
“Tampaknya pertarungan di luar sudah selesai. Apa boleh buat.” Ujar Shinomiya Airi dengan logat bahasa Jepang ala Kyoto-nya yang khas seraya menatap dinding kosong yang membelakangi jendela yang tidak lain adalah arah di mana berlangsungnya pertarungan itu.
Lu Shou menatap Airi sekilas sebelum mengarahkan perhatiannya kembali dengan intens pada Agni.
“Kaiser telah tenang. Saya permisi dulu ke ruangan Tante Melisa.” Ujar Lu Shou dalam bahasa Indonesia-nya yang kaku.
Lu Shou pun meninggalkan ruangan. Sebelum pergi, Lu Shou membisikkan sesuatu ke telinga Airi.
“Untuk sementara, tolong jaga rahasia bahwa aku telah terbangkitkan dari siapapun.”
“Baiklah, aku sebenarnya tidak dapat memahami mengapa kamu melakukan semua ini, tetapi tenang saja, akan kulakukan sesuai yang kamu inginkan.” Jawab Airi menyetujui permintaan Lu Shou.
***
“Haik…Haik…Haik…Wakarimashita, arigatou gosaimasu.” Ujar Pak Astra dalam suatu panggilan telepon.
“Bagaimana, apa Kaiser baik-baik saja?” Tanya Pak Arkias yang panik pada asistennya itu.
“Berdasarkan keterangan Shinomiya Airi, secara keseluruhan, kondisi Kaiser baik-baik saja.”
“Syukurlah.” Ujar Pak Arkias lega dengan ekspresi senang di wajahnya.
Tetapi ekspresi itu dengan cepat berubah menjadi ekspresi marah. Dia seraya mengatakan, “Kurang ajar mafia-mafia China itu. Sampai membuat Kaiser jadi seperti ini.”
“Dengan adanya seorang kultivator level D di samping Tuan Muda Kaiser, Tuan tidak perlu khawatir lagi.” Ujar Pak Astra mencoba menenangkan kegelisahan Pak Arkias.
“Tapi bocah itu, mengapa dia justru merawat ibu musuhnya itu di rumah sakit kita? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh bocah itu? Ditambah lagi, dengan dana pribadinya? Berapa banyak yang bocah itu bisa miliki dengan uang saku yang diberikan oleh Ayah? Belum lagi Dios dan 9 orang pasien kelas bawah yang kini masih tengah melakukan rawat inap.” Ujar Pak Arkias seraya menelungkupkan kedua tangannya di balik kepalanya kemudian menyandarkannya ke sandaran kursi.
“Sebagian besar dana itu berasal dari keuntungan investasi Tuan Muda Kaiser di berbagai saham perusahaan yang tersebar di seluruh pelosok dunia, Tuan. Ada juga tiga perusahaan di bawah kelola Tuan Muda Kaiser yang meraup untung cukup besar di Iran, Italia dan Swedia.”
__ADS_1
“Sungguh anak yang cemerlang! Dia tidak hanya berbakat mempengaruhi orang, tetapi juga pandai mencari peluang bisnis. Tetapi, mengapa justru dia sangat royal menggunakan hasil jerih payahnya itu untuk orang lain? Apakah dia tidak memikirkan masa depannya? Entah dia cerdas atau malah picik.” Pak Arkias pun mengomentari sikap kontroversial dari keponakannya itu.
“Keuntungan yang diperoleh Tuan Muda Kaiser jauh lebih besar dari yang disumbangkannya, Tuan. Terlebih ketimbang picik, menurutku, Tuan Muda Kaiser cenderung ke arah naïf karena usianya yang masih belia. Hasratnya untuk mengubah dunia sesuai yang diinginkannya masih menggebu-gebu.”
Bibir Pak Arkias sedikit tersungging mendengar komentar Pak Astra. Satu yang pasti, dia ingin mendukung keponakannya itu. Dia ingin melihat bagaimana keponakannya yang dia nilai terlalu idealis itu akan tumbuh.
“Oh iya, bagaimana perkembangan laporan mata-mata kita pada pergerakan anak-anak kelompok pendukung mafia China itu?” Tanya Pak Arkias kembali kepada asistennya itu.
“Tirta masih menghilang, sementara Silva tidak dibiarkan keluar rumah. Riandra juga masih harus memfokuskan pikirannya saat ini pada perusahaan keluarganya yang baru-baru saja mengalami musibah di samping harus senantiasa menghadapi kecemasannya jika sewaktu-waktu, dialah yang menjadi target pembunuh berantai yang selanjutnya. Adapun Dirga, dia masih saja keluyuran tidak jelas seperti biasa, tidak tahu seperti apa jalan pikirannya.”
“Jadi, secara tidak langsung, keberadaan pembunuh berantai itu memudahkan urusan kita.”
“Kalau itu, aku ragu, Tuan. Banyak opini publik saat ini yang menuding Tuan Muda Kaiser adalah pembunuh berantai itu. Ada juga yang beropini bahwa pembunuh berantai itu bukanlah Tuan Muda Kaiser, melainkan pembunuh bayaran profesional sewaan Tuan Muda. Tidak lain untuk membalaskan dendam atas sahabatnya yang dianiaya 2 tahun lalu, serta tindakan tak termaafkan lainnya yang baru-baru ini mereka lakukan dengan menyerang RS Dewantara Group sampai menyebabkan 1 orang meninggal dunia.”
“Non sense! Jelas-jelas dari TKP, dapat diketahui bahwa pembunuh berantai itu adalah pembunuh profesional, tetapi mereka masih bisa menuduh Kaiser yang melakukannya? Kaiser melakukan kontak dengan pembunuh bayaran profesional? Anak yang terlalu lurus itu sehingga akupun jadi was-was mewariskan perusahaan kepadanya karena sama sekali tak memiliki kelicikan yang dibutuhkan untuk bisnis keluarga Dewantara?” Ujar Pak Arkias marah terhadap opini publik tak jelas itu seraya memukul meja.
“Tentu saja, Tuan. Mana mungkin Tuan Muda Kaiser pelakunya. Tapi apa yang lebih saya khawatirkan…Anu…Tuan tentu tidak lupa bahwa ada kemungkinan bahwa pembunuh berantai itu juga akan mengincar Tuan Muda Kaiser. Saat ini Tirta telah menghilang setelah membunuh kedua orang tuanya. Ditambah gerakan klan Kanzaki yang semakin mencurigakan. Kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan.”
“Kamu benar. Klan Shinomiya hanya membantu kita untuk menghadapi mafia-mafia China itu karena pada dasarnya mereka saling membenci. Tetapi setelah itu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan pada Klan Kanzaki jika benar mereka hendak mencelakai Kaiser? Klan Shinomiya pastinya tidak akan mau mengganggu keseimbangan 5 klan besar hanya karena anak buahnya yang tidak penting di sudut negara berkembang.”
Nampak ekspresi sendu ketika Pak Arkias mengucapkan kalimatnya itu.
“Oh iya, ngomong-ngomong, Kaiser sampai terseret ke masalah ini tidak lain karena seorang anak yang bernama Dios. Aku jadi penasaran, anak seperti apa dia itu?” Ujar Pak Arkias kembali dengan raut wajah yang penasaran.
Pak Arkias jadi teringat kembali kejadian yang terjadi sewaktu kedatangannya ke rumah besar Klan Shinomiya di Jepang. Beberapa saat sebelum meninggalkan ruangan, Tuan Besar Shinomiya juga sempat menanyakan anak yang bernama Dios itu. Entah bagaimana tuan besar itu tahu keberadaan Dios yang belum pernah dijumpainya dan mengapa dia sampai tertarik dengannya.
***
Di dalam ruangan berlatar pink dengan lampu yang juga berkerlap-kerlip pink, tampak seorang pria yang bertubuh gemuk dan besar, sedang bersenang-senang di atas ranjang bersama dua orang wanita yang cantik jelita.
__ADS_1
“Tuan Besar, ini buahnya. Ah….!” Ucap salah seorang wanita seraya menyuapi pria gemuk itu.
“Ah….! Hehehehe.” Tuan besar gemuk itu tampak menikmatinya.
Dia tidak lain adalah Tuan Besar dari keluarga Shinomiya.
“Ngomong-ngomong Tuan Besar, aku jadi teringat dengan kedatangan anak buah Tuan Besar dari Indonesia itu. Waktu itu kalau tidak salah, Tuan Besar menanyakan seorang anak bernama Dios padanya. Siapa sebenarnya anak itu?” Tanya seorang wanita yang menyuapinya buah tadi yang tidak lain adalah geisha favoritnya.
“Entahlah. Aku menemukan keberadaannya sewaktu aku menyelidiki anak lain yang sangat menarik perhatianku karena memiliki karisma yang tidak biasa. Hanya saja ketika aku melihat foto anak yang bernama Dios itu, entah mengapa aku merasa ada sedikit rasa nostalgia. Lagipula, aku akan segera mendapatkan jawabannya setelah anak buah kepercayaanku tiba dengan laporannya.”
***
Malam itu, akhirnya Kaiser terbangun dari pingsannya. Di hadapannya telah berkumpul Pak Lucias, Bu Nana, Kakek Ducias, Danial, Ibu Suster, Agni, dan Shinomiya Airi.
“Nak, kamu sudah baikan?” Ujar Bu Nana seraya membelai dahi putranya dengan lembut.
Kaiser pun memperbaiki perasaannya. Dia mengucek-ngucek matanya sebelum menatap baik-baik sekelilingnya.
“Tampaknya, aku pingsan lagi karena kecerobohanku. Maafkan aku semuanya.” Justru hal itulah yang diucapkan oleh Kaiser ketika pertama kali sadar.
Airi pun berjalan menuju ke samping tempat tidur pembaringan Kaiser. Dia lalu membungkuk 90 derajat.
“Maafkan aku karena kecerobohanku, kamu sampai terluka seperti ini. Padahal, aku ke sini karena ditugaskan untuk menjagamu, tetapi justru aku sendiri yang membuatmu terluka karena melindungiku dari serangan para penjahat itu.” Ujar Airi meminta maaf.
Kaiser yang berinsting tajam pun segera menyadari keanehan dalam perkataan Airi. Jelas-jelas Airi mengatakan ‘melindunginya dari serangan para penjahat’, padahal jelas-jelas yang membuatnya terluka adalah kekuatan dentuman yang membuatnya terlempar ke dinding ketika dia menghalangi energi pedang Lu Shou yang hendak menyerang Airi.
Satu kesimpulan yang bisa dibuatnya yakni dia hendak merahasiakan kekuatan Lu Shou yang sampai detik ini memang Lu Shou rahasiakan. Ini pasti permintaan Lu Shou. Kaiser pun mengikuti alur dan turut menutupi sebagian kebenaran dari peristiwa yang membuatnya terluka itu.
“Angkat kepalamu, Airi-san. Aku baik-baik saja.” Ujar Kaiser dengan senyum ramahnya dengan sedikit menunjukkan kecanggungan karena perasaan tidak enak akibat Airi yang membungkukkan badannya.
__ADS_1
Satu hal yang membuat Kaiser penasaran adalah bagaimana caranya pembunuh-pembunuh bayaran dari Lu Tianfeng itu disingkirkan. Tetapi tampaknya dia tidak bisa merusak suasana kala itu dan memutuskan untuk mengabaikannya saja.