DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
79. Kebaikan Tiba-Tiba Sang Ayah, Shinomiya Aizen


__ADS_3

Kala itu sepulang sekolah, Andika menemani Kaiser menunggu jemputannya Pak Salman.  Kaiser tak dapat lagi menggunakan transportasi umum seperti biasanya perihal wajahnya yang sudah cukup dikenal publik melalui banyaknya pemberitaan miring dirinya di media dan juga banyaknya bermunculan belakangan ini wartawan yang ingin mengekspos berita darinya.


“Hei, Kaiser.  Gadis kecil yang kemarin lucu juga ya.  Apa dia kerabatmu juga?”  Ujar Andika seraya tertawa riang.


“Bukan, dia anak yatim piatu, adik almarhum pegawai kami di rumah sakit yang meninggal akibat serangan penjahat beberapa waktu lalu di rumah sakit kami.”  Jawab Kaiser dengan sendu.


“Begitukah?  Aku sama sekali tidak menyadarinya, melihat betapa anak itu selalu tersenyum dengan tulusnya.”


“Dia memang anak yang baik.”


“Tentu saja dia anak yang baik sampai memanggilmu ‘kakak tampan’.”  Goda Andika pada Kaiser seraya tertawa nakal.


Kaiser seraya melirik kesal kepada Andika dan Andika pun segera menghentikan tawanya.


“Amanda masih punya kerabat kan untuk merawatnya?”  Tanya Andika sekali lagi.


“Tidak ada, Andika.”


Kaiser termenung sendu.  Diapun melanjutkan,


“Anak itu benar-benar malang.  Aku dapat saja terus membiayai biaya hidupnya, termasuk setelah dia sembuh.  Tetapi, tentu saja bagi anak seumurannya, keluarga yang hangat adalah hal yang paling dibutuhkannya.  Terus terang, aku masih terlalu muda untuk menempati posisi itu untuknya.  Aku berharap akan ada keluarga yang baik hati yang akan merawatnya layaknya keluarga sendiri.”


Andika melompat dari posisi jongkoknya di salah satu pembatas taman dari semen di mana dia menumpukan kakinya semula.  Dia berbalik lantas tersenyum ramah.


“Anak sebaik Amanda tentu saja akan memperoleh takdir yang baik pula.”  Ujar Andika yang tersenyum seraya menampakkan giginya.


“Oh ya, Kaiser, mengenai Senior Danial…”  Ujar Andika sekali lagi mencoba untuk bertanya seraya melirik Kaiser di belakang.


“Ah, tidak.  Bukan apa-apa.  Hehehehe.”  Namun, begitu melihat wajah cemberut Kaiser setelah mendengar ucapannya itu, Andika mengurungkan niatnya untuk bertanya dan malah tertawa ceria memperlihatkan giginya, tawa khas milik Andika.


Di suasana cerah itu, Agni tiba-tiba menghampiri Kaiser.  Melihat itu, Andika yang ada di sebelah Kaiser dan juga Airi yang mengawasi di belakang mereka, tampak tak dapat menahan rasa penasarannya.


“Maaf Tuan Muda, ada sesuatu yang segera membutuhkan perhatian Tuan Muda di rumah sakit.”  Ujar Agni.


Wajah Kaiser seketika tampak gelisah mendengar hal itu.  Andika dan Airi ikut pula merasakan was-was di belakang Kaiser.


Agni pun tersenyum.


“Bukan hal yang buruk kok, Tuan Muda.  Fasilitas perawatan dan penjagaan keamanan Dios telah ditambah menjadi lebih eksklusif.  Semua ini berkat kebaikan hati Tuan Besar Shinomiya Aizen.”


“Apa?  Otou-sama yang melakukannya?”  Airi pun menjadi heran dengan kebaikan tiba-tiba ayahnya itu.


***


Di ruangan bar VIP tempat Dirga seperti biasanya, Riandra dan Dirga mengadakan pertemuan.  Tampak Linda Sang Pelayan dengan busana setengah telanjangnya seperti biasanya menyajikan minuman dingin kepada mereka alih-alih alkohol yang disertai dengan cemilan ringan yang terbuat dari kacang-kacangan.

__ADS_1


Seusai menuangkan minuman, dia langsung mundur sejajar dengan Jey di belakang untuk bersama-sama stand by mendengarkan perintah majikan dan tamu VIP-nya yang selanjutnya.


“Hei, Dirga, tolong bantu keluargaku dong.”  Ujar Riandra memelas.


“Mengapa kamu tampak cemas begitu?  Bukankah masalah ekonomi keluargamu sudah teratasi?”


“Teratasi apanya!  Kami hanya berhasil meminjam dana dengan jaminan aset-aset perusahaan kami.  Kami nyaris hampir tidak selamat.  Bahkan, untuk menyewa bodyguardku, orang tuaku bahkan tak tega untuk mengeluarkan lebih receh mereka.  Lihat, bodyguardku hanya mereka bertiga ini.”


Ujar Riandra seraya menunjuk tiga orang berbadan besar di belakangnya yang tampak berpakaian layaknya preman jalanan dengan tampang yang menakutkan.


“Mereka bahkan bukan bodyguard profesional terlatih.  Hanya diambil ayahku saja dari jalanan.”


“Jangan-jangan, permintaan yang kamu maksud, kamu ingin memakai jasa bodyguard murid-murid padepokanku secara gratis?”  Tanya Dirga seraya mencondongkan badannya lebih dekat ke Riandra.


“Exactly!  Bisa tidak, Dirga?”


“Yah, kamu tahu kan?  Mereka semua sibuk.  Mereka selain sibuk berlatih ilmu beladiri, mereka juga harus bekerja sebagai karyawan di perusahaan King International & National Delivery kami.  Tidak hanya untuk pengiriman legal, tetapi kamu tentu tahu bahwa job utama mereka adalah melakukan pengiriman ilegal di dunia bawah kan?”


“Itu…”  Riandra tampak tak dapat menyangkalnya.


Dirga lantas tersenyum.  Dia berdiri kemudian menunduk mendekatkan bibirnya ke telinga Riandra.


“Tetapi, aku sih bisa-bisa saja membantumu.  Gratis pula.”  Ujar Dirga dengan senyum jahat di wajahnya.


“Benarkah?”


Dirga kembali berdiri meluruskan badannya.  Dia menaruh kedua tangannya pada kedua saku di celana pendek dengan bagian paha longgar yang dikenakannya lantas berjalan-jalan mengitari Riandra di belakang.


“Hmm.  Tapi tentu ada syaratnya.”


Mendengar hal itu, Riandra serta-merta berdiri lalu meraih kedua tangan Dirga dengan kedua tangannya.


“Katakan itu!  Apapun pasti akan kupenuhi!”  Ujar Riandra dengan penuh harapan.


“Apa?  Itu bukan hal yang sulit kok.  Aku tahu ibumu dekat dengan Pak Muhaimin Zidan, kakek Rihana.  Ibu dari ibumu, alias nenekmu, adalah senior di universitas yang kenal baik dengan Pak Muhaimin kan?  Ibumu bahkan masih sering bertegur sapa dengan Pak Muhaimin.  Minta ibumu meyakinkan Pak Muhaimin agar bersedia untuk menemui Pak Sudarmin.  Cukup sekali saja tidak mengapa.”


“Untuk apa?”  Tanya Riandra penasaran.


“Kamu tidak perlu tahu detailnya.  Selebihnya, biar Pak Sudarmin yang mengaturnya.”  Ujar Dirga dengan senyum sangat jahat di wajahnya.


“Baiklah aku mengerti.”  Jawab Riandra yang akhirnya mematuhi kesepakatan mereka.


“Oke, satu masalah selesai.  Kini satu masalah lagi.”


Dirga tersenyum jahat.

__ADS_1


“Sreeet!”


Dia secara tiba-tiba mencabut dagger yang tersembunyi di balik pakaiannya yang dia ikatkan di sabuk pinggangnya.  Dagger itu diarahkan tepat ke leher wanita setengah telanjang di belakangnya itu.


Wanita itu berhasil menghindar.  Namun, sekali lagi Dirga tidak segan-segan menebaskan daggernya ke kulit halus wanita itu sehingga membuat wanita itu terluka parah akibat goresan dalam di lengan kanan bagian atasnya.


Linda kemudian segera berlari menuju keluar ruangan dalam keadaan setengah telanjang yang memicu perhatian kerumunan di luar, terutama para playboy bejat.  Darahnya bercucuran di lantai yang dia lewatinya,  tetapi karena pengaruh pengunjung yang mabuk akibat alkohol dan ruangan yang kerlap-kerlip, khas diskotik, tidak ada yang tampaknya memperhatikan luka di lengan Linda tersebut.  Semuanya fokus pada bagian vital Linda saja yang sedikit lagi hampir terekspos.


“Marjono, kejar mata-mata itu!”   Perintah Dirga kepada Jey.


“Dengan senang hati, Tuan.”  Jawab pelayan itu.


Jey pun ikut berlari dalam keadaan hanya mengenakan boxer pendek keluar untuk mengejar Linda.


Linda berlari tertatih-tatih mencoba untuk lepas dari kejaran Jey, namun karena kehabisan cukup banyak darah, dia mulai pusing.  Larinya melambat.  Namun, di luar dugaan, ketika jarak mereka sudah cukup jauh dari bar itu, Jey tak lagi mengejarnya dan hanya menatap Linda menghilang dari kejauhan.


Sementara itu, di ruangan VIP bar.


“Hei, Dirga!  A..Apa kamu sudah gila?!”  Ujar Riandra sambil gemetaran.


“Kenapa?”


“Kamu baru saja melayangkan pisaumu dan melukai pegawaimu sendiri.”


“Memangnya kenapa?  Ini bukan sekali atau dua kali kita melanggar hukum kan?”


“Tapi…”


“Dia adalah mata-mata Arkias, Paman Kaiser sialan itu!  Dialah penyebab banyaknya informasi kita yang terekspos selama ini.  Huh, dia betul-betul berhasil memukul kita!  Aku lengah!”  Ujar Dirga seraya tersenyum, tetapi menunjukkan ekspresi kejam di matanya.  Matanya pun mengeluarkan sinar biru cerah yang tampak seperti iblis.


***


Pak Arkias yang hampir terlelap di kamarnya bersama istrinya Bu Dwinda, tiba-tiba dikagetkan oleh telepon mendadak asistennya, Pak Astra.


“Ada apa malam-malam begini?”  Ujar Pak Arkias menahan kantuknya dengan kesal.


“Gawat, Tuan!  Mata-mata yang kita tempatkan untuk mengawasi anak-anak kelompok Araka telah ketahuan!”


“Kok bisa?!”


“Dia terluka parah Tuan.  Jika tidak segera ditangani, wanita itu bisa meninggal.”


“Ya sudah, amankan dulu dia di rumah sakit lalu lakukan tindakan yang diperlukan selanjutnya.  Pastikan dia selamat ke luar negeri tanpa diketahui siapapun.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


Dengan instruksi Pak Arkias, Linda pun dibawa ke rumah sakit Dewantara Group.  Karena tindakan yang cepat dan tepat, nyawanya berhasil diselamatkan.   Setelah seminggu kemudian, Linda pun berhasil menyusup ke luar negeri dengan selamat.


__ADS_2