DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
57. Pelarian Tirta


__ADS_3

Di suasana pemakaman Araka itu, Riandra sedang duduk semeja dengan Dirga saling hadap-hadapan.  Di meja mereka terpampang minuman beralkohol dan aneka sajian, tetapi tampak membuat mereka tak tertarik.


“Dasar Tirta sialan itu!  Dia bahkan tidak datang ke pemakaman Araka.  Aku tahu situasi kita sedang dalam bahaya, tapi bukankah dia kelewatan sampai tidak mengantar dengan layak teman kita ke peristirahatan terakhirnya?”  Ucap Riandra datar seraya menopangkan dagunya dengan tangan kanan yang menumpu di atas meja.


“Peduli amat dengan orang rendahan itu.  Sedari awal, aku tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari kita.”  Jawab Dirga dengan dingin.


Riandra lantas menatap ke arah Dirga.


“Hei, Dirga!  Menurutmu apa yang akan terjadi pada kita?  Rihana yang menghubungkan kita dengan para kakek mesum itu telah tiada.  Sekarang giliran Araka yang pergi.  Dan lihat saja kakak tiri Araka itu, dia benar-benar tidak berguna.  Masa depan keluarga Lu sudah berakhir.  Paman Tianfeng sendiri sudah terlalu tua untuk mengurusi sendiri bisnisnya di Indonesia sambil mengurus bisnis utamanya di Shanghai.”  Ujarnya kembali seraya menatap aksi Lu Tianfeng vs Lu Shou yang mengundang perhatian dengan keributan yang mereka buat.


Kemudian Riandra melanjutkan ucapannya, “ Bukankah sudah waktunya kita mencari backingan lain untuk mendukung kita?  Seperti ke Keluarga Ye kah, atau ke Keluarga Peng kah, atau mungkin kita harus merendahkan standar kita dan mendapatkan backingan dari pihak Korea?”


Dirga kemudian balas menatap Riandra seraya tersenyum jahat.


“Bukankah masih ada Pak Sudarmin, ayah Silva?”  Ucap Dirga.


“Ehhhh?!  Kamu pura-pura bodoh atau aslinya memang bodoh sih?  Tanpa dukungan Paman Tianfeng dan Tante Vet Tcin, menurutmu berapa lama dia bisa bertahan?”  Balas Riandra atas ucapan Dirga seraya menatapnya dengan ekspresi tidak percaya atas kebodohan ucapannya.


“Geh!”  Riandra lantas tanpa sadar memalingkan wajahnya ke Silva yang berdiri di pojokan lalu memelintirkan lidahnya sebagai ekspresi jijik dengan sikap santai Silva yang di situasi saat ini masih saja bermain laki-laki.


“Yah, jika itu maumu, maka silakan saja kamu menjilat kaki mereka.  Tetapi keluarga Isnandar sendiri tidak lemah.  Tanpa orang-orang yang di atas, kami masih bisa mempertahankan diri kami sendiri secara layak.”  Dirga tiba-tiba berujar.


Dia lantas tersenyum sangar, “Lagipula, aku ingin melihat momen ini sampai akhir.”


Mata birunya pun bersinar dengan terang.


***

__ADS_1


Di ruangan itu, suasananya gelap-gulita.  Tampak sosok seorang pemuda menyelimuti badannya yang besar di balik selimut hangatnya di atas tempat tidurnya.


“Bagaimana ini?  Dia akan membunuhku.  Dia akan membunuhku?  Kaiser pasti akan membunuhku!”  Teriak Tirta dengan histeris.


Mendengar hal itu, ayah dan ibu Tirta segera memasuki kamar anak semata wayangnya itu yang rupanya tidak sedang dikunci.


“Nak, ada apa?  Kamu baik-baik saja?”  Ujar Ibu Tirta yang khawatir terhadap putranya.


Tirta secara tiba-tiba melepas selimut yang menutupi badan besarnya itu dan segera melompat ke arah ibunya sambil memegang kedua tangan ibunya.


“Bu, ayo kita pergi ke luar negeri!  Di sini tidak aman Bu.  Kaiser akan membunuh kita.  Aleka sudah mati, kemudian Rihana, dan kini giliran Araka.  Kita tidak tahu kapan giliran keluarga kita akan diincar olehnya.  Selama sempat, ayo Bu, kita melarikan diri ke luar negeri!”  Ujar Tirta dengan panik.


“Hah, apa yang kamu takutkan pada anak yang lemah saking dimanja sama keluarganya itu?”  Ujar Sang Ayah pada Tirta yang tampaknya masih ambigu karena penampilan Kaiser yang tampak lemah dari luar.


“Lemah?  Hahahahaha!”  Mendengar ucapan ayahnya, Tirta lantas tertawa terbahak-bahak.


“Bukankah itu hanya editan…”


“Editan apanya?  Itu nyata!  Ayah tidak tahu saja karena belum pernah menyaksikannya secara langsung.  Aku tahu karena aku pernah melihatnya membantai puluhan bawahan Araka sampai sekarat tanpa luka sedikit pun di tubuhnya.”  Belum selesai ayah Tirta berucap, Tirta segera memotongnya dengan ucapannya yang lantang.


Dia yang semula dalam posisi berlutut di atas tempat tidurnya, kemudian mendudukkan dirinya dan bersandar pada ranjang.


“Ayah tidak tahu saja kebengisan dari orang itu.  Lihat saja mata birunya yang bersinar terang bagai iblis yang siap memangsa siapa saja yang dibencinya.”  Ujar Tirta dengan lemas.


“Kalau kamu tahu dia orang yang berbahaya, mengapa sedari awal kamu bukannya menghindarinya, malah mencari gara-gara dengannya?”  Ucap Ayah Tirta seraya memijat-mijat dahinya karena pusing dengan masalah putranya itu.


“Semula aku mengira bahwa kekuasaan Lu Tianfeng jauh lebih kuat, tetapi nyatanya aku salah.”  Sekali lagi Tirta dengan lemas menjawab pertanyaan ayahnya.

__ADS_1


“Bagaimana pun aku sangat benci dengannya!  Tetapi sekarang, keadaannya jadi begini.  Pokoknya kita harus pergi sejauh mungkin dari tempat ini, Ayah, Ibu, jika kita ingin selamat.  Dia tidak akan segan-segan membunuh kita.”  Ujar Tirta seraya melompat dari tempat tidurnya sekali lagi dan mengenggam tangan kedua orang tuanya di masing-masing tangannya.


“Walaupun kamu berkata begitu, bagaimana dengan pekerjaan Ayah dan Ibu, Nak?  Ayah akan menyewa pengawal untukmu saat ini agar kamu tidak perlu takut.”  Ayah Tirta berusaha menenangkan putra semata wayangnya itu.


“Apa Ayah pikir itu cukup?  Ayah tidak bisa melihat nasib Aleka dan keluarganya?  Ataukah Ayah mau bilang bahwa satu atau dua orang pengawal sewaan Ayah jauh lebih hebat dari seluruh karyawan Sungsin Security itu?”


Kali ini, ayah dan ibu Tirta tak dapat berkomentar sedikitpun pada perkataan putranya.


“Lagipula Ayah dan Ibu mungkin tidak tahu.  Anak itu mempunyai kekuatan mengerikan yang dapat menghipnotis orang lain untuk menuruti segala keinginannya.  Lihat saja putri pewaris Keluarga Kencana itu, Ratih, ataukah putra pewaris keluarga Prabuwija itu, Fahrul.  Tidak hanya mereka, tetapi masih banyak lagi.  Mereka semua tiba-tiba sangat patuh pada apa yang dikatakan oleh sialan itu.  Apa Ayah dan Ibu pikir kita bisa melawan semua itu?”


Mereka berdua hanya bisa terdiam mendengar perkataan putranya itu.


Sang Ibu-lah yang pertama kali membuyarkan suasana diam itu.


“Menurutku, ada baiknya juga kita dengarkan perkataan putra kita, Pah.  Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan nyawa kita.  Urusan uang masih bisa dicari selama kita baik-baik saja.  Lagipula, kita punya banyak cadangan uang dari kesuksesan hasil transaksi kita beberapa tahun terakhir ini yang cukup untuk kita bisa bertahan maksimal 3 tahun.  Kita bisa mengunjungi kerabatku di Swiss.  Untuk urusan visa, bisa kita urus belakangan dengan memanfaatkan koneksi kita di sana.”


“Benar juga Sayang.”  Ujar Sang Ayah sambil tersenyum lembut.


Mereka pun memeluk putranya itu dengan hangat dan menyuruhnya untuk segera bergegas karena mereka akan berangkat malam itu juga.


Pukul 6.30 selasa malam, masih di hari yang sama dengan pemakaman Araka, mereka bertiga pun menaiki mobil yang dikendarai langsung oleh ayah Tirta untuk menuju bandara.  Tiba-tiba, gas bius mengalir ke dalam ruangan mobil yang membuat mereka bertiga jatuh pingsan.


Anehnya, beberapa detik kemudian, mereka bertiga tiba-tiba tersadar.  Mata mereka bertiga memancarkan sinar biru, tetapi warna bola mata mereka tetaplah normal seperti biasa.  Ayah Tirta berkendara seperti biasa ke bandara dan mereka bertiga naik pesawat ke Swiss seperti biasa pula.


Namun naasnya, sesampainya mereka di bandara kedatangan di kota Zurich, Swiss, pagi hari menjelang siang, dua hari kemudian, entah bagaimana caranya Tirta bisa memperoleh sebuah pisau di tangannya di mana dia menggunakan pisau itu untuk menggorok leher kedua orang tuanya sendiri tanpa diketahui siapapun.


Setelah melakukan aksi bejatnya itu, Tirta langsung menghilang di TKP tanpa jejak.  Baru sekitar 30 menit kemudian, orang-orang di TKP di bandara kota Zurich itu tersadar bahwa dua mayat telah tergeletak dingin tak bernyawa di situ.

__ADS_1


__ADS_2