DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
125. Dia Adalah Kapten Maya


__ADS_3

“Kakak berbicara seolah-olah para kultivator seperti mereka, bukan manusia lagi.  Kaiser harap Kakak tidak akan memperlakukan mereka berbeda hanya karena memiliki sedikit keunikan dibandingkan yang lain.”  Seraya mengatakan itu, Kaiser menatap dengan serius sosok wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


Mendengar ucapan Kaiser, wanita cantik di hadapannya itu terdiam sejenak sembari menatap wajah lugu Kaiser.  Dia merauk-rauk gagang kacamata hitamnya yang dia selipkan di kerah bajunya itu dengan ekspresi rumit di wajahnya.


“Selamat pagi, Senior!”  Sapaan Dono dan Bianca-lah kepada wanita cantik itu seraya membungkukkan badan yang justru memecah keheningan.


Sesaat kemudian, barulah wanita cantik itu mulai bersuara kembali tanpa menyapa balik kedua juniornya tersebut.


“Dik Kaiser, tak kusangka kamu naif juga rupanya ya?  Sangat berbeda dengan citramu di publik.  Kakak tidak bilang itu sesuatu yang salah, tetapi…”


Wanita cantik itu lantas menundukkan badannya dengan anggun sehingga wajahnya hampir serendah posisi wajah Kaiser.  Dia melanjutkan ucapannya itu.


“Kalau kau begini terus, kau bisa-bisa dimanfaatkan oleh para schemer bejat itu lho dan berakhir dalam penyesalan dan kesengsaraan selamanya.”  Lirih wanita itu dengan nada yang dingin nan mencekam.  Dia sangat serius mengatakan hal tersebut.


Namun, sebelum Kaiser sempat berkata-kata lagi, Agni terlebih dahulu datang dan segera menyadarkan tuan mudanya itu.


“Tuan Muda!  Maafkan menyela pembicaraan Anda.  Tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu.  Kita harus segera merawat korban yang terluka akibat kejadian ini.  Masih banyak dari mereka yang seharusnya bisa diselamatkan.”


Dia sejenak lupa bahwa tempat itu tak lagi layaknya sekolah, melainkan tidak ubahnya seperti medan perang.  Diapun lantas berdiri bersama Andika kemudian menoleh kembali ke belakang.  Dia akhirnya tersadar ketika menyaksikan pemandangan jauh ke sana di dekat gerbang sekolahnya.


Puluhan mayat berserakan, pandangan orang menangis di mana-mana, entah menangis akibat luka-luka di badan mereka sendiri, ataukah karena rasa sedih melihat rekan-rekan mereka yang lain terluka parah dan bahkan meregang nyawa.  Di antaranya, ada pula isak tangis bersyukur karena selamat dari pembantaian berdarah itu.


“Tenang saja Tuan Muda.  Aku telah memanggil ambulans dan sebentar lagi akan tiba.  Untuk sementara, biarkan mereka, personel klub palang merah sekolah beserta para suster UKS untuk merawat mereka sampai ambulans tersebut tiba.”  Ujar Agni seraya tersenyum kepada Kaiser sembari memberikan aba-aba kepada rombongan yang dia bawa untuk segera bergerak sesuai dengan instruksi tersebut.


Kaiser sekali lagi menatap pemandangan itu.  Dia mengeluarkan air matanya.  Betapa sedihnya hati pemuda itu lantaran segala hal yang terjadi tersebut akibat rangkaian ulah pembalasan dendam Tirta pada dirinya.


“Yang wafat ditangisi sementara yang hidup harus saling bahu-membahu, berusaha tetap hidup.  Suasana ini tidak ada bedanya lagi dengan medan perang.  Siapa yang bisa membayangkan kalau pemandangan seperti ini, diciptakan oleh satu makhluk saja.  Apakah bagimu makhluk itu masih sama dengan manusia?”  Ujar wanita cantik itu seraya berdiri di samping Kaiser yang dengan air mata menyaksikan pemandangan yang tragis tersebut.


Namun, Kaiser kembali berusaha tegar.


“Seseorang jahat karena perbuatannya, bukan karena bagaimana mereka dilahirkan.  Setidaknya, aku kenal seorang kultivator yang baik hatinya nan lembut sikapnya.”  Ujarnya disertai dengan senyum sendu sembari membayangkan wajah Airi.


Wanita cantik itu lantas menoleh untuk melihat dengan jelas ekspresi seperti apa yang ditunjukkan oleh pemuda naif itu.


“Yah, memiliki seorang dengan sifat seperti itu tidak buruk juga.  Selama ada orang yang tepat bersamanya untuk melengkapi kenaifannya tersebut.”  Ucap wanita cantik itu seraya menatap Agni.


Dia lalu kembali menatap Kaiser.

__ADS_1


“Oh ya Dik Kaiser, kamu bisa memanggilku dengan panggilan Kak Maya.”


“Kakak apanya.  Usianya sudah menjelang 37.”  Seketika Dono bergumam dengan suara yang cukup untuk membuat orang di sekelilingnya mendengar apa yang dia katakan seakan sengaja menyindir wanita cantik bernama Maya itu.


“Kamu bilang sesuatu, Denias Oddreiviano?”  Ucap Maya seraya memandang sinis ke arah Dono.


“Hentikan itu Senior.  Senior kan tahu aku tidak suka dipanggil dengan nama aneh kebarat-baratan seperti itu.  Aku orang Indonesia, panggil saja aku dengan sebutan Dono.”


“Ck, ck, ck.”  Maya pun mendecakkan lidahnya seraya menatap bolak-balik antara Dono dan Bianca.


“Rupanya, benar gosip-gosip itu.  Kalian memang sangat bertolak belakang dalam artian yang aneh ya.  Satunya bernama kebaratan, tetapi ingin dipanggil dengan nama kedaerahan.  Satunya malah sebaliknya, sudah punya nama kedaerahan yang bagus, malah mau dipanggil dengan sebutan kebarat-baratan.  Bukan begitu, Sabina Loka?”


“Bukan seperti itu Senior!”  Mendengar ucapan Maya, Bianca tak dapat menahan rasa malunya lantas berteriak.


“Aku hanya tidak suka dipanggil dengan nama yang sama dengan kebun binatang.  Mentang-mentang, ibuku sangat suka dengan tempat itu, aku sampai-sampai dinamainya dengan nama kebun binatang itu.”  Lirih Bianca pelan.


“Yah, apapun itu.  Karena urusanku di sini sudah beres, aku balik dulu.  Sampai jumpa lagi, Dik Kaiser.”  Ujar Maya seraya menoleh ke arah Kaiser lantas tersenyum kepada pemuda itu.


“Kalian di sana, cepat bawa pembunuh berantai itu ke markas!”  Perintah sang Kapten Maya kepada anak buahnya.


“Wah, benda ini?  Bukankah ini benda spiritual?  Siapa yang membawanya ke sini?”  Kapten Maya pun terkaget begitu mendapati borgol aneh yang digunakan Wilda kepada Tirta barusan.


Kaiser pun mengambil inisiatif.


“Oh, ini alat dari bodyguardku yang seorang kultivator, Kak Maya.  Dia meminjamkannya kepadaku sebagai perlindungan.  Berkat itu, aku dapat selamat.”  Keluarlah kebohongan dari mulut pemuda naif itu.


“Oh begitukah? Ini, tangkap!”  Ujarnya seraya melepaskan borgol itu lalu mengoporkannya kepada Kaiser.


Kapten Maya lantas mengeluarkan semacam cambuk aneh yang dengan cepat memanjang secara tidak wajar lalu menjerat di sekeliling tubuh Tirta hingga bagian hidungnya saja yang kini nampak.


Melihat pemandangan itu, Wilda terheran karena baru mengetahui bahwa ada juga orang biasa yang ternyata mampu menggunakan benda yang dimodifikasi oleh energi spiritual.


Setelah mengamankan Tirta, Kapten Maya pun segera hendak beranjak pergi, tetapi Dono mencegatnya.


“Apa yang Senior lakukan?!  Kasus ini milik tim kami sehingga kamilah yang seharusnya membawa kaki tangan pembunuh berantai itu!”


Kapten Maya pun menghela nafas.  Beberapa detik kemudian, diapun kembali berujar.

__ADS_1


“Kalau mau protes, silakan melapor ke kantor pusat.”


“Apa maksud Senior?”  Ujar Dono dengan was-was sembari menatap Kapten Maya, penasaran terhadap maksud ucapannya itu.


“Segala kasus yang terkait dengan pembunuh berantai joker hitam telah dialihkan kepada divisi penanganan bencana tidak wajar.  Tentu saja sebagai perintis kasus ini, divisi kalian masih diserahkan tanggung jawab untuk mengawal kami dalam mengumpulkan informasi terkait kasus ini.  Eh, tunggu.  Apa yang barusan kamu bilang, Denias?”


“Sudah kubilang, panggil aku Dono, Senior.”


“…”


“Ah, ya sudahlah.  Kasus ini milik tim kami sehingga kamilah yang seharusnya menanganinya.”


“Bukan itu.  Setelah itu, rasanya kamu mengatakan sesuatu lagi.”  Kapten Maya pun semakin menatap Dono dengan penasaran.


Di saat itulah, Kaiser masuk di tengah obrolan mereka.


“Tirta hanya-lah kaki tangan pembunuh berantai joker hitam.  Dia bukanlah sang joker hitam.”


Mendengar ucapan Kaiser itu, mata Kapten Maya lantas terbelalak.


“Apa maksudmu, Dik Kaiser?”


Tetapi Dono-lah yang menyambung ucapan itu dengan helaan nafas.


“Hah.  Padahal ini rahasia tim kami.  Tapi karena ini Kapten Maya…”


Dono lantas mendorong Kapten Maya dan Kaiser sedikit menjauh dari kerumunan.


“Kemungkinan pembunuh berantai itu adalah orang dari klan Kanzaki yang dibawa oleh Tirta dan Jingmi dari Jepang.”  Bisik Dono kepada mereka berdua.


“Tidak, menurutku bukan dia.  Aku sebenarnya kurang yakin, terlebih Kak Bianca sudah pernah menyelidikinya dan mendapati orang itu punya alibi dan memiliki ciri fisik yang berbeda dengan sang joker hitam.  Aku juga baru pernah menemuinya sekali sewaktu dia datang ke sekolahku menemui salah satu temanku.”  Kaiser langsung membantah ucapan Dono itu dengan analisisnya.


“Siapa orang itu?”  Kapten Maya pun semakin tidak dapat menahan rasa penasarannya.


“Aku yakin karena auranya sama persis dengan aura sang joker hitam yang sempat berduel denganku di vila Senior Araka.  Tetapi bisa saja ini salah pahamku karena aku bertemu dengannya bertepatan sebelum aku bertemu sang joker hitam yang sama-sama tidak biasa sehingga bisa saja muncul efek persepsi.”


“Sudah!  Katakan saja siapa yang Dik Kaiser maksud!”  Kapten Maya akhirnya kelepasan karena ketidaksabarannya itu.  Teriakan sesaatnya, menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka.

__ADS_1


“Marjono.”  Jawab Kaiser singkat.


__ADS_2