
Jumat itu, sehabis pulang sekolah, beberapa hari sebelum ujian kenaikan kelas di sekolahnya akan berlangsung, Kaiser tampak mengunjungi rumah sakit sebagai rutinitas biasanya bersama Agni dan Airi.
“Airi-san, kamu tidak lagi mengawasi sekeliling rumah sakit?” Tanyak Kaiser kepada Airi.
“Hmmm, tampaknya itu tak perlu lagi, soalnya keadaan di sekeliling rumah sakit sudah menjadi lebih tenang belakangan ini.” Jawab Airi atas pertanyaan Kaiser tersebut.
“Begitukah? Kalau dipikir-pikir lagi, Airi-san belakangan ini memang tidak pernah lagi berkeliaran meninggalkanku sendirian. Syukurlah kalau keadaannya seperti itu.” Ujar Kaiser tampak lega seraya tersenyum cemerlang atas pernyataan Airi tersebut.
Mereka pun terus berjalan menuju ke pintu bangunan rumah sakit. Tetapi sesampainya di depan pintu rumah sakit, tampak sesosok wanita mencegat langkah mereka.
Wanita itu tersenyum ramah kepada Kaiser.
“Hai, Dek Kaiser. Lama tak berjumpa.” Ujar wanita itu seraya tersenyum ramah.
Kaiser tampak beberapa detik mencoba mengingat-ingat, lalu sesaat kemudian, diapun berujar,
“Ah, Mbak Polisi yang waktu di Jawa Barat itu ya? Halo Mbak.” Ujar Kaiser disertai dengan senyum ramahnya.
Polisi wanita itu lantas menatap Kaiser dengan intens. Dia tampak mengamati dengan seksama ekspresi Kaiser.
“Hmmm, sebelumnya kita juga sudah pernah bertemu sewaktu Dek Kaiser memberikan keterangan bersama dengan Dek Andika di kantor polisi waktu itu. Tetapi jauh sebelum itu, kita kan sudah saling-mengenal satu sama lain. Apa jangan-jangan Dek Kaiser lupa siapa Kakak?”
Mendengar ucapan polisi wanita itu, Kaiser mencoba menggali-gali ingatannya tetapi tetap tak mampu menemukan jawabannya.
Polisi wanita yang mendapati Kaiser tampak sama sekali tidak mengingatnya itupun lantas berteriak dengan nada khas anak-anak yang berlagak seperti superhero sambil mengepalkan tangan kanannya di depan dadanya.
“Jika besar nanti, aku akan mewarisi bisnis keluarga dan menguasai kota ini lalu aku akan menangkap semua penjahat hingga tidak bersisa!”
__ADS_1
Kaiser lantas terbelalak dengan raut wajah yang memerah. Akhirnya, Kaiser pun kembali mengingat kejadian sekitar 6 tahun lalu itu.
Kala itu, seorang perampok yang hendak mencuri uang di bank hampir diringkus oleh pihak kepolisian, tetapi perampok itu mampu meloloskan diri dan berhasil memperoleh sandra di luar. Dia menodongkan pistol pada seorang wanita paruh baya yang berhasil disandranya tersebut.
Pada waktu peristiwa itu terjadi, Bianca sedang duduk di kafe jalanan yang terletak di tempat terbuka yang berada di dekat lokasi kejadian. Dia bisa saja segera menyelamatkan sandra yang ada di hadapannya itu, tetapi Bianca kala itu, yang berada di tahun terakhirnya di pelatihan akademi kepolisian, memiliki larangan tegas dari akademi agar tidak ikut campur dalam urusan kepolisian sebelum memperoleh sertifikat kelulusan pelatihannya.
Bianca menelan pahit-pahit ludahnya karena tak mampu berbuat apa-apa. Sedikit saja dia salah bertindak dan muncul surat keluhan, dia bisa saja memperoleh sanksi dari akademi. Masih mending kalau hanya berupa penskorsingan beberapa bulan, jika keadaan memburuk, dia bisa saja menerima sanksi pengeluaran dari akademi.
Dia tak mampu mengorbankan jerih payah kedua orang tuanya yang telah menyekolahkannya dalam akademi tersebut selama 4 tahun terakhir. Jadilah dia menahan dirinya dalam membantu wanita lemah tak berdaya di hadapannya yang sedang dijadikan sandra oleh perampok tersebut. Padahal dengan kemampuan beladiri miliknya, dia sangat yakin mampu mengatasi hal itu dengan mudah.
Di saat itulah Kaiser yang baru berusia 9 tahun, tanpa diketahui oleh perampok itu, menyelinap di belakangnya. Dan pada saat perampok itu lengah kemudian melepaskan moncong pistol dari kepala sandra, Kaiser segera meloncat dan menendang tangan perampok yang memegang pistol sehingga pistol itupun berhasil terlepas dari tangannya.
Kaiser pun segera memberikan instruksi kepada sandra agar segera melarikan diri dari tempat tersebut sehingga sandra pun berhasil selamat dari jeratan perampok tersebut. Tetapi Kaiser yang tertinggal di belakang harus menghadapi perampok itu sendirian selama beberapa saat sebelum para polisi yang tak jauh dari situ berhasil mencapai lokasinya.
Kaiser pada awalnya tampak mampu mengimbangi gerakan perampok itu, namun karena tubuhnya yang masih kecil, tetap saja dia kalah tenaga dan stamina darinya. Melihat hal itu, Kaiser pun menghadapi perampok itu dengan memprioritaskan agar senjata pistolnya tak lagi dapat diraih perampok itu.
Untungnya, melihat perampok yang tak bersandra lagi, Bianca kali ini mampu dengan bebas bergerak tanpa khawatir munculnya surat keluhan. Sebelum dia berhasil melayangkan pisau itu ke arah Kaiser, dengan sigap Bianca segera meraih tangan pelaku dan membantingnya dengan jurus khas judonya kemudian meringkus perampok tersebut. Tidak lama kemudian, polisi pun datang dan menangkap perampok tersebut.
Jadilah, insiden itu berakhir tanpa memakan korban jiwa satu pun.
Setelah insiden itu berakhir, Bianca muda pun menatap bocah pemberani itu. Sang bocah balas menatapnya. Melihat itu, Bianca seraya tersenyum lembut kepada bocah itu.
Dia lantas mengusap kepala bocah tersebut seraya mengatakan,
“Berkat Adik, perampok itu berhasil ditangkap tanpa ada satupun korban jiwa. Tetapi Dik, Mbak harap kalau ke depannya Adik bisa lebih berhati-hati lagi. Salah sedikit, bisa saja Adik yang terluka dan bahkan tewas di tangan penjahat itu.”
Mata biru Kaiser itu pun menatap dalam-dalam ke wajah Bianca.
__ADS_1
“Tetapi jika aku tidak bertindak, Tante itu bisa saja meninggal di tangan penjahat itu. Bagaimana aku bisa mengabaikan nyawa orang ketika aku bisa menyelamatkan mereka, Kakak?” Jawab Kaiser kecil dengan polos.
Bianca sekali lagi lantas tersenyum atas pernyataan bocah tersebut. Diapun mengatakan,
“Adik rupanya sangat idealis ya. Tetapi tetap saja, hal-hal seperti itu harusnya diserahkan kepada orang dewasa. Jadi jangan ulangi hal itu lagi ya, Dek!”
Kaiser kecil lantas terlihat mengerutkan wajahnya.
“Hmmm, dunia orang dewasa memang membingungkan. Mengapa menolong seseorang saja butuh banyak pertimbangan?”
“Adik bisa janji kan?!” Dengan cepat, Bianca memotong perkataan bocah polos itu.
“Hmmm. Baiklah Kak. Tetapi sebagai gantinya, jika besar nanti, aku akan mewarisi bisnis keluarga dan menguasai kota ini lalu aku akan menangkap semua penjahat hingga tidak bersisa!”
Jawab bocah itu polos disertai ekspresi wajah yang dipenuhi dengan tekad.
Setelah kejadian itu, Bianca mengantar Kaiser ke rumahnya. Dan di situlah Bianca akhirnya mengetahui kalau ternyata bocah idealis itu adalah calon pewaris kedua Dewantara Group kala itu. Berawal dari insiden penyanderaan di tengah publik itu, Bianca pun mulai mengagumi sang bocah idealis, Kaiser.
Sang Bocah yang walaupun tumbuh dalam kemewahan, tetap mempertahankan idealismenya dan berani berjuang membela prinsip-prinsip kemanusiaan.
Namun, di balik itu semua, kejadian ini mendatangkan ironi tersendiri karena kejadian inilah yang akhirnya mendorong Bu Nana dan Pak Lucias yang waktu itu akan ke luar negeri untuk mengurusi bisnis keluarga bersama semua anggota keluarga dewasa lain, menerima kedua orang tua Bu Dwinda, Bibi Kaiser, menjadi penjaga di rumah mereka untuk sementara.
Pada akhirnya, keputusan mereka inilah yang menjadi asal-muasal terjadinya peristiwa naas 6 tahun lalu yang hampir merenggut nyawa Kaiser.
Kini, dengan naasnya pula, mereka berdua dipertemukan kembali sebagai polisi dan calon tersangka pembunuhan berantai. Tetapi dari awal, Bianca sama sekali tak pernah mempercayai segala rumor yang beredar tersebut.
Dan di sinilah saat ini, di depan pintu rumah sakit Dewantara Group itu, mereka berdua saling bertemu sekali lagi.
__ADS_1