
Aku Rihana. Aku sangat mengidolakan ibuku dan aku bercita-cita ingin seperti dia. Aku terlahir dari seorang ayah yang konglomerat. Dengan kekayaannya, dia berhasil memikat ibuku. Ayahku menikahi ibuku di tanah airnya yang merupakan warga Thailand saat itu dan membawanya pulang ke Indonesia. Bisa dibilang, keluargaku cukup harmonis. Ayahku adalah pewaris perusahaan televisi nomor 1 kala itu dan ibuku adalah seorang jurnalis yang andal, walaupun pada masa-masa awal kedatangannya di Indonesia, ibuku harus bersusah-payah berjuang dalam belajar bahasa Indonesia.
Tetapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pada saat umurku 5 tahun, ayahku menderita Leukimia. Waktu itu aku masih kecil, jadi belum dapat mengingat dengan baik. Tetapi sejak saat itu, ayahku menjadi sensitif dan pemarah. Hal-hal yang sekecil apapun akan menjadi penyebab kemarahannya. Mungkin di saat itulah trauma masa kecilku dimulai. Bersamaan dengan kondisi Ayah yang sakit-sakitan, perusahaan pun tidak berjalan dengan lancar. Kakek harus meminta dana sana-sini dari investor untuk memperbaiki keadaan perusahaan. Tapi semuanya tampaknya tidak berjalan dengan baik. Kakek pun jadi sering mabuk-mabukan. Dan itu bertambah parah ketika nenek meninggal.
Apa yang terjadi pada kakek dan nenek membuat ayah menjadi semakin stres dan akhirnya berakibat pada kondisi mentalnya yang buruk. Ayahku menjadi lebih pemarah. Dia kerap kali merusak barang-barang yang ada di rumah. Mungkin hal itulah yang membuat pembantu satu-satunya di rumah kami yang tersisa dan merupakan yang paling lama bertahan di rumah kami setelah kami mem-phk-kan yang lain karena masalah finansial tidak bisa bertahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah kami. Tinggallah aku dan ibuku saling bahu-membahu di rumah, merawat Ayah yang kondisinya kian memburuk.
Melihat kondisi perusahaan yang berada di ujung tanduk dan tak bisa lagi diselamatkan, ibuku ikut bergabung dengan NTV News yang masih baru kala itu. Aku sangat bersyukur punya Ibu yang cerdas. Ketidakmampuan Ayah sebagai kepala keluarga berhasil ditanggung oleh Ibu sendiri. Aku tidak begitu mengerti mengapa Ayah sangat marah dengan keputusan Ibu pindah pekerjaan dari ZTV ke NTV. Bukankah itu wajar untuk meninggalkan perusahaan yang tidak bisa diselamatkan lagi sebelum ikut tenggelam bersamanya ketika ada kesempatan datang? Karena berkat Ibulah, keluarga ini masih bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Karena tidak tahan dengan perlakuan Ayah yang kian menjadi, Ibu akhirnya memutuskan untuk menceraikannya dan ikut membawaku bersamanya di saat usiaku masih 9 tahun kala itu.
Aku lihat setelah perceraian itu, Ibu selalu saja sedih. Ibu tiap malam kadang mabuk-mabukan dan tidak henti-hentinya memanggil-manggil nama Ayah. Aku pun masih dapat mengingat, walaupun ingatanku samar, betapa lembutnya perlakuan Ayah kepadaku ketika dia masih sehat sewaktu aku masih sangat kecil. Tapi apa artinya semua itu? Begitu aku ingat Ayah, hanya ingatan kekasarannya dan perlakuannya yang buruk kepada kami yang mendominasi memoriku. Aku tidak mengerti mengapa Ibu masih mencintai Ayah yang seperti itu? Ibuku yang malang.
__ADS_1
Setelah kami berdua meninggalkan rumah, kami saling bahu-membahu demi bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Ibu harus berjuang mati-matian menjilat kepada tikus-tikus berdasi itu demi memperoleh posisi yang lebih tinggi. Sedangkan aku, akupun melakukan yang sama kepada anak-anak tikus berdasi itu. Akupun berusaha segala macam cara, mulai dari merubah penampilan dan cara berbicaraku agar disukai oleh mereka, sampai ke hal-hal detail seperti berpura-pura menyukai apa yang mereka sukai, padahal kebanyakan dari hobi-hobi itu adalah sesuatu hal yang membuatku jijik. Tapi aku pandai berakting. Aku pandai memainkan peranku sehingga pada akhirnya, aku pun diizinkan masuk ke lingkaran mereka.
Di usiaku yang ke-11, Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Ketika melihat mayat Ayah, terbersit sedikit rasa lega di hatiku. Ah, dengan ini, beban yang selama ini membuat ibuku menderita akhirnya pergi juga, pikirku. Aku sadar bahwa aku orang yang dingin.
Menginjak masa-masa puber di SMP, kelakuan anak-anak kaya bejat itu kian menjadi-jadi. Sebagai orang yang berada di bawah mereka, aku selalu ditindas dan senantiasa disuruh-suruh hal-hal yang aneh. Aku pun berusaha menyesuaikannya dengan tetap memasang senyum palsu di wajahku demi tujuan yang lebih besar. Ini belum seberapa daripada beban yang harus ditanggung ibuku, pikirku.
Kesempatan emas tiba ketika Araka menyatakan cintanya kepadaku. Akupun langsung menerimanya karena dia sebagai orang yang berdiri di puncak kekuasaan orang-orang bejat ini adalah tameng yang sempurna untukku berlindung. Ketika dia mencampakkanku, aku tidak peduli dan menyesuaikan alur saja. Yang penting untukku, dia tetap ada di sisiku dan menjadi tamengku. Ketika dia ingin balik pacaran lagi setelah bosan dengan mantannya, ya aku terima saja, dan ketika dia ingin putus, akupun mengikuti keinginannya saja. Kami jadi sering putus-nyambung dalam hubungan, tetapi aku tidak peduli. Dengan adanya Araka di sampingku, kehidupanku di antara monster-monster ini menjadi lebih aman. Yah, walaupun tidak sepenuhnya aman. Mereka juga masih seringkali merendahkanku karena status sosialku yang dipandang rendah oleh mereka. Padahal, ayahku juga dulu seorang konglomerat. Seberapa suksesnya pun ibuku, di mata mereka, Ibu hanyalah bawahan yang bekerja untuk mereka. Aku bertahan dalam keadaan itu meski perih rasanya. Aku tidak mau lagi kembali ke keadaan tidak punya apa-apa di mana kami harus menjilat dengan merendahkan diri kami melakukan apapun demi bisa makan. Telah banyak yang aku dan ibuku lakukan untuk bisa masuk dan bertahan di lingkaran setan ini.
Mungkin itu sebabnya ketika Dios masuk ke sekolah kami dengan ditenteng oleh Tuan Muda Sok Bijak itu pada saat SMP, aku spontan membencinya. Dia tidak perlu berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan posisinya saat ini. Dia tidak pernah sekalipun harus menjilat Kaiser untuk mempertahankan posisinya itu. Posisi sosialnya secara alami didapatkannya dengan Kaiser yang memperlakukannya sebagai teman yang setara sejak awal.
Jika dunia hendak memperlakukan kami dengan tidak adil, biar aku sendiri yang akan membuatnya adil, pikirku.
__ADS_1
Suatu ketika, Dirga, salah satu teman baik Araka, terlibat bentrok dengan Kaiser. Inilah kesempatannya. Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu untuk membalaskan rasa sakit hatiku kepada Dios mungkin akan tiba. Dirga adalah orang yang pemarah, tinggi hati, egois, dan selalu merasa lebih hebat daripada orang lain sehingga akan mudah bagiku untuk mengompor-ngomporinya.
Akupun mulai menjalankan trikku dengan memancing ide jahat kepadanya.
“Wah, mengapa Kaiser bisa langsung menjadi pemain inti di tim basket padahal masih kelas 1? Bukannya kamu dulu tidak bisa walaupun sangat hebat dalam bermain basket? Bahkan tidak hanya Kaiser, ada satu lagi, siapa lagi ya namanya? Dios?”[1]
“Itu karena dulu aku ditolak oleh kakak-kakak kelas sok yang takut akan disaingi oleh kehebatanku!” Jawab Dirga marah.
Melihat ekpresinya itu, aku kegirangan luar biasa sampai-sampai aku menggigit bibirku sendiri agar tawaku tidak keluar. Lucunya, anak Sok ini. Memang kamu pikir sehebat apa dirimu? Akupun melanjutkan lagi provokasiku kepadanya.
“Lantas, apakah anak kelas 2 yang sekarang rela posisinya dilangkahi begitu saja oleh junior yang sok? Kalian tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang senior kamu lakukan dulu padamu? Wah, kalian sungguh baik hati!”
__ADS_1
Mendengar ucapanku itu, muka Dirga langsung merah menyala. Sungguh, aku tak tahan lagi ingin ketawa.
NB: [1]Rihana sengaja mengubah sedikit ceritanya demi tujuannya, padahal anak kelas 1 yang menjadi pemain inti di tim inti itu Andika di mana Dios hanya menjadi pemain cadangan di tim inti