Silva, Kak Jingmi. Tapi itu belum cukup. Sinar tekad di mata Dios masih belum redup. Itu artinya, dia belum mendapatkan pelajarannya untuk tidak menempatkan dirinya pada posisi yang tidak seharusnya dia tempati. Aku pun membisikkan rencana yang sangat luar biasa.
Aku kebetulan ingat bahwa ayah Silva, Pak Sudarmin, sering membawa tongkat golf cadangan di bagasi mobilnya sebagai jaga-jaga kalau dia tiba-tiba dipanggil oleh kliennya bermain golf untuk diskusi bisnis. Kebetulan, Silva ke sini dengan meminjam mobil ayahnya. Maka kumanfaatkan kesempatan itu untuk semakin memeriahkan suasana.
__ADS_1
“Wah, tampaknya anak ini tidak jera jika hanya dipukul seperti ini. Bagaimana kalau kita naikkan sedikit lagi levelnya? Bukankah ada tongkat di bagasi mobil yang kamu bawa Silva? Mari kita gunakan itu!” Entah mengapa aku merasakan ekspresi khawatir di wajah Silva yang tidak pernah peduli pada siapapun saat itu. Yah, pasti aku salah lihat soalnya dia bukan tipe orang yang peduli dengan orang lain.
“Hei, kamu yang pergi ambil.” Karena melihat Silva yang mematung, Araka lantas menyuruh Kak Jingmi yang mengambilnya.
Intens keseruan pun meningkat. Masing-masing dari Dirga, Aleka, Riandra, Tirta, dan Kak Jingmi mengambil tongkat golf dan menggunakannya untuk memukul Dios. Ketika tongkatnya patah, diambil lagi yang baru hingga tongkat golf yang ada di tas itu habis.
Aku sebenarnya tak menduga bahwa hal itu bisa menyebabkan Dios koma bahkan sampai sekarang. Kalau dia koma seperti itu, bagaimana aku bisa menikmati melihat wajahnya yang menderita kesakitan? Maka dari itu, sungguh aku berharap agar Dios segera tersadar dari komanya lalu menderita dalam hidupnya.
Untunglah, keluarga Araka berhasil melobi hakim sehingga kami dapat dijatuhi hukuman minimal. Yah, walaupun dibilang hukuman minimal, penahanan rumah selama 2 tahun dan pencabutan hak untuk bersekolah di sekolah publik sampai SMA sudah cukup merepotkan.
Untuk yang kedua, aku tidak begitu peduli karena aku dengan mudah bisa mendapatkan pendidikan dari sekolah privat yang kualitasnya justru lebih bagus dari sekolah umum. Yang paling merepotkan adalah yang pertama. Walaupun kami sebenarnya telah membayar polisi sehingga kami secara diam-diam bisa keluar rumah seenak kami, tetapi kami tetap harus selalu menghindari wartawan termasuk mata masyarakat yang masih menaruh perhatian kepada kami di mana-mana untuk mencegah rumor yang bisa membuat keadaan menjadi lebih buruk.
Setelah 2 tahun, akhirnya kami bebas, tetapi Dios masih belum sadarkan diri juga. Mengetahui itu, sebenarnya aku sudah tidak peduli lagi. Aku juga bukannya menaruh dendam pada Kaiser. Namun, melihat Aleka dan Riandra yang tampaknya belum melupakan dendam lama itu, yah aku ikut saja.
__ADS_1
Kalian tanya mengapa? Tidak ada jawaban lain selain ‘menyenangkan’!
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat orang yang kita rundung, jatuh dalam rundungan kita dan hidup menderita. Namun, satu hal yang kuherankan yakni mengapa Dirga yang pemarah itu justru tak hadir dalam perkumpulan pertama kami sejak 2 tahun penahanan rumah. Melihat sifatnya itu, kupikir dialah yang akan berkomentar paling awal tentang balas dendam. Diapun juga mendadak menjadi orang yang pendiam. Apakah penahanan rumah selama 2 tahun bisa mengubah sikap orang yang pemarah itu menjadi pendiam seperti ini? Itu mustahil!
Awalnya kupikir setelah penahanan rumah ini berakhir, semuanya akan kembali berjalan dengan baik. Namun, Aleka tewas secara mengenaskan bersama dengan ayah dan ibunya serta karyawan-karyawan di perusahaan ayahnya yang saat itu mereka semua sedang berkumpul di kantor perusahaan mereka. Dan yang lebih parah lagi bahwa Kaiser tiba-tiba dirumorkan menjadi pembunuhnya. Yah, walaupun itu tanggung jawab ibuku juga yang membesar-besarkan kobaran api rumor itu.
Ketika ada kesempatan di tangan, mengapa aku tidak memanfaatkan ini? Mungkin ini peluang bagiku untuk menarik Kaiser jatuh ke bawah, ke tempat kumuh yang pernah aku rasakan. Akan sangat menyenangkan melihat itu terjadi. Tertawa di balik kejatuhan orang lain, pasti sangat menggairahkan.
Oleh karena itu, akupun mulai memata-matai Kaiser untuk mencari segala seluk-beluk kesalahannya sekecil apapun untuk kepentingan itu. Aku mengawasinya berhari-hari, terkadang menyewa detektif profesional untuk menggantikanku.
Namun tak satupun hal berguna yang dapat kutemukan. Dia hanya ke rumah, rumah sakit, sekolah, kadang-kadang main bersama Andika di game center mall di dekat sekolahnya. Tidak ada satupun yang bisa dijadikan berita.
Suatu hari, akhirnya Kaiser mengunjungi tempat yang tak biasa bersama dengan teman-temannya. Kulihat mereka menghampiri daerah kumuh. Wah, apa ini? Mungkinkah narkoba? Mungkinkah Kaiser terlibat sebagai pengguna atau bahkan bandar narkoba? Sudut bibirku tiba-tiba bergetar memikirkan informasi seperti apa yang akhirnya akan aku temukan.
__ADS_1