DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
78. Misteri Penyebab Trauma Danial


__ADS_3

“Kaiser, apa yang terjadi pada Senior Danial?  Dia kelihatannya tidak dalam keadaan normal?”  Andika yang keheranan dengan tingkah aneh Danial pun bertanya pada Kaiser.


“Itu…”  Kaiser tampak bingung untuk menjelaskannya.


Danial kemudian mengintip dari balik celah bahu sepupunya, penasaran dengan siapa sepupunya itu berbicara.


“Oh iya, pertama-tama.  Perkenalkan Kak, dia Andika.  Dia Junior Kakak, teman seangkatan Kaiser, tetapi beda kelas di SMP Puncak Bakti dulu.”


Andika tersenyum ramah seraya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.  Namun, Danial yang ketakutan segera bersembunyi lagi di balik punggung sepupunya itu.  Namun, setelah beberapa saat, dia menjulurkan kembali kepalanya dari balik pundak sepupunya itu.


“Halo.”  Jawab Danial malu-malu.


Kaiser menanggapi dengan senyum simpul tingkah sepupunya.


“Kemudian, perempuan yang di belakangnya itu adalah Shinomiya Airi-san, keluarga relasi bisnis kita dari Jepang.”


“Halo.”  Sapa Airi dengan ramah.


“Halo.”  Jawab Danial sekali lagi dengan malu-malu sambil menggenggam erat tubuh sepupunya.


“Apakah Senior Danial mengalami kelainan jiwa, Kaiser?  Apakah karena itu dia tiba-tiba menghilang dari pergaulan kelas atas dan digantikan olehmu sebagai perwakilan pewaris Keluarga Dewantara?”  Tanya Andika kepada Kaiser.


Nampak ekspresi yang rumit di wajah Kaiser.  Dia pun menjelaskan,


“Dia tidak kelainan jiwa”  Ujar Kaiser sedikit membentak.


“Ah.”  Andika kaget melihat ekpresi rumit di wajah Kaiser dan mengira bahwa dia telah mengutarakan pertanyaan yang agak kasar dan melukai hati sahabatnya itu.


Namun, Kaiser segera melanjutkan, “Dia seperti itu karena trauma yang membuatnya merasa dirinya kembali ke masa kanak-kanak.  Semacam impartial loss memory sight.”


“Trauma?  Trauma apa yang dialami oleh Senior Danial, Kaiser?”  Tanya Andika mencoba mencari tahu.


“Itu, aku tidak ingin membahasnya.  Maafkan aku, Andika.”


“Baiklah.  Maafkan aku Bro karena telah menanyakan hal yang sensitif.”  Ujar Andika dengan wajah yang nampak merasa bersalah.


Kaiser hanya tersenyum atas tanggapan Andika itu.  Kaiser pun segera mengalihkan pembicaraan kepada kakak sepupunya.


“Bagaimana kalau kita main dengan Amanda di bawah Kak?”


Mendengar ajakan Kaiser itu, Danial pun tampak gembira dan mengikuti mereka menuruni lift didampingi oleh suster pribadinya.

__ADS_1


“Agni, kamu antarlah Andika ke tempat parkir ya.”  Setelah sampai di lantai satu rumah sakit, Kaiser segera memberi perintah kepada Agni untuk mengantar Andika pulang.


“Kaiser?  Kamu sendiri mau ngapain?”  Tanya Andika penasaran.


“Kami akan bermain-main sejenak di taman mumpung aku ada di sini.”  Ujar Kaiser seraya menepuk pundak sepupunya itu.


“Kalau begitu, aku juga ikutan.  Lagipula masih ada banyak waktu sebelum aku les.”  Ujar Andika dengan penuh tekad.


Kaiser, Andika, Airi, Danial, dan Bu Suster Pribadi Danial pun segera menuju ke taman untuk bersenang-senang setelah mengajak Amanda lebih dahulu, sementara Agni lebih memilih untuk menunggu di lobi lantai 1 rumah sakit tersebut untuk duduk beristirahat sejenak di bawah pendingin ruangan.


***


Malam itu, Pak Sudarmin menonton siaran berita luar negeri.


“Gedung utama perusahaan milik tokoh masyarakat, Lu Tianfeng, diserang oleh sekelompok penjahat yang menyebabkan Lu Tianfeng, istri ketiga, anak keduanya, serta seluruh karyawan yang berada di tempat pada saat itu yang diperkirakan berjumlah lebih dari seratus orang tewas di tempat.


Salah satu dari dua korban selamat dari kejadian itu yakni Ye Lifei dari keluarga terkenal Ye di Guangzhou menyatakan bahwa penyerang berasal dari organisasi terlarang Trans yang banyak dirumorkan belakangan ini.  Namun, sampai sekarang, pemerintah kesulitan untuk bertindak karena keterbatasan info mengenai organisasi tersebut, termasuk di mana mereka bermarkas dan di wilayah mana saja mereka beroperasi.


Korban lain yang selamat yakni anak ketiga korban, Lu Xinyi, masih terbaring koma…”


Pak Sudarmin langsung membanting remote yang ada di tangannya itu begitu melihat cuplikan berita.  Walaupun dia sudah tahu kabar ini lebih dahulu, tetapi dia tetap tidak dapat menahan amarahnya begitu mendengarkannya langsung melalui siaran televisi.


“Dasar bocah sialan!  Kamu berhasil menamparku ya, bocah sialan!  Kamu kira kamu bisa berbuat seenaknya dengan keluarga Shinomiya di belakangmu?!  Aku takkan pernah melepaskanmu dan akan kuseret kau ke ruang eksekusi suatu hari nanti!”  Ujar Pak Sudarmin dengan penuh amarah.


***


“Wah, lihat istriku!  Betapa lucunya putra kita.  Matanya biru cerah seperti warna mata sepupunya.”


“Apa yang kamu katakan Sayang?  Warna mata putra kita jelas jauh lebih megah dan indah.  Oh iya, kamu ingat tidak Sayang, waktu kita liburan di Italia?  Di sana kita melihat pameran batu permata yang juga sangat indah sampai-sampai aku berpikir kalau batu permata itu bukan berasal dari dunia ini.  Bukankah warna batu permata itu mirip dengan warna mata putra kita?”


“Yah, setelah kamu mengatakannya, nampak memang iya.”


“Benarkan Sayang?  Kalau tidak salah batu permata itu berasal dari relik kuno di Spanyol.  Kalau tidak salah, nama batu itu adalah batu Dios.  Bagaimana kalau kita namai putra kita mirip dengan nama batu permata itu Sayang?”


“Dios?”


“Iya Sayang.  Dios Dewantara.  Bukankah namanya kedengaran berkelas?  Dios Dewantara, anak dari Lucias Dewantara, cucu dari Ducias Dewantara.  Serasi sekali bukan?”


“Buuuk!”


Suara jatuh dari foto keluarga Pak Lucias beserta istri dan putranya yang terpampang di dinding dengan ukuran besar di ruang kerja Pak Lucias, seraya membangunkan Pak Lucias dari tidurnya.  Dia rupanya tak sengaja tertidur di ruang kerjanya.

__ADS_1


Bu Nana pun segera berlari dari kamar tidur mereka yang terhubung dengan ruang kerja Pak Lucias.


“Sayang, ada apa?  Aku tadi mendengar suara jatuh yang keras… Oh, ya ampun!  Bingkai fotonya kenapa bisa pecah seperti ini?  Duh, tunggu sebentar Sayang, biar aku segera panggilkan pelayan untuk membersihkannya.”  Ujar Bu Nana panik.


Pak Lucias segera bangkit dari kursinya, namun rasa kantuknya nampaknya belum hilang sepenuhnya hingga diapun jatuh karena sempoyongan.


“Bruuuk!”


“Ah, Sayang!  Kamu baik-baik saja?”  Ujar Bu Nana seraya berlari menuju suaminya yang terjatuh.


“Hati-hati Sayang, biarkan aku memapahmu.”


Bu Nana pun mencoba untuk memapah suaminya untuk berdiri, tetapi segera ditepis oleh Pak Lucias.


“Tidak apa-apa Sayang.  Pikiranku hanya belum jernih.  Sepertinya aku memimpikan masa lalu di hari di mana putra kita dilahirkan.”


“Mimpi seperti apa?”  Tanya Bu Nana penasaran.


“Mimpi apa lagi ya?  Tampaknya aku lupa.  Hehehehe.”  Pak Lucias yang lupa dengan detail mimpinya, kemudian menutupinya dengan tawa hangat kepada istrinya.


“Duh, Sayang!  Kamu harus lebih menjaga kesehatanmu.  Jangan terlalu memforsir tenagamu untuk pekerjaan.  Lihat aku.  Aku juga sibuk bekerja, tetapi tetap meluangkan waktu untuk keluarga dan juga istirahat.  Memangnya pekerjaan apa yang sedang kamu kerjakan sampai larut malam sampai-sampai kamu tidak sadar telah ketiduran?”


Bu Nana pun mengintip lembaran-lembaran kertas yang ada di meja suaminya itu.  Betapa kagetnya Bu Nana, ternyata isinya adalah hal-hal yang berkaitan dengan organisasi-organisasi spiritual, termasuk Trans dan Klan Kanzaki di Jepang.


“Sayang, ini?”


Pak Lucias pun mendekap kedua lututnya seraya menggigit-gigit bibirnya dengan ekspresi rumit di wajahnya.


“Aku tahu, kalau aku lemah.  Aku hanya pandai dalam pekerjaan menghasilkan uang sampai-sampai aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi putraku sendiri sehingga harus meminta tolong pada kakakku dan ayahmu.  Namun, setidaknya aku memiliki skill komunikasi yang baik dan keluarga yang kaya.  Pasti ada yang bisa kulakukan untuk membantu putraku.”


“Sayang, kamu ingin meminta tolong pada organisasi-organisasi spiritual tersebut?”


Pak Lucias tampak termenung sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan istrinya itu.


“Jujur, aku sangat takut Sayang.  Dari informasi yang diperoleh kakakku, tampaknya orang-orang Trans itu sebelumnya mengincar putra kita sebelum berbalik membunuh Lu Tianfeng.  Dari rumor yang beredar, sekali organisasi Trans itu mengunci target mereka, mereka tidak akan melepaskannya sampai mereka benar-benar membasminya.”


Pak Lucias semakin berekspresi rumit.  Dia menyatukan kedua telapak tangannya dan menaruhnya di bawah hidungnya, mirip dengan kebiasaan Kaiser ketika sedang mencoba untuk menahan kepanikannya.


Kita hanya dapat berharap bahwa mereka tidak menaruh perhatian mereka pada putra kita pascakejadian Lu Tianfeng itu.  Tetapi bagaimana, jika tidak?  Kita harus segera memikirkan solusinya.  Namun, pengetahuan kita tentang dunia itu terlalu sedikit.  Belum lagi fakta yang ditemukan bahwa pembunuh berantai itu ternyata dari Klan Kanzaki yang memiliki dendam pada ayahmu.  Belum jelas motifnya, tetapi bagaimana jika dia juga menargetkan putra kita?”


Pak Lucias seraya menunduk dan meneteskan air mata.

__ADS_1


“Aku takut kalau putra kita sampai kenapa-kenapa.  Mengapa nasib putra kita begitu malang sampai-sampai terlibat dengan orang-orang seperti mereka?  Kalau tahu begini, aku sama sekali takkan pernah menyekolahkan putra kita di SMP itu.  Kalau diingat-ingat, semuanya berawal karena putra kita mengenal mereka.  Juga, keponakan kita Danial menjadi tidak waras karena kesalahan mereka pula.”  Ujar Pak Lucias disertai air mata.


__ADS_2