
“Bisakah Senior jelaskan itu dengan lebih detil? Apakah yang menyebabkan Dios koma sampai sekarang karena Tirta-lah yang memukulnya di tempat fatal?”
Terlihat ekpresi yang sangat serius di wajah Kaiser sampai-sampai mata birunya yang menatap langsung ke mata Silva, membuatnya merinding.
Silva sebenarnya tidak melihat langsung kejadian saat Tirta memberikan pukulan terakhir itu pada Dios. Hanya Rihana-lah mungkin satu-satunya saksi pada kejadian tersebut selain pelaku sendiri yakni Tirta. Tetapi begitu menoleh setelah mendengar suara pukulan yang sangat keras, hanya Tirta-lah seorang yang berdiri di dekat Dios dengan tongkat golf yang patah di tangannya.
Walaupun kurang jelas karena posisinya yang cukup jauh, tetapi sebagai mainan yang sudah seringkali dia mainkan, dia lebih tahu tentang segala seluk-beluk Tirta. Oleh karena itu, Silva kala itu, bisa langsung menyadari bahwa Tirta sedang menunjukkan ekspresi yang tersenyum puas.
Dios yang sebelumnya mereka tinggalkan, walaupun dengan luka-luka yang cukup parah, tetapi masih pada batas yang takkan mungkin merenggut nyawanya, tiba-tiba terbaring koma. Satu penjelasan yang mungkin, Tirta-lah yang membuatnya seperti itu dengan pukulan terakhirnya.
Dengan demikian, walau tidak melihat langsung kejadiannya, Silva sangat yakin dengan dugaannya itu. Berdasarkan keyakinan tersebut, diapun menganggukkan kepala atas pertanyaan Kaiser.
“Araka lengah di saat terakhir. Ketika mereka mengajak kami pergi setelah kondisi Dios telah pada batasnya, dia lupa memastikan kalau masih ada satu orang yang sangat bernafsu mencelakai Dios tertinggal di belakang.” Jawab Silva seraya tertunduk mencoba mengalihkan pandangannya dari mata biru Kaiser yang tiba-tiba terasa menyeramkan.
“Lantas mengapa pada saat di pengadilan dua tahun lalu, Araka tidak mengatakannya?”
“Kamu pikir Om Lu Tianfeng akan mengizinkan Araka melakukan tindakan pengecut seperti itu?” Silva pun segera membantahnya.
“Kesalahan anak buah adalah keteledoranmu dalam mengawasinya. Jadi kamu-lah yang harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Begitu rupanya. Benar-benar khas dari mafia China, seperti yang diharapkan.” Ucap Kaiser seraya tersenyum kecut mengetahui kekonyolan pola pikir yang didoktrinkan pada Araka tersebut.
“Lantas mengapa Araka tidak sekalian mengeksekusi di tempat anak buah bodohnya itu jika dia memang ingin mengikuti prinsip mafia China?” Lanjut Kaiser dengan setengah bergumam.
“Kaiser?”
Mendengar Silva memanggil namanya, Kaiser pun kembali menatap Silva.
“Aku paham dengan yang kamu katakan Senior. Namun, Senior Silva, keengganan untuk peduli ketika kita bisa berbuat sesuatu untuk mencegahnya juga adalah dosa. Lagipula, siapa yang turut menyuruh Jingmi dan menyediakan tongkat golf dalam menjalankan aksi tersebut?”
“Itu semua ulah Rihana. Rihana yang merencanakannya.”
“Aku kecewa padamu Senior Silva. Dari pertama kali aku mengenalmu, rupanya kamu belum berubah ya. Kamu tetaplah anak manja yang merasa dunia ini milikmu sendiri dan memperlakukan orang lain layaknya karakter sampingan sehingga jika ada apa-apa, kamu langsung segera menyalahkan orang lain.”
__ADS_1
“Mengapa kamu berkata seperti itu?! Aku…Aku tidak seperti itu! Memang Rihana-lah yang menyuruh Jingmi dan menotice anak-anak bahwa aku membawa tongkat-tongkat golf itu di bagasi mobilku. Aku bahkan sudah menyembunyikan 2/3 dari tongkat golf itu dari mereka.”
Silva tertunduk seraya tampak meneteskan air mata.
“Lagipula waktu itu suasananya seperti itu. Aku tidak mungkin tiba-tiba merusak suasana dengan mengatakan, ‘kalian tidak boleh melakukan hal seperti itu’. Karena jika sampai aku melakukannya, pasti akan segera menjadi bahan gosip di pergaulan kelas atas. Dan paman-pamanku yang rakus kekayaan dan kekuasaan, akan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menjatuhkan ayahku.”
Kaiser lantas menatap Silva dengan ekspresi rumit di wajahnya. Beberapa saat kemudian, Kaiser pun mengembuskan nafas panjang.
“Bukan itu yang aku maksudkan, Senior.” Lirih Kaiser sedikit frustasi karena Silva tidak dapat memahami arah pembicaraannya.
“Dengarkan aku baik-baik, Senior Silva, pernahkah kamu sekali saja menatap orang lain di luar dari lingkaran pergaulanmu secara baik-baik? Memahami seperti apa mereka, apa yang mereka sukai atau apa yang mereka inginkan?”
“Itu, buat apa aku melakukan hal itu pada orang-orang rendahan?” Ujar Silva dengan keheranan.
Mendengar jawaban Silva yang dia ucapkan dengan polosnya itu, Kaiser lantas memijat dahinya di mana tangannya ikut menutupi sebelah matanya. Dia sudah mengetahui bahwa Silva adalah anak manja yang self-interested, tetapi sama sekali tidak menyangka bahwa akan separah ini.
“Oleh karena itulah aku menyebutmu demikian. Kamu tetap baik-baik saja setelah apa yang teman-temanmu lakukan pada Dios. Dan bahkan, setelah Kak Syarif meninggal pun akibat ulah Aleka, Senior sama sekali tak merasakan apa-apa.” Di akhir kalimatnya, tampak ekpresi Kaiser berubah kelam.
Kaiser lantas mengusap kepala Silva yang lebih tinggi darinya itu.
“Kenapa Senior sangat sulit untuk mau berubah menjadi orang yang lebih baik? Bukankah setiap orang punya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik?” Ujar Kaiser dengan ekspresi sendu di wajahnya.
Mendengar ucapan tulus Kaiser padanya itu, Silva tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Dia memilih untuk diam.
[Hei, Kaiser. Jika aku mampu menjadi orang yang lebih baik, akankah hubungan kita akan menjadi baik tanpa memperhatikan status keluarga kita?] Gumam Silva dalam hati.
***
Agni yang datang setelah memesan makanan itu pun, segera mendapati Silva berada di dekat Kaiser. Agni lebih memilih untuk mengamati mereka secara diam-diam terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Begitu Agni dapat memahami situasinya, Agni pun segera mengambil telepon genggamnya dan melakukan panggilan.
***
__ADS_1
Setelah dinotce oleh Agni melalui asisten Pak Sudarmin, tidak butuh waktu lama, bahkan sebelum tibanya tengah malam di malam yang sama, para pengawal Silva datang ke RS Dewantara Group untuk menjemput Silva yang telah hilang dari rumahnya lebih dari sehari.
Ketika pulang, Pak Sudarmin tampak telah menunggu Silva di rumah.
“Bagus ya kamu! Tidak hanya mengoleksi fotonya, kini kamu berani untuk menemuinya langsung dan merendahkan dirimu untuk menjilat bocah sialan itu!”
“Apa yang Ayah katakan?! Sudah kubilang, aku sama sekali tidak mencintai Kaiser! Aku hanya ingin menggigiti telinganya yang empuk itu, menjilati pipinya yang seperti buah pear itu, lalu mencium bibir yang seperti bunga teratai itu!” Teriak Silva marah pada ayahnya yang tanpa sengaja ikut mengungkapkan fetishnya dengan jelas.
“Silva, apa yang kamu katakan?”
“Entahlah, aku tidak tahu lagi! Ayah bodoh!”
Setelah mengucapkan hal itu, Silva pun berlari masuk ke kamarnya lantas mengunci pintu kamarnya.
[Cinta? Mengapa aku harus jatuh cinta pada bocah seperti itu? Aku hanya ingin dia memperhatikanku dan menganggapku yang terpenting dalam hidupnya.] Gumam Silva.
Silva pun kembali mengingat-ingat kejadian yang barusan terjadi di rumah sakit ketika Kaiser mengusap kepalanya. Walaupun ekspresi wajahnya datar saat itu, tetapi sebenarnya jantung Silva sangat deg-degan sewaktu mengalaminya. Itu adalah salah satu daftar dalam list roman yang ingin diwujudkannya bersama dengan pria idamannya.
“Ah, andai saja Kaiser itu tinggi dan berotot, dia pasti akan sangat sesuai dengan tipe pria idamanku. Di luar dugaan, dia ternyata juga sedikit sangar.” Ujar Silva seraya tersenyum-senyum sendirian.
Dia pun segera menepuk pipinya begitu menyadari bahwa dia telah terbuai oleh pace dari Kaiser.
“Apa yang aku pikirkan? Mana mungkin aku membiarkan lelaki yang mengambil alih kendali. Ah, bocah itu, betul-betul telah menghipnotisku!” Ujar Silva seraya mengembuskan nafas panjang.
[Sadarlah Silva! Kamu adalah seorang primadona. Lelaki-lah yang seharusnya menyembahmu dan bukan sebaliknya!] Sekali lagi, Silva bergumam dalam hati.
Seketika terbersit kembali ucapan Kaiser itu di dalam pikirannya.
“Bukankah setiap orang punya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik?”
“Tetapi rasanya berubah menjadi seperti wanita-wanita jelata yang bersikap penuh sopan santun itu tidak buruk juga. Apa ya yang harus aku lakukan? Tampaknya aku harus mulai dengan mengubah cara bicaraku menjadi lebih sopan dulu kali ya? Lalu belajar berpakaian ala-ala jelata. Hehehehe, rasanya itu menyenangkan juga.” Ujar Silva dengan penuh raut senang di wajahnya.
__ADS_1
Dia pun tampak berfantasi dengan riangnya, membayangkan jika seandainya dia dan Kaiser dipertemukan dalam kondisi yang berbeda di mana dia adalah seorang wanita biasa dari keluarga yang akur satu sama lain dengan keluarga Kaiser. Tanpa memperdulikan pandangan orang lain, hanya cinta di antara mereka berdua yang tumbuh, saling menerima baik kelebihan maupun kekurangan satu sama lain. Tanpa adanya diskriminasi status, kekuasaan, dan jabatan.