DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
141. Selamat Tinggal, Airi


__ADS_3

“Jadi rupanya itu yang sedang terjadi di keluargamu, Airi-san.  Dan bodohnya aku hampir mengabaikannya.”  Lirih Kaiser dari balik pintu begitu menyadari bahwa kehadirannya telah diketahui oleh Airi.


“Tenang saja, Kaiser-kun.  Aku akan tetap di sisimu sampai masalah dengan pembunuh berantai itu selesai.”  Ujar Airi seraya tersenyum ke arah Kaiser.


Kaiser pun melangkah perlahan ke arah Airi lantas membekap pundak wanita yang tingginya sedikit lebih pendek darinya itu.


“Airi-san, kamu tentunya tahu mana yang harus didahulukan kan?”


“Ya.  Dan itu adalah untuk melindungimu, Kaiser-kun.”


Mendengar jawaban Airi itu, Kaiser terdiam sejenak.  Dia menatap dengan ekspresi sendu ke arah Airi.  Tampak Airi berusaha menghindari tatapan mata dari Kaiser.


“Airi-san tidak perlu mencemaskanku saat ini.  Bukankah pembunuh berantai joker hitam telah mendeklarasikan bahwa aku sebagai korban terakhir?  Masih ada waktu sampai saat itu.  Menurutku, Airi-san harus pulang saat ini demi melindungi keluarga Airi-san.”  Ujar Kaiser seraya menatap Airi dengan penuh keseriusan.


“Tapi…”  Airi sejenak tampak goyah.


“Bukankah mobilisasi seorang kultivator sangat cepat?  Kamu bisa kembali ke Jepang lalu balik lagi ke sini dalam sekejap mata.  Selama itu, aku akan melindungi diriku dengan baik.  Jadi, Airi-san, fokuslah saat ini dengan urusan keluargamu.”  Ujar Kaiser kembali dengan senyum ramahnya.


“Tapi…Kaiser-kun, aku…”


“Melihat pikiranmu yang ke mana-mana begitu, mana mungkin kamu akan fokus menjalankan misimu sebagai bodyguard dengan baik.  Jadi, selesaikanlah terlebih dahulu masalahmu di sana.  Aku akan senantiasa menunggumu di sini.”  Ujar Kaiser dengan lembut.


Begitu mendengar ucapan ‘Aku akan senantiasa menunggumu di sini’ dari mulut Kaiser, air mata Airi langsung tumpah dan diapun meluapkan segala perasaannya ke dalam bentuk tangisan.  Kaiser pun memeluk wanita itu ke dalam pelukan yang hangat.


“Selama aku pergi, tolong jangan mati, Kaiser-kun.”


“Serahkan padaku, Airi-san.  Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk bertahan.”


Sesaat kemudian, sosok Airi pun menghilang begitu saja bagaikan asap yang berbaur dengan angin sepoi-sepoi, meninggalkan Kaiser sendirian di ruangan tersebut.

__ADS_1


***


Tanggal 19 Mei 2022, kurang lebih seminggu setelah hari kepergian Airi, telah berkumpul di rumah sakit tempat Loki dirawat tersebut Ibu Loki, Alena, Kaiser, Andika, dan Fero untuk menjenguk Loki yang telah pingsan kurang lebih seminggu.


Awalnya Loki dirawat di pusat perawatan rumah tahanan khusus di mana Alena dan kawan-kawan bekerja, namun siapa sangka bahwa kondisi Loki tidak kunjung membaik pula setelah sehari berlalu sehingga terpaksa segera dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar.


Dan siapa sangka pula bahwa tepat pada kunjungan Kaiser dan Andika yang kedua itu, Loki akhirnya membuka matanya.


“Hmmm.”  Lirih Loki yang akhirnya mulai tersadar.


Begitu tersadar, Loki mendapati bahwa teman-temannya telah berada di sekelilingnya.  Kaiser-lah yang pertama kali menyadari mata Loki terbuka.


“Loki?  Loki, akhirnya kamu sadar.”  Ujar Kaiser tampak begitu bahagia.


Hal itu lantas memancing perhatian semua orang yang berada di situ untuk turut memperhatikan Loki.  Sesaat kemudian, suasana pun mengharu-biru, mereka semua senang dengan kepulihan Loki tersebut.


“Maafkan aku dan Kapten Maya, Loki.  Kami sama sekali tidak menyadari bahwa kemampuanmu itu membutuhkan bayaran besar seperti ini.  Hiks…Hiks…”  Ujar Alena seraya terisak tangis sambil memeluk pelan Loki.


Alena menggeleng.  Namun, sebelum info lain sempat masuk ke telinga Loki, Kaiser segera mengambil inisiatif sembari membalas senyum ramah Loki itu dengan senyum ramahnya pula.


“Segalanya berjalan lancar berkat bantuanmu, Loki.  Kapten Maya dan kawan-kawan masih sedang berusaha semampu mereka untuk menyelidiki kasus tersebut.  Maka dari itu, istirahatlah untuk saat ini, Sobat, agar kondisimu bisa segera baikan dan kembali membantu penyelidikan mereka.”  Ujar Kaiser dengan senyum ramahnya.


Namun, Loki mampu menangkap ada ekspresi rumit yang ditunjukkan oleh sahabatnya yang lain, yakni Andika.  Tidak butuh waktu lama untuk Loki menyadari bahwa ada hal yang tidak beres yang telah terjadi selama dia tidak sadarkan diri.


Namun, seminggu tidak sadarkan diri betul-betul membuat tubuhnya kehilangan stamina sehingga dia menuruti saja perkataan Kaiser untuk saat ini beristirahat sambil mengembalikan kondisi tubuhnya ke keadaan optimalnya.


***


Sore harinya, Kaiser akhirnya kembali ke rumah.  Dia memutuskan untuk pulang cepat karena berhubung besok masih ada 2 mata pelajaran terakhir yang akan diujiankan pada ujian kenaikan kelasnya tersebut.  Setelah kejadian tragis perihal Tirta di sekolahnya waktu itu, ujian kenaikan kelasnya pun diundur seminggu menjadi minggu ini.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Kaiser berpapasan dengan pamannya, Pak Arkias.  Kaiser memberikan salam ramahnya kepada pamannya itu lalu hendak bergegas ke kamarnya untuk mempersiapkan ujiannya besok, tetapi Pak Arkias tiba-tiba mencegatnya.


“Kenapa waktu itu, kamu malah menyuruh Airi untuk kembali ke Jepang, Nak Kaiser?”  Tanya sang paman kepada keponakannya tersebut.


“Aku bukannya bisa berbuat apa-apa terhadap hal itu.  Keluarga Airi-san sedang dalam bahaya.  Kita mana mungkin bisa menahan Airi-san di sini dan membiarkannya menyesal jika ada sesuatu apa-apa terjadi pada keluarganya tersebut.”  Jawab Kaiser tegas.


“Lantas, kamu sendiri bagaimana, Nak?  Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?  Kamu adalah harapan satu-satunya keluarga ini sebagai pewaris tunggal setelah apa yang terjadi pada kakak sepupumu.”  Sekali lagi sang paman bertanya, kali ini dengan lebih sentimental.


“Maafkan aku, Paman.”  Ketimbang menjawab, Kaiser hanya memberikan permintaan maafnya sembari menundukkan kepalanya.


Tampak ekspresi yang rumit dari balik wajah bocah tampan itu.  Melihat itu, sang paman semakin tak mampu membendung rasa cemasnya.  Diapun mengusap kepala bocah itu lantas memeluknya dengan erat.


“Paman pasti akan menemukan cara yang terbaik untuk melindungimu, Nak.”  Ujar sang paman disertai dengan penuh tekad.


***


Pagi itu, Kapten Maya berjalan dengan langkah cepat di kantor kepolisian pusat tersebut menuju ke bagian divisi penanganan kriminal berat.  Banyak yang heran dengan keberadaan Kapten Maya di sana karena seharusnya Kapten Maya tidak akan berada di sana perihal kantor untuk divisi penanganan bencana tidak wajar telah dipisahkan tersendiri jauh dari kantor pusat.


Diapun akhirnya sampai di tempat tujuannya.  Di hadapannya telah terduduk seorang pria berusia hampir 50 tahun.  Rupanya, orang yang ditujunya adalah Kapten Wiwik.


“Kapten Wiwik, bisakah Anda mengendalikan anak buah Anda di kediaman keluarga Isnandar?  Berkali-kali mereka mengganggu penyelidikan kami.”  Protes Kapten Maya kepada Kapten Wiwik tersebut.


“Ah, pasti mereka ya.  Tim 1 Divisi Penanganan Kriminal Berat.  Kalau itu mereka, maka aku tidak dapat berbuat apa-apa.”  Jawab Kapten Wiwik dengan ekspresi lelah.


“Kenapa?  Bukankah Anda pemimpin satuan penyelidikan pembunuh berantai joker hitam di divisi Anda?”  Mendengar jawaban Kapten Wiwik tersebut, Kapten Maya pun tak dapat menahan amarahnya.


“Bagi mereka, hanya ada dua tim di divisi ini.  Tim 1 dan tim lain-lain.  Mereka tidak pernah menganggap keberadaan tim lain di sini.  Lagipula mereka dipimpin langsung oleh Pimpinan Divisi sehingga tidak ada orang di divisi ini yang dapat menyentuh mereka.  Itulah akibatnya jika seluruh anggotanya dipilih dari tempat yang sama.  Mereka menjadi begitu solid sehingga tidak adapun dari kami yang mampu mengatasinya.”


Sekali lagi Kapten Wiwik memberikan jawaban dengan ekspresi lelah di wajahnya sambil menghela nafas.

__ADS_1


“Apalagi ini berkaitan dengan pengamanan perayaan paku bumi, perayaan utama padepokan mereka, padepokan Isnandar.  Mereka akan lebih keras kepala lagi.”


Ujar pria tua itu sembari menyandarkan dirinya di kursi putar yang didudukinya itu sambil menatap ke langit-langit dengan lelah.


__ADS_2