DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
63. Pertemuan Kaiser dan Lu Shou


__ADS_3

“Kamu, Kaiser?  Apa yang kamu lakukan di sini?”  Ujar Lu Shou dengan panik.  Di belakang Lu Shou tersembunyi sebuah pedang yang terbuat dari air sebagai bentuk penjagaan dirinya yang waspada.


Kaiser tidak menyadari hal itu.  Dia hanya tersenyum ramah kepada Lu Shou.


“Aku tahu ini mendadak, tetapi mulai sekarang, aku yang akan bertanggung jawab terhadap ibu Araka.”  Ujar Kaiser dengan tegas tetapi tetap mempertahankan senyum ramahnya.


“Apa?”  Ujar Lu Shou terkejut.


Suara kursi roda Bu Melisa terdengar mendekat.  Lu Shou segera menyembunyikan kembali pedang airnya itu.


Bu Melisa pun mengintip ke arah tamu yang datang.


“Wah, anak yang sangat tampan!  Apa kamu kebetulan teman Araka?”  Diapun bertanya kepada tamu yang datang ke rumahnya tersebut.


“Benar Bu.  Perkenalkan, nama saya Kaiser.”


“Oh!  Benar-benar anak yang sopan.”  Jawab Bu Melisa dengan senyum cerah di wajahnya seraya mendekati Kaiser dan membelai pipinya.


“Aku senang Araka punya teman anak yang baik sepertimu.”  Ujarnya seraya tersenyum menatap Kaiser.”


“Darimana Tante yakin kalau dia anak yang baik?  Bisa saja wajahnya yang tampak bersahabat itu hanyalah topeng belaka!”  Lu Shou tak sengaja berujar lantang kepada Bu Melisa dengan menggunakan bahasa China yang menunjukkan betapa paniknya dia.


Bu Melisa terdiam sejenak.  Dia kurang pandai berbahasa China, tetapi dia tetap berusaha dengan terbata-bata mengatakannya, “Tentu aku tahu.  Setelah berada bersama Lu Tianfeng selama hampir 18 tahun, insting Tante lebih sensitif terhadap hal yang seperti itu.”  Bu Melisa berujar seraya tersenyum kepada Lu Shou.


Lu Shou pun menatap ke arah Kaiser.  Dia mengingat kembali telepon terakhir Araka padanya yang seolah-olah sangat ingin melindungi Kaiser.  Tampaknya Kaiser adalah teman yang berarti buat Araka sehingga tidak mungkin bahwa dia adalah orang yang jahat.  Tetapi setelah mendengar dari Riandra dan Dirga tentang Kaiser, dia menjadi ragu.


“Mengapa kamu yang ingin merawat Tante Melisa?  Aku menjaganya, bisa.”  Ujar Lu Shou dengan bahasa kakunya seraya menatap Kaiser.

__ADS_1


Tampak Bu Melisa sedikit terkejut tentang isi obrolan mereka yang rupanya tentang merawat dirinya yang cacat itu.


“Nak Kaiser, Shou, kalian tidak perlu repot-repot.  Aku bisa menjaga diriku sendiri.”  Ujar Bu Melisa.


Keduanya seraya menatap Bu Melisa dalam-dalam.  Mereka melihat tangannya yang luka karena teriris serta lutut dan kakinya yang lecet karena jatuh.  Mereka berdua lantas mengembuskan nafas panjang.


Kaiser menatap Lu Shou.  Lu Shou balas menatap tatapan itu.  Kaiser tiba-tiba melanjutkan ucapannya dengan bahasa yang lebih dikuasai Lu Shou, mungkin karena melihatnya agak sedikit terbata-bata dalah berbahasa Indonesia.


“Sampai kapan kamu bisa merawatnya?  Bukankah kamu juga punya keluarga di rumah?”


“Aku bisa membawanya kembali ke Shanghai bersamaku.”  Jawab Lu Shou dengan suara yang merendah karena kekurangpercayaan dirinya pada perkataannya tersebut.


“Lantas, apakah ayahmu sudah menyetujui hal itu?  Dari yang kudengar, dia memutuskan untuk meninggalkannya.  Lantas apa yang akan kamu perbuat jika ayahmu tiba-tiba marah dan melakukan hal yang tak termaafkan pada Bu Melisa?”


“Aku bisa menyisihkan tabunganku untuk menyewakannya rumah sederahana.”  Lu Shou menjawab Kaiser dengan volume suara yang lebih rendah lagi.  Dia tampaknya semakin tidak yakin.


“Terus, bagaimana jika ibu tirimu yang satu beserta kedua anaknya semakin merundung Bu Melisa?  Apakah kamu yakin bisa melindunginya sementara kamu juga harus menjaga ibu kandungmu?”


“Kamu tahu?  Orang yang membuat Bu Melisa cacat seumur hidup tidak lain adalah Lu Meilan, ibu tirimu itu dan Lu Tianfeng mengetahuinya, tetapi hanya diam saja.”


“Apa?”  Lu Shou tampak shok dengan kabar itu.


“Lebih aman bagi Bu Melisa untuk tinggal di rumah sakit milik keluargaku dengan didampingi oleh suster profesional.”  Kaiser kembali berujar dengan volume suara yang normal yang juga bisa didengarkan oleh Bu Melisa.


“Kamu rupanya tahu banyak.  Setelah kupikir-pikir, ucapanmu sesuai dengan beberapa kecurigaanku.  Namun, walaupun demikian, aku masih tetap tidak percaya padamu.  Bagaimana aku bisa yakin bahwa kamu tidak berniat jahat pada Tante Melisa?  Tidak akan ada orang yang berbuat sesuatu tanpa adanya imbalan.”  Ucap Lu Shou seraya menatap tajam Kaiser.


“Baiklah.  Aku bisa mengerti kecurigaanmu padaku itu.  Kalau begitu, begini saja.  Kalian tinggallah di rumah sakit keluargaku. Di sana peralatannya lengkap dan ada juga suster yang bisa stand by 24 jam untuk merawat Beliau.  Dengan demikian, akan mudah untuk memenuhi segala keperluan Bu Melisa.  Kamu juga tentunya bisa pergi tanpa harus merasa khawatir jika ada urusan mendesak.  Dan jika masalahnya sudah selesai, kamu bisa kembali mengunjungi Bu Melisa lagi.

__ADS_1


Aku bukannya bermaksud kasar, tapi bukankah sekarang kondisi keuanganmu sedang buruk?  Kamu bahkan tidak bisa membayar gaji pengasuh untuk Bu Melisa karena uang jajanmu dikurangi oleh ayahmu.”


Mendengar itu, Lu Shou tertunduk.  Dia mau tidak mau mengakui kebenaran fakta yang dijabarkan oleh Kaiser itu.  Kondisinya yang sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengkhawatirkan ibu tirinya itu di saat dia dan ibu kandungnya juga mengalami masalah ekonomi karena diskriminasi Lu Tianfeng terhadap ibunya perihal dirinya yang dinilai tidak berguna.


Setelah lama berpikir, akhirnya Lu Shou pun berucap,  “Baiklah.  Tapi jika sesuatu terjadi pada Tante Melisa, aku takkan pernah memaafkanmu.”


Ujarnya dengan pelan tampak tak punya pilihan lain.  Dia akhirnya menyetujui proposal Kaiser itu.


Bu Melisa yang sedari tadi diam karena gap bahasa di mana dia bisa menangkap alur pembicaraan, tetapi tak dapat ikut terlibat karena kurang mahir berkosa kata, akhirnya memutuskan untuk terlibat dalam obrolan dengan menggunakan bahasa yang dia kuasai ketika keduanya telah terdiam.


“Tante bersungguh-sungguh bahwa Tante tidak apa-apa!  Bagaimana mungkin Tante sanggup merepotkan anak-anak baik seperti kalian?”  Teriak Bu Melisa dengan sedikit emosional.


Melihat itu, Kaiser lantar tersenyum ala pangerannya ke arah Bu Melisa seraya berkata, “Tante tidak usah merasa tidak enak kok, soalnya Senior sudah banyak memberikan bantuan kepadaku sebelumnya.  Lagipula, ini permintaan terakhir Senior padaku.  Senior pasti akan sedih di alam sana jika Tante menolaknya.”


***


Di salah satu ruangan di bagian kantor imigrasi yang menampung pengunjung asing yang bermasalah dokumen kedatangannya di Indonesia, terlihat Pak Arkias dengan panik berbicara sambil memarahi salah satu petugas di sana.


Airi duduk di kursi belakang seraya menyandarkan dirinya untuk beristirahat.  Tiba-tiba, firasat tidak enak pun dirasakan oleh Airi.  Dia segera bergegas mendekati Pak Arkias.  Airi kemudian berbisik.


[Dialog dalam bahasa Jepang]


“Tampaknya situasi kita sedang gawat.  Aku mendeteksi 2 energi kultivator level E sedang bergerak mendekati pulau ini.”


“Apa?  Kok bisa?  Aku sama sekali belum menerima laporan apapun dari anak buahku tentang daftar penumpang pesawat ke Indonesia yang mencurigakan!”  Pak Arkias tidak kuasa menahan kepanikannya.  Diapun berucap dengan lantang setengah berteriak.


“Bukan begitu.  Mereka ke sini tampaknya bukan dengan naik pesawat.”

__ADS_1


“Lalu dengan apa?  Kapal laut?  Kalau begitu, mereka seharusnya tiba lebih lama.”


“Tidak.  Mereka ke sini dengan berlari.”  Jawab Airi tegas.


__ADS_2