
Kembali ke tiga hari sebelumnya ketika berita tentang kematian Araka pertama kali mengudara lewat televisi.
Pagi itu, Pak Arkias sedang di kantornya mengurus beberapa dokumen sambil menyeruput segelas kopi. Di sampingnya, asisten setianya, Pak Astra, sedang berdiri untuk menunggu dokumen diselesaikan. Betapa kagetnya dia ketika melihat berita di televisi tentang kematian Araka dan Kaiser yang ada di lokasi kejadian.
Apa yang lebih menjengkelkan adalah laporan beberapa reporter yang terkesan mengait-ngaitkan keberadaan Kaiser di dekat lokasi kejadian.
“Ini seperti halnya jika wartawan-wartawan tersebut berupaya untuk menuduh Kaiser sebagai pelaku. Ini tidak boleh dibiarkan.” Ujar Pak Arkias dengan marah.
“Apa yang harus kita lakukan Tuan? Jika dibiarkan, Lu Tianfeng, Ayah Araka, bisa saja membunuh Tuan Muda Kaiser untuk menjaga nama baiknya di dunia bawah. Dan yang lebih mengkhawatirkan, ada desas-desus kalau pembunuh bayaran yang dia sewa bukanlah pembunuh bayaran biasa.” Pak Astra ikut menyampaikan kekhawatirannya yang mendalam itu.
Pak Arkias terlarut dalam-dalam pada lamunannya. Mungkin Pak Astra tidak tahu, tetapi Pak Arkias sendiri tahu betul siapa pembunuh bayaran yang sering bekerjasama dengan Lu Tianfeng. Mereka adalah organisasi pembunuh bayaran yang beberapa anggotanya adalah kultivator-kultivator, dan level mereka pun tidak sembarangan.
Pak Arkias pun memutuskan, “Baiklah, Astra, segera siapkan tiket penerbangan untukku ke Jepang.”
***
[Semua dialog berikut dalam bahasa Jepang]
Dua hari kemudian,
Pak Arkias memasuki ruangan besar berdindingkan kayu dengan nuansa tradisional Jepang. Tampak di sana duduk seseorang di atas singgasana mewahnya dengan didampingi masing-masing di sisi kiri dan kanannya seorang geisha dan satu tingkat di bawah mereka, terdapat beberapa ajudan untuk melayani dan beberapa samurai untuk melindungi tuannya itu. Dialah Tuan Besar pemimpin Grup Shinomiya saat ini, termasuk di bawahnya mewadahi Keluarga Samurai Ishida dan Keluarga Ninja Shiratori.
Jauh di bawah, Pak Arkias pun bersujud untuk memberi hormat.
“Hormat kepada Tuan Besar.” Ucap Pak Arkias dengan lantang sambil bersujud memberi hormat.
“Bangunlah.” Ucap Tuan Besar itu.
Pak Arkias pun berbasa-basi dengan memuji-muji keagungan tuan besarnya. Tuan Besar itu pun menanggapinya dengan bangga dan senang akan attitude Pak Arkias yang pandai menjilat itu. Sang Tuan Besar pun menanyakan keperluan Pak Arkias berkunjung ke tempatnya. Dengan sopan dan hati-hati, Pak Arkias pun menjelaskan dengan detil masalah Kaiser dengan Lu Tianfeng dan bagaimana Pak Arkias ingin meminta bantuan keluarga Shinomiya untuk memberikan perlindungan.
“Oh jadi begitu rupanya. Baiklah, tidak masalah. Panggil Airi kemari.” Ucap Tuan Besar itu.
__ADS_1
“Tuan, tapi bukankah agak berlebihan untuk menggunakan salah satu ace kita untuk masalah sepele seperti ini?” Salah satu ajudan memberikan komentarnya.
“Syaaaat!” Tidak menunggu lama, seorang samurai menghunuskan pedangnya dan menggunakan bagian tumpul belakang pedangnya untuk menebas ajudan yang lancang itu. Walaupun tidak menggunakan bagian yang tajam pedangnya, itu sudah cukup untuk membuat ajudan yang lemah itu terluka cukup parah.
“Aaaaah! Maafkan saya Tuan Besar! Ampun…! Ampuuuun…! Saya dengan lancang telah berbicara tanpa diizinkan!” Ajudan itu seraya meminta maaf sambil bersujud menyembah-nyembah tuan besarnya.
Dia pun diseret ke belakang dengan sadis. Tampak Pak Arkias tidak terganggu dengan itu seperti dia telah terbiasa dengan situasi yang serupa.
“Tentu aku harus melakukan sampai sejauh itu karena Kaiser adalah anak yang berharga.” Ujar Sang Tuan Besar sambil tersenyum jahat.
Tidak lama kemudian, seorang gadis muda seusia Kaiser memasuki ruangan. Dialah Shinomiya Airi, seorang anak sindrom pelangi dengan mata ungunya yang cantik. Berbeda dengan Kaiser, dia telah terbangkitkan dan bahkan sudah masuk level D puncak.
Kespesialan anak sindrom pelangi adalah bahwa mereka dapat dengan cepat meningkatkan kekuatan kultivasi mereka yang berbeda dengan para kultivator jadul, yang bahkan sampai di akhir hayat mereka yang kurang lebih sekitar 100 tahun, mereka hanya bisa mencapai paling tinggi level D. Selama seratus tahun terakhir, hanya tercatat 1 orang di dunia yang berhasil mencapai level C. Dia saat ini ada di dataran es utara dan sudah mencapai usia 90 tahun, tidak lama lagi mencapai batas usianya.
Sudah lebih dari seribu tahun, tidak ada lagi kultivator level B ke atas di dunia ini, bahkan mereka kini hanya dianggap sebagai legenda urban saja dan bahkan ada beberapa yang berpendapat bahwa mereka hanyalah cerita omong kosong belaka.
“Hormatku kepada Pemimpin Keluarga.” Ujar Airi seraya bersujud.
“Bangunlah.”
“Tugasmu sekarang adalah melindungi seorang anak bernama Kaiser Dewantara.”
“Siap Pemimpin Keluarga.” Jawab Airi dengan cepat atas perintah pemimpin keluarganya.
Airi pun mendengarkan dengan detil tugasnya dan diperkenalkan kepada Arkias Dewantara. Setelah itu, Pak Arkias dan Airi pun segera meninggalkan ruangan.
“Bolehkah saya bertanya Tuan?” Kata seorang geisha yang disebelah kiri Tuan Besar itu.
“Apa itu?” Tuan Besar pun mempersilakannya untuk bertanya.
“Mengapa Tuan Besar mesti repot-repot untuk menggunakan Nona Airi? Bukankah dia adalah calon pewaris ketiga Keluarga Shinomiya?” Tanya geisha itu.
__ADS_1
“Justru karena itu. Aku ingin dia memanfaatkan kesempatan ini untuk semakin mengasah dirinya. Dan juga anak yang dilindunginya itu bukan anak biasa. Anak itu memiliki karisma yang sangat unik yang akan sangat menguntungkan jika digunakan dengan tepat oleh Keluarga Shinomiya. Siapa tahu, dengan menjadi pengawal sementaranya, Airi mampu menggait hati pemuda itu dan menjadikannya bagian dari Keluarga Shinomiya? Lagipula…” Tuan Besar pun lantas tersenyum seakan penuh dengan rencana jahat.
“Panggil dia masuk!” Sekali lagi Sang Tuan Besar memberikan perintahnya.
Kali ini yang masuk ternyata adalah Ishizaki Jun, tidak lain adalah kakek Kaiser.
Dia lantas berlutut. Seorang ajudan kemudian membawakan secangkir kecil sake di hadapannya.
“Aku sudah memenuhi permohonanmu. Sesuai janji, mulai saat ini, keluarga Ishizaki juga akan mendukung Keluarga Shinomiya.” Ucap Tuan Besar itu dengan nada bicara pada bawahannya.
“Sesuai perintah Tuanku.” Ucap Kakek Jun seraya menenggak sake di depannya. Sang Tuan Besar pun ikut menenggak sake yang diberikan seorang ajudan kepadanya.
Ternyata, sebelum Pak Arkias tiba di Jepang untuk meminta bantuan, Nenek Nafisah telah mengabari lebih dahulu mantan suaminya itu tentang situasi kritis yang dihadapi oleh cucunya Kaiser.
***
[Semua dialog berikut menggunakan bahasa China]
Kembali ke waktu sekarang.
“Tuan, mereka telah tiba.”
“Suruh mereka masuk.”
Lu Tianfeng dengan segera memberikan arahan setelah menerima kabar dari ajudannya Fei Sangchen itu.
Tampak dua orang china di usia pertengahan 30-an memasuki ruangan.
Yang satu tampak memiliki luka di mata kirinya yang ditutupi oleh penutup mata berwarna hitam dengan rambut jabriknya serta memakai pakaian tanpa lengan dan tidak menutup dadanya dengan sempurna sehingga tampak dengan jelas memperlihatkan badan kurus, tetapi berototnya itu.
Satunya lagi dengan rambut pendek menjuntai halus dengan mata sipitnya dan tampak mengenakan setelan jas hitam lengkap.
__ADS_1
Pria paruh baya yang pertama nampak menyengir jahat mencoba memberikan tekanan pada Lu Tianfeng, sementara satunya lagi dengan tanpa ekspresi, menatap tajam ke arah Lu Tianfeng.
“Jadi apa tugas kami?” Ujar pria paruh baya kedua dengan rambut pendek menjuntai halus itu membuka percakapan.