DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
162. Tanggung Jawab dan Hukuman


__ADS_3

“Tidak, tidak.  Kumohon, Tuan Muda Kaiser, semoga kamu baik-baik saja.”


Sesosok tubuh yang tampak tidak berada dalam kesadarannya itu pun terus-menerus menerjang segel air yang mengitari sekeliling area lantai puncak menara dengan serangan es-nya.  Akan tetapi, barier itu tampak begitu kokoh.  Begitu serangan es merusak salah satu bagiannya, bagian itu akan menutup kembali dengan cepat bahkan sampai tidak ada tanda-tanda sedikit pun pernah tergores.


Namun demikian, pemuda itu sama sekali tidak tampak menyerah.  Pemuda yang tampak sedang tertidur itu dengan matanya yang tertutup rapat dan tubuhnya yang bergerak secara tidak normal karena tampak tidak digerakkan oleh sendi-sendinya, melainkan bagai boneka yang dikendalikan seorang dalang.  Dialah Dios yang memasakkan tubuhnya yang koma itu untuk bergerak dengan kekuatan spiritualnya.


***


“Hahahahaha, akhirnya dengan ini, aku bisa membalaskan dendamku.  Hahahahaha.”  Dengan tawanya yang menggema, Lu Shou tampak begitu puas setelah berhasil menikam Kaiser tepat di jantungnya.


“Kaiser!”


“Tidak, Kaiser!”


Melihat hal tersebut di depan mata mereka, Andika dan Bianca tidak dapat menahan kehisterisan mereka lantas segera berlari menghampiri Kaiser yang tampak mulai lemas kehilangan darah.


Di tengah sekaratnya itu, Kaiser lantas menatap ke arah Lu Shou.  Lu Shou menangkap tatapan itu yang diikuti oleh senyum Kaiser padanya.  Namun, senyum itu justru membuat Lu Shou mengeluarkan keringat dingin.


“Apa?  Apa yang… Jangan salahkan aku!  Jangan tatap aku seperti itu!  Ini semua kulakukan demi membalaskan dendamku.”  Ujar Lu Shou dengan tampak panik.


Tangan kanan Kaiser lantas menggapai-gapai ke arah bayangan Lu Shou seraya berkata,


“Apa dengan ini, rasa dendam di hatimu dapat terobati, Kak Lu Shou?”  Tanya Kaiser kepada Lu Shou dalam sekaratnya.


Mendengar hal tersebut, seakan tenaganya habis terkuras, Lu Shou pun jatuh terduduk dan melepaskan genggamannya pada dagger yang dia gunakan untuk menikam Kaiser.  Seluruh tubuhnya gemetaran.  Ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan yang amat dalam.


“Apa ini?  Bahkan setelah aku membalaskan dendamku, mengapa rasa mengganjal di hatiku ini tak kunjung menghilang?  Itu benar.  Itu karena masih ada orang yang membunuh Araka itu yang belum aku habisi.  Aku juga harus segera menghabisinya.”  Ujar Lu Shou dalam kepanikan dan keringat dinginnya itu.


“Kak Lu Shou?”  Kaiser pun memanggil Lu Shou dengan lirih.


“Ada apa, Bocah?  Aku tak akan menyesal telah membunuhmu.”  Ujar Lu Shou, tetapi berlainan yang dikatakannya, dia menangis.


“Tolong akhiri sampai di sini.  Mari kita sudahi dendam yang tak ada habisnya ini.”  Sekali lagi, dengan lirih, Kaiser berucap.


Lu Shou terdiam.  Walau sebentar, dia sempat merasakan bagaimana tulusnya pertemanannya terhadap Kaiser.  Dan pemuda itu kini harus meregang nyawa di tangannya sendiri.  Tak mungkin jika hal itu tak menimbulkan retakan di hatinya.


Lu Shou pun mendekat ke arah Kaiser.  Namun, dengan sigap Andika dan Bianca mencegahnya dengan tatapan ekspresi penuh penghinaan.


Lu Shou tanpa berkata apa-apa, merasakan shok yang dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


“Mungkinkah perbuatanku ini salah?”  Lu Shou pun bergumam.

__ADS_1


Air mata pun mengalir deras membasahi pipinya.  Dia pun lantas menatap Kaiser yang tengah terbaring lemas dengan tatapan penuh penyesalan.


***


Aku adalah seorang anak yang tidak pernah diharapkan lahir ke dunia.  Bahkan setelah dilahirkan, aku langsung dibuang ke panti asuhan oleh orang tua yang bahkan aku tidak tahu siapa.  Akan tetapi, kemudian dia muncul dalam hidupku.  Seorang adik yang begitu bergantung padaku.  Seorang adik yang walaupun bukan adik kandungku, tetapi aku merawatnya dari bayi hingga akhirnya kami terpisah sewaktu dia berusia 5 tahun.


Aku tak dapat melupakan kebodohanku yang karena takut akan siksaan hukuman, aku pun membiarkan adikku itu mengalami penderitaan.  Hingga pada akhirnya aku tersadar, adikku itu rupanya telah tiada lagi di sisiku.


Bahkan ketika aku menemukan kembali adikku di sisiku.  Aku malah hampir saja membunuhnya.  Diriku ini mengapa selalu saja berbuat bodoh?


Namun semuanya belum berakhir.  Nyatanya sekarang, adikku masih ada di dunia ini dan masih bisa aku jangkau.  Aku takkan lagi kehilangannya.  Aku harus menjadi lebih kuat.


***


Tekad dari Jey itu akhirnya menjadi pemicu bagi dirinya untuk terpromosikan menjadi kultivator level C.  Dalam sekejap, cahaya biru menyinari sekelilingnya dan dia pun terpromosikan.


Walaupun sama-sama berelemen air, berbeda dengan Dios yang berdasar es, Jey memiliki kekuatan berbasis jeli dingin.  Hal itu membuatnya memiliki kompatibilitas yang tinggi terhadap segel air.  Hal itu pun dengan mudah membuatnya mampu menembus segel air tanpa afinitas tolakan dari sang segel air.


“Swush!”  dalam sekejap Jey menembus masuk kembali ke lantai paling atas menara Monas tersebut.


“Kaiser?”  Seketika itu, segala emosinya pun meluap begitu mendapati adiknya telah terbujur sekarat.


Akan tetapi,


“Kak Jeynal, tolong hentikan.”


Suara lirih dari Kaiser itu pun menghentikannya.


“Kaiser, Kaiser, bertahanlah!”  Jey pun berujar panik.


Dia lantas mengeluarkan Mr. Gellin, senjata spiritualnya, yang kali ini terlihat dalam ukuran mini sebesar genggaman telapak tangan orang dewasa.  Mr. Gellin itu pun merasuk ke dalam jantung Kaiser yang terluka lantas berupaya untuk menyambung tiap-tiap saraf dan jaringan darah yang putus.


Sayangnya, walaupun dengan kekuatannya yang telah level-up ke level C, itu masih belum cukup untuk mengobati luka separah itu.


Akan tetapi,


Itu telah cukup bagi Kaiser untuk tidak merasakan sensasi dingin lagi akibat kehilangan banyak darah sehingga dia pun akhirnya bisa fokus mengeluarkan jurusnya tersebut.


“Warm of Light.”  Dalam lirihnya, Kaiser pun berujar.


Berkas-berkas cahaya putih pun keluar dari tubuh Kaiser walau tak sebanyak seperti sebelumnya sewaktu Kaiser dalam kondisi primanya.  Namun, itu telah cukup untuk melingkupi area jantungnya.  Berkas-berkas cahaya putih itu pun mengkonsumsi sebagian energi spiritual Mr. Gellin kemudian menggunakannya sebagai energi untuk pemulihan Kaiser.

__ADS_1


Lambat tapi pasti, kondisi jantung Kaiser pun membaik, dan akhirnya Kaiser dapat terselamatkan dari keadaan sekaratnya.


“Maafkan aku, Kaiser.”  Tampak dari arah belakang mereka, Lu Shou yang merasa bersalah pun, meminta maaf.


Tampak raut wajah penuh amarah ditunjukkan baik oleh Jey, Andika, maupun Bianca.  Tetapi berbeda dengan mereka semua, Kaiser malam tersenyum dengan ramahnya.


“Tidak apa-apa, Kak Lu Shou.  Pada akhirnya, aku juga dapat selamat.  Dengan begini, apakah kita bisa impas dan melupakan segala dendam yang terjadi di antara kita berdua?”


“Entahlah.  Perasaan mengganggu ini belum juga hilang di hatiku.”


“Kalau begitu, Kak Lu Shou bisa datang kapan saja kepadaku untuk membalas dendam sampai Kak Lu Shou puas.”


“Dasar Bocah bodoh!  Jika kematianmu bisa meredakannya, maka sedari tadi aku pasti sudah menghabisimu.  Nyatanya, bahkan setelah melihatmu sekarat, itu hanya memperparah perasaan tidak enak ini.  Jika dipikir-pikir lagi, kamu juga tidak sadar ketika efek kekuatanmu aktif.  Mana mungkin aku dapat menyalahkanmu karena itu?  Lagipula ayahku yang duluan hendak mencelakaimu.  Entah apa yang harus kulakukan untuk mengobati rasa mengganjal ini.”


Jawaban dari Lu Shou itu lantas membuat Kaiser terdiam.  Dia merasa bersalah pada pemuda polos di hadapannya itu yang ikut masuk menjadi korban pada masalah yang terjadi karena keberadaannya itu.  Namun, dia pun punya hal berharga di hidupnya yang tak lagi ingin disia-siakannya.  Tak ada lagi hal yang dapat dilakukannya selain lanjut melangkah.


***


“Tetapi itu berbeda denganmu, Joker Hitam!  Suatu saat, aku akan membalaskan kematian Araka padamu.”


Setelah mengatakan itu, Kak Lu Shou pun menarik kembali segel airnya lantas dalam sekejap menghilang dari ruangan itu.  Setelah segel air menghilang, kulihat Dios yang tubuhnya masih dalam kondisi komanya, tetapi dia paksakan bergerak dengan energi spiritualnya, serta-merta menghampiri kami.  Aku pun segera menangkap tubuh itu, lantas kulihat Loki akhirnya tersadar.


Tetapi tidak, itu Dios yang menggunakan tubuh Loki.  Kami pun lantas turut meninggalkan ruangan tersebut di mana Kak Danial dan Fero yang pingsan dibawa oleh Kak Jeynal turun bersama kami.


Kak Jeynal turut menawarkan diri untuk membawa tubuh Dios bersamanya, tetapi hal itu segera ditolak mentah-mentah oleh Dios dalam tubuh Loki yang tak ingin sama sekali tubuhnya disentuh oleh Kak Jeynal.


Dios turut pula mengajukan diri untuk membawa tubuhnya sendiri dalam tubuh Loki perihal takut bahwa kondisiku belum stabil pascapertarungan itu, tetapi kali ini aku yang menolak dengan balik memberikan alasan bahwa tubuhnya seringan bulu sehingga aku sama sekali tidak merasakan apa-apa.


Aku pun meminta Andika untuk meminjamkan ponselnya lantaran ponselku rusak pascapertarungan dengan Kak Jeynal barusan.  Akan tetapi, rupanya ponsel Andika juga turut rusak.  Syukurlah ada Kak Bianca yang ponselnya baik-baik saja dan dapat meminjamkannya padaku.


Aku pun segera menggunakan ponsel itu, tetapi tampaknya Kak Bianca sementara meng-off-kan ponselnya itu jadi perlu kuhidupkan terlebih dahulu.  Setelah kuhidupkan, kulihatlah di layar teleponnya, ada 81 panggilan tak terjawab dari kontak yang bernama “Senior Dono”.  Namun, tampaknya tak sopan jika menanyakannya, jadi kuputuskan untuk mengabaikan saja hal itu.


Aku pun segera menelpon Ibu agar keluargaku di rumah tidak lagi khawatir lantaran sudah lewat pukul 10 malam, aku belum juga balik ke rumah.


Karena kebetulan di samping Ibu, juga ada Paman, aku meminta Ibu untuk menyerahkan teleponnya sebentar ke Paman.  Dengan merahasiakannya kepada Ibu, kuminta Paman untuk membereskan segala masalah kerusakan yang terjadi di bangunan bersejarah Kota Jakarta tersebut yang terjadi akibat ulah kami ini.


Dengan demikian, kejadian mencekam yang terjadi di malam itu pun berakhir dengan damai.  Justru, kini aku dipertemukan kembali dengan kakakku Jeynal.  Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan lagi selain itu.


Setidaknya, itu yang kupikirkan sampai rombongan polisi di bawah komando Kapten Maya datang untuk menangkap kakakku Jeynal.  Tentu saja sebagai pelaku pembunuhan berantai itu, Kak Jeynal harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.


Namun, apakah ini berarti bahwa aku sekali lagi harus berpisah dengan kakakku Jeynal?  Atau bahkan ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kami.

__ADS_1


__ADS_2