
Pak Suwirno dan putranya Andika akhirnya meninggalkan ruangan itu. Wajah Andika terlihat masam. Mukanya dia tundukkan. Melihat itu, Pak Suwirno mendekap kepala putranya dengan lembut.
Andika kemudian melewati ruangan di mana Kaiser dan ayah-ibunya berada. Andika hanya menatap Kaiser yang tampaknya tidak menyadari keadaan di luar di balik kaca tembus pandang searah pada pintu. Dia pun bersama ayahnya berlalu meninggalkan kantor polisi.
Dari luar kantor, tampak Pak Sudarmin, Araka, beserta beberapa bodyguard Pak Sudarmin menuju ke dalam kantor polisi sehingga berpapasan dengan Pak Suwirno dan putranya.
Pak Sudarmin menatap Pak Suwirno. Pak Suwirno pun balas menatap Pak Sudarmin.
“Oh ada apa ini? Apakah Putra yang Anda banggakan akhirnya terjerumus ke pergaulan yang salah sampai-sampai harus ke kantor polisi?”
Pak Sudarmin memulai percakapannya dengan berusaha memprovokasi Pak Suwirno. Pak Suwirno tidak mau kalah lantas membalas provokasi tersebut.
“Anakku di sini hanya memberikan kesaksian saja untuk membantu penyelidikan polisi sebagai bentuk kecintaannya pada negara. Anakku pandai dalam memilih teman-temannya."
Pak Suwirno kemudian menatap Pak Sudarmin dengan pandangan mata yg seolah merendahkan. Pak Suwirno melanjutkan,
"Setidaknya, dia tidak akan bergaul dengan orang yang suka mabuk-mabukan dan melampiaskan nafsu birahinya di mana saja. Oh iya, kudengar Silva baru saja berhasil menggait anak penguasa dunia bawah sebagai pacar ketujuhnya. Selamat Pak Sudarmin! Anak Anda memang hebat!”
“Kau…!”
Pak Sudarmin hampir tidak bisa menahan amarah karena provokasi Pak Suwirno. Dia pun lantas membentak Pak Suwirno,
__ADS_1
“Padahal sewaktu perusahaanmu hampir bangkrut karena krisis moneter negara, kamu meminta pertolongan pada ayahku. Tampaknya sekarang kamu lupa berkat siapa perusahaanmu bisa bertahan?!”
“Perusahaanku bisa bertahan tentu saja karena kerja kerasku dan para pegawai yang tidak pernah menyerah menghadapi sulitnya tantangan pergantian era. Aku juga tentu saja sangat menghormati Pak Soecipto, ayahmu. Beliau adalah panutanku yang tak tergantikan. Makanya melihat putranya seperti ini. Ck ck ck!”
Pak Suwirno lantas mendecakkan lidahnya, menunjukkan pandangan merendahkan pada Pak Sudarmin.
“Kau!” Pak Sudarmin semakin tidak bisa menahan amarahnya.
Sebelum amarah Pak Sudarmin meledak, Pak Suwirno menambahkan, “Aku sangat prihatin melihat Beliau yang kubanggakan memiliki anak seorang antek-antek mafia Cina."
“Kau…!!! Apa kamu tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu kalau Dewantara Group juga bekerja sama dengan pihak Jepang di dunia bawah!” Teriak Pak Sudarmin marah.
“Setidaknya mereka menjalin hubungan yang setara. Tidak seperti seseorang yang merendahkan dirinya dengan menjadi babu.” Ujar Pak Suwirno seraya menatap lurus Pak Sudarmin.
“Hah… Bukan itu yang kumaksud. Hanya saja melihatmu, sangat menyedihkan bagiku. Kau mencoba menginjak-injak pengusaha-pengusaha lemah di Indonesia, tetapi malah menjilat-jilati kaki para mafia Cina di dunia bawah. Menurutmu, bagaimana negala lain bisa memandang kita dengan hormat jika cara seperti itu selalu diterapkan dalam dunia usaha? Setidaknya punyalah harga diri sedikit.”
“Kau!” Kali ini nada bentakan Pak Sudarmin sedikit menurun. Dia kurang lebih mencerna perkataan Pak Suwirno.
“Dan juga mengenai Kaiser dan keluarganya. Mengapa kamu sangat membenci mereka? Dari dulu kamu sangat berlebihan jika menyangkut Lucias dan keluarganya. Satu hal, Kaiser adalah anak yang baik. Kasus yang menimpa kalian tidak akan ada hubungannya dengan Kaiser dan keluarganya. Jadi, hentikan pikiranmu yang tidak perlu.”
“Kau... Kau berbicara seakan mengenal keluarga Dewantara dengan baik. Padahal kalian mulai berinteraksi ketika Kaiser dan Andika berteman. Bukannya kau yang terlalu sembrono dalam mempercayai orang? Siapa yang tahu bahwa di balik sikap anak Lucias yang sempurna itu, tersembunyi kebusukan yang amat dalam.” Ujar Pak Sudarmin sambil menatap wajah Pak Suwirno dengan serius.
__ADS_1
“Sudahlah, tampaknya tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Ayo Nak!” Seraya mengatakan itu, Pak Suwirno bersama anaknya pergi dari tempat itu.
Araka yang sedari tadi ada di dekat Pak Sudarmin menatap intens pada Andika. Entah karena insting atau kebetulan, seakan merasakan tatapan itu, Andika berbalik dan bertemu pandang dengan Araka. Araka menatap tajam pada Andika yang membuat Andika merasakan perasaan tidak nyaman dan segera memalingkan kembali wajahnya.
***
Waktu itu, tahun 1998. Aku masih berusia 20 tahun ketika terjadinya krisis moneter di Indonesia. Aku sudah setahun lebih kala itu dalam membantu ayahku di perusahaan. Dengan susah payah aku mempertahankan perusahaan di masa sulit dengan meminta bantuan ke sana ke mari dan juga dengan penghematan yang ekstra pada pengeluaran rutinku. Aku bahkan pernah hanya makan tempe dan nasi sehari-hari dan tidak membeli pakaian baru selama setahun hanya untuk menghemat pengeluaran. Akhirnya, perusahaan dapat bertahan menghadapi krisis moneter itu.
Masa yang sulit itu, aku tidak ingin membuat Andika, putraku satu-satunya mengalaminya. Karena terlalu fokus pada pekerjaan, aku sedikit terlambat menikah sehingga mungkin itu penyebab kalau aku hanya memiliki seorang putra. Karena hanya putra satu-satunya, begitu aku berharap kalau Andika dapat sukses melebihi diriku saat ini tanpa mengalami sedikit pun pengalaman pahit.
Aku tahu betul bagaimana sikap orang-orang ketika kita berada dalam kesulitan. Di saat kita benar-benar tidak punya apa-apalah, di situ kita bisa benar-benar menilai orang-orang dengan baik. Orang yang hanya menjilat dan memandang kita dengan harta akan segera menjauh. Hanya kawan-kawan sejatilah yang akan bertahan di sisi kita pada saat itu.
Salah satunya yang paling berharga buatku adalah Pak Soecipto Filantropi. Beliau di masa sulitku, mengarahkanku menjadi pengusaha yang baik di kala aku waktu itu masih baru terjun dalam dunia bisnis. Beliau bagaikan ayah kedua bagiku. Istri Beliau, Bu Tania juga sangat baik kepadaku. Tetapi, entah mengapa, aku tidak bisa akur pada putra pertama Beliau, Sudarmin.
Aku jadinya mendidik Andika dengan cukup keras agar dia bisa sukses di masa depan. Aku banyak mengatur les-les tambahan untuknya, mengatur jam malamnya, menyuruhnya segera pulang ke rumah ketika pulang sekolah jika dia tidak sedang les. Aku awalnya menganggap bahwa itu adalah pendidikan yang sempurna untuk menjamin kesuksesan putraku satu-satunya di masa depan.
Ketika Andika tertarik dengan olahraga basket, awalnya aku menentangnya karena itu akan mengurangi waktu belajarnya. Tetapi karena bujukan istriku bahwa dengan ikut olahraga basket dapat menjaga kebugaran tubuh Andika yang sibuk belajar, aku akhirnya menyetujuinya.
Singkat cerita, akhirnya lewat basket, putraku pun menemukan temannya yang paling berharga, Kaiser Dewantara. Aku pada awalnya merasa waspada terhadap teman putraku itu karena aku takut akan mendatangkan pengaruh buruk padanya. Kebanyakan sekarang, putra-putri konglomerat terjebak dalam pergaulan yang salah, ambil contoh saja Silva, Putra Sudarmin yang sering gonta-ganti pasangan layaknya berganti pakaian, juga Araka yang sering membuli anak-anak lemah di sekolahnya sampai-sampai waktu SD dia pernah menyuruh anak-anak itu untuk e**ksi di depan teman-teman sekelas perempuannya.
Juga, mungkin karena pengaruh image keluarga Dewantara yang agak tertutup dengan pergaulan para pengusaha. Aku sampai bertanya-tanya, mengapa keluarga Dewantara bisa sukses seperti itu tanpa aktif menjalin relasi dengan pengusaha lain.
__ADS_1
Setelah melihat anak dari keluarga itu, Kaiser Dewantara, aku entah mengapa jadi paham. Dia adalah anak yang tidak banyak berbicara, tetapi ketika diajak ngobrol terasa sangat menyenangkan. Dia juga perhatian kepada teman-temannya dan seringkali membantu mereka tanpa mengharapkan imbalan. Seakan tidak ada yang namanya dinding pertahanan ketika seseorang menjalin pertemanan dengannya. Dia tidak pernah membeda-bedakan teman dalam pergaulan karena status sosialnya. Mungkin karena itulah ketika dia terlibat masalah, teman-temannya pun bersedia berjuang untuk membelanya.