DELAPAN TARGET

DELAPAN TARGET
42. Arkias Dewantara


__ADS_3

“Pak Salman, sebelum pulang, kita singgah dulu di kantor Paman.”  Ucap Kaiser pada supirnya.


Sang Supir pun mengangguk dan segera menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya.


“Tuan Muda, untuk apa Anda ke sana?”  Agni yang duduk di samping supir pun bertanya-tanya pada Kaiser yang melakukan hal yang tidak biasanya.


“Bukan apa-apa.”  Kaiser terlihat enggan memberitahukan alasannya itu kepada Agni.  Muka Kaiser tampak murung.


[Paman tidak bertindak gegabah pada Sungsin Security maupun N News and Entertainment karena back up mereka sangat kuat, tetapi berbeda dengan Raksa Corporate yang walaupun dibilang perusahaan dengan pertumbuhan yang sangat signifikan, pemilik mereka hanya orang-orang kasta kelas dua yang berlindung di balik relasinya dengan orang-orang kasta kelas satu.  Semoga Paman tidak bertindak gegabah pada mereka dan membuat tangannya berlumpur.  Aku tidak ingin keluargaku menjadi orang-orang yang jahat seperti itu.] Gumam Kaiser dalam hati.


Istri dari pemilik Raksa Corporate, Bu Rosita Arumkusuma.  Dialah ibu Riandra Arumkusuma, orang yang bertanggung jawab pada hebohnya internet belakangan ini pada kasus yang menyangkutpautkan Kaiser dengan menyewa buzzer untuk mengarahkan dan memperamai opini publik untuk merundung nama baik Kaiser dengan Alicia sebagai teman kerjasamanya.  Di zaman sekarang di mana hampir semua kalangan masyarakat dapat mengakses internet, tidaklah susah untuk membuat rumor tanpa pemberitaan awak media resmi sekalipun.  Cukup menyajikan rumor panas di internet dan mengarahkan sedikit opini publik, maka berita dengan sendirinya berevolusi dengan bantuan imajinasi setiap orang yang membacanya dan akhirnya menjadi kepercayaan di hati orang-orang tersebut.  Internet memanglah mengerikan.


Dengan adanya mata-mata pamannya di perusahaan keluarga Riandra tersebut, Kaiser bisa menebak bahwa pamannya telah mengetahui hal ini.  Dia mau tidak mau khawatir pada pamannya itu karena sikap pemarah, pendendam, dan kepicikannya untuk membalaskan dendamnya itu tanpa berpikir panjang.  Kaiser tidak ingin bahwa masalahnya menjadi penyebab pamannya melangkah di jalan yang salah.


***


Di ruangan itu, tampak Pak Arkias Dewantara sedang duduk di ruangan sambil membaca beberapa dokumen.  Pintu ruangan pun terbuka.  Kaiser dengan senyum cerianya memasuki ruangan dan segera menghampiri pamannya itu.


“Paman.”  Ujar Kaiser seraya mendekati pamannya dengan ekspresi yang ceria.


“Kaiser.”  Balas pamannya dengan segera menyingkirkan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya.


Kaiser yang seraya duduk di kursi depan meja kerja pamannya mencuri pandang ke dokumen-dokumen itu dan melihat sekilas isinya.  Dokumen tentang informasi pribadi Bu Rosita dan beberapa buzzer yang sempat dikontaknya.  Tampaknya kecurigaan Kaiser terbukti benar adanya bahwa pamannya juga sedang menyelidiki kasusnya di internet dan telah mendapatkan jawabannya.


Ekspresi Kaiser seketika menajam.  Dia menatap pamannya dengan serius.

__ADS_1


“Paman sudah mengetahui pelaku di balik cyber bullying itu kan?”


“Begitulah.”  Jawab pamannya singkat.


“Paman, tolong jangan bertindak gegabah.  Biarkan aku sendiri yang turun tangan mengurusi masalahku ini.”


“Apa yang kamu katakan?  Kamu adalah keponakan kesayanganku.  Tentu Paman tidak bisa tinggal diam melihat keponakan Paman diperlakukan seperti itu oleh orang-orang rendahan seperti mereka.”  Jawab pamannya seraya tersenyum.


Mendengar komentar pamannya itu, Kaiser pun menjadi was-was mengira-ngira apa yang akan pamannya ini lakukan.  Diapun lalu menanyakannya.


“Apa yang akan Paman lakukan?”


“Tidak banyak.  Paman hanya akan memberikan mereka teguran karena telah berani menyentuh keluarga Dewantara dengan menyuruh anak buah Paman untuk membakar salah satu pabrik utama mereka.”


Mendengar jawaban pamannya yang tanpa perasaan, Kaiser lantas menekan jidatnya sambil berdesah panjang.  Tampak raut penuh kekesalan terpampang di wajahnya.


“Paman berencana untuk melakukannya pada malam hari ketika pabrik kosong sehingga tidak mungkin ada korban jiwa.  Dan juga, mengapa kamu begitu memperhatikan nasib orang-orang rendahan seperti mereka?  Orang-orang itu tidak layak untuk mendapatkan simpatimu.  Ketika ada kesempatan, justru merekalah yang akan duluan memangsa kita.  Lihatlah dirimu di internet.  Orang-orang rendahan seperti merekalah yang membuatnya kian parah.  Ikut berkomentar tanpa tahu kebenarannya.”


“Karena orang-orang seperti merekalah, kita bisa berdiri di puncak kekuasaan.  Apa Paman pikir perusahaan bisa berjalan tanpa pegawainya?  Lagipula, tidak semua orang kalangan bawah seperti apa yang Paman ungkapkan.  Paman lebih banyaklah berinteraksi dengan pegawai-pegawai Paman.  Intinya, yang bersalah adalah Bu Rosita dan Alicia yang menyewa buzzer-buzzer itu.  Hanya mereka yang harus menanggung akibatnya.  Paman tidak usah ikut campur dan bahkan melibatkan orang-orang yang tidak bersalah.  Biar aku yang mengurus ini.”  Tanpa jeda, Kaiser segera menampik perkataan pamannya itu.


“Hah, baiklah jika kamu bersikeras Nak.  Paman akan menghubungi Astra untuk membatalkan rencananya.”  Paman Kaiser akhirnya menyerah pada keponakannya.  Diapun mengembuskan nafas panjang dengan ekspresi tampak kecewa.  Dia pun segera menghubungi asistennya, Pak Astra.


“Jadi, tindakan balas dendam apa yang kamu rencanakan?”  Tanya Paman Kaiser.


“Oh, kalau tidak salah itu akan ditayangkan pada jam ini.”  Ucap Kaiser seraya tersenyum sinis.  Kaiser segera mengambil remote TV untuk menyalakan TV di ruangan pamannya itu.

__ADS_1


“Aku sudah menyusun rencana sendiri untuk mereka.  Dan ini sebagai pembukaannya.  Mata dibalas dengan mata, pencorengan nama baik juga harus dibalas hal yang sama.  Bukan begitu Paman?”  Ucap Kaiser seraya menoleh ke arah pamannya sambil tersenyum nakal.


“Calon pewaris Raksa Corporate, Riandra Arumkusuma tertangkap CCTV sebuah kafe sedang menonton film porno di tempat umum.  Perbuatannya lantas menerima kritikan…”


“Ini karena ulahmu?”  Penasaran darimana munculnya berita itu, Paman Kaiser pun bertanya.


“Sebaiknya jangan remehkan Agni, asisten Kaiser, Paman.”  Ucap Kaiser dengan bangga.


“Tapi, apa pembalasan seperti ini cukup untuk mereka?  Orang-orang seperti mereka tidak akan menganggap sesuatu seperti ini sebagai serangan mental yang berarti.”  Paman Kaiser yang merasa pesimis pun mengungkapkan pendapatnya.


“Yah, mungkin Paman benar.  Tapi Paman, jika seseorang mencakar kita, kita cukup membalasnya dengan mencakarnya saja bukan?  Bukankah kelewatan jika kita sampai mengambil pisau lalu menikamnya?”  Kaiser tertawa kecut seraya mengatakan itu.


“Walaupun dampaknya tak sebanding?”


“Akan selalu ada yang namanya hukum konsekuensi di dalam setiap perbuatan.  Jadi Paman, janganlah pernah bertindak sampai di luar jalur.”


Seakan tidak memberikan kesempatan Sang Paman untuk menyanggah perkataan keponakannya, telepon Pak Astra tersambung.  Pak Arkias pun memberikan instruksinya.  Di luar dugaan, informasi mengejutkan datang dari Pak Astra.


“Maaf Tuan, telah terjadi kebakaran duluan di pabrik utama Raksa Corporate yang mengelola suku cadang alat-alat TI sebelum pihak mata-mata kita sempat melakukannya.  Diperkirakan kerugiannya bernilai ratusan milyar.”


“Apa?”  Kaiser yang dapat mendengarkan percakapan itu lantaran HP Pak Arkias dalam posisi loudspeaker, berseru kaget.


“Tapi ini bukan perbuatan Paman, Kaiser.”  Pak Arkias mencoba membela diri.  Namun, tampaknya Kaiser tak mendengarkan karena perhatiannya tiba-tiba terfokus pada berita TV yang kali ini menayangkan berita tentang kebakaran itu.


Di ruangan itu, Kaiser dan pamannya terperangah kaget.  Ekspresi Kaiser memucat.  Badannya yang lemas kemudian terkulai di hadapan pamannya itu.  Pamannya segera berdiri dari kursinya melewati meja untuk menangkap keponakannya itu.

__ADS_1


“Kaiser, kamu kenapa?  Hal itu tidak ada kaitannya dengan kita semua.”  Ujar Sang Paman mencoba untuk menenangkan keponakannya itu.


“Paman benar.  Tetapi entah mengapa Kaiser tidak merasa demikian.”  Ucap Kaiser seraya menatap wajah pamannya.  Nampak ekspresi ketakutan di wajah pemuda itu.  Matanya yang biru cerah mengeluarkan air mata.


__ADS_2