DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
143. Keraguan Kaiser


__ADS_3

“Yah, kamu benar Maya.  Tetapi untuk masalah identifikasi potongan tangan kiri itu apakah benar milik Jingmi, serahkan saja pada kami.  Kami kebetulan telah mengambil sampel DNA milik Jingmi sewaktu penyelidikan kematian Silva beberapa waktu lalu.  Adapun untuk hal-hal lain yang terkesan tidak masuk akal itu, kuserahkan pada divisi kalian untuk menanganinya.”


Ujar Kapten Danielo di dalam ruangan tersebut.


“Lantas, siapa yang akan memastikan identitas mayat pria ini, Senior?”  Kapten Wiwik pun lanjut bertanya kepada Kapten Danielo.


“Biar kami yang melakukannya.  Alat identifikasi wajah di kantor kami lebih berkualitas daripada yang di kantor pusat.  Kami akan menggunakan foto-foto referensi dari Fero untuk mencocokkannya.”  Namun, permintaan tersebut justru disanggupi oleh Kapten Maya.


“Baiklah.  Kamu yang lakukan, Maya.  Tetapi ingat, jangan gegabah seperti kasus Dirga atau masalahnya bertambah ribet lagi seperti sebelumnya.”  Kapten Danielo pun mengiyakan permintaan Kapten Maya dengan turut disertai oleh nasihat.


“Aku mengerti, Instruktur.  Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama.”  Jawab Kapten Maya dengan nada yang dalam.


Pembagian tugas pun selesai dan mereka pun berpisah untuk menangani hal-hal yang bisa mereka tangani masing-masing.


***


Siang itu, menjelang sore, Kaiser beserta ayahnya, Pak Lucias, sedang beristirahat di ruang keluarga.  Tak berselang beberapa waktu kemudian, Bu Nana ikut bergabung dengan mereka dengan lima buah jenis majalah berbeda di tangannya yang semuanya bertemakan traveling.


“Putraku, Sayaaaaang!”  Bu Nana pun segera menghampiri dan memeluk putranya, Kaiser tersebut.


Kaiser yang penasaran dengan apa yang berada di tangan ibunya itu pun mencuri pandang terhadapnya, sementara Pak Lucias hanya tersenyum dengan santai sambil memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi tenang.


“Oh iya, putraku sayang, honey, yuk kita liburan.  Bukankah minggu depan, putra kita sudah liburan sekolah?  Mengapa kita tidak manfaakan kesempatan itu untuk traveling di luar negeri?  Pasti menyenangkan.”  Ujar Bu Nana seraya berusaha tersenyum bahagia.


“Oh ya, benar juga.  Pekerjaan kantor juga sedang tidak banyak-banyaknya.  Kita berdua bisa cuti sementara.  Yuk, kita sekeluarga liburan ke luar negeri.  Jadi di mana ya tujuan kita sebaiknya?”  Tambah Pak Lucias sembari melirik putranya, Kaiser tersebut.


Pak Lucias paham betul mengapa istrinya tiba-tiba membicarakan masalah liburan.  Ini tidak lain adalah untuk menghibur sekaligus melindungi putranya dengan pergi keluar negeri sementara selama kasus dengan joker hitam belum menemukan titik terang.

__ADS_1


“Tapi Ayah, Ibu, minggu depan Kaiser belum libur.  Masih akan ada porseni selama 1 minggu kemudian dilanjutkan dengan kunjungan orang tua untuk penerimaan rapor.”


“Ah, kalau masalah itu, serahkan saja pada Agni.  Agni yang akan mengurus semuanya.  Kita nikmati saja waktu yang berharga sekarang untuk liburan.  Bagaimana, putraku?”  Pak Lucias sekali lagi mencoba untuk membujuk putranya itu.


Kaiser pun berusaha tersenyum pada suasana yang coba dibentuk oleh kedua orang tuanya tersebut.  Sama seperti kedua orang tuanya, Kaiser juga adalah anak yang tajam.  Tidak butuh waktu lama bagi Kaiser untuk menyadari bahwa segala hal ini dilakukan oleh kedua orang tuanya tidak lain adalah untuknya.


Bu Nana pun segera membuka salah satu majalah tersebut sembari memperlihatkan isinya kepada Kaiser dan Pak Lucias.


“Bagaimana kalau di sini, di Vanessia, Italia.  Kebudayaan di tempat itu cukup unik.  Ditambah, ada satu tempat di situ yang Ibu tidak bisa lupakan.  Di sebuah museum, tempat Ibu melihat pameran batu permata yang sangat indah dulu sebelum kamu dilahirkan, putraku.  Semoga batu permatanya masih ada di museum tersebut.  Oh ya, dulu Ibu menamai putra Ibu karena terinspirasi dengan salah satu batu permata di sana. Eh?”


Tiba-tiba kepala Bu Nana sakit.


“Ibu!” Seketika Kaiser berteriak keras sembari menyentuh pundak ibunya untuk segera menyadarkan ibunya dari lamunannya.


“Sayang, ada apa?”  Melihat keanehan itu, Pak Lucias pun menelisik ke dalam ekspresi pucat istrinya.


Tak berselang lama kemudian, Pak Lucias pun memapah Bu Nana ke dalam kamar dan akhirnya meninggalkan obrolan mengenai jalan-jalan keluar negeri tersebut.


Diapun segera membuka Giggle dan mensearch soal batu permata di Museum Kota Vanessia.  Namun, tak ada satupun batu permata yang bernama Kaiser.  Yang dia temukan malah sebuah batu permata biru indah bernama Dios.


[Sungguh kebetulan yang aneh.  Mengapa aku belakangan merasa bahwa Dios-lah yang lebih cocok sebagai putra Ibu dan Ayah, sementara aku hanya sebagai substitusi saja.]  Sekali lagi Kaiser bergumam dalam hati.


***


Sore itu, masih di hari yang sama, Kaiser hendak pergi mengunjungi rumah sakit Dewantara Group.  Anehnya, dia tidak minta diantarkan pergi oleh Pak Salman dan Agni, tetapi justru memutuskan untuk meminta tolong diantarkan oleh orang lain.


Di gerbang depan kediaman Dewantara itu, telah terparkir sebuah motor matic berukuran sedang dengan pengemudi yang mengenakan jaket dan celana jeans hitam yang wajahnya tertutup oleh kaca hitam helmnya.  Kaiser tampak naik menumpang di motor tersebut dan tak lama kemudian, motor pun melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Butuh sekitar waktu 26 menit untuk mereka berdua pun sampai di RS Dewantara Group.  Kaiser pun turun diikuti oleh pengemudi motor tersebut.  Sang pengemudi motor pun melepas helmnya dan rupanya sosok tersebut adalah senior sekaligus teman baik Kaiser, Zion.


“Jadi, mengapa kamu justru ingin pergi ke rumah sakit bersamaku dan bukannya dengan Agni?”  Tanya Zion kepada Kaiser.


“Oh, itu, soalnya ada hal yang tidak bisa kubicarakan dengan Agni saat ini.”  Jawab Kaiser dengan sedikit terbata-bata.


“Apakah itu terkait karena permintaan tolong anehmu padaku minggu lalu?”  Sekali lagi Zion bertanya kepada Kaiser.


“Begitulah.  Senior bawa kan dokumennya sekarang?”  Jawab Kaiser berusaha tertawa sembari balik bertanya kepada Seniornya, Zion.


“Iya, ada.  Aku selipkan di balik jaketku.  Ini.”  Ujar Zion sembari membuka resleting jaketnya lalu mengambil sebuah dokumen yang terselip di dalam jaket tersebut.


‘Hasil pengujian kecocokan DNA Zion dan Iswandi Perdana’ adalah judul dokumen tersebut.


“Terima kasih, Senior Zion, atas bantuannya.”  Ujar Kaiser seraya tersenyum ramah sembari menerima dokumen tersebut.


“Iya, bukan apa-apa.  Lagipula kamu membayarku untuk melakukannya sehingga aku bisa dapat penghasilan tambahan buat adik-adikku.  Tapi ngomong-ngomong, itu sampel milik siapa?  Karena bingung harus memasukkan nama siapa, aku masukkan saja namaku beserta nama ayah kandungku yang dulu meninggalkanku di panti asuhan.”


Ujar Zion sembari melirik ke arah Kaiser.  Nampaklah di mata Zion, ekspresi rumit di wajah Kaiser.


“Yuk Senior, kita ngobrolnya di atas saja.  Mumpung di sini, ayo kita jenguk Dios sama-sama.”  Ujar Kaiser seraya tetap mempertahankan ekspresi tenangnya sembari tersenyum ramah.


“Jika ini rahasia yang tak boleh diceritakan, tidak masalah jika kamu tak ingin ceritakan.  Aku juga tidak ingin jika sampai menyimpan rahasia yang bukan urusanku.  Selama aku tahu bahwa kamu baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku.”  Ujar Zion tampak berusaha menegaskan ekspresi cueknya.


“Hahahahaha.  Senior Zion memang yang terbaik di situasi seperti ini.”  Melihat tingkah seniornya yang lucu karena tampak sangat berusaha cuek tersebut, Kaiser pun menertawainya.


“Itu pujian atau ledekan?  Jangan-jangan kamu meledekku karena bersikap cuek ya?”  Zion pun menggerutu atas tawa Kaiser tersebut.

__ADS_1


“Tidak kok Senior.  Justru aku berterima kasih atas sikap Senior yang berusaha tidak peduli tersebut.  Justru itulah yang paling kubutuhkan saat ini.”  Di akhir kalimatnya, Kaiser tampak mengucapkannya dengan sendu.


Melihat ekspresi Kaiser yang sendu itu, Zion memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mengikuti langkah bocah rapuh itu ke tempat tujuannya di lantai delapan, tepatnya di kamar nomor 801 tersebut, di mana Dios berada.


__ADS_2