
“Kak Jey, sekarang kamu paham kan, kalau orang yang kamu lindungi itu tidak kalah bejatnya dengan para korbanmu!” Teriak Dios mengintimidasi kepada Jey.
Sama seperti Araka, keterlambatan pertemuan mereka dengan Kaiser seperti di pandangan prekognitif Dios, membuat masa depan Andika berubah.
Untuk Araka, Araka yang tidak pernah bertemu dengan Kaiser di masa kelas 4 menjelang 5 SD-nya, tumbuh menjadi anak yang tak jauh beda sifatnya dengan Dirga. Pemarah, angkuh, kasar, serta tidak pernah peduli terhadap orang lain. Namun pada akhirnya, dia tetap bertemu dengan Silva dan membentuk geng mereka yang sekarang itu lantaran Pak Sudarmin yang menjalin hubungan baik dengan Lu Tianfeng.
Sementara untuk Andika, dia yang tak pernah bertemu dengan Kaiser di masa-masa labilnya di SMP, tumbuh menjadi anak yang pembangkang lantaran tekanan didikan dari ayahnya yang sebenarnya hal itu dilakukan oleh ayahnya perihal rasa sayangnya kepada anaknya tersebut. Akan tetapi, didikan yang dinilai terlalu keras oleh Andika itu, justru menjadi bilah pedang bermata dua yang justru merusak mental Andika.
Pertemuan 4 tahun lebih cepat terhadap sosok Kaiser bagi Andika di masa-masa SMP-nya itu benar-benar mengubah cara pandang Andika terhadap dunia dan benar-benar mentransformasinya menjadi anak yang baik.
Andika dengan cepat berteman baik dengan Kaiser yang pada akhirnya menghambat rencana Dios karena Dios jadi tak dapat menyentuhnya lantaran dilindungi oleh Chain of Command milik Kaiser.
Hal itulah yang akhirnya menjadi pemicu utama Dios dalam menyusun rencana gilanya dengan mengorbankan dirinya sendiri. Tetapi pada akhirnya, rencana itu pula gagal lantaran Mind Control miliknya tak mampu seratus persen mengontrol pikiran Jey untuk menjadikan Andika sebagai korban terakhirnya.
Rencana awalnya, Dios dengan Mind Control-nya, mencoba memicu amarah Jey kepada Kaiser untuk kemudian Jey membuat rasa sakit kepada Kaiser dengan membunuh teman terdekatnya saat ini yang tidak lain adalah Andika. Entah apa sebabnya, Mind Control tersebut teralihkan dari ‘mengorbankan Andika’ menjadi ‘mengorbankan Danial’.
“Kamu sendiri ada di sana, tetapi mengapa kamu tidak menyelamatkannya?!” Jey balik berteriak marah kepada Dios.
“Apa boleh buat. Jika aku terlibat, hal itu malah akan semakin menyulitkan Tuan Muda. Kamu tahu, anak keluarga cabang tidak segitu friendly-nya kepada kami anak pewaris. Jika mereka tahu aku memperlakukan Tuan Muda dengan baik, nyawa Tuan Muda bisa dalam bahaya. Dia bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk menjatuhkanku.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kamu bunuh saja mereka dengan kemampuanmu itu?!”
“Hahahahaha. Sungguh mudah memang bagi seorang pembunuh untuk mengatakan hal demikian. Tapi kamu tahu, Kak Jey, bagiku yang hidup di antara orang-orang biasa, melakukan pembunuhan atau menyewa pembunuh bayaran adalah sesuatu yang sangat menakutkan buatku. Lagipula, ada hati nuraniku yang menghalangiku.”
__ADS_1
“Lantas mengapa kamu ingin membunuh Andika sekarang?”
“Apa boleh buat. Soalnya hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Tuan Muda dan kedamaian dunia saat ini, paling tidak untuk 200 tahun lagi. Jika Andika dibiarkan hidup, benih iblis yang bersembunyi di dirinya akan segera kabur begitu kekuatannya pulih lantas mencari pemilik kunci dan delapan kunci baru yang akan membuatku harus memulai investigasi dari awal lagi.”
Ritual pembangkitan jenderal iblis keempat alias yang terakhir dilakukan dengan jalan perasukan benih iblis ke tubuh pemilik kunci lantaran menandai delapan kunci sebagai cadangan tubuhnya jika sewaktu-waktu terjadi apa-apa pada tubuh sang pemilik kunci. Sekali telah memilih pemilik kunci dan delapan kuncinya, sang benih iblis tak lagi dapat memilih tubuh lain sampai jangka waktu tertentu pulihnya kembali kekuatannya.
Jika Andika dibunuh sekarang di tempat ini, sang benih iblis akan lenyap dari dunia dan butuh 200 tahun lagi untuk lahirnya benih iblis baru. Dengan kata lain, dunia dapat terhindar dari bencana yang akan disebabkan oleh raja iblis paling tidak selama 200 tahun ke depan dengan kematian Andika.
“Satu pertanyaan sebelum itu. Jika kamu sehebat ini, mengapa kamu bisa dibuat koma oleh Tirta.” Tanya Jey seraya menatap serius ke arah ekspresi mata Dios dalam tubuh Loki tersebut.
“Hahahahaha. Waktu itu aku sama sekali tidak menduga kalau dia akan terbangkitkan sehingga aku dengan bodohnya menerima mentah serangannya. Ketika aku menyadarinya, semua telah terlambat. Yah, walaupun aku yakin itu semua juga pengaruh dari Chain of Command milik Tuan Muda sih.”
Dios terdiam sejenak sebelum dia melanjutkan.
“Padahal rencana awal, aku hanya akan pura-pura koma saja dengan memanfaatkan kemampuan lainku, freeze. Aku akan membekukan kesadaranku sehingga tampak benar-benar dalam kondisi koma. Siapa yang menyangka bahwa tubuhku benar-benar akan jadi koma. Kemampuan Tuan Muda itu memang bukan main-main. Kemampuannya bisa mendeteksi niat jahatku pada Andika di saat kupikir telah merencanakannya dengan matang.”
“Sudah cukup ceritanya. Sekarang, bisa kamu minggir, Kak Jey, agar aku bisa segera menghabisi anak itu.”
Namun Jey memposisikan katana pendeknya tepat di depan dadanya dengan siaga. Tampaknya, dia telah menentukan pilihannya.
“Oh, kamu memutuskan untuk melawanku?” Ujar Dios dengan pandangan menghina.
“Tentu saja. Karena kematian anak ini pasti akan membuat Kaiser sedih.” Ujar Jey membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Jey lantas menatap Dios dengan ekspresi ragu seraya mengatakan, “Kamu sendiri tidak apa-apa? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau anak ini dilindungi oleh kekuatan misterius Kaiser itu?”
“Ya, tentu saja aku tidak akan apa-apa. Tapi aku sedikit merasa bersalah pada tubuh orang yang bernama Loki ini.” Ujar Dios dengan datar atas pertanyaan Jey tersebut.
“Rupanya sifatmu sampah, tak jauh beda denganku.”
Seraya Jey mengatakan hal tersebut, dimulailah adu pedang antara Jey dan Dios. Karena keberadaan Andika yang kekuatan pasifnya masih aktif itu, baik Jey dan Dios tak mampu mengaktifkan kekuatan spiritualnya sehingga mereka bertarung murni dengan adu pedang.
“Slash! Clang! Clang!” Suara pedang beradu sesaat menjadi irama pengantar maut yang menyeramkan di lantai teratas menara yang sunyi itu.
Namun dalam sesaat, pemenang pertarungan tersebut tampaknya sudah dapat ditentukan akibat perbedaan kekuatan yang terlalu signifikan.
Kemampuan berpedang Dios dalam tubuh Loki jauh lebih hebat daripada Jey. Hal ini adalah hasil yang wajar karena sejak awal pertarungan tersebut tidak adil. Jey bertarung dengan tubuh fisiknya sendiri sehingga gerakannya dibatasi oleh rasa sakit.
Lain halnya dengan Dios. Dia memanfaatkan tubuh Loki atau dengan kata lain mengendalikannya layaknya boneka. Tak ada rasa sakit sedikit pun yang menghalangi pergerakannya karena semua rasa sakit itu tersalurkan pada Loki yang saat ini kehilangan kendali tubuhnya tersebut.
Selang beberapa saat pertarungan, Dios pun mengarahkan tendangannya kepada Jey yang telah tampak tak berdaya dan membuatnya terhempas terjun bebas dari atas menara.
Sekuat apapun seorang spiritualis, dengan tersegelnya kekuatannya oleh Andika, Jey pun sekarat akibat jatuh dari ketinggian tersebut.
“Sekarang hanya tinggal kita berdua. Kini sudah saatnya aku menghabisimu, Andika.” Ujar Dios kepada Andika dengan pandangan yang sangat menghina.
Tampak Andika tak berkata-kata apa lagi lantaran masih shok dengan pandangan prekognitif Dios yang baru saja disaksikannya. Suatu masa depan lain di mana dia menjadi orang yang sangat bejat. Dia hanya terlihat pasrah menunggu eksekusi Dios tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Dios hendak melayangkan pedangnya kepada Andika,
“Tolong hentikan semua ini, Dios!” Dalam keadaan lemah, Kaiser yang telah kembali ke kesadarannya, menghentikan tangan Dios.