
[Dialog dalam bahasa China]
“Akankah ini baik-baik saja Tuan untuk menyewa mereka berdua? Mereka tampaknya terlalu angkuh?” Tanya Fei Sangchen kepada tuannya.
“Semua kultivator memang orang-orang yang angkuh. Bukan sesuatu hal yang baru.”
“Jika Tuan sendiri berbicara seperti itu, maka aku tidak akan banyak berkomentar lagi.”
Fei Sangchen kemudian diam sejenak sebelum bertanya lagi kepada tuannya.
“Ngomong-ngomong Tuan, bagaimana dengan calon pewaris yang akan menggantikan posisi Araka? Apakah pada akhirnya Anda akan memilih Lu Xinting?”
“Ketimbang memelihara seekor hyena, bukankah babi dungu masih lebih baik?” Jawab tuannya itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya dan menundukkan kepalanya.
“Maksud Anda, Anda akan menyerahkan posisi pewaris kepada Lu Shou?” Mendengar jawaban metaforis tuannya itu, Fei Sangchen terlihat sangat penasaran.
“Kita tidak bisa tahu soalnya tentang apa yang akan dilakukan oleh Lu Meilan ketika aku menyerahkan posisi pewaris kepada anaknya itu. Lihat saja, dia tidak segan-segan membuat Melisa cacat seumur hidup demi mewujudkan ambisinya.”
Lu Tianfeng kemudian menyandarkan dirinya di sandaran kursi dan mengembuskan nafas panjang.
“Lu Shou anak itu. Dia memilih tinggal sementara di Jakarta untuk merawat Melisa yang ditinggal sendirian di sana, padahal dia hanyalah ibu tirinya. Hati anak itu terlalu baik dan dia juga terlalu dungu. Akankah dia mampu menjadi pewaris yang layak untukku?”
Fei Sangchen tampak berpikir cukup lama dan akhirnya mengeluarkan pendapatnya.
“Kurasa pendapat Tuan ada benarnya. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa Lu Xinting menjalin hubungan dengan Ye Lifei. Akan berbahaya jika sampai Lu Xinting menjadi pewaris kemudian menikahi Ye Lifei. Bisa-bisa Keluarga Lu akan dilahap oleh Keluarga Ye.” Ujar Fei Sangchen mendukung pendapat tuannya setelah memikirkannya matang-matang.
Tiba-tiba, salah seorang anak buah Lu Tianfeng mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Dia kemudian membisikkan sesuatu di telinga Fei Sangchen sebelum pergi kembali meninggalkan ruangan. Tampak kedua bola mata Fei Sangchen menegang.
“Tuan, tampaknya kita punya masalah besar. Raymond dari keluarga Wahyunusa, salah satu rekan bisnis kita beserta istrinya telah dibunuh oleh anak mereka sendiri, Tirta Wahyunusa. Kini Tirta sedang diselidiki oleh pihak kepolisian dan berdasarkan hasil penyelidikan mereka, ada kemungkinan bahwa Tirta-lah yang bekerjasama dengan pembunuh berantai itu dan menjadi dalang dari semua kejadian ini.”
“Apa?” Wajah Lu Tianfeng ikut menegang.
__ADS_1
Dia lantas menggedor meja seraya mengatakan, “Sial! Apa kita telah salah menuduh selama ini? Jika itu Tirta, ada kemungkinan bahwa itu benar. Dia berkali-kali juga telah ditindas oleh Araka dan teman-temannya. Dia bisa saja menaruh dendam karena itu.”
“Apakah kita akan membatalkan misi pembunuh-pembunuh bayaran yang kita sewa itu?” Tanya Fei Sangchen serius.
“Kita terlanjur menyewa jasa mereka. Tidak ada peluang untuk ditarik kembali. Bisa saja akan menimbulkan masalah dengan organisasi mereka. Ketimbang berhadapan dengan mereka, aku lebih memiih untuk berhadapan dengan pihak Jepang.” Jawab Lu Tianfeng sambil menggertakkan gigi-giginya.
***
Malam harinya di hari yang sama, tampak Ratih duduk di sofa empuk sambil menonton serial drama di televisi. Tiba-tiba, smartphonenya berdering. Rupanya panggilan datang dari temannya Mirna.
“Ratih, coba kamu cek siaran di NTV sekarang.”
“Ada apa?” Ucap Ratih seraya melaksanakan perintah Mirna itu dengan mengganti chanel TV-nya menjadi NTV.
Ratih seketika geram. Pandangan matanya dia sipitkan. Berita itu rupanya adalah berita yang menampilkan Alicia bersama dengan salah seorang teman sekelasnya di Kelas Khusus Seni di SMA Angkasa Jaya, SMA-nya itu. Apa yang lebih menghebohkan adalah bahwa teman sekelasnya itu bukanlah orang sembarangan. Dia adalah artis pendatang baru yang sedang naik daun belakangan ini, Antonio Gegistov atau yang lebih akrab disapa dengan Gegi.
Berita itu mempertontonkan bagaimana mereka katanya ketakutan akan kasus pembunuhan berantai yang terjadi belakangan ini di sekitar mereka. Apalagi ada dugaan bahwa pelakunya adalah siswa di sekolah yang sama dengan mereka yang membuat mereka tidak tenang bersekolah di sana sebelum pembunuh berantai itu ditangkap.
Di saluran telepon masih terhubung, Ratih pun berucap, “Mari kita bahas masalah ini lebih lanjut di grup via ‘Zoam’.
Dengan mengatakan itu, Ratih pun menutup teleponnya.
Dia pun mengembuskan nafas panjang.
“Haaaaah! Berita tentang Tirta, malah mereka tutup rapat-rapat. Dasar tikus-tikus licik!”
***
Keesokan harinya, di hari jumat tanggal 1 April 2022, salah satu ruangan konferensi di kepolisian terlihat penuh. Tampak duduk di depan podium 4 orang pria dan seorang wanita. Seorang wanita itu telah tidak asing lagi. Dia adalah Bianca. Salah seorang pria yang mendampinginya di podium juga tampak tidak asing. Dia adalah polisi tua pemimpin unit 2 divisi penanganan kriminal berat kepolisian pusat, Pak Wiwik, yang turut berada di TKP kematian Araka.
Pak Wiwik pun membuka forum.
__ADS_1
“Hari ini, 1 April 2022, lima unit dari divisi penanganan kriminal berat yakni unit 3 yang sebelumnya menangani kasus pembunuhan di Sungsin Security, unit 8 yang sebelumnya menangani kasus pembunuhan ibu-anak di apartemen Guingdangdom, unit 2 yang menangani kasus pembunuhan seorang pemuda ibukota di Kampung Rambutan Kabupaten Cirona Provinsi Jawa Barat, unit 1 dan 13 sebagai bantuan serta juga dengan bantuan tim gabungan divisi umum kepolisian pusat akan melebur ketiga kasus ini menjadi satu dan membentuk tim gabungan di mana saya sebagai kaptennya untuk mengusut kasus yang menjadi prioritas utama tersebut yang dinamai ‘kasus pembunuhan berantai joker hitam’. Kami mengistilahkannya demikian karena kebiasaan pelaku yang meninggalkan kartu spade berhitung mundur di TKP.”
Ruangan seketika berisik menunjukkan respon yang beragam dari anggota-anggota forum mendengar informasi yang disampaikan oleh Sang Kapten tersebut.
Dari kursi belakang, kemudian terdengar samar-samar pembicaraan dua orang polisi muda dari divisi umum.
“Heh, kasusnya belum selesai rupanya.” Ujar polisi muda 1.
“Tampaknya mereka kesulitan menangkap pelaku.” Jawab polisi muda 2.
“Kok bisa? Kan pelakunya sudah jelas anak itu kan, Si Kaiser Dewantara? Apalagi yang mereka tunggu. Segera saja tangkap anak itu dan jebloskan ke penjara.”
“Tampaknya mereka kekurangan bukti.”
“Heh, ribet amat! Padahal pelakunya sudah jelas. Untuk apalagi ada barang bukti? Mungkin itu kali ya? Karena dia berasal dari keluarga konglomerat, makanya aman dari jeratan hukum? Enak ya jadi anak konglomerat. Sampai membunuh pun tidak akan dijatuhi hukuman.” Ujar polisi muda 1 seraya menyatukan telapak tangan kanannya dengan punggung tangan kirinya ke belakang di kursi sebagai sandaran kepalanya.
“Benar. Benar.” Ujar polisi muda 2 memberikan persetujuan seraya mengangguk-angguk.
Polisi muda 2 kemudian sekilas melihat bayangan di belakang. Dia pun menoleh. Seketika itu dia mendadak kaku. Polisi muda 1 yang melihat kejanggalan perilaku temannya itu pun turut menoleh ke belakang. Serta-merta dia turut menjadi kaku pula. Di belakang mereka rupanya telah berdiri senior mereka Petugas Dono dengan tangan yang terangkat yang tampak siap dilayangkan ke kepala mereka.
“Paaak.”
“Aduh!”
“Aakh!”
Mereka merintih kesakitan oleh tamparan kepala seniornya itu.
“Kalian pikir polisi itu preman apa yang main tangkap saja tanpa barang bukti?” Ujar Petugas Dono kepada mereka dengan marah.
Petugas Dono pun berjalan meninggalkan mereka menuju kursi penonton yang paling depan.
__ADS_1
NB: [11] Semacam aplikasi untuk rapat online