
Di tengah malam itu, di kala penjagaan sipir rumah tahanan khusus bagi para pelaku tindak kejahatan tidak wajar tersebut telah lengah, Tirta terbangun dan memulai aksinya.
Di dalam kegelapan itu, dia dengan susah payah menyeret tubuhnya yang telah lumpuh dengan tangan kiri yang masih bisa dia gerakkan yang terborgol bersamaan dengan tangan kanannya sehingga mau tidak mau, tangan kanannya pun ikut terjuntai, menyesuaikan gerak dengan tangan kirinya itu yang juga sembari memegang erat suatu kunci yang tidak lain adalah kunci sel tahanannya sendiri.
Namun, Tirta justru tidak bergerak ke sisi pintu. Dia justru bergerak ke arah sebaliknya, ke arah paling dalam selnya tersebut. Di dekat dinding sisi dalam itulah dia tampak mengukir-ukir sesuatu di lantai semen dengan menggunakan kunci itu. Hal tersebut pun dilakukannya semalaman dengan ekspresi yang menakutkan. Bola matanya berwarna kuning, tetapi entah kenapa bersinar biru.
Fajar pun tiba dan waktu menunjukkan pukul 5.30 WIB tepat. Secara tiba-tiba, kehebohan pun terjadi di rumah tahanan khusus tersebut. Teriakan kesakitan yang amat mengerikan, terdengar dari salah satu sel tahanan. Ya, itu tidak lain adalah sel tahanan Tirta.
Begitu petugas mencoba mengecek di selnya tersebut, ternyata Tirta telah gosong, hangus terbakar. Dia meregang nyawa hari itu, tepat pukul 5.30 pada tanggal 12 Mei 2022.
Mereka baru menyadari bahwa borgol yang dikenakan ke Tirta ternyata telah diganti karena bentuk borgol itu berubah menjadi model gerigi yang sangat aneh dan entah bodohnya mereka bahwa tidak ada satupun yang menyadarinya pasca Dirga berkunjung seolah semuanya terkena hipnotis linglung.
Apa yang membuat mereka terperangah adalah bahwa terdapat ukiran aneh diborgol tersebut yang tidak asing lagi bagi mereka. Ukiran kartu 3 spade yang tercoret salah satu lambang spadenya. Penanda yang selalu ditinggalkan oleh pembunuh berantai joker hitam setiap mengeliminasi targetnya.
Kemudian, yang tidak kalah mencengangkannya, adalah kata-kata terakhir yang ditinggalkan Tirta itu di lantai.
Dan dari atap suatu gedung yang dapat dengan jelas menyaksikan pemandangan luar dari rumah tahanan tersebut yang tengah kacau karena kecelakaan tragis Tirta, sang pembunuh berantai joker hitam berdiri sambil tertawa sejadi-jadinya.
“Hahahahaha. Lihatlah itu, adikku Dios! Si Sialan yang telah menyakitimu sudah kubalaskan dengan rasa sakit serupa yang berjuta-juta kali lipat lebih dahsyat. Hahahahahaha. Kini tinggal dua lagi dan dendam kita akhirnya akan usai.”
Ujar sang pembunuh berantai joker hitam seraya tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi bengis yang terpancar dari wajah bagian bawahnya yang tak tertutup topeng.
***
Pagi itu, Kaiser yang baru saja hendak membuka pintu untuk jogging di luar sebentar, dikagetkan oleh bel pintu yang hampir dibukanya itu tiba-tiba berbunyi.
Dengan raut wajah penasaran, dia pun membuka pintu itu. Rupanya itu adalah Airi yang baru saja keluar dari rumah sakit.
“Airi-san?”
“Koniciwa, Kaiser-kun.” Ujar Airi seraya tersenyum ke arah Kaiser.
Airi pun memasuki rumah itu. Namun, belum beberapa langkah, dia hampir terjatuh perihal sakit di lututnya belum sembuh benar. Untunglah Kaiser berhasil menggapainya.
__ADS_1
“Airi-san, kok kamu sudah pulang? Bukankah kamu seharusnya masih dirawat di rumah sakit?” Tanya Kaiser khawatir.
“Tenang saja Kaiser-kun, kamu tahu kan, kalau seorang kultivator itu, masa penyembuhannya lebih singkat. Lagipula aku ini bodyguarmu. Aku tidak bisa terlalu lama meninggalkanmu.” Airi pun menjawab.
“Lantas, apa-apaan dengan lecet-lecet ini?” Tetapi Kaiser tampak meragukan kejujuran jawaban tersebut.
“Ah, laparnya! Ada tidak ya sesuatu yang bisa dimakan?” Seakan menghindari pertanyaan itu, Airi lantas mengalihkan pembicaraan.
Kaiser menghela nafas lalu mengambil ponsel dari kantong celananya seraya melakukan panggilan telepon.
“Dokter Claude, pagi ini tolong ke rumahku ya untuk merawat pasien.” Ujar Kaiser dalam panggilan teleponnya.
Kaiser pun tersenyum sambil menatap Airi lembut.
“Mungkin ada baiknya juga jika Airi-san dirawat di rumah saja selama proses penyembuhan. Ada yang bilang, suasana rumah adalah salah satu obat penyembuhan yang terbaik.” Ujar Kaiser dengan senyum ramahnya itu.
Tetapi Airi justru menanggapinya dengan ekspresi sendu di wajahnya.
Melihat ekspresi yang tidak biasa dari Airi itu, Kaiser pun bertanya,
Namun, Airi segera menampiknya.
“Tidak ada masalah apa-apa kok, Kaiser-kun. Hahahahaha. Mungkin aku hanya terlalu lapar saja.” Jawab Airi seraya tertawa canggung.
Melihat tingkah Airi yang seolah merasa tidak enak menceritakan masalahnya itu, Kaiser pun memutuskan untuk memberikan ruang dan memutuskan untuk mengawasinya saja saat ini. Kaiser hanya berujar,
“Jika ini soal diriku yang diincar oleh pembunuh berantai joker hitam itu, kamu tidak perlu khawatir, Airi-san. Aku akan survive dengan kekuatanku sendiri. Hehehehehe.” Ujarnya seraya berusaha tampak tertawa.
Namun, ekspresi Airi malah bertambah rumit. Mana mungkin dia mempercayai ucapan janji seperti itu yang keluar dari mulut seorang pria yang tidak pernah berpikir dua kali untuk terjun dalam bahaya demi mewujudkan idealismenya atau untuk melindungi teman-temannya itu.
“Oh iya, Kaiser-kun. Apa jangan-jangan kamu mengenal pembunuh berantai joker hitam itu? Soalnya dia terus-terusan memanggilmu dengan ‘orang sok polos’ seolah pernah kenal kamu dengan baik.”
Ekspresi Kaiser seketika berubah ke mode serius begitu mendengar pernyataan Airi tersebut.
__ADS_1
“Aku punya kandidatnya. Apa Airi-san sempat mendengarkan suara dari joker hitam?” Kaiser pun balik bertanya.
“Sayangnya, dia menggunakan voice changer sehingga aku tidak bisa mengenali suaranya.” Jawab Airi.
“Begitukah?” Ujar pemuda itu dengan kecewa karena sekali lagi kesempatan untuk mengungkap identitas joker hitam itu menghilang.
***
Kapten maya yang baru datang 2 jam setelah kejadian, tidak dapat menahan emosinya.
“Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan di saat aku tidak ada?! Apa itu masuk akal membiarkan tahanan yang diisolasi memperoleh pengunjung?! Di mana otak kalian?! Waktu kalian ikut tes CPNS menjadi sipir, apa kalian tidak membaca SOP yang standar dikuasai oleh setiap sipir dengan baik?! Lantas, kenapa kalian bisa lolos tes dan diterima bekerja di sini?!”
Teriak Kapten Maya seraya meluapkan segala kekesalannya tersebut pada tindakan bodoh para anak buahnya yang membiarkan kunjungan Dirga.
“Kalau seperti ini, mungkin apa yang dikatakan Kaiser adalah benar. Kejadian ini terjadi sehari setelah Dirga berkunjung. Dan Marjono yang tiba-tiba dekat dengan Dirga membuat sifat Dirga tiba-tiba berubah. Semua ini masuk akal, kalau mereka semua terhipnotis oleh suatu kekuatan yang dimiliki si Marjono itu.”
“Tetapi Kapten, bukankah setiap penjaga sipir dan juga seluruh pegawai di gedung ini, termasuk para polisinya ketika memasuki gedung, seharusnya dilindungi oleh kacamata spiritual antihipnotis?” Ujar salah seorang pegawai administrasi di sana yang mengenakan kacamata berwarna hitam.
Mendengar jawaban itu, Kapten Maya pun jadi salah tingkah sambil segera mengambil kacamata hitam yang terselip di bagian dekat kerah bajunya lantas mengenakannya.
“Yah, bukannya aku tidak mengenakannya. Aku hanya melepasnya sementara karena berada di dalam ruangan. Jika sedang menginterogasi atau berjalan di gedung, aku mengenakannya dengan baik kok, Alena.” Jawab Kapten Maya canggung.
“Yah, mungkin, itulah juga yang dipikirkan oleh bawahan yang lain, Kapten, sehingga mereka lengah tidak mengikuti SOP di gedung ini dan berakhir kena hipnotis dan dikendalikan.”
Kapten Maya pun terdiam atas ucapan bawahannya yang menusuk itu dengan mengembalikan kata-kata yang baru saja dilontarkannya. Alena lantas melanjutkan,
“Bisa saja itu juga tidak efektif karena kacamata itu didesain hanya untuk menangkal serangan hipnotis dari spiritualis level F. Jika ternyata pelakunya berlevel lebih tinggi, kacamata itu tidak akan efektif lagi. Makanya aku bilang, Kapten perlu segera berupaya mencari anggaran dari pemerintah untuk mencanangkan perbaikan peralatan kita.”
Alena sekali lagi terdiam sejenak seraya secara serius menatap wajah Kaptennya itu. Kemudian dia melanjutkan,
“Dan juga, pelatihan mental sangat segera perlu dicanangkan pula. Terutama dalam kasus hipnotis seperti sekarang ini. Semakin lemah mental seseorang, maka semakin mudah dia terhipnotis tanpa sadar.”
Alena lantas membaringkan kepalanya di keyboardnya dengan perasaan kecewa.
__ADS_1
“Apalagi, kantor pusat malah banyak meluluskan pegawai nggak guna hanya berdasarkan tes wawasan, fisik, dan kebugaran. Apa gunanya semua itu? Yang paling penting itu kuat mental jika ingin berurusan dengan para penjahat berkemampuan tidak wajar. Masih banyak yang mesti dibenahi di kantor kita. Untuk sekarang, mari kita panggil anak itu lagi, Kapten Maya.” Alena pun melanjutkan dengan ekspresi letih di wajahnya.