DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
48. Resolusi


__ADS_3

“Siapa Nak?  Kamu kenal dengan abangnya?”  Tanya Bu Nana yang penasaran dengan anaknya yang tempak kenal dengan penjaja gulali itu.


“Oh, saya teman SD Kaiser Bu.”  Melihat Kaiser diam dengan ekspresi sayu di wajahnya, Sang Abang berinisiatif untuk menjawab pertanyaan Bu Nana tersebut.


Sang Ayah dan Ibu kemudian tampak memperhatikan Sang Abang dengan seksama.  Sang Abang pun membuka topi bundar yang hampir menutupi bagian atas kepalanya.  Barulah tampak dengan jelas wajah belia itu di hadapan Sang Ayah dan Ibu.


“Wah, maaf Nak karena sudah salah menebak usiamu.  Kamu rupanya masih muda.  Tante pikir kamu sudah usia hampir 30-an dengan topi itu.”  Ucap Bu Nana seraya tersenyum ramah pada Halim, penjaja gulali itu.


Halim tampak malu-malu membalas senyum Bu Nana yang cantik yang walaupun sudah menginjak umur 40-an, kulitnya tampak tetap bugar layaknya usia remaja.


Kaiser dengan sentimental tiba-tiba melayangkan tubuhnya dan memeluk Halim.


“Syukurlah.  Syukurlah kamu baik-baik saja Halim.”


“Kaiser?  Ada apa tiba-tiba?”  Ujar Halim yang kebingungan dengan sikap Kaiser itu.


Kaiser terisak.  Air mata jatuh ke pipinya dan ikut membasahi pundak Halim.  Halim lantas menepuk-nepuk pundak Kaiser untuk menenangkannya.


“Kaiser ada apa Nak?”  Ucap Sang Ibu khawatir seraya Bu Nana dan Pak Lucias ikut membelai tubuh bagian belakang putranya.


“Aku.  Aku sangat khawatir mendengar beritamu yang tiba-tiba berhenti sekolah setelah keluargamu bangkrut.  Dan kamu.  Kamu dikejar rentenir.  Di film-film, banyak orang yang seperti itu lantas dibunuh untuk dijual organ-organnya di pasar gelap.”  Ujar Kaiser dengan terisak sambil tetap memeluk Halim.


“Aku tak menyangka kamu begitu khawatir sama aku Kaiser.  Maaf tidak segera mengabari anak-anak begitu kondisiku membaik.”  Ujar Halim.


Halim lantas melepaskan pelukan Kaiser dengan hati-hati seraya tersenyum hangat kepadanya.


“Setelah kejadian itu, aku tinggal di rumah kakekku di kampung ini.  Kebetulan pula setelah kejadian itu, ketiga pamanku masing-masing diterima bekerja di luar negeri secara bersamaan di perusahaan mereka bekerja sekarang.  Mereka semua diterima di perusahaan-perusahaan yang cukup besar lho.  Ketiga pamanku kemudian mengumpulkan uang dan melunasi utang-utang ayahku.  Kini aku tidak lagi dikejar penagih utang.”

__ADS_1


“Lantas kenapa kamu bekerja seperti ini?”


“Wah, tampaknya kamu terlalu meremehkanku.  Aku seorang wirasswasta yang menjual gulali.  Penghasilanku bisa mencapai 200 ribu perhari lho, satu bulan 6 juta.  Hehehehe.”


“Di mana kamu berjualan di hari lain?  Bukankah pasar malam hanya buka di hari minggu?”


“Tentu saja aku menjajakannya keliling kampung.”  Ucap Halim yang tampak berusaha keras menyombongkan dirinya, tetapi tidak dapat menyembunyikan sikap malu-malunya itu.


Dia kemudian melanjutkan, “Yah, walaupun aku bekerja di malam hari seperti ini.  Aku tetap bersekolah di pagi harinya.  Aku belum memupuskan impianku untuk menjadi pengusaha yang lebih sukses di masa depan.”  Ucap Halim sambil tersenyum cerah.


“Syukurlah, dan juga Maaf, Halim.  Bisa saja apa yang menimpamu ini karena perbuatanku.”  Ucap Kaiser secara tiba-tiba sambil tertunduk gemetar.


“Kaiser, sebenarnya apa yang kamu maksudkan?”  Halim yang kebingungan pun bertanya.  Tampak di belakang mereka Bu Nana dan Pak Lucias juga ikut khawatir.


“Sebelum kejadian yang menimpamu, aku sempat mengatakan hal yang tidak pantas itu.  Mungkin sebabnya hal itu terjadi.”  Kaiser tampak tak dapat menyembunyikan rasa bersalahnya dan gemetaran.


“Apa yang kamu katakan?  Aku bisa paham bahwa kamu mengatakan hal seperti itu dulu karena sikapku yang juga keterlaluan.  Lantas mengapa jika kamu ucapkan?  Apa karena itu kamu merasa bersalah?  Kaiser, kamu terlalu banyak berpikir.  Kadang seseorang tidak dapat menahan emosinya dan itu hal yang wajar.”  Ucap Halim seraya melayangkan tatapan yang seolah mengatakan ‘apa yang dipikirkan orang ini?’.


“Jadi, tidak usah dipikirkan lagi.  Lagipula jika hal ini memang disebabkan oleh ucapanmu yang akhirnya menjadikannya doa dan diijabah Yang Maha Kuasa, yang salah itu murni aku karena perbuatan jahatku pada Dios dulu.  Kamu tidak salah apa-apa.  Aku sama sekali tidak menaruh dendam padamu.”  Ucap Halim dengan menekankan setiap perkataannya dengan emosi yang dinamik di wajahnya.


Halim pun kembali melanjutkan ucapannya dengan senyum hangat di wajahnya.  “Justru sebaliknya, aku sangat menyayangimu wahai temanku yang berharga.”


Mendengar ucapan Halim di bagian terakhir itu, Kaiser tak mampu membendung emosinya.  Kaiser mengeluarkan air mata.  Kali ini air mata kebahagiaan.  Bola matanya bersinar biru bak berlian.  Perasaan bersalah yang selama ini ditumpuknya sedikit mereda dengan ucapan Halim tersebut.  Bu Nana dan Pak Lucias yang di belakang mereka pun ikut bergabung dalam suasana mengharu-biru itu dengan membelai rambut putranya yang halus bak sutra.


Kaiser mengusap air matanya.  Dia kemudian tersenyum seraya menatap Halim.


“Yosh!  Sebagai perayaan, Halim, aku pesan semua gulalimu hari ini.”  Kaiser pun berucap seraya tersenyum.

__ADS_1


Dia lalu menatap ketiga anak yang sedari tadi berdiri di belakang mereka.


“Anak-anak, kalian boleh panggil teman-teman kalian untuk menikmati gulali dari Kak Halim ini.  Kakak yang traktir.  Boleh begitu kan, Bu, Yah?”  Kaiser seraya menatap ayah dan ibunya dengan ekspresi memelas.


“Tentu saja anakku.”  Ucap Bu Nana disertai dengan senyuman kedua orang tua Kaiser dengan penuh kehangatan.


“Yaaay!”  Anak-anak pun bersorak gembira.


Halim pun turut memperhatikan keharmonisan itu dengan senyum cerah di wajahnya.


Setelah cukup lama bersenda-gurau di tempat itu, Halim pun berpamitan pulang berhubung barang dagangannya sudah habis dan dia hendak segera mengerjakan PR untuk menyambut sekolahnya esok hari.


“Duh, kaki Ibu sakit Nak, kita juga pulang yuk.”  Bu Nana yang keletihan lantas mengajak rombongannya untuk ikut balik.


“Ibu?  Ibu baik-baik saja?”  Ucap Kaiser khawatir seraya memeriksa kaki ibunya.


“Duh, Bu.  Lagian kenapa ke pasar malam, Ibu tetap pakai high heels?  Ukuran sepatunya juga lebih kecil dari ukuran kaki Ibu yang sebenarnya.  Pantas saja bia lecet begini”  Ujar Kaiser seraya menghembukan nafas heran.


“Kaiser.  U-ku-ran ka-ki I-bu me-mang se-per-ti i-ni!”  Bu Nana yang dikomentari ukuran sepatunya oleh putranya sendiri tampak marah dan secara sengaja menekankan setiap konsonan di kata-katanya.


“Maaf Bu, Kaiser salah.”  Kaiser hanya tertawa kecut seraya meminta maaf melihat ibunya yang berekspresi seperti itu.


“Ayah, yuk antar Ibu ke rumah saja sekarang bareng anak-anak.”  Ucap Kaiser kepada ayahnya.


“Tentu saja.  Lho, Kaiser?  Kamu tidak ikut?”  Melihat putranya yang kelihatannya berjalan di arah yang berlawan, Pak Lucias pun bertanya.


“Hahahaha.  Kaiser masih ingin sedikit menikmati hawa pasar malam Yah.  Tenang saja.  Kaiser akan balik sebelum pukul 11 malam.  Kalau ada apa-apa, Ayah bisa menghubungiku lewat nomorku.  Kebetulan Kaiser bawa HP ke sini.”  Jawab Kaiser sambil tertawa seraya menunjukkan smartphonenya itu dengan posisi belakang smartphone menghadap ke ayahnya.

__ADS_1


Ayah dan Ibu Kaiser yang awalnya enggan untuk meninggalkan putranya seorang diri, memutuskan untuk menyerah karena tak ingin meredupkan kesenangan putranya yang dengan susah payah diperolehnya kembali itu.  Kaiser pun akhirnya memisahkan diri dari rombongan ayahnya yang kembali ke rumah.


Dia lantas menatap smartphonenya yang sebenarnya sedari tadi memiliki panggilan masuk tanpa diketahui ayah dan ibunya karena posisi smartphone yang disilent.  Panggilan yang masuk bertuliskan ‘Senior SMP_001_Araka’.


__ADS_2