
“Ukh!”
Airi seketika terpental ketika bola jeli ungu yang melindungi berhasil pecah oleh tebasan sang pembunuh berantai joker hitam.
Keluar darah segar dari ujung mulut Airi yang memperlihatkan bahwa dia cukup terluka parah oleh serangan itu. Namun, mata Airi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah di hadapan musuhnya itu. Dia lantas menyeka darah di ujung mulutnya itu dan segera berdiri kembali.
Dengan menggunakan kekuatannya yang tersisa, dia kembali melapisi dirinya dengan cakra ungunya. Dari balik seragamnya, terlihat enam buah juntaian mirip selendang yang tampak siap untuk menyerang.
“Oh, kamu keras kepala juga ya, Nona Muda dari Jepang? Tidakkah kamu sudah terlalu lelah untuk bertarung?” Ujar sang pembunuh berantai joker hitam itu kepada Airi.
Tetapi Airi hanya terdiam, tampak tak berniat untuk membalas ucapan itu.
Pembunuh berantai joker hitam kemudian menyeringai ganas. Dia sekilas menoleh ke arah lain. Dia menoleh ke arah pertarungan Number 2 dan Tirta.
“Hoh? Dia secara tiba-tiba kehilangan kendali kekuatannya? Hahahahaha. Dengan begini, Kaiser sudah tamat!” Ujar pembunuh berantai itu dengan seringai jahat di wajahnya.
Mendengar ucapan itu, Airi seketika tampak sangat terkejut. Ekspresinya nampak rumit sampai-sampai dia akan menangis.
“Kaiser-kun.” Lirih Airi.
Tanpa sadar, air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Namun, ekspresinya sangat dipenuhi dengan amarah terhadap makhluk yang sedang berdiri di hadapannya itu.
***
Sementara itu, di pintu gerbang kecil di belakang gedung IPA.
“Apa yang sebenarnya terjadi di gedung selatan?!” Teriak Dono yang tampak sibuk memandu para siswa yang mengungsikan diri mereka melalui pintu gerbang bagian timur tersebut.
Keenam polisi yang mengamankan pintu gerbang bagian timur itupun mendengarkan samar-samar cerita para siswa.
“Apa? Tuan Muda Kaiser sedang bertarung dengan psikopat itu?” Ujar salah seorang siswi di antara kerumunan.
“Iya, benar. Aku dengar kalau identitas psikopat itu adalah salah satu pembuli yang hampir membunuh sahabat Tuan Muda Kaiser. Ah, ada juga gosip yang bilang kalau dia-lah identitas sebenarnya dari pembunuh berantai joker hitam yang berniat melimpahkan segala kejahatannya kepada Tuan Muda. Tapi karena rencananya gagal, dia jadi marah dan menyerang Tuan Muda ke sekolah ini.” Ujar salah seorang siswi lainnya.
Mendengar obrolan para siswi itu, Bianca tiba-tiba berlari melawan arus kerumunan.
“Hei, Bianca! Kamu mau ke mana?” Teriak Dono kepada Bianca.
“Aku akan memastikan keadaan di gedung pusat.” Jawab Bianca sembari terus berlari menjauh.
__ADS_1
“Hei!” Dono pun berteriak marah pada tindakan Bianca yang di luar perintah itu, padahal dia adalah pemimpin tim di misi kali ini.
“Danar!”
“Ya, Senior!”
Dono pun segera memanggil Danar dan Danar dengan cepat meresponnya.
“Kamu beserta ketiga polisi muda yang ada di sini tetap lanjutkan evakuasi siswa.”
“Lha, Senior sendiri mau ke mana?”
“Aku akan menyusul Bianca. Kamu tidak usah peduli itu dan fokus saja dengan apa yang kuperintahkan.”
“Baik, Senior.”
Dengan Danar mengiyakan perintahnya, Dono pun menyusul Bianca.
***
“Hahahahaha. Apa ini? Tiba-tiba kehabisan kekuatan? Hahahahaha.” Ucap Tirta seraya tertawa terbahak-bahak melihat orang yang sedari tadi membuatnya tak berkutik, tiba-tiba terkapar di tanah.
Cakra kuning yang lebih tajam dari pisau tertajam di tangan kanannya itu seketika diarahkannya menuju ke jantung bodyguard pria paruh baya yang terkapar di tanah itu.
“Sreeeeesh!”
Tetapi Kaiser berhasil sampai ke sana dengan cepat lalu segera menarik tubuh pria itu sebelum cakra kuning itu dapat menyentuhnya.
“Traaaaak!”
Alih-alih, tanah bertehel di tempat pria itu berbaring sebelumnya-lah yang menjadi korban cahaya kuning mematikan itu. Tehel di mana pembunuh sadis itu tepat menancapkan tangannya, terpotong dengan rapi, sementara tehel di sekitarnya terpotong berantakan sampai radius dua setengah meter, di mana tanah di radius itu tampak berhamburan sehingga membentuk cekungan sedalam setengah meter.
Tirta pun menatap Kaiser sembari mengangkat tangan kanannya yang dilumuri oleh cakra kuning tajam tersebut setinggi dadanya. Dia turut menyeringai jahat layaknya ekspresi seorang psikopat yang berhasil mengunci mangsanya dalam permainannya. Dia begitu menampakkan kekejaman dan tekadnya untuk membunuh pemuda naif itu melalui tatapan merendahkannya tersebut.
“Sekarang, tidak ada lagi siapa-siapa yang dapat menyelamatkanmu, Kaiser! Matilah dengan penuh rasa sakit dan penyesalan!” Ujar Tirta seraya melayangkan tangan bercakranya ke arah Kaiser yang sedang lengah.
“Tuan Muda!” Teriak Wilda sembari dia dan dua bodyguard yang bersamanya berlari dengan kecepatan penuh ke arah Kaiser.
Sementara dalam waktu sesingkat itu, Kaiser tampak bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Jika dia menghindar, dapat dipastikan seratus persen kalau pria di belakangnya itu akan tewas oleh serangan Tirta.
__ADS_1
Namun, tubuh pria itu terlalu berat baginya untuk diangkat bersama menghindari serangan Tirta tersebut. Mereka berdua hanya akan mati konyol bersama jika Kaiser melakukannya.
Pilihan yang tersisa adalah memikirkan cara agar bagaimana membuat Tirta kehilangan keseimbangan sehingga arah serangannya meleset. Kaiser pun memutuskan untuk tidak menghindari serangan itu. Padahal, dia sendiri memprediksikan kalau kemungkinan delapan puluh persen dia hanya akan gagal dan terbelah oleh serangan mematikan Tirta itu.
Namun bagi pemuda naif itu, kematian setelah berjuang sekuat tenaga tanpa lari menghadapi Tirta yang menaruh dendam padanya hingga tega mengorbankan orang lain yang tidak ada hubungannya adalah pilihan yang lebih baik ketimbang dia harus melihat kematian yang lain lagi perihal keberadaan dirinya.
Mungkin saja dengan kematiannya, amarah Tirta akan mereda sehingga orang-orang di sekeliling Kaiser tak perlu lagi menjadi korban salah sasaran.
“Kaiser!”
Namun, ketika Kaiser memikirkan itu semua, Andika yang sedari tadi bersembunyi di dekat mereka, tiba-tiba datang menerobos. Gerakan Andika yang tiba-tiba sampai-sampai membuat Loki kehilangan timing untuk menghentikannya.
Di saat itulah, sekali lagi kekuatan Andika teraktifkan. Matanya menyala hitam dan keluar aura hitam samar menjulur dalam bentuk elips dari tubuhnya. Tirta yang akhirnya terjerembab masuk ke dalam kabut hitam samar itu seketika kehilangan aura kuningnya.
Kaiser yang tampak melotot yang sebenarnya masih bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi, segera memposisikan dirinya di depan Andika untuk melindunginya dari Tirta kemudian tanpa basa-basi lagi memukul telak pembunuh sadis itu dengan berkali-kali pukulan hingga diapun terkapar di tanah.
Melihat Tirta yang telah terkapar tampak tak bergerak di tanah, Kaiser dengan perasaan yang sangat khawatir, segera menghampiri Andika untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
“Hei, Andika.” Ujarnya seraya menepuk-nepuk pipi Andika.
Dia jelas melihat mata Andika menyala hitam pekat yang sangat aneh menurutnya itu. Padahal, Kaiser sendiri justru telah berkali-kali seperti Andika, mengaktifkan kekuatan perlindungan pasifnya tanpa disadarinya.
“Hei, Andika!” Kaiser pun mengeraskan suaranya ke volume maksimal, melihat sahabatnya itu tak kunjung merespon.
“Kaiser, kamu baik-baik saja?” Walaupun tampak masih setengah linglung, tetapi secara keseluruhan, kondisi Andika kembali normal seperti sedia kala. Melihat sahabatnya itu baik-baik saja, Kaiser pun bernafas lega.
Wilda dan kedua bodyguard yang bersamanya itupun sampai di dekat Kaiser dan segera memverivikasi apakah keadaan Kaiser baik-baik saja. Sayangnya, mereka lengah. Rombongan Wilda dan kedua bodyguard itu hanya fokus pada keadaan Kaiser.
Bahkan, termasuk Kaiser sendiri hanya fokus pada keadaan Andika setelah merasa instingnya tak dapat lagi merasakan bahaya dari Tirta.
Tetapi apa yang mereka tak ketahui adalah bahwa kekuatan Tirta sesaat memang ternetralkan oleh kekuatan pasif Andika, tetapi di balik bajunya, dia masih menyembunyikan sebuah belati.
Pada kondisi rombongan Kaiser yang lengah itu, Tirta dengan sigap mengarahkan belatinya tepat ke arah hati Kaiser dari belakang.
Bagaimana pun, Kaiser belum terbangkitkan sehingga ketahanan fisiknya layaknya manusia normal. Senjata biasa berupa belati pun mampu merenggut nyawanya jika mengenai bagian vital tubuhnya.
***
Sementara itu, jauh dari tempat itu, pembunuh berantai joker hitam tampak mencengkeram leher Airi yang tak berdaya. Airi yang tercekik, perlahan kesadarannya memudar. Namun, sebelum dia kehilangan kesadarannya, pembunuh berantai joker hitam itu menghempaskan tubuh Airi.
__ADS_1
Pembunuh berantai joker hitam kemudian memfokuskan perhatiannya pada Kaiser yang jauh di sana melalui link-nya dengan Tirta. Dia dapat melihat dengan jelas bahwa sebentar lagi, belati di tangan Tirta itu akan diarahkan kepada Kaiser.