
“Apa yang Dek Ratih katakan? Kecuali masalah rumor di internet, kehidupan Tuan Muda baik-baik saja kok.” Ucap Agni seraya tersenyum kepada Ratih dan kawan-kawan.
“Bukan itu Kak! Wilda sudah banyak memberitahuku beberapa hal mengenai orang yang terbangkitkan. Juga, mengenai pengambil video obrolan pada posisi mengambil gambar yang tak mungkin tidak akan disadari oleh Tuan Muda Kaiser dan Senior Silva yang banyak beredar di internet. Itu semua terlalu aneh! Tolong, Kak Agni, kami juga ingin tahu kebenarannya.” Ujar Ratih setengah berteriak seraya menampakkan ekspresi rumit di wajahnya.
Agni kemudian menatap Ratih dalam-dalam.
“Apa yang Dek Ratih pikirkan?”
Ratih menggigit bibirnya dengan perasaan marah di hatinya.
“Itu… Seolah-olah Tuan Muda Kaiser saat ini sedang berusaha dijebak oleh sesuatu yang berada di luar nalar pikiran manusia.” Lirih Ratih lembut.
“Ah.” Agni pun menghela nafas.
“Kalau kalian sudah tahu sampai sejauh itu, mungkin tidak ada salahnya aku menceritakan ini kepada kalian. Ini akan menjadi cerita yang sedikit rumit dan panjang.”
Agnipun akhirnya memutuskan untuk membuka mulut. Dia membeberkan segala penyelidikan yang berhasil dikumpulkannya, tentang bagaimana Tirta menyewa pembunuh bayaran Klan Kanzaki, tetapi entah mengapa pembunuh berantai itu datang dan mengacaukan rencana mereka untuk membunuh Kaiser.
Kalau hanya sampai di situ, masihlah baik-baik saja. Sayangnya, pembunuh berantai itu juga tampaknya memiliki dendam kepada Kaiser.
Pembunuh berantai itu seakan berusaha menghancurkan hidup Kaiser, tidak hanya dengan berupaya menimpakan semua kejahatan yang dilakukannya kepadanya, tetapi juga banyak hal-hal ganjil yang sering hampir menimpa Kaiser belakangan ini, walaupun pada akhirnya berhasil digagalkan oleh Agni.
Walaupun Agni belum dapat mengetahui penyebab pertemuan Aleka dengan Kaiser yang tampak sangat kebetulan itu sebelum Aleka tewas, tetapi Agni telah berhasil menyelidiki Rihana melalui detektif swasta yang disewanya pada hari kejadian, Araka melalui mantan pengasuh Bu Melisa, serta Silva melalui orang-orang yang membawanya ke RS Dewantara Group.
Untuk kasus Rihana dan Araka, mereka pada waktu itu terlihat linglung seolah-olah keputusan yang mereka buat di hari itu telah dikontrol oleh sesuatu.
Adapun untuk kasus Silva, orang-orang yang membawa Silva itu yang mengatakan bahwa diri mereka-lah yang terasa linglung sewaktu memutuskan untuk membawa calon korban pembunuh berantai itu di rumah sakit milik orang yang paling terkenal yang diisukan publik sebagai pelaku pembunuhan berantai tersebut.
Tidak hanya itu saja, banyak pula hal-hal ganjil yang terjadi belakangan ini di sekitar tuan mudanya.
Seperti sewaktu Kaiser hendak jalan-jalan ke taman dekat rumah sakit dengan melewati jalan setapak yang banyak terdapat pohon-pohon tinggi di sana. Salah satu pohon yang hendak dilewati Kaiser, tiba-tiba terlihat lapuk secara aneh di bagian bawahnya sehingga sedikit lagi hampir ambruk.
__ADS_1
Pernah juga, sewaktu Kaiser berjalan-jalan di pusat perbelanjaan tradisional di dekat rumah Zion, vas bunga dari lantai dua suatu toko kelontong di sana tiba-tiba bergerak sedikit demi sedikit menuju pinggir balkon hingga hampir jatuh mengenai kepala Kaiser.
Tentu saja, Agni dapat mengatasi semua masalah itu tanpa dinotice oleh Kaiser. Jadi begitulah keseharian Agni ketika Kaiser menolak untuk ditemani Agni sejak bebasnya ketujuh pembuli Dios tersebut. Dia akan dengan sembunyi-sembunyi melindungi tuan mudanya dari jauh. Hal ini terus dilakukan oleh Agni sampai Airi datang sebagai bodyguard Kaiser.
Setelah mendengar cerita dari Agni, tampak jelas kekalutan di wajah Ratih, Mirna, dan Wilda.
“Jadi begitu. Ini semua terjadi pada Tuan Muda tanpa sepengetahuan kita.” Ujar Ratih dengan ekspresi sendu di wajahnya.
“Hipnotis? Itu terlalu…” Wilda pun ikut bergumam sembari menunjukkan ekspresi kalut di wajahnya.
“Tetapi di luar hal itu, tak kusangka bahwa Senior Agni rupanya sangat hebat. Ngomong-ngomong, bagaimana cara Senior mencegah bahaya-bahaya itu tanpa diketahui oleh Tuan Muda?” Lanjut Mirna bertanya dengan penasaran.
Tetapi Agni hanya menanggapi pertanyaan Mirna dengan senyuman di wajahnya. Agni pun lanjut berujar.
“Oleh karena itu, Dek Ratih, juga Dek Mirna dan Dek Wilda, alangkah baiknya kalau kalian tidak terlalu dekat dengan Tuan Muda dulu sampai masalah pembunuh berantai ini dapat teratasi.” Ujar Agni kepada mereka bertiga.
“Mana mungkin kami melakukan itu!” Dan mereka bertiga pun betul-betul menjawab dengan jawaban yang kompak.
Demikianlah, hal-hal yang berupa side story seperti di atas, tidak perlu lagi menambah beban pikiran Kaiser karena ada orang-orang yang peduli dengannya di sekitarnya yang melindunginya bahkan tanpa Kaiser sempat menyadari akan keberadaan masalah tersebut. Namun, kini apa yang menjadi beban pikiran tuan muda itu tidak lain adalah krisis identitasnya.
***
Dua hari setelah penemuan mayat Silva di TKP.
“Wah, entah aku harus kagum atau harus tertawa kepada Pak Sudarmin. Dia pasti sudah mengeluarkan uang banyak untuk menyewa begitu banyak security ditambah dengan peralatan keamanan secanggih ini di pintu dan jendela rumahnya dan juga banyaknya CCTV di sekeliling.” Ujar Dono setelah mengamati sekeliling rumah Pak Sudarmin.
“Secanggih apapun pengamanan pintu dan jendelanya, itu percuma jika bagian atap rumahnya dibiarkan tanpa pengamanan seperti ini.” Tambah Mono setelah mendengar komentar dari Dono.
“Tetapi pembunuh berantai itu betul-betul sangat lihai ya? Dia masuk dengan melompati pagar tanpa diketahui oleh kerumunan security yang berjaga. Berlari ke arah teras belakang rumah lantai dua melalui titik buta CCTV sehingga tak sekalipun tertangkap oleh CCTV. Kemudian masuk lewat atap dan menuju langsung ke ruang kamar mandi di kamar Silva. Bukankah pembunuh berantai itu terlalu mengenal baik denah rumah ini? Seolah-olah dia sudah terbiasa dengan rumah ini.”
Ujar salah satu anggota polisi penanganan kriminal berat dari tim 2 yang sempat menjadi notulen di pertemuan mereka dengan Kaiser tersebut, Danar.
__ADS_1
“Benar, itu terlalu aneh. Jangan-jangan pelaku pembunuhan berantai itu, mantan pembantu di rumah ini.” Kali ini yang berujar adalah Toksan, anggota penanganan kriminal berat dari tim 13.
“Tetapi dengan keahlian memasang jebakan bom asap serta mengatur pintu agar tak dapat terbuka dari dalam, benar-benar adalah tindakan profesional. Pembunuh berantai itu bahkan hanya meninggalkan 2 jejak sepatu di TKP, satu pada saat melompati pagar dan satunya saat melompati teras. Bagaimana? Pikiranmu sudah agak terbuka, Petugas Dono?” Mono lanjut berujar seraya menatap mata Dono.
“Apanya?” Dono langsung merespon singkat begitu Mono memanggil namanya.
“Yah, eksekusi kejadian serapi ini, mustahil dilakukan oleh anak SMA seluar biasa apapun dia.”
Mendengar komentar Mono, Dono hanya berlirih pelan.
“Entahlah. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh seorang konglomerat?!”
Tiba-tiba, sesosok polisi tua, namun tidak setua Kapten Danielo, menghampiri kerumunan tersebut.
“Apa yang kalian lakukan berkumpul di sini, bukannya bekerja?!” Pak Wiwik pun datang dan memarahi mereka.
“Kapten!” Mereka pun segera menyapa dan memberi hormat kepada Pak Wiwik.
Sesaat kemudian, Bianca ikut datang menghampiri mereka.
“Tim forensik sudah mengumpulkan petunjuk pada kedua jejak sepatu yang ditinggalkan oleh pelaku. Semoga kali ini pelaku meninggalkan kesalahan sekecil apapun sehingga kita paling tidak, dapat menemukan petunjuk baru.”
“Kerja bagus, Bianca.” Sang Kapten dari tim 2 yang saat ini berperan sebagai kepala tim gabungan penyelidikan pembunuhan berantai itupun, memberikan pujiannya kepada Bianca.
“Juga, Kapten, aku sudah memperoleh bekas sikat gigi yang pernah digunakan oleh Dingxiang, alias Jingmi dari Bu Desi…”
“Tetapi jika apa yang dikatakan Fero itu memang benar bahwa Jingmi sudah tewas di Tarakan enam bulan lalu di tangan pembunuh berantai itu, bukankah dia seharusnya mendapat kartu 9 skop karena menjadi korbannya sebelum Aleka? Tirta, Dirga, dan Riandra, tersisa tiga calon korban, sementara kartunya masih ada empat. Lantas siapa calon korban satunya?”
Mono lantas dengan segera memotong pembicaraan Bianca dengan deduksinya yang membuat anggota kepolisian yang lain mau tidak mau harus mengeluarkan isi kepala mereka lebih lagi untuk berpikir.
“Apa motif sebenarnya dari tersangka dalam melakukan pembunuhan kejam ini? Dia tidak mengincar Dek Kaiser kan?” Bianca pun berujar pelan dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1