DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
56. Di Nisan Araka, Rencana Balas Dendam Lu Tianfeng


__ADS_3

“Bagaimana penilaian Kapten terhadap anak itu?”  Tanya Bianca seraya menyerahkan segelas cangkir kopi kepada kaptennya itu.


“Yah, dia anak yang baik.  Menurutku mustahil kalau dia adalah pelaku pembunuhan berantai itu.”  Jawab Sang Kapten seraya menyeruput kopi hangat yang diserahkan Bianca.


“Wah, wah, wah!  Apaan ini Kapten?!  Anda baru bertemu dengannya hari ini dan pikiran Anda sudah berubah?  Lantas di mana Kapten dulu yang mengatakan bahwa rasa subjektivitas tidak boleh mengganggu penyelidikan?!  Bukankah jelas-jelas aneh bahwa korban menggenggam erat foto Kaiser di akhir hayatnya?!” Dono yang mendengar jawaban dari kaptennya itu pun lantas berteriak marah.


“Tapi bagiku, daripada marah, Araka tampak sedih di akhir hayatnya sewaktu menggenggam foto itu.  Itu bukanlah ekspresi yang seharusnya ditujukan oleh orang yang menunjukkan dying message.”  Bianca menambahkan dengan ekspresi sendu di wajahnya yang tampak tak tertarik meladeni sentimen Dono pada Kaiser seperti biasa.


“Apapun itu, tentu semuanya harus didasarkan hasil investigasi.  Penting untuk mengawasi tersangka yang diungkapkan Kaiser dan itu akan menjadi tugasmu, Bianca.” Sang Kapten berusaha menyudahi topik pembicaraan dengan memberikan instruksinya pada Bianca.


“Baik Kapten!”  Jawab Bianca dengan cepat atas perintah kaptennya.


Sang Kapten lalu melanjutkan, “Tetapi kita tidak boleh mengabaikan bahwa pelaku bisa saja adalah pembunuh bayaran, jadi kita tetap tidak boleh mengabaikan siapa-siapa saja yang memiliki motif dendam kepada para korban.”


“Ada juga kemungkinan kalau orang yang dilihat Kaiser dan pembunuh berantai yang membunuh Araka adalah orang yang berbeda, bukan begitu Kapten?”  Bianca dengan cepat memotong pembicaraan kaptennya.


Sebelum Sang Kapten berbicara, Mono menanggapi hal itu.


“Tetapi deskripsi yang diberikan oleh Kaiser kemarin sangat cocok dengan perkiraan ciri-ciri pembunuh berantai tersebut berdasarkan jejaknya di TKP.  Kemungkinan besar keduanya adalah orang yang sama.”


“Lantas jika demikian, Kaiser tentu sangatlah hebat dapat menyudutkannya dalam pertarungan.”  Bianca memberikan tanggapannya.


“Heh, bisa saja dia pembunuh bayaran yang dikirim oleh keluarganya tanpa diketahuinya.  Tentu saja pembunuh bayaran itu tidak bisa menyakiti keluarga orang yang membayarnya.”  Dono ikut memberikan komentarnya secara dingin.


“Itu bisa jadi.  Jika demikian, orang yang paling mencurigakan adalah pamannya, Pak Arkias, atau kakeknya, Pak Ducias.  Pak Lucias dan Bu Nana sendiri orangnya cerdik dan terkadang licik, tetapi mereka berdua adalah orang yang sangat lurus sehingga sulit dibayangkan bahwa mereka bisa sampai menyewa pembunuh bayaran.”  Tanpa diduga, Bianca memberikan dukungan atas komentar dingin Dono.


“Kalau menurutku, ada kemungkinan bahwa pembunuh berantai itu sendiri mengenal Kaiser dan semua ini dilakukannya demi Kaiser.  Jika demikian, ini semua terjadi bukan karena kasus pembulian itu, melainkan kemarahan pelaku karena korban yang mengusik Kaiser?”  Tambah Mono mengeluarkan pendapatnya.


Mereka bertiga tersentak dengan pendapat Mono.  Mereka berusaha menimbang-nimbang hal tersebut dan juga menduga hal itu bisa saja terjadi mengingat Kaiser memiliki sangat banyak pengikut fanatik tanpa disadarinya di dunia bawah.  Jika demikian, hal ini bisa saja bertambah rumit.


Mereka selama ini hanya bisa mendengar desas-desusnya, tetapi yang jelas mereka ada.  Setidaknya mereka tahu Fan’s Club Kaiser di bawah pimpinan Ratih.  Juga ada desas-desus keberadaan Fan’s Club lain yang lebih ekstrim, tetapi mereka sangat menjaga kerahasiaan mereka sehingga baik nama-nama anggota dan jumlah mereka tidak diketahui.


Rumor ini didasari oleh banyaknya orang yang berurusan dengan Kaiser selalu berakhir dengan mengalami kesialan tanpa sebab.  Oleh karena itu, banyak penguasa-penguasa kelas atas yang lebih memilih untuk menghindari berurusan dengan bocah itu dan menjulukinya sebagai ‘the untouchable poisonous prince’.

__ADS_1


“Untuk saat ini, kita sebaiknya fokus untuk melindungi calon korban.  Oh iya, Mono, bagaimana dengan perkembangan pencarian Jingmi?”  Sang Kapten kemudian mengubah alur topik diskusi.


“Belum ada perkembangan Kap.  Pihak Hongkong belum mau bekerjasama.”  Jawab Mono dengan tampak kecewa.


“Ini cukup merepotkan.  Ditambah calon-calon korban lainnya tidak ada satupun yang mau bekerjasama.  Terpaksa kita hanya bisa mengawasi mereka dari jauh.”  Ujar Sang Kapten dengan lesu.


Sang Kapten pun lanjut memberikan instruksinya.


“Lakukan pengawasan terutama untuk Dirga Isnandar dan Tirta Wahyunusa yang sering keluar rumah dan juga dicurigai sebagai calon tersangka.  Aku serahkan ini padamu Mono untuk bekerjasama dengan tim lain.


Untuk calon tersangka lain, Bianca, pastikan untuk melakukan pengecekan dan pengawasan secukupnya untuk saat ini.  Jangan sampai menimbulkan komplain pada pihak kepolisian.  Bekerjasamalah dengan tim lainnya.


Untuk Silva dan Riandra, lakukan terus pematauan di rumah mereka.  Segera kabari kalau mereka keluar rumah.  Dono, aku serahkan ini padamu.  Bekerjasamalah dengan tim lain dengan baik dan tinggalkan masalah Kaiser kepada anak itu.


Untuk masalah Jingmi, saya akan coba membicarakannya dengan pihak yang lebih di atas dan untuk masalah Kaiser dan keluarganya, jangan ada yang melakukan gerakan apa-apa sebelum ada perintah dariku.  Paham?”


“Siap Kapten.”  Mereka bertiga menjawab serentak atas perintah kaptennya.


***


[Semua dialog berikut dalam bahasa China.]


“Tuan Tianfeng, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya untuk Nyonya Melisa?”  Tanya ajudan setia itu kepada tuannya.


“Tanpa Araka, tidak ada lagi gunanya untuk mempertahankannya.”  Jawab Sang Tuan dengan dingin.


“Jadi Anda akan membuangnya?”


“Tentu saja.  Tidak ada gunanya mempertahankan benalu.”


“Betul juga, Tuan.  Lantas, bagaimana Anda akan menyikapi anak dari keluarga bawahan Shinomiya itu?”


“Kaiser Dewantara ya.  Hmm, sejujurnya aku tidak terlalu peduli dengannya.  Aku juga menyangsikan kalau apa yang dirumorkan di internet saat ini adalah benar.  Tetapi, aku tentu tidak boleh membiarkannya bebas demi nama baikku di dunia mafia.”

__ADS_1


“Jadi, apa yang akan Anda lakukan?  Ada desas-desus kalau Kaiser memiliki back-up rahasia yang sangat berbahaya.  Banyak yang berurusan dengannya berakhir dengan naas sehingga dia dijuluki ‘the untouchable poisonous prince’ di dunia bawah.”


“Jika benar dia yang melakukan ini pada Araka, ataupun orang misterius yang mendukungnya secara rahasia, dia atau mereka pasti setidaknya seorang kultivator level F.  Aku akan menyewa 2 orang kultivator level E untuk mengeksekusi anak itu.”


“Apakah perlu sampai sebegitunya Tuan?  Bukankah biaya yang dikeluarkan untuk menyewa 2 kultivator kelas tinggi itu sangatlah mahal.  Bagaimana dengan budget perusahaan kita?”


“Ini sepadan jika anak itu bisa disingkirkan sehingga tidak ada lagi yang akan berani melawan keluarga Lu di dunia bawah negara ini.  Tentu saja keuntungan yang lebih besar akan mengalir dengan sendirinya.”  Ujar Lu Tianfeng dengan sengiran bengis di wajahnya.


“Lantas bagaimana dengan Keluarga Shinomiya?”


“Mereka tidak akan berani bertindak tanpa adanya bukti.  Kita akan membunuh anak itu secara rahasia.”


“Ide yang bagus, Tuan.”


Sang ajudan pun memberikan pujian atas ide brilian dari tuannya.  Namun, tiba-tiba Lu Shou datang dan menginterupsi mereka.


“Ayah, Ayah tidak bisa melakukan itu.  Jika Ayah peduli pada Araka, maka hentikan niat jahat Ayah itu.  Araka sendiri yang telah berpesan padaku sebelum kematiannya agar tidak menyentuh Kaiser.  Baginya, Kaiser pasti adalah sosok teman yang berharga.  Jika tidak demikian, tidak mungkin Araka akan mengatakan hal yang seperti itu.  Jika Ayah menyakiti Kaiser, ini sama saja Ayah menyakiti Araka yang ada di alam sana.”


“Paaak!”


Tapi apa yang menunggu Lu Shou adalah tamparan keras dari ayahnya.


“Anak tidak berguna sepertimu sebaiknya diam saja!  Pengawal, cepat seret anak tidak berguna itu pergi dari sini!”  Teriak Lu Tianfeng dengan marah.


“Ayah!”  Ujar Lu Shou dengan wajah memelas pada ayahnya, tetapi Sang Ayah sama sekali tidak menggubrisnya.


Dua di antara beberapa orang pengawal yang mengawal Lu Tianfeng pun menyeret Lu Shou pergi dari hadapan tuannya itu.  Tampak Lu Shou berteriak-teriak memelas tetapi tetap tak digubrisnya.


[Kali ini obrolan kembali dalam bahasa Indonesia.]


Jauh dari keramaian pengunjung pemakaman Araka, seorang pemuda tampak sedang menelepon seseorang.


“Seperti yang kamu duga, dia berencana menyerang Tuan Muda Kaiser.”

__ADS_1


Dialah Fahrul Prabuwija, teman Kaiser di kelas yang sama sewaktu SMP, dan juga berada di sekolah yang sama dengan Kaiser saat ini di SMA walaupun berbeda kelas, mantan bawahan Araka yang kini entah mengapa mendukung Kaiser di dunia bawah.


__ADS_2